Teruntuk : Ibu di Surga
Kuangkat semua barangku dari sini, ku akan pergi
jauh dari rumah kost ini dan meninggalkan semua kenangan yang sudah terukir
di tempat ini. Beri waktu biar cuma sedikit lagi untukku memandang rumah kost ini (Rumah Ceria yang sempat
ku singgahi bersama Nui, Wulan, Rubi dan Fikri). Rupanya terlalu enggan untukku pergi secepat ini dari sini,
langkahku makin terasa berat untuk beranjak dan mataku tak ingin lepas pandangi
rumah ini.
Aku menangis mengingat kenangan dulu saat pertama
kali datang ke tempat kost
ini. Dan tak terasa 1 tahun sudah berlalu, banyak cerita indah yang sudah ku lalui bersama
teman-teman sekostku.
(Aku takkan banyak
menceritakan lagi tentang hal-hal yang menyangkut aku dan rumah kost ini,
karena semua itu sudah ku tuliskan di cerita karya ke 10ku yang berjudul Indekost).
Sekarang saatnya untukku melangkahkan kaki dari
rumah kost ini, karena akan terlalu menyedihkan buatku bila ku terus mengenang
tempat ini. Sebelumnya, aku pamitan terlebih dahulu pada semua penghuni rumah
kost ini serta pada semua orang yang kukenal baik disini.
Akhirnya ku lambaikan juga tanganku untuk yang
terakhir kali, sebagai pesan perpisahan pada semua orang yang menyayangi dan
memperhatikanku selama ini. Tak pernah aku merasakan sedih, sesedih ini. Walau
ku tahu ada perjumpaan pasti ada perpisahan.
Aku pun langsung menaiki kendaraan umum menuju
kota asalku (Cianjur).
Perlahan-lahan tubuhku semakin terbawa jauh dari kota kecil ini (Cibeber). Secara logika aku akan tiba
di rumah paling lambat
sekitar 60 menit lagi dari sekarang. Biarlah saat ini ku nikmati kesedihanku di dalam kendaraan
umum ini, yang akan mengantarkan aku pulang, menemui Ibu yang sampai sekarang masih terbaring sakit
sejak pertama kali aku kost setahun yang lalu. Apa yang sedang ku rasakan saat ini sebenarnya? Aku kini berada
di tempat duduk paling ujung angkutan umum, sembari melamun meratapi perjalanan hidupku yang penuh liku. Aku
selalu dan sangat merindukan sebuah masa bahagia akan datang dalam kehidupanku dan senantiasa mewarnai
hari-hari pedihku.
Selintas terbayang sesosok wajah perempuan kian
menggodaku (mengajakku untuk berkhayal). Semakin jelas tergambar raut muka nan
elok rupawan, dialah “Nisa.” Seorang perempuan yang selalu menghantuiku
semenjak dari 6 tahun yang lalu. Dia selalu hadir dalam imajinasiku saat ku mulai jenuh jalani hidup. Dia juga bahkan selalu menyemangatiku untuk tetap bertahan dari segala
cobaan. Dan selalu aku tahu ketika ku dilanda sunyi sepi–dia
akan datang untuk menghiburku dengan tawa dan candanya itu.
Nisa bukan sekedar wanita yang aku cintai dan
kagumi tapi juga dia lebih tangguh, lebih dari sekedar seorang ‘teman khayalan’
untukku. Dan tak pernah aku akan merasa bosan untuk selalu menceritakan
kecantikannya yang tiada tara itu: “Ketika Nisa berjalan, dunia menatapnya.
Ketika dia terdiam, seakan waktu
berhenti berputar”.
Dan seperti itulah Nisa dimataku, kalian pasti
akan merasa malu bila sudah
melihatnya. Karena setelah kalian melihatnya maka kalian pasti
akan bertanya pada diri kalian sendiri, bahwa kalian tak pernah pantas untuk
disejajarkan dengan kecantikan “Seorang Nisa”.
