Kamis, 11 Mei 2017

Kekasih Terakhir 2 Eps 6 : Teruntuk: Ibu di Surga



Teruntuk : Ibu di Surga


Kuangkat semua barangku dari sini, ku akan pergi jauh dari rumah kost ini dan meninggalkan semua kenangan yang sudah terukir di tempat ini. Beri waktu biar cuma sedikit lagi untukku memandang rumah kost ini (Rumah Ceria yang sempat ku singgahi bersama Nui, Wulan, Rubi dan Fikri). Rupanya terlalu enggan untukku pergi secepat ini dari sini, langkahku makin terasa berat untuk beranjak dan mataku tak ingin lepas pandangi rumah ini.
Aku menangis mengingat kenangan dulu saat pertama kali datang ke tempat kost ini. Dan tak terasa 1 tahun sudah berlalu, banyak cerita indah yang sudah ku lalui bersama teman-teman sekostku.
(Aku takkan banyak menceritakan lagi tentang hal-hal yang menyangkut aku dan rumah kost ini, karena semua itu sudah ku tuliskan di cerita karya ke 10ku yang berjudul Indekost).
Sekarang saatnya untukku melangkahkan kaki dari rumah kost ini, karena akan terlalu menyedihkan buatku bila ku terus mengenang tempat ini. Sebelumnya, aku pamitan terlebih dahulu pada semua penghuni rumah kost ini serta pada semua orang yang kukenal baik disini.
Akhirnya ku lambaikan juga tanganku untuk yang terakhir kali, sebagai pesan perpisahan pada semua orang yang menyayangi dan memperhatikanku selama ini. Tak pernah aku merasakan sedih, sesedih ini. Walau ku tahu ada perjumpaan pasti ada perpisahan.
Aku pun langsung menaiki kendaraan umum menuju kota asalku (Cianjur). Perlahan-lahan tubuhku semakin terbawa jauh dari kota kecil ini (Cibeber). Secara logika aku akan tiba di rumah paling lambat sekitar 60 menit lagi dari sekarang. Biarlah saat ini ku nikmati kesedihanku di dalam kendaraan umum ini, yang akan mengantarkan aku pulang, menemui Ibu yang sampai sekarang masih terbaring sakit sejak pertama kali aku kost setahun yang lalu. Apa yang sedang ku  rasakan saat ini sebenarnya? Aku kini berada di tempat duduk paling ujung angkutan umum, sembari melamun meratapi perjalanan hidupku yang penuh liku. Aku selalu dan sangat merindukan sebuah masa bahagia akan datang dalam kehidupanku dan senantiasa mewarnai hari-hari pedihku.
Selintas terbayang sesosok wajah perempuan kian menggodaku (mengajakku untuk berkhayal). Semakin jelas tergambar raut muka nan elok rupawan, dialah “Nisa.Seorang perempuan yang selalu menghantuiku semenjak dari 6 tahun yang lalu. Dia selalu hadir dalam imajinasiku saat ku mulai jenuh jalani hidup. Dia juga bahkan selalu menyemangatiku untuk tetap bertahan dari segala cobaan. Dan selalu aku tahu ketika ku dilanda sunyi sepi–dia akan datang untuk menghiburku dengan tawa dan candanya itu.
Nisa bukan sekedar wanita yang aku cintai dan kagumi tapi juga dia lebih tangguh, lebih dari sekedar seorang ‘teman khayalan’ untukku. Dan tak pernah aku akan merasa bosan untuk selalu menceritakan kecantikannya yang tiada tara itu: “Ketika Nisa berjalan, dunia menatapnya. Ketika dia terdiam, seakan waktu berhenti berputar”.
Dan seperti itulah Nisa dimataku, kalian pasti akan merasa malu bila sudah melihatnya. Karena setelah kalian melihatnya maka kalian pasti akan bertanya pada diri kalian sendiri, bahwa kalian tak pernah pantas untuk disejajarkan dengan kecantikan “Seorang Nisa”.
Angkutan umum ini terus melaju sesuai jalur, sementara aku masih terdiam duduk di sudut belakang. Kadang aku selalu merindu untuk segera pulang, menemui Ibu biar sekedar menanyakan kabar. Tapi aku seakan enggan untuk pulang, aku malu pada keadaanku yang sekarang. Apa yang bisa aku banggakan pada Ibu setelah aku pulang? Aku hanya seorang perantau yang gagal dalam mencari mimpi di kota seberang.
Lihatlah aku yang menyedihkan ini; tubuhku kurus kerontang, dalam setahun aku kehilangan berat badan 12 kilo dan saat ini berat badanku hanya 52kg. aku yakin Ibu pasti akan menangis melihat tubuhku yang sekarang. Karena dia satu-satunya orang yang selalu mengingatkanku untuk tak lupa makan.
Sebenarnya aku ingin pulang sambil membawa banyak uang (sekarung bahkan segudang). Akan kuajak Ibu jalan-jalan keliling dunia, ku belikan dia emas permata dan baju-baju mewah. Serta tak lupa akan ku jadikan dia bagai Ibu permaisuri di kerajaan baruku nanti.
Tapi apa yang kubawa sekarang ? Dan mana semua hasil kerja paruh waktuku di kota orang? Heuh… semuanya sudah habis; sebagian ku bayarkan untuk biaya sekolahku selama setahun ini. Sebagian lagi ku kirimkan untuk uang jajan adik-adikku sementara sisanya habis untuk membayar uang kost dan biaya hidupku selama ini.
Sungguh aku merasa sia-sia telah meninggalkan Ibu dalam setahun terakhir ini. Harusnya aku merawatnya sampai dia sembuh, tak peduli dengan kelanjutan sekolahku. Persetan meski aku harus dikeluarkan dari sekolah SMAku karena sering bolos sebab tak punya uang ongkos lagi untuk pergi sekolah.
Pernah disuatu ketika (akhir bulan April 2005) aku diancam Guru akan dikeluarkan dari sekolah karena aku sudah terlalu banyak bolos sekolah. Sempat aku juga pernah mengadu pada Nisa tentang prihal ini di malam terakhir aku menemuinya. Tapi sayangnya semua orang termasuk Nisa tidak pernah mau peduli tentang masalah yang ku hadapi ini.
Mereka tak pernah tahu bahwa saat itu aku bener-bener “down” dan seperti terjatuh dari lantai lima puluh. Padahal mereka harus tahu bahwa aku telah kepaksa bolos sekolah karena aku juga harus merawat ibuku yang sedang sakit parah saat itu; Tapi rasanya percuma juga meski mereka tahu karena aku yakin mereka takkan mau tahu.
Itulah yang menjadi alasanku untuk membenci mereka, dan akan ku sakiti mereka sebagaimana mereka telah kejam menyiksa bathinku selama ini. Agar mereka bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya diabaikan, tak dipedulikan, diasingkan dari lingkungan dan diacuhkan dari komunitas pergaulan.
Akhirnya dalam waktu yang hampir  sejam aku tiba di tempat tujuan; (Rumahku) tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Terakhir kali aku datang kesini 2 bulan yang lalu, dan sekarang aku melihat ada yang berbeda disekitar lingkungan rumahku; ternyata Nenekku telah membangun rumah sederhana untuk dikontrakan tak jauh dari rumahku. Selain itu kebun disamping rumahku juga telah dipenuhi rumput-rumput liar yang hampir menutupi rumah.
Aku ingin menangis karena ternyata rumahku sudah tak terurus dan nampak kumuh seperti di dalam hutan. Sungguh bajingan ayahku, dia pergi begitu saja tanpa mau bertanggungjawab terhadap keluarganya sendiri.
Sesampainya aku bertemu Ibu; ingin sekali rasanya aku bersujud malu dikakinya. Tapi aku tak mau menangis karena dia pasti akan marah bila melihatku bersedih. Coba sekarang kalian lihat ibuku! Dia terkapar lumpuh di atas ranjang, semua sarapnya mati total dan tak lagi bisa digerakkan.
Sekarang ranjang ini sudah menjadi multifungsi baginya; tempat dia tidur, tempat dia buang kotoran, tempat dia kencing, tempat dia makan dan minum, serta tempat dia menangis memanggil namaku sepanjang malam. Anak macam apa aku ini, tega-teganya aku meninggalkan ibuku terkapar tak berdaya disini. Aku sungguh-sungguh menyesal, harusnya aku berhenti sekolah saja dan merawat intensif ibuku di rumah. Tapi ibuku sempat marah ketika aku ingin memutuskan untuk berhenti sekolah.
Salah satunya jalan saat itu, yaitu aku harus ngekost dan tinggal dekat sekolah agar aku bisa menghemat pengeluaran hidupku dan tak lagi membebani keluargaku. Sementara ayahku sudah tak membiayai hidup kami selama Ibu sakit sampai saat ini. Akhirnya selain aku harus kost, aku juga harus kerja banting tulang untuk setidaknya bisa membiayai sekolahku dan hidupku sendiri.
Tapi sudahlah, semua ini sudah terlanjur terjadi dan tak patut lagi ku sesali. Yang terpenting saat ini aku sudah hampir menyelesaikan sekolahku (SMAku);  sekarang aku hanya tinggal menunggu saat pihak sekolah membagikan Ijazah, STTB dan nilai HUANku. Mungkin sekitar sebulan lagi akan dinyatakan bahwa aku bukan salah satu siswa mereka lagi.
Dan akhirnya aku bisa lega seperti aku bisa melepaskan batu seberat 20 ton dari atas pundakku ini. Yang terpenting sekarang, aku punya lebih banyak waktu untuk merawat ibuku di rumah. Dan akan ku pastikan pada kalian, aku takkan pernah beranjak lagi dari tempat ini sampai ibuku bisa berjalan.
Mungkin kebanyakan dari kawan seangkatanku, saat ini sedang sibuk mencari tempat kuliah di Universitas yang selama ini mereka idamkan. Tapi tidak untukku, persetan aku tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Aku tidak pernah mau lagi meninggalkan ibuku dirumah untuk yang kedua kalinya. Ya… aku yakin ku takkan pernah mau kuliah, ku takkan lagi meninggalkan rumah sampai Ibu sembuh.
Coba kalian perhatikan ibuku sekarang; matanya hanya bisa terpejam, tubuhnya sudah sulit untuk digerakkan. Bahkan berat badannya yang dulu 75kg itu telah berkurang hingga kini mungkin beratnya cuma 45kg. (Entah kemana dagingnya itu, yang tersisa kini hampir tulang dan kulitnya saja), dia kurus kerontang karena sudah tak bisa mengunyah makanan:
“Harusnya aku bisa membawanya ke Rumah Sakit tapi aku gak punya uang untuk biaya pengobatannya. Harusnya ibuku sekarang sudah diinfus tapi gak ada satu pun keluarga besarku yang mau membantuku untuk membayar biaya pengobatannya.
Aku bersumpah bila ibuku sampai meninggal, aku kan balas dendam pada orang-orang yang tak pernah peduli pada ibuku. Yang juga pada sanak-saudaranya yang tak pernah membantu biaya pengobatan ibuku, yang sudah membiarkannya menderita selama ini.
Aku menangis lagi, mungkin ini yang keseribu kalinya aku menangis. Apalagi ketika aku buka buku  dan membaca puisi ciptaan Ibu, yang dia berikan padaku setahun lalu kala ulang tahunku yang ke 17. Tepatnya saat itu adalah hari ini, ulang tahunku yang kini ke 18 tapi sayang bedanya Ibu sudah tak bisa lagi menuliskan puisi untukku.
Ini nggak adil… ini nggak adil… ini bener-bener nggak adil.  Harusnya hari ini Ibu sudah bisa berjalan, harusnya dia sudah bisa bicara, harusnya sekarang dia mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untukku.
Coba kalian baca “Puisi Ibuku” yang setahun lalu diberikan untukku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 17 ini;


“Anakku menginjak 17 tahun”
“Dewasa”

Karya : Ibu

Renungkanlah walau cuma sedetik
Engkau harapan keluarga, nusa dan bangsa
Mengapa kau masih lalai, haruslah cekal
dalam segala hal?
Adakah engkau belum menyadari?
Jalan yang kau lalui terlalu licin
Aturlah langkahmu berhati-hati
Pikirkanlah, wahai anakku sayang
Adakah artinya sebutir mutiara tulen
Yang tersimpan di dasar lautan
Seandainya gagal dikesan dan dikeluarkan?
Perhatikanlah!!!
Bunga yang mekar pasti akan layu
Apabila tiba saat dan waktu
Kelopaknya akan gugur satu persatu
Bangkitlah, sadarlah dari tidur yang lena
Perhatikan pada dunia, kau mampu menjadi insan cemerlang yang gemilang
Pikirkanlah…
Sungguh inilah hadiah terindah  yang pernah ku dapatkan dihari ulang tahunku. Bukan hanya sekedar kata tapi melebihi segala hal yang paling berharga yang pernah ku miliki. Aku sangat menyayangi Ibu tapi entah bagaimana cara untuk mengungkapkannya.
Terkadang aku ingin selalu seperti anak balita yang selalu dimanjanya tapi aku malu karena aku kini sudah dewasa. Aku tak ingin terus merepotkan Ibu dengan segala macam masalahku, untuk itu aku ingin selalu terlihat ceria dihadapannya.
Andai aku sekarang sudah menjadi orang kaya; aku ingin bawa Ibu jalan-jalan bersama mobil baruku, aku ingin membelikannya perhiasan dan intan berlian, atau aku akan bawa Ibu keliling dunia–pergi ke tempat-tempat terindah dengan menggunakan pesawat pribadiku.
Tapi sekarang apa yang aku punya? Nggak ada… dalam setahun ku bekerja keras di tempat kost pun sudah tak cukup menghidupiku sendiri.
Andai saja sekarang ada orang yang mengajakku untuk “merampok Bank”, mungkin aku mau. Andai saja saat ini ada orang yang memintaku untuk berperang dan “berjihad, mungkin aku setuju. Asalkan aku bisa mendapatkan uang banyak untuk membawa Ibu berobat ke Rumah Sakit di luar negeri, karena disanalah arti jihad untukku.
Tapi aku “Dendam” dan sangat dendam pada keluarga besarku dari Ibu. Tak ada satu pun dari mereka yang mau peduli pada penderitaan ibuku saat ini; “Padahal Kakak ibuku seorang Pejabat pemerintahan daerah  yang sudah sukses dan kaya di kota Sukabumi. Sementara Adik ibuku seorang Bidan dan kepala bagian ruang yang ternama di Rumah Sakit Terkenal pula di Jakarta Selatan.
Sedangkan Adik-adik Ibu yang lainnya bekerja ditempat-tempat kantoran swasta dan pemerintahan yang mapan dan bergaji besar. Tapi apakah ada yang mau membantu pengobatan ibuku? Enggak ada…”.
Lihat saja nanti, mereka akan dapatkan karma yang sama dan bahkan lebih dariku. Apalagi bila ibuku sampai harus meninggal akibat mereka tak mau peduli. Aku akan menyakiti mereka satu persatu agar mereka bisa merasakan hal yang serupa seperti rasa sakit yang dirasakan ibuku selama ini.
Tahun ini aku takkan kuliah, aku ingin bekerja mencari banyak uang untuk membawa ibuku berobat ke Rumah Sakit. Dan bila nanti aku menjadi orang sukses, kaya, terkenal dan populer maka aku akan balas dendam pada orang-orang yang sudah membiarkan ibuku menderita sepanjang hidupnya.

*  *  *  

Mulai hari ini aku intensif merawat ibuku di rumah. Setiap pagi aku akan membasuh kaki Ibu dengan air hangat dan akan ku dudukan dia di kursi goyang di halaman rumah sambil menatap mentari di pagi hari. Tak lupa ku suapi dia bubur ayam untuk hidangan sarapannya, dan sesekali aku akan memijatnya hingga dia tertidur lelap di kursi goyang.

Seminggu kemudian…

7 hari kemudian Ibu sudah berangsur baik dan mau mengangguk saat kutanya. Terkadang sesekali Ibu tersenyum kecil saat kugoda dia dengan celotehanku tentang masa-masaku masih hidup ngekost.
Jika aku perhatikan, ibuku sangat cantik sekali tapi mengapa nasibnya tak seindah wajahnya itu. Padahal harusnya dia menikah dengan seorang Aktor Korea pujaannya atau pejabat tinggi negara. Tapi kenapa Ibu harus memilih ayahku yang kejam itu dan tidak bertanggungjawab? Bahkan sampai sekarang pun ayahku tidak mau peduli pada penderitaan Ibu.
“Harusnya ibuku yang cantik ini tidak berhak untuk disakiti lelaki. Maka merugilah bagi orang-orang yang sudah menyia-nyiakan kasih sayang dan cintanya.

***
21 Hari kemudian…

Hari ini Tanggal 28 Juni 2006, tapi kesehatan Ibu tak ada kemajuan dan bahkan semakin parah tak ada lagi harapan. Hari ini hari Selasa jam 7 malam dan aku sedang melamun memikirkan masa depanku.
Tiba-tiba ada telepon ke rumahku, yang memberi kabar duka bahwa Kakak tiriku (dari ayah) saat ini mendadak sakit parah. Kakakku itu bernama Yusuf Supiandi, umurnya 44 tahun, berperawakan agak pendek dan buncit tapi dia sangat baik sekali. Bahkan aku sudah menganggapnya sebagai Kakak kandungku sendiri.
Kak Usup biasa aku memanggilnya, ternyata sudah menderita sakit Hepatitis sejak setahun yang lalu. Dan sekarang makin parah katanya bahwa penyakitnya itu sampai menggerogoti jantung hatinya. Tak diduga sebelumnya, keadaan kak Usup kali ini benar-benar serius bahkan sudah mengancam nyawanya.

***
Flashback seminggu yang lalu

Dalam minggu-minggu terakhirnya itu, kak Usup tumben sering berkunjung ke rumah untuk menjenguk ibuku yang juga sebagai Ibu tiri baginya. Kak Usup dimataku sudah bagai ‘Penyelamat hidup’  yang selalu perhatian pada keadaan keluargaku akhir-akhir disaat itu.
Bahkan berkat dia juga lah yang ikut menolongku membayar kekurangan biaya sekolah dan hidupku dalam setahun ini. Meskipun dia hanya bekerja sebagai supir truk dan penghasilannya pas-pasan, tapi dia punya jiwa yang kaya yang mau peduli pada keadaan kami.
Coba kalian bayangkan, Kakak tiriku itu hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD karena Ayahku tak ada biaya tuk menyekolahkannya. Ijazah pun dia tidak punya, membaca dan menulis pun dia mungkin sedikit lupa. Tapi sungguh hatinya itu sangat mulia bahkan lebih bijak ketimbang seorang lulusan sarjana strata. Kakakku tidak pernah benci dan dendam pada ayahku yang sudah menelantarkannya sejak kecil.
Asal kalian tahu? Sejak umur kak Usup 10 tahun  dia sudah dititipkan dirumah saudara jauh Ayahku di Sukabumi. Di sana kak Usup  dipekerjakan sebagai pembantu rumah dan kondektur bis jurusan Sukabumi-Cianjur. Dia tumbuh di satu terminal ke terminal lain sambil menahan lapar dan sakit; “Aku sendiri selalu ingin menangis saat dia menceritakan masa lalunya itu”.
Dan kini disampingnya aku berada, apa kalian tahu? Saat ini kakak tiriku itu sedang bertarung melawan maut. Dia mulai berbicara dan berhalusinasi mengucapkan kata-kata yang tak kita semua mengerti. Sementara yang lain mengelilingi kak Usup sambil membaca Ayat Suci Al-Qur’an (Surat Yaasiin) untuk mendoakannya agar mendapat Petunjuk Tuhan yang terbaik untuknya.
Tapi seketika kami bersedih sampai napas tercekik, kak Usup tak berhasil bertahan melawan kematian; “Dia menghembuskan napas terakhirnya pada Tanggal 28 Juni 2006 Pukul 21.57 malam di rumah mertuanya di Cidaun–Cianjur Selatan”.
Sungguh kematian yang tak disangka, padahal 3 hari sebelumnya itu kak Usup pamit padaku dan dia malah mengajakku untuk ikut berlibur bersamanya di laut Jayanti-Cianjur Selatan. Tapi mengapa dia harus meninggal mendadak secepat itu, padahal aku ingin sekali membalas jasa-jasanya padaku selama ini.
“Tuhan… ku titipkan Kakakku pada-Mu, semoga dia lebih bisa berharga berada di sana. Dan ku tahu, Engkau Maha lebih tahu apa yang terbaik untuknya”.

***

10 hari kemudian…

Belum cukupkah rasa sedih yang ku rasakan akhir-akhir ini. Mengapa Engkau (Tuhan) buat ku menangis lagi malam ini? Apa sebenarnya kesalahan dan dosa terbesar yang telah ku perbuat sehingga Engkau membuatku dan keluarga kami untuk selalu rasakan derita kehilangan seperti ini?
Bolehkah kukeluhkan semua ini karena kurasa nggak adil Tuhan meski pun Engkau dari Maha Segala Rahasia. Akan tetapi kenapa Engkau mengambil orang-orang yang sangat berarti bagiku pula ku sayangi didunia ini?

Tanggal 8 Juli 2006…

Hari Sabtu Pukul 10.37 malam, ibuku menghembuskan napas terakhirnya di pembaringan. Belum genap 2 minggu kakakku meninggal dunia, kini ibuku harus meninggalkanku sendiri juga. Ini seperti nggak adil buatku, mengapa semua ini harus terjadi padaku?
Kepada siapa kini diriku harus bersandar dan menangis, sementara teman-temanku yang lain tak ada yang datang menemuiku untuk sekedar menenangkanku. Aku dendam pada semua orang, aku tak ingin mengenal mereka lagi dalam hidupku. Dan yang terakhir… aku akan balas dendam pada orang-orang yang sudah mengabaikanku dan juga Almarhumah ibuku: “Ya… kita lihat saja nanti, semua orang akan dapat giliran untuk merasakan apa yang telah aku dan ibuku rasakan, berkobarlah amarahku dalam hati.

  *  *  * 

“Hari-hari sepi akan ku lewati tanpa arti, puisi dan lagu kucipta beralaskan isi hati. Tak ada guna lagi hidupku tanpa kehadiranmu (Ibu) di dunia ini. Andai aku bisa sadari dari dulu, bahwa hanya engkau Ibu yang paling dan sangat berharga dalam karyaku. Apa yang kau tinggalkan tak sepatutnya aku pertanyakan, hanya sesak yang tersisa didada saat rasa sesal menghujamku dengan seribu dosa, kepadamu Ibu.

Bila sang fajar terlambat bangun di pagi nanti; hanya engkau (Ibu) yang bisa menggantikan sinarnya untuk sementara waktu. Tolong terangi hatiku di tempat kini kau bernaung, dengan senyuman dan aura hangat yang masih tersisa untukku di Surga.
Seperti tak hentinya ingin kusanjung dirimu Ibu, karena engkau memang lebih indah dari sang fajar dan kau lebih pantas tuk menggantikannya menerangi sayatan hatiku. Cepatlah datang ke mimpiku dan mari Ibu: Kita bergegas mewujudkan semuanya menjadi nyata di pagi nanti berdua bersamaku. Karena harapan yang belum Ibu wujudkan akan menjadi cita-citaku sepenuhnya.
Walau kini jasad kita terpisah dalam ruang dan waktu tapi hati kita dapat bicara. Dan kau sering berkata tentang suatu hari indah yang akan kita lewati sekeluarga, karena anggapmu–kau akan lihat kecantikan pelangi setelah hujan badai menghempas takdir perih kita.
Ketika ini aku masih melihatmu (Ibu) terkujur kaku dengan mata terpejam dan mulut menganga. Semua orang menangis di sekitarmu, tapi apa yang mereka  tangiskan dihadapanmu? Kemana mereka selama ini saat kau di landa sakit berkepanjangan. Kata orang Ibu mengidap stroke atau lumpuh yang menahun, tapi mengapa mereka hanya bisa bicara tanpa berbuat apa-apa.
Tahukah engkau (Ibu), pagi tadi aku baru saja pergi ke sekolahku untuk membawa Ijazah, STTB dan nilai HUANKU. Dan apa engkau tahu? “Aku lulus… nilai UANku hampir 22, Ibu senang khan?”
Tapi sayang, pagi harinya aku memperoleh Ijazah tapi malam harinya ibuku meninggal dunia. Harusnya Ibu sempatkan waktu untuk melihat hasil UANku ini…
Sekarang kata apa lagi yang harus ku ucapkan dari mulut hina sang pendosa sepertiku? Apa gunanya berteriak bila hati telah mati rasa, apa untungnya mencaci bila langit tak ingin mendengar.
Ijazah SMAku ini mungkin hanya bisa kusimpan rapat dan takkan ku gunakan untuk pendaftaran melanjutkan kuliah: Ya mungkin tahun ini aku takkan kuliah bu. Karena aku benar-benar tak punya gairah, semangat hidup pun sirna seiring perginya Ibu tercinta.
Mungkin lebih baik aku akan pergi bekerja di ibu kota, setidaknya aku ingin melarikan diri dari semua masalahku di kota terkutuk ini.
Lihat saja nanti, aku akan kembali pulang membawa popularitas dan uang segudang. Akan ku kuliahkan kedua adikku hingga mereka bisa mewujudkan cita-citanya. Akan ku bahagiakan kedua adikku itu sebagai tanda baktiku pada Almarhumah ibuku.
Aku sudahi tangisanku kali ini, ku relakan Ibu dimandikan, di kain kafanin dan dikuburkan.
Untuk yang terakhir kali, ku tuliskan surat ini yang akan mengantarnya terbang ke langit biru;
“Teruntuk : Ibu di Surga…
Alaskan bantal tidur panjangmu dengan kejujuran, rebahkan tubuh kakumu dengan keikhlasan. Selimutkan tubuhmu dengan kain kafan penuh kesabaran dan semoga kedua lenganmu dalam keimanan. Serta jangan lupa hiasi wajah cantikmu dengan senyuman lembut penuh kegembiraan. Semoga sudah tercapai semua impianmu yang telah lama kau dambakan dalam peraduan. Serta semoga kau dapat tenang di alam sana karena aku di sini akan baik-baik saja”.

Tuhan… sampaikanlah salam rinduku ini pada Almarhumah ibuku disana. Katakanlah kepadanya bahwa aku akan buat dia bangga bisa melihatku menjadi anak yang sukses, seperti apa yang dia ajarkan padaku sejak saat ku masih kecil.

*  *  *  

Bersambung ke Kekasih Terakhir 3

 Please Open to:
anudatar.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anudatar.blogspot.com kekasih terakhir 2 eps 4 : indekost

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

  Wasiat Sang Penyair                CATATAN AKHIR   TAHUN 2006                                                                   SURAT ...