Minggu, 06 September 2020

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

 

Wasiat Sang Penyair

             

 CATATAN AKHIR TAHUN 2006

                                                                SURAT UNTUK NISA

Cianjur, Sabtu 30 Desember 2006

Pukul 19:30 malam

 

Aku terkapar, dan hanya bisa berbaring di ranjang selam 9 hari ini. Demamku makin tinggi, tenggorokanku terasa geli dan batuk-batuk, kepalaku pusing dan tubuhku terasa mengigil kedinginan.

Malam ini aku menangis dan bukan sekedar menangis seperti biasa. Aku selalu merasa kematian ada di depan mataku, sementara yang lainnya tak ada yang peduli padaku.

Kini, hubungan antara aku dan ayahku sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin hingga mati kami akan tetap menjadi musuh yang abadi. Dia tetap pada pilihannya untuk menikahi perempuan keparat itu. Padahal perempuan itulah yang dulu menyakiti ibuku sewaktu masih hidup. Aku pernah bercerita di Novel ini (di judul Selamat Tinggal Nisa) bahwa waktu umurku sekitar 6 tahunan-Ayah dan Ibuku selalu bertengkar setiap hari menjelang tidur. Baru ku tahu sebabnya sekarang,  bahwa ternyata Ayahku  saat  itu  berselingkuh  dengan  perempuan  yang  saat  ini  juga ingin dinikahinya.aku sangat dendam pada perempuan itu, dan suatu hari nanti aku akan membalaskan dendam dan skit hati Ibuku semasa dia masih hidup. Aku takkan ceritakan tentang jati diri perempuan itu, karena dia tak layak untuk ada dalam tulisan Novelku ini. Yang pasti, seminggu lalu aku bertengkar mulut dengan Ayahku gara-gara perempuan itu. Aku bilang pada Ayahku bahwa aku tidak pernah sudi jika mereka jadi menikah, tapi Ayahku tetap ngotot pada pendiriannya hingga bersedia untuk memusuhiku seumur hidupnya.

Sudah hampir seminggu ini aku danAyahku sudah saling memalingkan muka enggan bicara lagi. Padahal, besok adalah Idul Adha agamaku, tapi sepertinya takkan ada keceriaan lagi meski di hari besar agamaku sekalipun. Biarlah ini yang terjadi dan esok lusa aku akan pergike Jakarta dan takkan pernah kembali lagi kesini. Aku tau takkan pernah ada satu pun orang yang mengkhawatirkanku, untuk itu biarlah aku mencari duniaku sendiri di kota Jakarta sana. Barangkali disana ada tempat untukku dihargai, dihormati, dan tidak seperti di tempatku saat ini, disini aku hanya selalu, disakiti, dan selalu diabaikan oleh semua orang.

Oh Tuhan, sembuhkanlah penyakitku Demam tinggiku ini. Berikanlah aku Mukjizat untuk sehat dan bisa berlari lagi seperti dulu. Aku sudah benci, muak dan jenuh selalu terkapar di ranjang ini. Aku ingin sekali bisa berdiri, berlari dan berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan kepedihanku ini.

         Tapi mengapa Tuhan, kau buat aku tak berdaya di balik selimut sementara tak ada satupun yang memperhatikan keberadaanku? Mau makan aja harus ngambil sendiri. Padahal benar-benar sakit dan butuh perhatian dari orang lain. Oh iya aku lupa, Ibuku sudah meninggal dunia dan Tuhanlah yang telah merenggutnya dariku. Sementara Tuhan jugalah yang membuat deritaku bertambah hingga aku tak bisa berkritik lagi pada ruih gaduh yang membisingiku.

Oh Tuhan, aku sudah letih pada semua kenyataan ini. Aku sudah tak bisa lagi hadapi ujian hidupMu. Mengapa tak kau ambil nyawaku saja untuk mengakhiri semua penderitaanku ini? Tuhan, aku benar-benar rapuh saat ini.

Hanya malam, yang bisa mendengar jerit ronta kepedihanku. Dan aku selalu merasa bahwa hidupku tak mungkin lama lagi. Tapi bagiku mati bukanlah hal yang menakutkan, justru yang lebih kutakutkan-bila aku harus mati sebelum aku menemukan ‘Cinta Sejati’ dan sebelum aku mengetahui siapakah sebenarnya yang akan menjadi ‘Kekasih Terakhirku’ nanti?

Tuhan, ku mohon padaMu, tolong berikan kau petunjuk tentang keberadaan ‘Pendamping hidupku’. Dimana lahi harus kucari agar bisa menemukan perempuan yang benar-benar ikhlas mencintaiku, yang dengan setulus-tulusnya menyayangiku?

Semestara, dalam sepanjang hidupku-aku hanya mengenal seorang wanita, yang bersamanya aku merasa bebas untuk mengekspresikan sikapku-dan bersamanya aku benar-benar menjadi diriku. Wanita itu bernama Anisa Yuniar Purwana, hubungan antara aku dan dia adalah cerita yang paling indah dan paling menyenangkan yang pernah ku ketahui dalam seluruh hidupku.

Dan selalu, ketika aku tahu akan bertemu dengannya, aku merasa dia bisa merasuki jiwaku, bagaikan sebuah tinta yang mengisi kekosongan sampai hidupku penuh-dengan warna dan segala cerita menjadi indah.

Tapi, waktuku terlalau singkat bila kuhabiskan sisa hidupku-hanya untuk menunggunya mencintaiku. Karena selama 6 tahun ini aku selalu mendambakannya untuk menjadi ‘Pacar Pertamaku’. Namun, dia tetap saja menolak cintaku. Dan selama 2 ribu malam ini aku menghabiskan waktu untuk menulis puisi tentangnya-hanya sekedar ingin mengobati kerinduanku terhadapnya.

Dan, aku selalu takut bila ku lebih dulu mati sebelum dia percaya seberapa dalam rasa cintaku padanya. Maka dari itu kuwasiatkan semuanya lewat tulisan ini:

 

“Semua yang ada di dalam studioku, setelah aku meninggal dunia, berupa lukisan-lukisan, buku-buku 10 Mahakarya, skenario film dan seribu puisi, serta benda-benda seni dan sebagainya, aku berikan kepada seorang wanita yang paling kucintai bernama Anisa Yuniar Purwana, yang sekarang tinggal di Jalan Yos Sudarso, Gang Banjar No. 22 Cianjur, Jawa Barat.”

 

Semoga setelah dia membaca semua karyakuitu, dia bisa percaya bahwa sekali dalam hidupku hanya untuk mencintainya, dan selamanya dalam karyaku hanya untuk mengagumi keindahannya.

Oh Tuhan, jika nanti kau mengizinkan aku untuk dilahirkan kembali. Maka aku ingin terlahir sebagai lelaki yang hanya dicintai oleh Nisa, selalu dikagumi Nisa dan aku akan berusaha untuk menjadi lelaki seperti yang Nisa minta, amien.

 

 

 

 

 

 

To : Nisa

CATATAN AKHIR TAHUN 2006

 

Cianjur, Minggu 31 Des’06

Pukul 23:45 malam

 

Gue baru aja terbangun dari tidur yang lelap sejak jam 7 malam tadi. Ketika Gue liat jam dinding barusan, gue pikir gue udah ngelewaatin malem tahun baru, tapi ternyata waktu kini baru aja nunjukin jam 23:45 jadi Gue masih punya waktu 15 menit sebelum detik-detik pergantian tahun.

Gue pun langsung pergi ke luar kamar dan menaiki genteng atas rumah. Disini udaranya emang lagi dinging banget, dari beberapa hari yang lalu kota Gue di guyur ujan deras yang sangat lebat tanpa henti. Tapi untunglah malam ini gak ujan, mungkin Tuhan mentoleransi umatnya yang sekarang pengen ngerayain Tahun Baru dengan cuaca yang cerah. Agar manusia di seluruh dinia ini bisa ngeliat indahnya kembang api yang menyala di atas langit sana.

Acara tahun baru sekarang ada yang berbeda dengan Gue, karena malam ini gue ngelewatinya bareng kucing peliharaan gue, berdua di atas genteng sambil ngeliat langit ke arah kota. Disini sepi banget, gue gak tahu orang-orang pada kemana, mungkin mereka pergi ke kota buat ngeliat pesta kembang api. Seneng banget yach mereka bisa asyik-asyikan di jalanan sementara gue cuman bisa berbaring sakit di ranjang sejak 10 hari terakhir ini. Tapi untunglah, kucing ini selalu menemin gue setiap gue lagi dilanda kesepian. Setidaknya gue cukup punya temen buat mencurahkan air mata, kerinduan, dan amarah terhadap kejamnya dunia. Kucing ini berkelamin jantan dan gue kasih nama dia Iresh. Yang buat gue ngerasa aneh, dulu kucing ini selalu dateng ke rumah gue. Gue gak tau dari mana datangnya kucing ini, tapi dia seperti penghibur bagi keluarga gue yang baru ditinggal mati Ibu. Saat itu sampai sekarang kucing itu masih tetap tinggal di rumah kami dan masih tidur bareng gue. Gue nggak bisa ngejelasin  bagaimana bentuk rupa dan corak warna diri kucing ini, karena gue sendiri bingung kucing ini berwarna apa, tapi yang pasti di keempat kaki kucing berbentuk kalung yang unik.

Kucing itu saat ini dalam pelukan gue, dan kami berdua sekarang lagi nikmatin malem pergantian tahun bersama. Setidaknya malem ini jadi malem terakhir buat gue dan dia, karena besok gue harus ke Jakarta buat pracetak Novel Kekasih Terakhir ini. Gue gak nyangka akhirnya bisa selesai juga novel ini setelah hampir 6 tahun gue ngerangkaiin ceritanya. Gue udah gak sabar buat ngasih novel ini sama Nisa, moga aja Nisa seneng menerimanya dan moga aja nanti dia selalu tersenyum-senyum waktu ngebacanya. Kayaknya besok pagi sebelum gue ke Jakarta gue pengen banget nyempetin waktu buat mampir ngeliat rumah Nisa. Moga aja nanti gue bisa ngeliat  Nisa di halaman rumahnya, paling nggak buat yang terakhir kali sebelum gue pergi dari kota ini. Karena gue tahu, gue gak bakalan pernah kembali lagi ke kota ini sebelum gue jadi orang sukses di Jakarta. Ya… mungkin itu permohonan gue di tahun 2007 ini, gue pengen menjadi Artis terkenal di Jakarta, agar semua orang bisa ngenal gue biar gue nggak di cuekin lagi kalau gue ketemu sama orang-orang di jalan, di Supermarket, dan di tempat keramaian.

Gak lama kemudian, suara letusan kembang api terdengar bising dari arah timur-700 meter dari rumah gue. Tempat itu adalah parkiran Mall di Kota gue, dan puluhan kembang api besar di lepaskan ke atas langit buat ngeramein suasana. Rupanya suara letusan kembang api itu adalah terompet penyambut pergantian tahun. Dan saat ini semua orang memandang ke atas langit dalam beberapa menit yang bening. Betapa indah dan menakjubkannya langit itu, dalam beberapadetik aja awan-awan hitam itu disulap agar berkilatan cahaya bak api yang terpecah.

“Selamat Tahun Baru 2007, buat Ibu di surga…” teriah gue dalam hati. Rasanya saat ini gue pengen menjerit, mumpung suasana di sekitar sepi nggak ada orang, boleh gak yach gue nangis semenit aja? Tiba-tiba gue pengen meluk kucing gue yang erat banget, sampai-sampai kucing itu meronta karena sulit bernafaskah. Gue nanya sama kucing itu, apakah dia bisa ngertiin apa yang sedang gue rasain sekarang? Tapi kucing itu Cuma bisa ngeong dan mengelus gue doang, sementara dia nggak ngerti dengan yang terjadi selama ini sama gue.

Hey coba kalian sekarang denger suara-suara bising itu, suara itu terdengar jauh dari rumah gue. Suara itu seperti teriakan kebahagiaan berselang iringan suara terompet pun saling bekejaran melebihi suara orang. Bisakah gue teriak seperti cara mereka berteriak kini? Tapi buat apa gue teriak di tempat yang sepi ini? Oh sungguh senengnya mereka-mereka yang sekarang lagi ngumpul di parkiran Mall itu,  ngumpul bareng pacar, pasangan, dan sahabat. Sementara gue disini cuman seorang pengecut yang bisanya hanya bersembunyi di tempat yang sunyi dan gelap. Tapi jauh di lubuk hati, gue pengen banget jadi salah satu dari mereka, yang bisa kumpul bareng temen-temen buat nikmatin acara pergantian Tahun. Satu pun temen manusia yang mau peduli sama gue. Hanya kucing ini yang sekarang mau setia jadi temen gue, dan gue udah gak butuh manusia lagi buat nemenin kesepian gue.

Saat ini satu menit waktu berlalu nngelewatin jan 12 mala, itu berarti sekarang udah masuk ke tanggal 1 Januari 2007. kini semua orang di seluruh dunia pasti sedang berharap sama Tuhan 2007 ini. Kira-kira apa yach yang harus gue minta sama Tuhan di tahun 2007 ini? Kalau gue minta Ibu gue di hidupin lagi ke dunia, bisa nggak yach? Gue udah tahu kok jawabannya, pasti Tuhan nggak bisa ngabulin permohonan gue. Kalau gitu gue minta Tahun 2007 ini, gue bisa pacaran sama Nisa, sekali aja dalam seumur hidup gue. Kira-kira Tuhan bisa denger nggak yach dengan apa yang gue minta? Mungkin pertanyaan ini Cuma Nisa yang bisa ngejawabnya, kita liat aja nanti, apakah Nisa bisa menerima cinta gue di tahun 2007 ini?

Kala hati bicara, mungkin Nisa akan bangga kalau punya pacar yang ganteng, tinggi, putih, gaul apalagi blesteran atau turunan INDO.  Ya … setidaknya seperti pacarnya yang sekarang, katanya sich pacar Nisa yang sekarang tuch turunan INDO yang perfect banget. Duch… jauh banget dech sama wajah gue, yang super jelek ini. Diam-diam sebenarnya gue masih suka nyari tahu tentang kabar Nisa akhir-akhir ini, kadang gue juga suka ngemiscall ke nomor Handphonenya kalau lagi kangen banget. Ya paling nggak gue pegen ngedenger suaranya lewat telepon tanpa dia harus tahu siapa yang suka neleponin diaa. Duch Nisa pasti marah banget dech kalau ampe dia tahu bahwa sebenarnya gue lah penelepon misterius yang suka nggak mau ngomong kalau lagi neleponin dia itu.

Saat ini gue malah jadi sedih banget nich, kembang api itu sekarang nggak ada yang muncul lagi di langit. Apa mungkin mereka udah kehabisan kembang api yach? Gimana sich ini, kok panitianya miskin banget? Seharusnya khan kembang api itu bisa nyala ampe pagi, padahal gue masih kangen pengen ngeliat percikannya yang indah itu, masa sich gue harus sabar nunggu lagi ampe acara tahun depan. Tapi ya udalah, mungkin acara kembang apinya udah berakhir, itu tandanya titik ordinat pergantian tahun udah kelewat barusan, dan sekarang mari kita sama-sama bilang “Selamat datang tahun 2007”.

Gue loncat dari atap genteng, dan pergi ke bawah buat ngelanjutin tidur gue malem ini. Tubuh gue sekarang makin teras dingin dan menggigil, ingus gue makin nambah banyak, terus pusing-pusing gue kambuh lagi. Mana besok gue harus berangkat ke Jakarta─lagi, ternyata gue baru nyadar kalau sakit demam itu nggak enak banget. Apalagi ampe nggak ada satu orang pun yang peduli kalau gue sakit, kayaknya mereka juga nggak bakalan nangis kalau gue Mati malem ini. Tapi gue nggak boleh sedih Cuma gara-gara itu doang, soalnya gue yakin kalau gue bisa buat semua orang gue yakin kalau gue bisa buat semua orang nyesel karena udah nyia-nyiain keberadaan gue di dekat mereka. Suatu hari nanti, gue pasti bakalan jadi orang terkenal yang pasti bakalan jadi orang terkenal yang punya banyak pengemar. Dan akhirnya gue bisa buktiin sama mereka, kalau gue terlalu berharga buat di buang, disia-siakan dan nggak di perhatiin sama sekali. Sekarang gue masih dendam sama orang-orang yang nggak peduli dan merhatiin keadaan gue, dan suatu saat nanti gue pasti bisa ngebalikin keadaan ini, hingga tiba di suatu masa─mereka akan mengemis-ngemis sama gue, berlutut di kaki gue, dan mereka akan berharap gue bisa merhatiin mereka sekaligus nyayangin mereka. Tapi sayangnya gue nggak bakalan pernah Maafin orang-orang yang pernah nyakitin hati gue, kecuali cuman Nisa doang. Karena jujur aja gue nggak bisa musuhin Nisa, gimana pun juga gue pasti bakalan selalu ngarepin Nisa buat jadi pacar pertama gue saat ini, dan sampai mati sekali pun.

Tapi gue juga nggak mau munafik, kalau gue sempet deket sama cewek-cewek selain Nisa, tapi itu tuch cuman sekedar pelarian geu doang yang sering disakitin sama Nisa waktu itu. Jadi sebenarnya gue nggak pernah sayang sama cewek selain sama Nisa doang, buktinya ampe sekarang (umur gue udah 18 tahun) tapi gue belom pernah ngerasain pacaran sama cewekk. Dan itu semua gue lakuin karena gue selalu ngarepin Nisa mau jadi Pacar pertama gue. Asal kalian tau aja, gue nggak peduli meski harus jomlo seumur hidup, karena gue selalu yakin kalau Nisa pasti gue dapetin. Bahkan gue selalu percaya, suatu hari nanti Nisa akan jadi ibu dari anak-anak gue, gue yakin Nisa adalah kekasih terakhir gue, dan dia bakal jadi istri gue samapi gue mati.

Udahan dulu aja yach nulisnya, mungkin ampe disini aja catatan akhir tahun 2006 gue buat kalian. Jadi pada intinya gue punya permohonan di tahun baru 2007 ini, yaitu gue mau Nisa jadi pacar pertama gue di tahun 2007 ini. Buat orang yang ngebaca novel ini, mohon doain gue yach supaya nanti gue bisa diterima jadi pacar Nisa tahun 2007 ini. Soalnya gue udah sayang banget sama Nisa sejak dari tahun 2000, dan gue nggak mau nyerah meski Nisa selalu nolak cinta gue ampe sekarang.

Dan gue juga janji dech sama kalian (pembaca) kalau gue bakal ngasih tahu kalian kisah selanjutnya di novel “Kekasih Terakhir 2“ nanti. Kalian juga pasti penasaran khan, apakah cinta gue diterima atau ditolak sama Nisa di tahun 2007 in?

Kalau mau tahu jawabannya, kalian beli aja “Kekasih Terakhir 2” nanti OK? Gue janji dech bakalan nerbitin Kekasih Terakhir 2 pada awal tahun 2008 nanti, pokoknya jangan ampe ketinggalan buat terus baca karya-karya gue─OK guyz?

Akhir kata sekarang gue pamit dulu yach, soalnya sekarang gue udah ngantuk banget nich. Selamat malam dunia, selamat datang tahun 2007 ….

 

 

 

 

 

 

Surat Untuk Nisa

Jakarta, senin 1 Januari 2007

Pukul 20:15 malam

Teruntuk : Nisa

Dari sebuah kisah perih kegagalan,

Aku beranikan diriku sendiri,

Bangkit mencari kembali,

Keberanian, semangat dan tekat yang hilang,

Bagaikan kehilangan sinar cahaya,

Aku merangkak dalam kegelapan,

Diterangi Sinar pemberian Tuhan,

Aku yang sedang berdiri kini,

Adalah yang bangkit dari sebuah kegagalan,

 

 

            Kegagalan yang bangkit dari sebuah kegagalan,

Membuatkan aku menjadiinsan,

Yang coba menjadi insan yang sebenarnya,

Insan, mentari yang pernah dihilangkan dari

Sebuah kehidupan, kini kudoakan akan kembali

Memrangi hati dan nurani

Pernah aku pertikaikan mengapa aku yang digagalkan

Aku kini sadar insan yang bangkit dari krgagalan,

Akan mencari kembali segala semangat,

Karena insan yang bangkit dari kegagalan,

Punya semangat berbeza mencari sebuah kejayaan,

            Aku bangkit dari kegagalan semalam,

Dengan penuh azam yang kugenggam,

Takkan ku lepashingga menjadi abu,

Biar luka tanganku, biar darah itu menitis

Karena pernah aku merasakan lebih,

Lebih pedih dari sebuah kegagalan,

Sesuatu yang bias melumpuhkan semangat

Ku ….

 

Puisi itulah yang menjadi jawabanku atas tantanganmu (Nisa) padaku, di sms terakhir itu (tagal 30 April 2005 pukul 19:41 menit) dan bila kau telah lupa─maka sekarang akan kuingatkan lagi untukmu: “Meskipun kenyataannya seperti ini. Tiap ca (Nisa) gak suka sama orang yang gak nerima kenyataan hidup dan ngomong seenaknya bahwa kau itu bisa tanpa ca, mungkin ada orang yang lebih dari ca di balik semua. “ itulah sms yang kau kirimkan untukku dan aku akan menyimpannya hingga seumur hayatkau.

Dan kini setahun lebih telah berlalu dari sejak malam terakhirku bersamamu. Ternyata waktu setahun itu seakan seribu tahun bila ku tak bertemu denganmu, sebelum akhirnya datang hari ini.

Aku pernah berjanji padamu untuk tak mengganggu kehidupanmu lagi dan sekarang kau bisa percaya bahwa aku memang benar-benar tak mengganggu hidupmu lagi. Tapi kau salah bila aku berkata─gembirakarena aku telah meninggalkanmu, kau mungkin tak ingin tahu apa yang sudah aku alami setelah ku pergi darimu?

Tapi yang harus kau tahu, aku selalu menilis cerita tentangmu bila aku  sedang sangat merindukanmu. Terkadang aku juga suka tertawa sendiri bila mengingat kenangan kita dulu, bila menulis tentang kisah cinta kita dahulu. Dan sangat kusadari, setiap hari ku menulis tentangmu-setiap hari itu pun aku selalu jatuh cinta padamu (Nisa). Dan terlebih lagi, dengan cara selalu menulis tentangmu maka aku bisa engobati segala kerinduanku yang tak tersampaikan padamu, kau harus sadari itu.

Tapi aku yakin, apakah selama aku pergi kau pernah merindukanku? Bahkan sepertinya kau tak sedikit pun merasa menyesal apalagi ini aku selalu rindu ingin memelukmu walau walau sekali saja dalam hidupku. Aku ingin menangis dalam pelukanmu dan menceritakan secara langsung apa yang sudah ku lalui padamu. Deri aku waktu walau Cuma sedetik untuk mewujudkan semuanya itu.

Nisa… akhirnya yang ingin kuceritakan padamu selama ini sudahberbentuk buku. Jika kamu tak ingin tahu ceritaku, maka bakarlah buku ini seperti kamu membakar hatiku selama hampir 7 tahun ini.

Aku sekarang bekerja dan sepertinya tak perlu kukatakan aku bekerja apa. Rasanya terlalu hina bagimu andai kamu tahu bahwa derajat kita berbeda jauh di bumi ini.

Tapi aku merasa bangga, setidaknya aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa harus minta uang lagi pada orang tua. Memang harus aku akui, tahun ini aku tidak kuliah seperti temen-temen kamu yang kaya itu. Tanpa harus kamu bilang sendiri, aku memang orang miskin yang tak punya apa-apa. Sekarang aku sudah tak punya ibu, tak punya rumah, tak punya fasilitas dan barang mewah lainnya. Semua harta itu milik Ayahku, sementara aku membencinya sepanjang hidupku. Jadi aku tak ingin membanggakan harta ayahku, karena semua barang-barang itu miliknya dan bukan milikku.

Sejak ku kabur dari rumah saat di hari kematian kedelapan ibuku (tanggal 16 Juli 2006) sejak saat itu pun aku melepaskan semua milik ayahku yang ku punya. Sejak dari itu pun aku hanya membawa satu style pakaian asli milikku (uang hasil kerjaku) dan buku-buku novel karyaku beserta Film TKC yang kubawa ke Jakarta, ke rumah Mba Sukaesih penolongku.

Aku tahu, sejak saat itu aku harus bangkit dan mulai kembali hidup dari awal. Maka  aku selesaikan dan sempurnakan novel-novel karyaku dengan harapan aku bisa dapat uang dari novel tersebut. Mulanya tak ada satu pun penerbit yang kutemui­─mau menerbitkan novelku yang berjudul “Sedih yang mendalam” itu. Tapi untungnya Mbak Sukaesih yang mengetahui hal ini langsung memberi tawaran untuk mencetak banyak novelku. Akhirnya pada bulan September 2006, novel sedih yang mendalam itu di pasarkan ke beberapa toko buku kecil di beberapa pinggiran jalan. Tak kuduga sebelumnya bahwa cetakan pertama buku itu sudah laku terjual dan bahkan banyak tawaran dari penerbit resmi Ibu Kota.

Akhirnya sejak saat itu aku bisa bertahan hidup dengan hasil kerja keringatku sendiri. Dan sekarang ambisi terbesarku yaitu ingin masuk menjadi crew perfilman, agar cita-citaku menjadi”populer dan terkenal” cepat tercapai.

Selang beberapa bulan aku menerbitkan novel keduakuyang berjudul kekasih terakhir ini. Hingga akhirnya aku punya keberanian untuk menemuimu lagi dengan alasan ingin memberikan novel Kekasih Terakhir ini─sebagai kado ultahmu yang ke-19 tanggal 1 Juni 2006 nanti.

Tak ada lagi yang ingin kekatakan padamu kecuali aku masih menunggumu hingga sampai saat ini. Mohon pahami isi hatiku terhadapmu, bahwa khayalanku tentangmu takkan pernah bisa hilang sampai aku bisa mewujudkannya menjadi nyata.

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nisa… beberapa hari yang lalu aku telah berhasil menemukan sesuatu yang selama ini aku cari. Mungkin bagi orang tak berarti, tapi bagiku ini seperti halnya mendapatkan harta karun berupa emas intan permata. Kamu tahu apa yang aku temukan di rumahku ini?

Aku menemukan “Sebuah Catatan Harian” milik Almarhumah Ibuku yang elama ini aku cari di kamarnya. Dari buku itu bisa kupahami perasaan ibuku terhadap sosok lelaki, bahwa ibuku teramat sangat membenci mereka yang selalu mengkhianati cintanya.

Kamu ingin tahu, kata-kata yang disurahkan ibuku di buku hariannya?

Sekarang akan kutuliskan beberapa kutipan cerita sedihnya di novel ini. Dan kuharap kamu ikut menangisi kisah sedih yang sudah ibuku alami selama ini.

Inilah beberapacatatan harian yang sudah ibuku tulis di bukunya:

─Catatan 1985­─

barangkali hisup sia-sia

segala perbuatan sajak-sajak

cerita patung, lukisan

dan semua upaya hanyalah

sunyi yang memanjang

dan di ujung tak ada apa-apa

barang kali hidup adalah kebekuan

bongkah-bongkah es

yang melelh dan menguap bendera hampa

karena matahari yang membakar

telah menyedot seluruh usia

barangkali hidup adalah lorong hiram

 tanpa kembang atau wangi-wangian

─hutan yang tak kunjung berakhir

dan bayang-bayang yang selalu

menghantui ; makna

hidup di dunia

barangkali hidup adalah jurang tanpa alas

gelap dan tak berwarna

kangkah-langkah waktu yang renta

di ujung moncong-moncong serigala

 

[Catatan Harian Ibu]

”15 – 3 – 1986”

Pedihnya derita

Adalah pecahnya peristiwa

Koyaknya kulit ari

Yang membungkus

Kesadaran, pengertian

Sebagaimana biji buah

Mesti pecah;

1.      Agar intinya terbuka merekah, bagi curahan cahaya surga

2.      demikian pun bagimu kemestian tak terelakan

[Catatan Harian Ibu]

─1986─

kawula buana, tetapi

banyak mata air yang

kemudian tercemar

sehingga bukannya

sarana pelepas dahaga

tetapi penghilang nyawa

ada satu lelaki yang kusebut

ayah, tetapi siapakah ayah?

Ada satu lelaki yang kusebut suami

Tetapi siapakah suamiku?

Tak kukenal mereka.

Yang kukenal adalah

Lelaki. Mahluk yang bernama

Manusia─lelaki.

Aku selalu di durjana

Mahluk lelaki

banyak diantara yang kau

derita, adalah pilihanmu

sendiri

dialah ramuan pahit

pemberi hidup pada pribadi

demi penyembuhan bagi

parah di dalam hati.

Maka percayailah tabib

Itu dan reguk habis

Ramuan pahit kehidupan

Dengan cekatan; tanpa

Bicara sebab tangannya,

Walau keras dan berat

Terasa

Mendapat bimbingan gaib teramat lembut.

Dan piala obat yang di bawakannya

Walau pedih terasa

Membakar bibir

Telah di kepal-kepal oleh

Tangannya

Dari tanah liat yang di bubuhi air

Tetesan air mata keramatnya.

 

─1985─

[Buku Harian Ibu]

lelaki-lelaki lahir ke dunia

dan pergi. Mestilah ia

pamit, kepada siapa?

Dijilatnya ludah cinta

Yang di telannya di malam

Hari tak mengerti aku

Buat apa

Tapi ibu, kenapa engkau

Mesti tau? Barangkali

Akan sia-sia apa yang kutulis.

Dunia hanya mereka-reka

Tapi taukah mereka

Tentang cinta yang tak kunjung sirna?

Kembangkan sayap-sayapmu

Dan getarkan bulu-bulumu

Tatap mataku dalam-dalam

Apa yang kau dapat?

Butir-butia air yang jatuh

Menimpa rambutmu

Adalah benih-benih

Kasih tumbuh di

Dasar sukmaku.

Berjuta manusia datang

Dan pergi entah

Kemana

Tanpa berita tanpa

Tanya, berjuta peristiwa

Datang dan pergi

Entah apa dan mau apa.

***

mungkin hanya itu saja beberapa catatan harian ibuku yang akan ku masukan ke dalam cerita novelku ini.

Mungkin bagimu (Nisa) kata-kata itu tak berarti apa-apa. Tapi bagiku itu adalah karya terindah yang pernah ku ketahui dalam seluruh hidupku. Ternyata ibuku seorang penulis yang sangat berbakat dan selalu aku tahu akan kujadikan di sosok penulis panutanku.

Pertama kali kubaca buku Catatan Harian Ibu, tubuhku bergetar dan airmatakukeluar tanpa sadar. Aku seperti ikut merasakan kesedihan ibu yang teramat dalam terhadap sosok lelaki yang selalu mengkhianatinya. Ibuku pernah menikah sebanyak 3 kali─dengan yang terakhir bersama ayahku. Ketiga kali pernikahannya itu pun─ibuku selalu disakiti, diselingkuhi, dan bahkan di aniaya oleh suaminya sendiri. Aku teramat sangat menyayangi ibuku. Mana mungkin aku berani menyakiti perempuan lain, karena aku selalu bisa mengerti rasanya disakiti dan dikhianati oleh orang yang kita cintai. Ya … setidaknya bagiku lebih baik disakiti wanita daripada aku harus menyakiti wanita.

Sejak berpikiran seperti itu, aku sudah membulatkan tekadku untuk mencoba setia pada satu wanita, yaitu kamu (Nisa). Aku sebagai lelaki benar-benar sangat takut bila sampai aku dengan tak sengaja menyakiti hati wanita. Karena itu sampai saat ini aku belum berani jatuh hati pada wanita lain dan menjalin cinta dengannya.

Cukup aku saja yang selalu disakiti olehmu (Nisa), dan aku tak mau melibatkan wanita lain untuk singgah di hatiku dan mencoba cintaku.

Tapi bagaimana pun juga aku bukan seorang malaikat, aku pasti pernah tergoda untuk suka pada perempuan. Tak cukup untuk menutup kemungkinan bahwa nanti akan datang wanita lain yang ingin menjaga hatiku, dan mencoba cintaku.

Tapi justru aku mau wanita itu adalah “kamu” (Nisa). Setiap lelaki punya impian ingin merajut tali kasih penuh mesra, dan seperti itulah yang selalu kuinginkan selama ini terhadapmu. Aku selalu percaya bahwa suatu hari nanti kamu takkan pernah ragu lagi untuk memilihku sebagai “Kekasih Terakhir” di pencarian cinta sejatimu.

***

“Ending Cerita”

Nisa … dalam setahun ini aku selalu

bermimpi bisa menemuimu lagi, setidaknya

yang terakhir kali dalam hidupku.

Mungkin nanti akan kuberikan novel ini

Padamu, paling tidak aku punya alasan

Untuk melihatmu lagi setelah setahun lamanya kita tak berjumpa.

Aku sudah kehilangan inspirasi lagi, ketika

penerbit memintaku untuk membuat

ending cerita ini menajdi menarik dan romantis

lalu apa yang harus aku tulis kalau kita

belum mengakhiri semua kisah ini?

 Untuk itu aku memintamu datang

pada hari ulang tahunku tanggal 30 Mei’07.

Temui aku di lapang basket SMP 2 Cianjur,

Jam 4 sore dan aku hanya akan

menunggumu untuk yang terakhir kali ini

hingga jam 12 malam.

Dan kuharap kau bisa datang sendiri

Karena aku ingin membicarakan sesuatu

Padamu, setidaknya aku bisa melengkapi

Ending cerita ini menjadi lebih baik.

Penerbit

Untuk pembaca; … Novel Kekasih Terakhir ini

Belum selesai sampai disini. Mungkin ending ceritanya dapat kalian ketahui di novel Kekasih Terakhir 2 yang akan diterbutkan awal tahun depan. Apakah cinta si penulis kali ini dapat di terima oleh Nisa? Mungkin saat ini hanya mereka berdua saja yang tahu jawabannya. Tapi jika kalian ingin tahu lebih cepat jawabannya, bergabunglah bersama kami di J Fans Club (JFC Mania) di contact person 085624334867. ikutilah lomba Resensi Novel J dengan hadiah jutaan rupiah, blinddate barenag J, dibuatkan novel bagi pemenang oleh J dan banyak lagi hadiah yang lainnya, daftarkan segera hingga akhir tahun 2007 ini.

By. Management

Jl. Suli Blok 0 No. 31

Telp. 021-7426911

Jakarta Selatan – Indonesia

Bayangan Daftar Isi

“Kekasih Terkahir 2”

mukadimah

kata pengantar

Daftar isi

Kitab Pertama;

            Teman Khayalan

            Kapan kita pacaran?

Setia

Kitab kedua;

Popularitas dan cinta

Jadilah ibu dari anak-anakku nanti

Sampai mati kumencintaimu

 

J THANK 2 :

Allah SWT (I’m so sorry… but I’ll try to fix it), Alm. Ibu – kakak – adikku – sepupuku – dan sobatku yang ada di surga (kita tak lebih baik dari ini)

Anisa Yp (I LUV U), ibukostku, teman-teman sekostku dulu (iraha urang ngabasi deui euy?), Mbak Sukaesih, Tante Yanti, Jakarta Kota Impianku, sahabatku Iresh (kucingku), Gaza’n Gizan (hamsterku), dan hewan peliharaanku lainnya (kalian sahabat terbaikku), buat I radio Bdg (Mkz, dah nemenin aq bikin novel), Ranti anak UPI Bdg (temen kahyalanku, kapan kita bisa ketemuan?)

…… yang kelupaan, sorry aku forget…….

“When-when ajach yach”

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anudatar.blogspot.com kekasih terakhir 2 eps 4 : indekost

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

  Wasiat Sang Penyair                CATATAN AKHIR   TAHUN 2006                                                                   SURAT ...