Angkutan umum ini terus melaju sesuai jalur,
sementara aku masih terdiam duduk di sudut belakang. Kadang aku selalu merindu untuk segera pulang, menemui Ibu biar sekedar
menanyakan kabar. Tapi aku seakan enggan untuk pulang, aku malu pada keadaanku
yang sekarang. Apa yang bisa aku banggakan pada Ibu setelah aku pulang? Aku hanya seorang perantau
yang gagal dalam mencari mimpi di kota seberang.
Lihatlah aku yang menyedihkan ini; tubuhku kurus
kerontang, dalam setahun aku
kehilangan berat badan 12 kilo dan saat ini berat badanku hanya 52kg. aku yakin Ibu pasti akan menangis melihat tubuhku
yang sekarang. Karena dia
satu-satunya orang yang selalu mengingatkanku untuk tak lupa makan.
Sebenarnya aku ingin pulang sambil membawa banyak
uang (sekarung bahkan segudang). Akan kuajak Ibu jalan-jalan keliling dunia, ku belikan dia emas
permata dan baju-baju mewah. Serta tak lupa akan ku
jadikan dia bagai Ibu permaisuri di kerajaan baruku nanti.
Tapi apa yang kubawa sekarang ? Dan mana semua
hasil kerja paruh waktuku di kota orang? Heuh… semuanya sudah habis; sebagian
ku bayarkan
untuk biaya sekolahku selama setahun ini. Sebagian lagi ku kirimkan untuk uang jajan
adik-adikku sementara sisanya habis untuk membayar uang kost dan biaya hidupku selama
ini.
Sungguh aku merasa sia-sia telah meninggalkan Ibu dalam setahun terakhir ini. Harusnya
aku merawatnya sampai dia
sembuh, tak peduli dengan kelanjutan sekolahku. Persetan meski aku harus
dikeluarkan dari sekolah SMAku karena sering bolos sebab tak punya uang
ongkos lagi untuk pergi sekolah.
Pernah disuatu ketika (akhir bulan April 2005) aku
diancam Guru akan dikeluarkan
dari sekolah karena aku sudah terlalu banyak bolos sekolah. Sempat aku juga pernah
mengadu pada Nisa tentang prihal ini
di malam terakhir aku menemuinya. Tapi sayangnya semua orang termasuk Nisa
tidak pernah mau peduli tentang masalah yang ku hadapi ini.
Mereka tak pernah tahu bahwa saat itu aku
bener-bener “down” dan seperti terjatuh dari lantai lima puluh. Padahal mereka
harus tahu bahwa aku telah kepaksa bolos sekolah karena aku juga harus merawat ibuku yang sedang sakit parah saat itu;
Tapi rasanya percuma juga meski mereka tahu karena aku yakin mereka takkan mau tahu.
Itulah yang menjadi alasanku untuk membenci
mereka, dan akan ku sakiti mereka sebagaimana mereka telah kejam menyiksa bathinku selama ini.
Agar mereka bisa merasakan
sendiri bagaimana rasanya diabaikan, tak dipedulikan, diasingkan dari
lingkungan dan diacuhkan dari komunitas pergaulan.
Akhirnya dalam waktu yang hampir sejam aku tiba di tempat tujuan; (Rumahku) tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Terakhir
kali aku datang kesini 2 bulan yang lalu, dan sekarang aku melihat ada yang
berbeda disekitar lingkungan rumahku; ternyata Nenekku telah membangun rumah
sederhana untuk dikontrakan tak jauh dari rumahku. Selain itu kebun disamping rumahku juga telah
dipenuhi rumput-rumput liar yang hampir menutupi rumah.
Aku ingin menangis karena ternyata rumahku sudah
tak terurus dan nampak kumuh seperti di dalam hutan. Sungguh bajingan ayahku,
dia pergi begitu saja tanpa mau bertanggungjawab terhadap keluarganya sendiri.
Sesampainya aku bertemu Ibu; ingin sekali rasanya aku bersujud malu dikakinya. Tapi aku tak mau menangis karena dia pasti akan marah bila melihatku bersedih. Coba sekarang kalian lihat
ibuku! Dia terkapar lumpuh di atas ranjang, semua sarapnya mati total dan tak
lagi bisa digerakkan.
Sekarang ranjang ini sudah menjadi multifungsi
baginya; tempat dia tidur, tempat dia buang kotoran, tempat dia kencing, tempat
dia makan dan minum, serta tempat dia menangis memanggil namaku sepanjang
malam. Anak macam apa aku ini, tega-teganya aku meninggalkan ibuku terkapar tak
berdaya disini. Aku sungguh-sungguh menyesal, harusnya aku berhenti sekolah
saja dan merawat intensif ibuku di rumah. Tapi ibuku sempat marah ketika aku
ingin memutuskan untuk berhenti sekolah.
Salah satunya jalan saat itu, yaitu aku harus
ngekost dan tinggal dekat sekolah agar aku bisa menghemat pengeluaran hidupku
dan tak lagi membebani keluargaku. Sementara ayahku sudah tak membiayai hidup
kami selama Ibu sakit sampai
saat ini. Akhirnya selain aku harus kost, aku juga harus kerja banting tulang
untuk setidaknya bisa membiayai sekolahku dan hidupku sendiri.
Tapi sudahlah, semua ini sudah terlanjur terjadi
dan tak patut lagi ku sesali. Yang terpenting saat ini aku sudah hampir menyelesaikan sekolahku (SMAku); sekarang aku hanya tinggal menunggu saat
pihak sekolah membagikan Ijazah, STTB dan nilai HUANku. Mungkin sekitar sebulan
lagi akan
dinyatakan bahwa aku bukan
salah satu siswa mereka lagi.
Dan akhirnya aku bisa lega seperti aku bisa
melepaskan batu seberat 20 ton dari atas pundakku ini. Yang terpenting
sekarang, aku punya lebih banyak waktu untuk merawat ibuku di rumah. Dan akan
ku pastikan
pada kalian, aku takkan pernah beranjak lagi dari tempat ini
sampai ibuku bisa berjalan.
Mungkin kebanyakan dari kawan seangkatanku, saat
ini sedang sibuk mencari tempat kuliah di Universitas yang selama ini mereka idamkan. Tapi
tidak untukku, persetan aku tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Aku tidak pernah mau lagi meninggalkan ibuku dirumah untuk yang kedua
kalinya. Ya… aku yakin ku takkan pernah mau kuliah, ku takkan lagi meninggalkan rumah sampai Ibu sembuh.
Coba kalian perhatikan ibuku sekarang; matanya
hanya bisa terpejam, tubuhnya sudah sulit untuk digerakkan. Bahkan berat badannya yang dulu 75kg itu telah berkurang hingga kini mungkin beratnya cuma 45kg. (Entah kemana dagingnya itu, yang tersisa kini hampir tulang dan kulitnya
saja), dia kurus kerontang karena sudah tak bisa mengunyah makanan:
“Harusnya aku bisa membawanya ke Rumah Sakit tapi aku gak punya
uang untuk biaya pengobatannya. Harusnya ibuku sekarang sudah diinfus tapi gak ada satu pun keluarga besarku
yang mau membantuku untuk membayar biaya pengobatannya.
Aku bersumpah bila ibuku sampai meninggal, aku kan balas
dendam pada orang-orang yang tak pernah peduli pada ibuku. Yang juga pada sanak-saudaranya yang tak pernah membantu biaya pengobatan ibuku, yang sudah membiarkannya menderita selama ini.”
Aku menangis lagi, mungkin ini yang keseribu kalinya aku menangis. Apalagi ketika aku buka buku
dan membaca puisi ciptaan Ibu, yang dia berikan padaku setahun lalu kala ulang tahunku yang ke 17. Tepatnya saat itu adalah hari ini, ulang tahunku yang kini ke 18 tapi sayang bedanya Ibu sudah tak bisa lagi menuliskan puisi untukku.
Ini nggak adil… ini nggak adil… ini bener-bener
nggak adil. Harusnya hari ini Ibu sudah bisa berjalan, harusnya dia sudah
bisa bicara, harusnya sekarang dia mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untukku.
Coba kalian baca “Puisi Ibuku” yang setahun lalu
diberikan untukku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 17 ini;
“Anakku menginjak 17 tahun”
“Dewasa”
Karya : Ibu
Renungkanlah walau cuma sedetik
Engkau harapan keluarga, nusa dan bangsa
Mengapa kau masih lalai, haruslah cekal
dalam segala hal?
Adakah engkau belum menyadari?
Jalan yang kau lalui terlalu licin
Aturlah langkahmu berhati-hati
Pikirkanlah, wahai anakku sayang
Adakah artinya sebutir mutiara tulen
Yang tersimpan di dasar lautan
Seandainya gagal dikesan dan dikeluarkan?
Perhatikanlah!!!
Bunga yang mekar pasti akan layu
Apabila tiba saat dan waktu
Kelopaknya akan gugur satu persatu
Bangkitlah, sadarlah dari tidur yang lena
Perhatikan pada dunia, kau mampu menjadi insan cemerlang yang gemilang
Pikirkanlah…
Sungguh inilah hadiah terindah yang pernah ku dapatkan dihari ulang tahunku. Bukan hanya
sekedar kata tapi melebihi segala hal yang paling berharga yang pernah ku miliki. Aku sangat
menyayangi Ibu tapi entah
bagaimana cara untuk mengungkapkannya.
Terkadang aku ingin selalu seperti anak balita
yang selalu dimanjanya tapi
aku malu karena aku kini sudah dewasa. Aku tak ingin terus merepotkan Ibu dengan segala macam masalahku, untuk
itu aku ingin selalu terlihat ceria dihadapannya.
Andai aku sekarang sudah menjadi orang kaya; aku
ingin bawa Ibu jalan-jalan
bersama mobil baruku, aku ingin membelikannya perhiasan dan intan berlian, atau aku akan bawa Ibu keliling dunia–pergi ke tempat-tempat
terindah dengan menggunakan pesawat pribadiku.
Tapi sekarang apa yang aku punya? Nggak ada… dalam
setahun ku bekerja keras di tempat kost pun sudah tak cukup menghidupiku sendiri.
Andai saja sekarang ada orang yang mengajakku
untuk “merampok Bank”, mungkin aku mau. Andai saja saat ini
ada orang yang memintaku untuk berperang dan “berjihad”, mungkin aku setuju. Asalkan aku bisa mendapatkan uang banyak untuk
membawa Ibu berobat ke Rumah
Sakit di luar negeri, karena disanalah arti jihad untukku.
Tapi aku “Dendam” dan sangat dendam pada keluarga
besarku dari Ibu. Tak ada
satu pun dari mereka yang mau peduli pada penderitaan ibuku saat ini; “Padahal Kakak ibuku seorang Pejabat pemerintahan
daerah yang sudah sukses dan kaya di kota Sukabumi. Sementara Adik ibuku seorang Bidan dan kepala bagian ruang yang ternama di Rumah Sakit Terkenal pula
di Jakarta Selatan.
Sedangkan Adik-adik Ibu yang lainnya
bekerja ditempat-tempat kantoran swasta dan pemerintahan yang mapan dan bergaji besar. Tapi
apakah ada yang mau membantu pengobatan ibuku? “Enggak ada…”.
Lihat saja nanti, mereka akan dapatkan
karma yang sama dan bahkan lebih dariku. Apalagi bila ibuku sampai harus meninggal akibat mereka tak mau peduli. Aku akan menyakiti
mereka satu persatu agar mereka bisa merasakan hal yang serupa seperti rasa
sakit yang dirasakan ibuku selama ini.
Tahun ini aku takkan kuliah, aku ingin bekerja
mencari banyak uang untuk membawa
ibuku berobat ke Rumah Sakit. Dan bila nanti aku menjadi orang sukses, kaya,
terkenal dan populer maka aku
akan balas dendam pada orang-orang yang sudah membiarkan ibuku menderita
sepanjang hidupnya.
* *
*
Mulai hari ini aku intensif merawat ibuku di
rumah. Setiap pagi aku akan membasuh kaki Ibu dengan air hangat dan akan ku dudukan dia di kursi
goyang di halaman rumah sambil menatap mentari di pagi hari. Tak lupa ku suapi dia bubur
ayam untuk hidangan sarapannya, dan sesekali aku akan memijatnya hingga dia tertidur lelap di kursi
goyang.
Seminggu kemudian…
7 hari kemudian Ibu sudah berangsur baik dan mau mengangguk saat
kutanya. Terkadang sesekali Ibu tersenyum kecil saat kugoda dia dengan celotehanku tentang masa-masaku
masih hidup ngekost.
Jika aku perhatikan, ibuku sangat cantik sekali tapi mengapa nasibnya
tak seindah wajahnya itu. Padahal harusnya dia menikah dengan seorang Aktor Korea pujaannya atau pejabat tinggi negara. Tapi kenapa Ibu harus memilih ayahku yang kejam
itu dan tidak bertanggungjawab? Bahkan
sampai sekarang pun ayahku tidak mau peduli pada penderitaan Ibu.
“Harusnya ibuku yang cantik ini tidak berhak untuk
disakiti lelaki. Maka merugilah bagi orang-orang yang sudah menyia-nyiakan
kasih sayang dan cintanya.
***
21 Hari
kemudian…
Hari ini Tanggal 28 Juni 2006, tapi kesehatan Ibu tak ada kemajuan dan bahkan semakin parah tak ada lagi harapan. Hari ini
hari Selasa jam 7 malam dan
aku sedang melamun memikirkan masa depanku.
Tiba-tiba ada telepon ke rumahku, yang memberi
kabar duka bahwa Kakak tiriku
(dari ayah) saat ini mendadak sakit parah. Kakakku itu bernama Yusuf Supiandi,
umurnya 44 tahun, berperawakan agak pendek dan buncit tapi dia sangat baik sekali. Bahkan aku sudah menganggapnya sebagai Kakak kandungku sendiri.
Kak Usup biasa aku
memanggilnya, ternyata sudah
menderita sakit Hepatitis
sejak setahun yang lalu. Dan sekarang makin parah katanya
bahwa penyakitnya itu sampai menggerogoti jantung hatinya. Tak diduga sebelumnya, keadaan kak Usup kali ini benar-benar serius bahkan sudah mengancam nyawanya.
***
Flashback seminggu yang lalu
Dalam
minggu-minggu terakhirnya itu, kak Usup tumben sering berkunjung ke rumah untuk menjenguk ibuku yang juga sebagai Ibu tiri baginya. Kak Usup dimataku sudah bagai
‘Penyelamat hidup’ yang selalu perhatian
pada keadaan keluargaku akhir-akhir disaat itu.
Bahkan berkat dia juga lah yang ikut menolongku membayar kekurangan biaya
sekolah dan hidupku dalam setahun ini. Meskipun dia hanya bekerja sebagai supir truk dan penghasilannya
pas-pasan, tapi dia punya jiwa yang kaya yang mau peduli pada keadaan kami.
Coba kalian bayangkan, Kakak tiriku itu hanya bisa sekolah
sampai kelas 5 SD karena Ayahku tak ada biaya tuk menyekolahkannya. Ijazah pun dia tidak punya, membaca dan menulis pun dia mungkin sedikit lupa. Tapi sungguh hatinya itu sangat mulia bahkan lebih bijak ketimbang seorang lulusan sarjana strata.
Kakakku tidak pernah benci
dan dendam pada ayahku yang sudah menelantarkannya sejak kecil.
Asal kalian tahu? Sejak umur kak Usup 10 tahun dia sudah dititipkan dirumah
saudara jauh Ayahku di Sukabumi. Di sana kak Usup dipekerjakan sebagai pembantu rumah
dan kondektur bis jurusan Sukabumi-Cianjur. Dia tumbuh di satu terminal ke terminal lain sambil
menahan lapar dan sakit; “Aku
sendiri selalu ingin menangis saat dia menceritakan masa lalunya itu”.
Dan kini disampingnya
aku berada, apa kalian tahu? Saat
ini kakak tiriku itu sedang bertarung melawan maut. Dia mulai berbicara dan
berhalusinasi mengucapkan kata-kata
yang tak kita semua mengerti.
Sementara yang lain mengelilingi kak Usup sambil membaca Ayat Suci
Al-Qur’an (Surat Yaasiin) untuk mendoakannya agar
mendapat Petunjuk Tuhan yang
terbaik untuknya.
Tapi seketika kami bersedih sampai napas
tercekik, kak Usup tak berhasil bertahan melawan kematian; “Dia menghembuskan napas terakhirnya pada Tanggal
28 Juni 2006 Pukul 21.57 malam di rumah mertuanya di
Cidaun–Cianjur Selatan”.
Sungguh kematian yang tak disangka, padahal 3 hari sebelumnya itu kak Usup pamit padaku dan dia malah mengajakku untuk ikut berlibur bersamanya
di laut
Jayanti-Cianjur Selatan. Tapi
mengapa dia harus meninggal
mendadak secepat itu, padahal aku ingin sekali membalas jasa-jasanya padaku
selama ini.
“Tuhan… ku titipkan Kakakku pada-Mu, semoga dia lebih bisa berharga
berada di sana. Dan ku tahu, Engkau Maha lebih tahu apa
yang terbaik untuknya”.
***
10 hari kemudian…
Belum cukupkah rasa sedih yang ku rasakan akhir-akhir ini. Mengapa Engkau (Tuhan) buat ku menangis lagi malam
ini? Apa sebenarnya kesalahan dan dosa terbesar yang telah ku perbuat sehingga Engkau membuatku dan keluarga kami untuk selalu rasakan derita kehilangan seperti ini?
Bolehkah
kukeluhkan semua ini karena
kurasa nggak adil Tuhan meski
pun Engkau dari Maha Segala Rahasia. Akan tetapi kenapa Engkau mengambil orang-orang yang sangat berarti
bagiku pula ku sayangi didunia ini?
Tanggal
8 Juli 2006…
Hari Sabtu Pukul 10.37 malam,
ibuku menghembuskan napas
terakhirnya di pembaringan. Belum genap 2 minggu kakakku meninggal dunia, kini ibuku harus meninggalkanku sendiri juga. Ini seperti nggak adil buatku, mengapa semua ini harus terjadi
padaku?
Kepada siapa kini diriku harus bersandar dan menangis, sementara
teman-temanku yang lain tak ada yang datang menemuiku untuk sekedar menenangkanku. Aku dendam pada semua orang, aku
tak ingin mengenal mereka lagi dalam hidupku. Dan yang terakhir… aku akan balas
dendam pada orang-orang yang sudah mengabaikanku dan juga Almarhumah ibuku: “Ya… kita lihat saja nanti, semua orang akan dapat giliran untuk
merasakan apa yang telah aku dan ibuku rasakan,” berkobarlah amarahku dalam hati.
* *
*
“Hari-hari
sepi akan ku lewati tanpa arti, puisi dan lagu kucipta beralaskan isi hati. Tak
ada guna lagi hidupku tanpa kehadiranmu (Ibu) di dunia ini. Andai aku bisa
sadari dari dulu, bahwa hanya engkau Ibu yang paling dan sangat
berharga dalam karyaku. Apa yang kau tinggalkan tak sepatutnya aku pertanyakan,
hanya sesak yang tersisa didada saat rasa sesal menghujamku dengan seribu dosa,
kepadamu Ibu.”
Bila sang fajar terlambat bangun di pagi nanti;
hanya engkau (Ibu) yang bisa menggantikan sinarnya untuk sementara waktu.
Tolong terangi hatiku di tempat kini kau bernaung, dengan senyuman dan aura
hangat yang masih tersisa untukku di Surga.
Seperti tak hentinya ingin kusanjung dirimu Ibu, karena engkau memang lebih indah dari
sang fajar dan kau lebih pantas tuk menggantikannya menerangi sayatan hatiku. Cepatlah datang ke mimpiku dan mari Ibu: ”Kita bergegas mewujudkan
semuanya menjadi nyata di pagi nanti berdua bersamaku. Karena harapan yang
belum Ibu wujudkan akan menjadi
cita-citaku sepenuhnya.”
Walau kini jasad kita terpisah dalam ruang dan
waktu tapi hati kita dapat bicara. Dan kau sering berkata tentang suatu hari indah yang akan kita lewati sekeluarga,
karena anggapmu–kau akan lihat kecantikan pelangi setelah hujan badai
menghempas takdir perih kita.
Ketika ini aku masih
melihatmu (Ibu) terkujur kaku dengan mata terpejam dan mulut menganga. Semua
orang menangis di sekitarmu, tapi apa yang mereka tangiskan dihadapanmu? Kemana mereka selama
ini saat kau di landa sakit berkepanjangan. Kata orang Ibu mengidap stroke atau lumpuh yang menahun, tapi mengapa
mereka hanya bisa bicara tanpa berbuat apa-apa.
Tahukah engkau (Ibu), pagi tadi aku baru saja pergi
ke sekolahku untuk membawa Ijazah,
STTB dan nilai HUANKU. Dan apa engkau tahu? “Aku lulus… nilai UANku hampir 22, Ibu senang khan?”
Tapi sayang, pagi harinya aku memperoleh Ijazah tapi malam harinya
ibuku meninggal dunia. Harusnya Ibu sempatkan waktu untuk
melihat hasil UANku ini…
Sekarang kata apa lagi yang harus ku ucapkan dari mulut hina sang pendosa
sepertiku? Apa gunanya berteriak bila hati telah mati rasa, apa untungnya
mencaci bila langit tak ingin mendengar.
Ijazah SMAku ini mungkin hanya bisa kusimpan rapat
dan takkan ku gunakan untuk pendaftaran melanjutkan kuliah:
“Ya mungkin tahun ini aku takkan kuliah bu. Karena aku benar-benar tak punya gairah,
semangat hidup pun sirna seiring perginya Ibu tercinta.
Mungkin lebih baik aku akan pergi bekerja di ibu kota, setidaknya aku
ingin melarikan diri dari semua masalahku di kota terkutuk ini.
Lihat saja nanti, aku akan kembali pulang membawa
popularitas dan uang segudang. Akan ku kuliahkan kedua adikku hingga mereka
bisa mewujudkan cita-citanya. Akan ku bahagiakan kedua adikku itu sebagai tanda
baktiku pada Almarhumah
ibuku.
Aku sudahi tangisanku kali ini, ku relakan Ibu dimandikan, di kain kafanin dan dikuburkan.
Untuk yang terakhir kali, ku tuliskan surat ini yang akan
mengantarnya terbang ke langit biru;
“Teruntuk : Ibu
di Surga…”
Alaskan bantal tidur
panjangmu dengan kejujuran, rebahkan
tubuh kakumu dengan keikhlasan. Selimutkan
tubuhmu dengan kain kafan penuh kesabaran dan semoga kedua lenganmu dalam
keimanan. Serta jangan lupa hiasi wajah cantikmu dengan senyuman lembut penuh
kegembiraan. Semoga sudah tercapai semua impianmu yang telah lama kau dambakan
dalam peraduan. Serta semoga kau dapat tenang di alam sana karena aku di sini akan
baik-baik saja”.
Tuhan… sampaikanlah salam rinduku ini pada Almarhumah ibuku disana. Katakanlah kepadanya bahwa aku akan buat
dia bangga bisa melihatku menjadi anak yang sukses, seperti apa yang dia ajarkan padaku sejak saat ku masih kecil.
* *
*
Bersambung ke Kekasih Terakhir 3
Please Open to:
anudatar.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar