Wasiat
Sang Penyair
CATATAN AKHIR TAHUN 2006
SURAT UNTUK NISA
Cianjur, Sabtu 30
Desember 2006
Pukul
Aku terkapar, dan hanya bisa
berbaring di ranjang selam 9 hari ini. Demamku makin tinggi, tenggorokanku
terasa geli dan batuk-batuk, kepalaku pusing dan tubuhku terasa mengigil
kedinginan.
Malam ini aku menangis
dan bukan sekedar menangis seperti biasa. Aku selalu merasa kematian ada di
depan mataku, sementara yang lainnya tak ada yang peduli padaku.
Kini,
hubungan antara aku dan ayahku sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin hingga
mati kami akan tetap menjadi musuh yang abadi. Dia tetap pada pilihannya untuk
menikahi perempuan keparat itu. Padahal perempuan itulah yang dulu menyakiti
ibuku sewaktu masih hidup. Aku pernah bercerita di Novel ini (di judul Selamat
Tinggal Nisa) bahwa waktu umurku sekitar 6 tahunan-Ayah dan Ibuku selalu
bertengkar setiap hari menjelang tidur. Baru ku tahu sebabnya sekarang, bahwa ternyata Ayahku saat
itu berselingkuh dengan
perempuan yang saat
ini juga ingin dinikahinya.aku
sangat dendam pada perempuan itu, dan suatu hari nanti aku akan membalaskan
dendam dan skit hati Ibuku semasa dia masih hidup. Aku takkan ceritakan tentang
jati diri perempuan itu, karena dia tak layak untuk ada dalam tulisan Novelku ini.
Yang pasti, seminggu lalu aku bertengkar mulut dengan Ayahku gara-gara
perempuan itu. Aku bilang pada Ayahku bahwa aku tidak pernah sudi jika mereka
jadi menikah, tapi Ayahku tetap ngotot pada pendiriannya hingga bersedia untuk
memusuhiku seumur hidupnya.
Sudah hampir seminggu
ini aku danAyahku sudah saling memalingkan muka enggan bicara lagi. Padahal,
besok adalah Idul Adha agamaku, tapi sepertinya takkan ada keceriaan lagi meski
di hari besar agamaku sekalipun. Biarlah ini yang terjadi dan esok lusa aku
akan pergike
Oh Tuhan,
sembuhkanlah penyakitku Demam tinggiku ini. Berikanlah aku Mukjizat untuk sehat
dan bisa berlari lagi seperti dulu. Aku sudah benci, muak dan jenuh selalu
terkapar di ranjang ini. Aku ingin sekali bisa berdiri, berlari dan berteriak
sekuat tenaga untuk melepaskan kepedihanku ini.
Tapi mengapa Tuhan, kau buat aku tak
berdaya di balik selimut sementara tak ada satupun yang memperhatikan keberadaanku?
Mau makan aja harus ngambil sendiri. Padahal benar-benar sakit dan butuh
perhatian dari orang lain. Oh iya aku lupa, Ibuku sudah meninggal dunia dan
Tuhanlah yang telah merenggutnya dariku. Sementara Tuhan jugalah yang membuat
deritaku bertambah hingga aku tak bisa berkritik lagi pada ruih gaduh yang
membisingiku.
Oh Tuhan, aku
sudah letih pada semua kenyataan ini. Aku sudah tak bisa lagi hadapi ujian
hidupMu. Mengapa tak kau ambil nyawaku saja untuk mengakhiri semua
penderitaanku ini? Tuhan, aku benar-benar rapuh saat ini.
Hanya malam,
yang bisa mendengar jerit ronta kepedihanku. Dan aku selalu merasa bahwa
hidupku tak mungkin lama lagi. Tapi bagiku mati bukanlah hal yang menakutkan,
justru yang lebih kutakutkan-bila aku harus mati sebelum aku menemukan ‘Cinta
Sejati’ dan sebelum aku mengetahui siapakah sebenarnya yang akan menjadi
‘Kekasih Terakhirku’ nanti?
Tuhan, ku
mohon padaMu, tolong berikan kau petunjuk tentang keberadaan ‘Pendamping
hidupku’. Dimana lahi harus kucari agar bisa menemukan perempuan yang
benar-benar ikhlas mencintaiku, yang dengan setulus-tulusnya menyayangiku?
Semestara,
dalam sepanjang hidupku-aku hanya mengenal seorang wanita, yang bersamanya aku
merasa bebas untuk mengekspresikan sikapku-dan bersamanya aku benar-benar menjadi
diriku. Wanita itu bernama Anisa Yuniar Purwana, hubungan antara aku dan dia
adalah cerita yang paling indah dan paling menyenangkan yang pernah ku ketahui
dalam seluruh hidupku.
Dan selalu,
ketika aku tahu akan bertemu dengannya, aku merasa dia bisa merasuki jiwaku,
bagaikan sebuah tinta yang mengisi kekosongan sampai hidupku penuh-dengan warna
dan segala cerita menjadi indah.
Tapi, waktuku
terlalau singkat bila kuhabiskan sisa hidupku-hanya untuk menunggunya
mencintaiku. Karena selama 6 tahun ini aku selalu mendambakannya untuk menjadi
‘Pacar Pertamaku’. Namun, dia tetap saja menolak cintaku. Dan selama 2 ribu
malam ini aku menghabiskan waktu untuk menulis puisi tentangnya-hanya sekedar
ingin mengobati kerinduanku terhadapnya.
Dan, aku
selalu takut bila ku lebih dulu mati sebelum dia percaya seberapa dalam rasa
cintaku padanya. Maka dari itu kuwasiatkan semuanya lewat tulisan ini:
“Semua yang ada di dalam
studioku, setelah aku meninggal dunia, berupa lukisan-lukisan, buku-buku 10
Mahakarya, skenario film dan seribu puisi, serta benda-benda seni dan
sebagainya, aku berikan kepada seorang wanita yang paling kucintai bernama
Anisa Yuniar Purwana, yang sekarang tinggal di Jalan Yos Sudarso, Gang Banjar
No. 22 Cianjur, Jawa Barat.”
Semoga
setelah dia membaca semua karyakuitu, dia bisa percaya bahwa sekali dalam
hidupku hanya untuk mencintainya, dan selamanya dalam karyaku hanya untuk
mengagumi keindahannya.
Oh Tuhan,
jika nanti kau mengizinkan aku untuk dilahirkan kembali. Maka aku ingin
terlahir sebagai lelaki yang hanya dicintai oleh Nisa, selalu dikagumi Nisa dan
aku akan berusaha untuk menjadi lelaki seperti yang Nisa minta, amien.
To : Nisa
CATATAN AKHIR TAHUN 2006
Cianjur,
Minggu 31 Des’06
Pukul
Gue baru aja
terbangun dari tidur yang lelap sejak jam 7 malam tadi. Ketika Gue liat jam
dinding barusan, gue pikir gue udah ngelewaatin malem tahun baru, tapi ternyata
waktu kini baru aja nunjukin jam
Gue pun langsung
pergi ke luar kamar dan menaiki genteng atas rumah. Disini udaranya emang lagi
dinging banget, dari beberapa hari yang lalu
Acara tahun
baru sekarang ada yang berbeda dengan Gue, karena malam ini gue ngelewatinya
bareng kucing peliharaan gue, berdua di atas genteng sambil ngeliat langit ke
arah
Kucing itu
saat ini dalam pelukan gue, dan kami berdua sekarang lagi nikmatin malem
pergantian tahun bersama. Setidaknya malem ini jadi malem terakhir buat gue dan
dia, karena besok gue harus ke
Gak lama
kemudian, suara letusan kembang api terdengar bising dari arah timur-700 meter
dari rumah gue. Tempat itu adalah parkiran Mall di Kota gue, dan puluhan
kembang api besar di lepaskan ke atas langit buat ngeramein suasana. Rupanya
suara letusan kembang api itu adalah terompet penyambut pergantian tahun. Dan
saat ini semua orang memandang ke atas langit dalam beberapa menit yang bening.
Betapa indah dan menakjubkannya langit itu, dalam beberapadetik aja awan-awan
hitam itu disulap agar berkilatan cahaya bak api yang terpecah.
“Selamat Tahun
Baru 2007, buat Ibu di surga…” teriah gue dalam hati. Rasanya saat ini gue
pengen menjerit, mumpung suasana di sekitar sepi nggak ada orang, boleh gak
yach gue nangis semenit aja? Tiba-tiba gue pengen meluk kucing gue yang erat
banget, sampai-sampai kucing itu meronta karena sulit bernafaskah. Gue nanya
sama kucing itu, apakah dia bisa ngertiin apa yang sedang gue rasain sekarang?
Tapi kucing itu Cuma bisa ngeong dan mengelus gue doang, sementara dia nggak
ngerti dengan yang terjadi selama ini sama gue.
Hey coba
kalian sekarang denger suara-suara bising itu, suara itu terdengar jauh dari
rumah gue. Suara itu seperti teriakan kebahagiaan berselang iringan suara
terompet pun saling bekejaran melebihi suara orang. Bisakah gue teriak seperti
cara mereka berteriak kini? Tapi buat apa gue teriak di tempat yang sepi ini?
Oh sungguh senengnya mereka-mereka yang sekarang lagi ngumpul di parkiran Mall
itu, ngumpul bareng pacar, pasangan, dan
sahabat. Sementara gue disini cuman seorang pengecut yang bisanya hanya
bersembunyi di tempat yang sunyi dan gelap. Tapi jauh di lubuk hati, gue pengen
banget jadi salah satu dari mereka, yang bisa kumpul bareng temen-temen buat
nikmatin acara pergantian Tahun. Satu pun temen manusia yang mau peduli sama
gue. Hanya kucing ini yang sekarang mau setia jadi temen gue, dan gue udah gak
butuh manusia lagi buat nemenin kesepian gue.
Saat ini satu
menit waktu berlalu nngelewatin jan 12 mala, itu berarti sekarang udah masuk ke
tanggal 1 Januari 2007. kini semua orang di seluruh dunia pasti sedang berharap
sama Tuhan 2007 ini. Kira-kira apa yach yang harus gue minta sama Tuhan di
tahun 2007 ini? Kalau gue minta Ibu gue di hidupin lagi ke dunia, bisa nggak
yach? Gue udah tahu kok jawabannya, pasti Tuhan nggak bisa ngabulin permohonan
gue. Kalau gitu gue minta Tahun 2007 ini, gue bisa pacaran sama Nisa, sekali
aja dalam seumur hidup gue. Kira-kira Tuhan bisa denger nggak yach dengan apa
yang gue minta? Mungkin pertanyaan ini Cuma Nisa yang bisa ngejawabnya, kita
liat aja nanti, apakah Nisa bisa menerima cinta gue di tahun 2007 ini?
Kala hati
bicara, mungkin Nisa akan bangga kalau punya pacar yang ganteng, tinggi, putih,
gaul apalagi blesteran atau turunan INDO.
Ya … setidaknya seperti pacarnya yang sekarang, katanya sich pacar Nisa
yang sekarang tuch turunan INDO yang perfect banget. Duch… jauh banget dech
sama wajah gue, yang super jelek ini. Diam-diam sebenarnya gue masih suka nyari
tahu tentang kabar Nisa akhir-akhir ini, kadang gue juga suka ngemiscall ke
nomor Handphonenya kalau lagi kangen banget. Ya paling nggak gue pegen
ngedenger suaranya lewat telepon tanpa dia harus tahu siapa yang suka neleponin
diaa. Duch Nisa pasti marah banget dech kalau ampe dia tahu bahwa sebenarnya
gue lah penelepon misterius yang suka nggak mau ngomong kalau lagi neleponin
dia itu.
Saat ini gue
malah jadi sedih banget nich, kembang api itu sekarang nggak ada yang muncul
lagi di langit. Apa mungkin mereka udah kehabisan kembang api yach? Gimana sich
ini, kok panitianya miskin banget? Seharusnya khan kembang api itu bisa nyala
ampe pagi, padahal gue masih kangen pengen ngeliat percikannya yang indah itu,
masa sich gue harus sabar nunggu lagi ampe acara tahun depan. Tapi ya udalah,
mungkin acara kembang apinya udah berakhir, itu tandanya titik ordinat
pergantian tahun udah kelewat barusan, dan sekarang mari kita sama-sama bilang
“Selamat datang tahun 2007”.
Gue loncat
dari atap genteng, dan pergi ke bawah buat ngelanjutin tidur gue malem ini.
Tubuh gue sekarang makin teras dingin dan menggigil, ingus gue makin nambah
banyak, terus pusing-pusing gue kambuh lagi. Mana besok gue harus berangkat ke
Jakarta─lagi, ternyata gue baru nyadar kalau sakit demam itu nggak enak banget.
Apalagi ampe nggak ada satu orang pun yang peduli kalau gue sakit, kayaknya
mereka juga nggak bakalan nangis kalau gue Mati malem ini. Tapi gue nggak boleh
sedih Cuma gara-gara itu doang, soalnya gue yakin kalau gue bisa buat semua
orang gue yakin kalau gue bisa buat semua orang nyesel karena udah nyia-nyiain
keberadaan gue di dekat mereka. Suatu hari nanti, gue pasti bakalan jadi orang
terkenal yang pasti bakalan jadi orang terkenal yang punya banyak pengemar. Dan
akhirnya gue bisa buktiin sama mereka, kalau gue terlalu berharga buat di
buang, disia-siakan dan nggak di perhatiin sama sekali. Sekarang gue masih
dendam sama orang-orang yang nggak peduli dan merhatiin keadaan gue, dan suatu
saat nanti gue pasti bisa ngebalikin keadaan ini, hingga tiba di suatu
masa─mereka akan mengemis-ngemis sama gue, berlutut di kaki gue, dan mereka
akan berharap gue bisa merhatiin mereka sekaligus nyayangin mereka. Tapi
sayangnya gue nggak bakalan pernah Maafin orang-orang yang pernah nyakitin hati
gue, kecuali cuman Nisa doang. Karena jujur aja gue nggak bisa musuhin Nisa,
gimana pun juga gue pasti bakalan selalu ngarepin Nisa buat jadi pacar pertama
gue saat ini, dan sampai mati sekali pun.
Tapi gue juga
nggak mau munafik, kalau gue sempet deket sama cewek-cewek selain Nisa, tapi
itu tuch cuman sekedar pelarian geu doang yang sering disakitin sama Nisa waktu
itu. Jadi sebenarnya gue nggak pernah sayang sama cewek selain sama Nisa doang,
buktinya ampe sekarang (umur gue udah 18 tahun) tapi gue belom pernah ngerasain
pacaran sama cewekk. Dan itu semua gue lakuin karena gue selalu ngarepin Nisa
mau jadi Pacar pertama gue. Asal kalian tau aja, gue nggak peduli meski harus
jomlo seumur hidup, karena gue selalu yakin kalau Nisa pasti gue dapetin.
Bahkan gue selalu percaya, suatu hari nanti Nisa akan jadi ibu dari anak-anak
gue, gue yakin Nisa adalah kekasih terakhir gue, dan dia bakal jadi istri gue
samapi gue mati.
Udahan dulu
aja yach nulisnya, mungkin ampe disini aja catatan akhir tahun 2006 gue buat
kalian. Jadi pada intinya gue punya permohonan di tahun baru 2007 ini, yaitu
gue mau Nisa jadi pacar pertama gue di tahun 2007 ini. Buat orang yang ngebaca
novel ini, mohon doain gue yach supaya nanti gue bisa diterima jadi pacar Nisa
tahun 2007 ini. Soalnya gue udah sayang banget sama Nisa sejak dari tahun 2000,
dan gue nggak mau nyerah meski Nisa selalu nolak cinta gue ampe sekarang.
Dan gue juga
janji dech sama kalian (pembaca) kalau gue bakal ngasih tahu kalian kisah
selanjutnya di novel “Kekasih Terakhir 2“ nanti. Kalian juga pasti penasaran
khan, apakah cinta gue diterima atau ditolak sama Nisa di tahun 2007 in?
Kalau mau
tahu jawabannya, kalian beli aja “Kekasih Terakhir 2” nanti OK? Gue janji dech
bakalan nerbitin Kekasih Terakhir 2 pada awal tahun 2008 nanti, pokoknya jangan
ampe ketinggalan buat terus baca karya-karya gue─OK guyz?
Akhir kata sekarang gue
pamit dulu yach, soalnya sekarang gue udah ngantuk banget nich. Selamat malam
dunia, selamat datang tahun 2007 ….
Pukul
Teruntuk : Nisa
Dari sebuah kisah perih
kegagalan,
Aku beranikan diriku sendiri,
Bangkit mencari kembali,
Keberanian, semangat dan tekat
yang hilang,
Bagaikan kehilangan sinar cahaya,
Aku merangkak dalam kegelapan,
Diterangi Sinar pemberian Tuhan,
Aku yang sedang berdiri kini,
Adalah yang bangkit dari sebuah
kegagalan,
Kegagalan
yang bangkit dari sebuah kegagalan,
Membuatkan aku
menjadiinsan,
Yang coba
menjadi insan yang sebenarnya,
Insan, mentari
yang pernah dihilangkan dari
Sebuah
kehidupan, kini kudoakan akan kembali
Memrangi hati dan nurani
Pernah aku pertikaikan mengapa
aku yang digagalkan
Aku kini sadar insan yang bangkit
dari krgagalan,
Akan mencari kembali segala semangat,
Karena insan yang bangkit dari
kegagalan,
Punya semangat berbeza mencari
sebuah kejayaan,
Aku
bangkit dari kegagalan semalam,
Dengan penuh azam yang kugenggam,
Takkan ku lepashingga menjadi
abu,
Biar luka tanganku, biar darah
itu menitis
Karena pernah aku merasakan
lebih,
Lebih pedih dari sebuah
kegagalan,
Sesuatu yang bias melumpuhkan
semangat
Ku ….
Puisi itulah yang
menjadi jawabanku atas tantanganmu (Nisa) padaku, di sms terakhir itu (tagal
Dan kini
setahun lebih telah berlalu dari sejak malam terakhirku bersamamu. Ternyata
waktu setahun itu seakan seribu tahun bila ku tak bertemu denganmu, sebelum
akhirnya datang hari ini.
Aku pernah
berjanji padamu untuk tak mengganggu kehidupanmu lagi dan sekarang kau bisa
percaya bahwa aku memang benar-benar tak mengganggu hidupmu lagi. Tapi kau
salah bila aku berkata─gembirakarena aku telah meninggalkanmu, kau mungkin tak
ingin tahu apa yang sudah aku alami setelah ku pergi darimu?
Tapi yang
harus kau tahu, aku selalu menilis cerita tentangmu bila aku sedang sangat merindukanmu. Terkadang aku
juga suka tertawa sendiri bila mengingat kenangan kita dulu, bila menulis
tentang kisah cinta kita dahulu. Dan sangat kusadari, setiap hari ku menulis
tentangmu-setiap hari itu pun aku selalu jatuh cinta padamu (Nisa). Dan
terlebih lagi, dengan cara selalu menulis tentangmu maka aku bisa engobati
segala kerinduanku yang tak tersampaikan padamu, kau harus sadari itu.
Tapi aku
yakin, apakah selama aku pergi kau pernah merindukanku? Bahkan sepertinya kau tak
sedikit pun merasa menyesal apalagi ini aku selalu rindu ingin memelukmu walau
walau sekali saja dalam hidupku. Aku ingin menangis dalam pelukanmu dan
menceritakan secara langsung apa yang sudah ku lalui padamu. Deri aku waktu
walau Cuma sedetik untuk mewujudkan semuanya itu.
Nisa…
akhirnya yang ingin kuceritakan padamu selama ini sudahberbentuk buku. Jika
kamu tak ingin tahu ceritaku, maka bakarlah buku ini seperti kamu membakar
hatiku selama hampir 7 tahun ini.
Aku sekarang
bekerja dan sepertinya tak perlu kukatakan aku bekerja apa. Rasanya terlalu
hina bagimu andai kamu tahu bahwa derajat kita berbeda jauh di bumi ini.
Tapi aku
merasa bangga, setidaknya aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa harus minta
uang lagi pada orang tua. Memang harus aku akui, tahun ini aku tidak kuliah
seperti temen-temen kamu yang kaya itu. Tanpa harus kamu bilang sendiri, aku
memang orang miskin yang tak punya apa-apa. Sekarang aku sudah tak punya ibu,
tak punya rumah, tak punya fasilitas dan barang mewah lainnya. Semua harta itu
milik Ayahku, sementara aku membencinya sepanjang hidupku. Jadi aku tak ingin
membanggakan harta ayahku, karena semua barang-barang itu miliknya dan bukan
milikku.
Sejak ku
kabur dari rumah saat di hari kematian kedelapan ibuku (tanggal 16 Juli 2006)
sejak saat itu pun aku melepaskan semua milik ayahku yang ku punya. Sejak dari
itu pun aku hanya membawa satu style pakaian asli milikku (uang hasil kerjaku)
dan buku-buku novel karyaku beserta Film TKC yang kubawa ke
Aku tahu,
sejak saat itu aku harus bangkit dan mulai kembali hidup dari awal. Maka aku selesaikan dan sempurnakan novel-novel
karyaku dengan harapan aku bisa dapat uang dari novel tersebut. Mulanya tak ada
satu pun penerbit yang kutemui─mau menerbitkan novelku yang berjudul “Sedih
yang mendalam” itu. Tapi untungnya Mbak Sukaesih yang mengetahui hal ini
langsung memberi tawaran untuk mencetak banyak novelku. Akhirnya pada bulan
September 2006, novel sedih yang mendalam itu di pasarkan ke beberapa toko buku
kecil di beberapa pinggiran jalan. Tak kuduga sebelumnya bahwa cetakan pertama
buku itu sudah laku terjual dan bahkan banyak tawaran dari penerbit resmi Ibu
Kota.
Akhirnya
sejak saat itu aku bisa bertahan hidup dengan hasil kerja keringatku sendiri.
Dan sekarang ambisi terbesarku yaitu ingin masuk menjadi crew perfilman, agar
cita-citaku menjadi”populer dan terkenal” cepat tercapai.
Selang
beberapa bulan aku menerbitkan novel keduakuyang berjudul kekasih terakhir ini.
Hingga akhirnya aku punya keberanian untuk menemuimu lagi dengan alasan ingin
memberikan novel Kekasih Terakhir ini─sebagai kado ultahmu yang ke-19 tanggal 1
Juni 2006 nanti.
Tak ada lagi
yang ingin kekatakan padamu kecuali aku masih menunggumu hingga sampai saat
ini. Mohon pahami isi hatiku terhadapmu, bahwa khayalanku tentangmu takkan
pernah bisa hilang sampai aku bisa mewujudkannya menjadi nyata.
***
Nisa… beberapa hari
yang lalu aku telah berhasil menemukan sesuatu yang selama ini aku cari.
Mungkin bagi orang tak berarti, tapi bagiku ini seperti halnya mendapatkan
harta karun berupa emas intan permata. Kamu tahu apa yang aku temukan di
rumahku ini?
Aku menemukan
“Sebuah Catatan Harian” milik Almarhumah Ibuku yang elama ini aku cari di
kamarnya. Dari buku itu bisa kupahami perasaan ibuku terhadap sosok lelaki,
bahwa ibuku teramat sangat membenci mereka yang selalu mengkhianati cintanya.
Kamu ingin
tahu, kata-kata yang disurahkan ibuku di buku hariannya?
Sekarang akan
kutuliskan beberapa kutipan cerita sedihnya di novel ini. Dan kuharap kamu ikut
menangisi kisah sedih yang sudah ibuku alami selama ini.
Inilah
beberapacatatan harian yang sudah ibuku tulis di bukunya:
─Catatan
1985─
barangkali
hisup sia-sia
segala
perbuatan sajak-sajak
cerita
patung, lukisan
dan
semua upaya hanyalah
sunyi
yang memanjang
dan di
ujung tak ada apa-apa
barang
kali hidup adalah kebekuan
bongkah-bongkah
es
yang
melelh dan menguap bendera hampa
karena
matahari yang membakar
telah
menyedot seluruh usia
barangkali
hidup adalah lorong hiram
tanpa kembang atau wangi-wangian
─hutan
yang tak kunjung berakhir
dan
bayang-bayang yang selalu
menghantui
; makna
hidup di
dunia
barangkali
hidup adalah jurang tanpa alas
gelap
dan tak berwarna
kangkah-langkah
waktu yang renta
di ujung
moncong-moncong serigala
[Catatan
Harian Ibu]
”15
– 3 – 1986”
Pedihnya derita
Adalah
pecahnya peristiwa
Koyaknya
kulit ari
Yang
membungkus
Kesadaran,
pengertian
Sebagaimana
biji buah
Mesti
pecah;
1.
Agar intinya terbuka merekah, bagi
curahan cahaya surga
2.
demikian pun bagimu kemestian tak
terelakan
[Catatan
Harian Ibu]
─1986─
kawula
buana, tetapi
banyak
mata air yang
kemudian
tercemar
sehingga
bukannya
sarana
pelepas dahaga
tetapi
penghilang nyawa
—
ada satu
lelaki yang kusebut
ayah,
tetapi siapakah ayah?
Tetapi
siapakah suamiku?
Tak kukenal
mereka.
Yang
kukenal adalah
Lelaki.
Mahluk yang bernama
Manusia─lelaki.
Aku
selalu di durjana
Mahluk
lelaki
—
banyak
diantara yang kau
derita,
adalah pilihanmu
sendiri
dialah
ramuan pahit
pemberi
hidup pada pribadi
demi
penyembuhan bagi
parah di
dalam hati.
Maka
percayailah tabib
Itu dan
reguk habis
Ramuan
pahit kehidupan
Dengan
cekatan; tanpa
Bicara
sebab tangannya,
Walau keras
dan berat
Terasa
Mendapat
bimbingan gaib teramat lembut.
Dan
piala obat yang di bawakannya
Walau
pedih terasa
Membakar
bibir
Telah di
kepal-kepal oleh
Tangannya
Dari
tanah liat yang di bubuhi air
Tetesan
air mata keramatnya.
─1985─
[Buku
Harian Ibu]
lelaki-lelaki
lahir ke dunia
dan
pergi. Mestilah ia
pamit,
kepada siapa?
Dijilatnya
ludah cinta
Yang di
telannya di malam
Hari tak
mengerti aku
Buat apa
Tapi
ibu, kenapa engkau
Mesti
tau? Barangkali
Akan
sia-sia apa yang kutulis.
Dunia
hanya mereka-reka
Tapi
taukah mereka
Tentang
cinta yang tak kunjung sirna?
Kembangkan
sayap-sayapmu
Dan
getarkan bulu-bulumu
Tatap
mataku dalam-dalam
Apa yang
kau dapat?
Butir-butia
air yang jatuh
Menimpa
rambutmu
Adalah
benih-benih
Kasih
tumbuh di
Dasar
sukmaku.
Berjuta
manusia datang
Dan
pergi entah
Kemana
Tanpa
berita tanpa
Tanya,
berjuta peristiwa
Datang
dan pergi
Entah
apa dan mau apa.
***
mungkin hanya itu saja beberapa catatan harian
ibuku yang akan ku masukan ke dalam cerita novelku ini.
Mungkin bagimu
(Nisa) kata-kata itu tak berarti apa-apa. Tapi bagiku itu adalah karya terindah
yang pernah ku ketahui dalam seluruh hidupku. Ternyata ibuku seorang penulis
yang sangat berbakat dan selalu aku tahu akan kujadikan di sosok penulis
panutanku.
Pertama kali
kubaca buku Catatan Harian Ibu, tubuhku bergetar dan airmatakukeluar tanpa
sadar. Aku seperti ikut merasakan kesedihan ibu yang teramat dalam terhadap
sosok lelaki yang selalu mengkhianatinya. Ibuku pernah menikah sebanyak 3 kali─dengan
yang terakhir bersama ayahku. Ketiga kali pernikahannya itu pun─ibuku selalu
disakiti, diselingkuhi, dan bahkan di aniaya oleh suaminya sendiri. Aku teramat
sangat menyayangi ibuku. Mana mungkin aku berani menyakiti perempuan lain,
karena aku selalu bisa mengerti rasanya disakiti dan dikhianati oleh orang yang
kita cintai. Ya … setidaknya bagiku lebih baik disakiti wanita daripada aku
harus menyakiti wanita.
Sejak
berpikiran seperti itu, aku sudah membulatkan tekadku untuk mencoba setia pada
satu wanita, yaitu kamu (Nisa). Aku sebagai lelaki benar-benar sangat takut
bila sampai aku dengan tak sengaja menyakiti hati wanita. Karena itu sampai
saat ini aku belum berani jatuh hati pada wanita lain dan menjalin cinta
dengannya.
Cukup aku saja
yang selalu disakiti olehmu (Nisa), dan aku tak mau melibatkan wanita lain
untuk singgah di hatiku dan mencoba cintaku.
Tapi bagaimana
pun juga aku bukan seorang malaikat, aku pasti pernah tergoda untuk suka pada
perempuan. Tak cukup untuk menutup kemungkinan bahwa nanti akan datang wanita
lain yang ingin menjaga hatiku, dan mencoba cintaku.
Tapi justru
aku mau wanita itu adalah “kamu” (Nisa). Setiap lelaki punya impian ingin
merajut tali kasih penuh mesra, dan seperti itulah yang selalu kuinginkan
selama ini terhadapmu. Aku selalu percaya bahwa suatu hari nanti kamu takkan
pernah ragu lagi untuk memilihku sebagai “Kekasih Terakhir” di pencarian cinta
sejatimu.
***
“Ending Cerita”
Nisa … dalam setahun ini aku
selalu
bermimpi bisa menemuimu lagi,
setidaknya
yang terakhir kali dalam
hidupku.
Mungkin nanti akan kuberikan
novel ini
Padamu, paling tidak aku punya
alasan
Untuk melihatmu lagi setelah
setahun lamanya kita tak berjumpa.
Aku sudah kehilangan inspirasi
lagi, ketika
penerbit memintaku untuk
membuat
ending cerita ini menajdi
menarik dan romantis
lalu apa yang harus aku tulis
kalau kita
belum mengakhiri semua kisah
ini?
Untuk itu aku memintamu datang
pada hari ulang tahunku
tanggal 30 Mei’07.
Temui aku di lapang basket
SMP 2 Cianjur,
Jam 4 sore dan aku hanya
akan
menunggumu untuk yang
terakhir kali ini
hingga jam 12 malam.
Dan kuharap kau bisa datang sendiri
Karena aku ingin membicarakan
sesuatu
Padamu, setidaknya aku bisa
melengkapi
Ending cerita ini menjadi
lebih baik.
Penerbit
Untuk pembaca; … Novel Kekasih Terakhir
ini
Belum selesai sampai disini.
Mungkin ending ceritanya dapat kalian ketahui di novel Kekasih Terakhir 2 yang
akan diterbutkan awal tahun depan. Apakah cinta si penulis kali ini dapat di
terima oleh Nisa? Mungkin saat ini hanya mereka berdua saja yang tahu
jawabannya. Tapi jika kalian ingin tahu lebih cepat jawabannya, bergabunglah
bersama kami di J Fans Club (JFC Mania) di contact person 085624334867.
ikutilah lomba Resensi Novel J dengan hadiah jutaan rupiah, blinddate barenag
J, dibuatkan novel bagi pemenang oleh J dan banyak lagi hadiah yang lainnya,
daftarkan segera hingga akhir tahun 2007 ini.
By. Management
Jl. Suli Blok 0 No. 31
Telp. 021-7426911
Bayangan Daftar Isi
“Kekasih Terkahir 2”
mukadimah
kata pengantar
Daftar isi
Kitab Pertama;
Teman
Khayalan
Kapan
kita pacaran?
Setia
Kitab kedua;
Popularitas
dan cinta
Jadilah ibu
dari anak-anakku nanti
Sampai mati
kumencintaimu
J THANK 2 :
Allah SWT (I’m so sorry… but I’ll
try to fix it), Alm. Ibu – kakak – adikku – sepupuku – dan sobatku yang ada di
surga (kita tak lebih baik dari ini)
Anisa Yp (I LUV U), ibukostku,
teman-teman sekostku dulu (iraha urang ngabasi deui euy?), Mbak Sukaesih, Tante
Yanti, Jakarta Kota Impianku, sahabatku Iresh (kucingku), Gaza’n Gizan (hamsterku),
dan hewan peliharaanku lainnya (kalian sahabat terbaikku), buat I radio Bdg
(Mkz, dah nemenin aq bikin novel), Ranti anak UPI Bdg (temen kahyalanku, kapan
kita bisa ketemuan?)
…… yang kelupaan,
sorry aku forget…….
“When-when ajach
yach”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar