Rabu, 10 Mei 2017

Kekasih Terakhir 2 Eps 4 : Indekost


Indekost
Kepada Nisaku: “Aku ini teramat sangat-sangat dan sungguh-sungguh menyayangimu setulus hatiku. Bahkan aku tidak ingin berhenti beranjak dari hatimu meski tak kau inginkan kehadiranku di setiap mimpi-mimpimu. Harus bagaimana lagi Nisa agar kau mengerti bahwa aku tidak bisa hidup nyaman tanpa melihatmu disisiku walau sekali saja di dalam seminggu. Malah kau selalu saja pergi bersama kekasih barumu dan tega biarkan aku sendiri terjebak sepi di malam hari.
Lalu saat itu hari terakhir aku berusaha meninggalkanmu, membawa satu rahasia yang terjadi sesungguhnya dibalik dari kepergianku. Selamat tinggal Nisa perempuanku, itu ucapku dan kau hanya diam saja tanpa kata-kata. Kau takkan pernah merasa kehilanganku untuk itu biarlah aku yang mencoba meninggalkanmu, agar kau tahu bahwa aku sudah teramat lelah untuk menunggumu dan agar kau tahu bahwa aku ingin melepas semua penderitaanku yang bodohnya mencintaimu–tanpa dicintaimu.”
Disatu sisi cerita: “Keluargaku sekarang sedang dilanda masalah besar. Memang bukan satu hal yang baru bagiku bahwa ibuku selalu terserang bathin karena kelakuan bejad ayahku sendiri hingga Ibu terkena penyakit stroke saat ini.
Sejujurnya aku tidak ingin menceritakan tentang masalah keluargaku di dalam buku ini karena itu sama saja aku akan membuka aib keluargaku sendiri. Tapi bagaimana pun justru buku ini adalah perjalanan hidupku, bercerita tentang kisah kasih cintaku beserta kesedihan terpendamku.
Hanya saja bisa aku ceritakan ini dengan singkat tentang apa yang menimpa keluargaku saat-saat ini:
Di mulai dari tentang ayahku: Bagiku sosok seorang Ayah itu tidak aku dapatkan sedikitpun darinya. Dari semenjak aku kecil ayah tak pernah ada disisiku saat ku bersedih diejek teman sepermainan, menangis tertusuk duri atau terjatuh saat belajar mengendarai sepeda. Malah sejak ku kecil itu, ayah sering menyiksaku karena buat adikku menangis, dia cambuk kakiku dengan tongkat kayu dan dia pukuli aku tanpa ampun. Sampai sering kaliku menangis menahan sakit di sekujur tubuhku ini bahkan luka darah mengalir lewat wajahku, badanku serta kakiku.
Sampai sekarang pun Ayah tidak pernah berubah. Bukan hanya aku saja yang dari dulu disiksa tapi ibuku juga sering teraniaya.
Sementara bila kita bicara tentang Ibuku: Bagiku ibuku adalah seorang bidadari berhati emas dan hanya darinya ku diajari mengenali dunia.
Aku ingat saat itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar–Ibu selalu membuatkanku nasi goreng kecap telor 2 mata sapi kesukaan aku sebagai bekal istirahat di sekolah.
Aku juga ingat setiap aku di pukuli ayah sewaktu kecil ibu selalu ada untuk melindungi aku, relakan tubuh lemahnya tercambuk juga demi mempertahankanku.
Dan hari ini hal itu terulang kembali tapi bukan aku yang disiksa ayah melainkan ibuku yang sering dianiaya akhir-akhir ini.
Betapa bodohnya aku karena aku telah membiarkan ibuku bersedih seorang diri di rumah. Sementara aku harus tinggal kost jauh darinya tanpa bisa lagi melindungi dan juga menemaninya.
Tapi alasan kenapa aku bisa kost karena perekonomian keluargaku sedang kacau. Aku bahkan terpaksa menjual sepeda motorku tuk menghidupi kami semua dan biaya sekolah kedua adikku. Karena aku sudah tidak punya kendaraan lagi sementara sekolahku berjarak 16km akhirnya aku harus hemat untuk hidup kost atau aku bisa saja berhenti sekolah karena sudah tidak ada biaya.
Aku sedih dan sangat sedih sekali, aku larut dan sangat kalut sekali, aku menangis dan sangat deras sekali. Pertama aku harus rela kehilangan Nisa sebagai penyemangat hidupku karena aku sudah berjanji tuk tak mengganggu hidupnya lagi. Kedua aku tengah mendapatkan Ibu sudah mulai susah melangkah dan berjalan seperti kakinya bagai di pasang rantai 100 ton pemberat sampai susah bergerak.
Saat itu akupun tahu bahwa ayahlah yang harus bertanggungjawab akan hal ini. Demi melindungi Ibu aku selalu bertengkar dengan ayah. Aku tidak takut lagi pada ayah karena aku sekarang sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi seperti dulu yang disiksanya.
Aku mulai sering bolos sekolah hanya untuk menjaga Ibu di rumah karena penyakit stroke Ibu makin bertambah parah. Sementara aku juga mulai sangat jauh dari Nisa mungkin sekarang dia sudah tidak peduli lagi padaku. Tapi itu tidak aneh karena memang dari dulu pun Nisa tak pernah sedikitpun peduli padaku.
Disamping itu ayahku jarang pulang dan memberi nafkah pada kami sekeluarga seakan ayah tidak peduli lagi. Sementara barang-barang elektronik di rumah sudah di jual untuk biaya makan kami sehari-hari.
Kedua adikku pun kini menjadi liar luar biasa tak terkendali. Yang kesatu adikku Indra mulai coba memenuhi badannya dengan tattoo permanent, dia suka mabuk-mabukan, menjadi pengedar ganja dan selalu gonta-ganti wanita. Padahal Indra saat ini baru saja kelas 1 SMA dan usianya baru 15 tahun. Adikku yang kedua Dimas dia mulai pasang tindikkan di telinga, sering berkelahi di sekolah dan mulai merokok didepan umum meski dia itu baru kelas 1 SMP dan usianya hanya 12 tahun.
Sementara sebagai anak pertama Ibu aku hanya bisa bersedih melihat adikku seperti aku yang dahulu, yang sama-sama frustasi hadapi kenyataan keluargaku yang hancur ini.
Dimalam ini aku ada dalam kegundahan, berjalan tanpa arahan, pikiranku kosong tetapi seribu masalah sedang bermain di isi kepalaku.
Sadarkan lamunanku di sudut kamar kostku: “Aku ulangi lagi, aku memulai cerita ini pada Pukul 20:30 malam, hari minggu pertama di tanggal 01 Mei 2005. Tepatnya ini adalah malam pertama pula aku mengawali tidur di kamar tempat kost ku.”
Sekarang aku ingin menulis surat untuk Ibu dan mengabarkan keadaanku saat ini agar dia tidak mencemaskanku. Aku akan berjanji padanya juga bahwa aku pasti bisa bertahan di tempat ini, meski sudah jauh dari rumah.


Cibeber, Minggu 1 Mei 2005
Teruntuk:   Ibu di rumah
Dari        :  Anakmu Angga

Ibu… saat ini keadaanku baik-baik saja ternyata tempat kostku ini cukup bagus dan sepertinya aku merasa nyaman tinggal disini. Orang-orang di rumah ini sangat ramah sekali padaku, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Disini aku tidak sendiri, sebagai anak kost aku punya teman kost yang kebanyakkan masih satu sekolahan denganku.
Baru saja aku berkenalan dengan mereka bu dan mereka sangat perhatian sekali padaku. Awal pertama kali aku datang kesini mereka sudah membantuku bawakan barang-barangku yang berat ke kamar sekaligus merapikannya. Lalu satu persatu dari mereka ulurkan tangan padaku sambil sebutkan nama. Aku sungguh tersanjung sekali bu teman sekost perempuan disini cantik-cantik loh tapi anehnya meskipun mereka satu sekolah denganku kok aku baru melihat dan mengenal mereka.
Yang pertama mengenalkan dirinya, dia bernama Nurul (tapi biasa dipanggil Nui). Dia cantik sekali loh bu seperti ibu waktu muda! Kalau nanti ibu sudah bisa berjalan lagi, ibu datang kesini ya? Nanti aku kenalin sama yang namanya Nui pokoknya dia itu cantik, putih, tinggi sekitar 165cm dan beratnya kira-kira 55kg. Dia kakak kelasku di sekolah bu, dia itu anak kelas 3 SMA tetapi kelakuannya masih kekanak-kanakkan juga.
Selain Nurul, ada yang bernama Wulan. Dia itu anaknya anggun sekali, murah senyum dan keibuan banget kayaknya bu. Meskipun Wulan adik kelasku dan baru kelas 1 SMA tapi dia dewasa banget loh bu! Ibu pasti penasaran sama anak yang namanya Wulan (aku kasih tahu ciri-cirinya ya bu). Wulan itu rambutnya lurus hitam kemilau dan panjang bu, warna kulitnya sawo matang lalu tingginya kira-kira 160cm dan berat dari badannya mungkin 50kg, bibirnya itu mungil dan hidungnya mancung (pokoknya lucu banget deh). Apalagi Wulan ini sangat beda banget sama Nui, kalau Wulan terlihat anggun dan feminim tapi justru Nui sebaliknya (Nui itu tomboy bu, dari gaya atau penampilannya aja udah kelihatan kok bu).
Tetapi selain kedua cewek-cewek cantik teman sekostku itu, ada juga cowoknya disini. Yang pertama namanya Fikri, dia itu adalah anak kelas 1 SMA adik kelasku. Kata teman-teman yang lain Fikri itu anak jenius sampai-sampai Nui iseng memanggilnya si manusia kamus. Awal aku melihatnya juga aku sudah yakin kalau Fikri itu anak pintar. (Ibu lihat aja nanti dari penampilannya, matanya sipit dan pakai kacamata tebal super minus lalu gayanya agak norak tetapi cara bicara sungguh terjaga–nggak kayak Nui asal bunyi dan celabakkan).
Tapi temanku yang terakhir ini lebih lucu dari semua anak kost yang ada disini, namanya Rubi dan dia anak kelas 2 SMA satu angkatan denganku bu. Rubi itu pelawak paling populer disini dan katanya dia yang selalu hangatkan suasana di tempat kost ini. (Kalau Ibu lihat wajahnya aja, ibu pasti akan tertawa terbahak-bahak hahaha). Ibu mau tahu gak ciri-cirinya Rubi?
Rubi itu katanya anak laki-laki yang asal usulnya dari sebuah kampung sangat terpencil (Cidaun-cianjur selatan, Jawa Barat) jadi kalau Ibu perhatiin logat bicaranya saja sudah pasti tahu kok bu bahwa Rubi itu anaknya sedikit kampungan yang super norak. Sehingga anak-anak kost yang lain suka ngeledek dengan cara ngikutin logat khas daerahnya yang aneh kalau bicara. Tetapi meski pun Rubi menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang lain, dia nggak pernah marah malah ciri khasnya itu yang buat Rubi jadi pelawak yang selalu menghangatkan suasana sepi di tempat kost ini.
Selain itu Rubi seringkali diledek karena warna kulitnya paling hitam dan juga bentuk ekspresi wajahnya paling kocak diantara yang lain. (pokoknya aku senang dan betah sekali tinggal disini bu jadi jangan khawatirkan aku lagi yah!!!).
Oh iya bu, aku lupa tuk mendeskripsikan tentang suasana, fasilitas dan keadaan rumah kost ini pada Ibu.
Fasilitas ditempat kost ini cukup komplit, bagus, bersih dan juga rapi. Disini itu bentuk rumahnya memanjang seperti huruf (L), kamar tidurnya ada 10 sedangkan kamar mandinya ada 2 (tapi airnya dari air sumur yang disedot pakai pompa listrik), udah gitu disini juga ada tempat parkir mobil (yang bisa menampung 3 mobil karena Ibu kost disini juga ternyata juragan angkutan umum). Selain itu Ibu kost membuka warung dagangan kecil-kecilan tuk tempat kami biasa sarapan pagi dan makan sehari-hari (ternyata warungnya ibu kost disini boleh ngutang dulu loh katanya bu… hehehe).
Oh iya aku belum cerita tentang keluarga Ibu kost disini. Mereka punya 3 orang anak, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Anak pertama mereka seorang laki-laki yang usianya 4 tahun lebih tua dariku, namanya Dedi dan dia sudah bekerja sebagai montir bengkel di sebuah perusahaan deller motor di kota. Yang kedua anak perempuan bernama Sulastri yang sekarang baru kelas 1 SMP. Dan yang terakhir namanya Irma, dia adalah anak perempuan yang paling bungsu (usianya baru 4 tahun tapi dia udah lincah sekali loh bu …).
Pekerjaan Ibu kostku itu menjaga warung dagangannya setiap hari sementara suaminya bekerja sebagai supir angkutan umum dengan mobil kepunyaannya sendiri.
 Ada yang menarik dari tempat kost ini.  Selain di huni oleh 5 pelajar anak kost, ada seseorang yang kost disini tetapi dia bukan seorang pelajar dan bukan seorang pemuda. Aku tidak tahu siapa namanya tapi yang pasti semua orang disini itu memanggilnya (Abah). Tadi aku juga sempat berkenalan dengan dia dan ternyata dia orangnya menyenangkan bu. Dilihat dari perawakannya dia berumur sekitar 50 tahunan, meskipun sudah sedikit tua tapi ternyata dia punya selera humor yang tinggi dan terkadang candanya kekanak-kanakkan.
Ketika dia bicara padaku, aku baru tahu bahwa ternyata Abah itu bukanlah salah satu penduduk kota ini. (Dia sudah beristri dan beranak angkat satu yang bertempat tinggal asli di kota Sukabumi. Dia kost disini karena dia buka bengkel service motor di seberang jalan tempat kost ini. Abah pulang seminggu sekali, biasanya Abah pulang setiap hari Jumat dan hari raya saja) katanya.
Jadi jumlah semua penghuni yang tinggal di rumah ini ada 11 orang bu dan mereka biasa menyebut tempat kost ini dengan panggilan (Rumah Ceria). Kalau nanti Ibu sudah bisa jalan dengan normal lagi dan ingin jenguk aku kesini, aku ada di kamar paling depan nomor 1 (kamarku itu ada didekat pintu masuk utama).
Mungkin itu saja surat pertamaku untuk Ibu dan aku harap Ibu tak mencemaskan lagi keadaanku saat ini (karena disini aku baik-baik saja). Aku berjanji tidak akan mengkhianati kebebasan yang sudah Ibu berikan padaku. Dan semoga keberadaanku yang jauh dari Ibu ini bisa buatku lebih dewasa dalam berbuat dan bersikap, lebih amat sangat mandiri dalam mengerjakan sesuatu dan bijaksana di dalam menghadapi masalah hidup.
Jika nanti ibu perlu apapun dan butuhkan aku tuk segera pulang. Ibu bisa menghubungi nomor Handphone teman sekostku Rubi (nanti aku sisipkan nomornya di surat ini ya bu …).


Tertanda,
Anakmu Angga Nudatar


***
Tak terasa selesai juga surat yang kubuat untuk ibu dan aku mulai bingung apalagi yang harus aku lakukan sekarang ini (Pukul 23.45) sementara aku susah tidur malam ini.
Coba kalian bayangkan suasana di kamar tempat kostku ini. Kamarku ukuran 3x3 meter dengan cat berwarna ungu polos yang sebagian ku hiasi dengan lukisan buatanku, lantainya ku lapisi dengan karpet miliku berwarna biru dan kasurnya sangat tipis sekali (tebalnya hanya sampai 4cm dengan warna merah tua). Disudut kamar hanya ada sebuah lemari kecil ukuran 1x1 meter untuk tempat penyimpanan bajuku. Sedangkan untuk hiburanku sehari-hari hanya ada sebuah radio compo kecil (dan itu adalah hadiah ulang tahun yang ke 10 dari Ibu dulu). Sekarang kalian pasti sudah bisa bayangkan situasi kamar kostku. Aku sengaja tidak bawa semua barang-barangku yang ada di kamar rumahku termasuk kasur empukku itu, karena aku (semenjak memutuskan untuk kost) sudah berniat untuk hidup susah, siap menderita dan meninggalkan semua fasilitas yang kupunya.
Suasana kamarku saat ini begitu hening, yang terdengar hanya detak suara mesin jam dan nyanyian jangkrik dimalam hari. Selain itu akupun bisa mendengar suara nyamuk-nyamuk yang menari menggoda. Mereka beterbangan menyerupai suara helikopter atau jet tempur yang menyerangku (dengan torpedo, amunisi dan roketnya) tanpa ampun. Hingga di seluruh kaki dan tanganku meronta-ronta saat mereka mendarat di kulit, menyuntikku dengan jarum, menghisap darahku lalu pergi meninggalkan serum racun (senjata pamungkasnya) di lubang pori-poriku. Tapi ku tak begitu saja diam tanpa lakukan sebuah perlawanan. Akupun berdiri, dengan wajah kesal kuajak mereka berkelahi. Aku tepukkan kedua tanganku tuk menghimpit nyamuk nakal itu hingga remuk dan satu per satu kubunuh mereka tanpa mengenal kasihan. Tetesan darah mereka berceceran menghiasi tanganku dan kemudian kujilat darah mereka agar kembali menyatu dengan darahku yang tadi mereka ambil dari tubuhku.
Kini semua nyamuk-nyamuk itu sudah mati dan tidak ada lagi yang berani menggoda dan mengejekku. Sekarang aku pun bisa tidur tenang, ku matikan lampu kamarku lalu ku pejamkan mata dan ku mulai tertidur perlahan.
Pagi begitu cepat kembali atau entah aku yang terlambat tidur tadi malam. Aku masih tersesat di alam mimpi serentak terbangun mendengar suara ketukkan di balik pintu kamarku. Dia (Ibu kost) memanggil namaku dengan nada membangunkanku dan seperti inilah yang kudengar: ”Angga… (sambil ketuk pintu kamarku) cepetan bangun!! salat subuh dulu gih entar keburu kesiangan”. Sementara aku tersentak bangun langsung menjawab: “Iyah Ibu Angga sudah bangun,” gumamku.
Mataku yang masih terpejam perlahan kubuka. Dan dengan gontai ku berjalan untuk menghidupkan lampu kamarku, kulihat jam dinding menunjukkan Pukul 05:00 pagi. Tapi meski langit masih gelap disini suasananya sudah nampak ramai.
Apalagi teman satu kostku (ada di kamar sebelah) Rubi Versus Nui yang sudah pada teriak-teriak mirip ayam jago padahal masih pagi buta tapi mereka sudah pada bertengkar kayak kucing dan anjing saja. Tapi meski pun begitu mereka telah berhasil buatku tertawa karena aku sungguh tak tahan lihat kelakuan mereka yang kayak anak kecil saja.
Pagi buta ini pun terlihat lebih indah kala canda tawa mulai mewarnai suasana. Akhirnya kitapun salat subuh berjamaah di ruang tengah. Aku  yang masih agak jaim (jaga-image) dan pendiam mulai mereka goda. Mereka semua merayu supaya aku mau jadi imam (pemimpin salat) karena aku termasuk anak baru disini. (Kata mereka sih ini sudah jadi tradisi siapa anak kost cowok yang baru masuk kesini harus jadi imam salat selama sebulan sementara anak kost cewek baru masuk harus masak selama seminggu untuk anak-anak kost yang lain).
Ya karena ini sudah jadi tradisi mereka maka aku terpaksa untuk menurut saja. Selain harus jadi imam salat selama sebulan aku juga harus menyapu, mengepel dan membersihkan rumah selama seminggu.
Setelah kami salat subuh berjamaah dan semua orang kini mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku lihat Rubi sedang bantu Ibu kost membuka tempat warung dagangnya. Sedangkan Wulanpun dengan sifat keibuannya sedang masak nasi goreng untuk sarapan nanti sebelum kami berangkat kesekolah. Sementara Nui lagi asyik membersihkan ruangan sambil mendengar radio di handphone pakai headset di telinganya.
Sudah tidak aneh kalau Nui disini adalah satu-satunya anak kost yang paling gila dan gokil abizzz pake 3z. Sambil dengarkan musik dan menyapu rumah dia pun bernyanyi lantang sekali dengan khas suara sumbang bin falsnya dia bernyanyi penuh percaya diri.
Tetapi di sisi lain Fikri sang anak paling jenius punya kegiatan sendiri yang agak aneh: Coba kalian bayangkan, dia bisa kuat bertahan selama 40 menit berada di kamar mandi. Entah apa yang dia lakukan tapi kata anak-anak yang lain seraya bercanda berkata: “Fikri itu sudah biasa lama di kamar mandi bahkan terakhir ini dia sudah berhasil pecahkan rekor MURI sebagai manusia yang mandinya paling lama seantero bumi,” gumam Nui.
“Mungkin sekarang Fikri sedang bertapa atau ganti kulit di kamar mandi,” ucap Ruby.
Tapi tidak lama Nui menyela: “Mungkin saja sekarang dia lagi ngitung berapa jumlah tetes air yang ada di bak pakai ilmu fisikanya, soalnya dia khan jenius banget he..he..he”.
Kemudian Abah keluar dari kamarnya yang dekat kamar mandi itu sambil membawa handuk berwarna kuning yang dia kalungkan, dan meneteng ember kecil untuk tempat penyimpanan sabun, pasta gigi, shampoo dan sikat gigi miliknya. Dia perlahan sudah ikut dalam kerumunan dengan kami yang sedang membicarakan Fikri di depan kamar mandi. Abah pun angkat bicara dan mulai argumentasi ingin tandingi pendapat-pendapat kami yang sedang menebak “ Apa yang sedang dilakukan Fikri di dalam kamar mandi hingga 45 menit lamanya?” dan abahpun beragumentasi seperti ini: ”Fikri itu sekarang lagi tidur sambil buang air besar, coba aja sekarang kalian bangunin”.
Dengan rasa tak begitu percaya kami pun serentak bangunkan Fikri dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sambil memanggil lantang namanya. Kemudian terdengar suara air yang menyirami closet lalu tidak lama itu keluarlah Fikri hanya kenakan handuk warna biru dan berkata: ”Sorry ya, euh tadi aku habis mandi langsung kebelet mau buang air besar, terus… (ketiduran lagi dech), kami serentak memotong pembicaraannya.”
Akhirnya setelah Fikri keluar dari kamar mandi, kami pun (Wulan, Nui, Rubi, Abah dan Aku) saling berebut pengen mandi duluan (karena waktu saat ini menunjukkan pukul 06.35 menit) dan kami takut kesiangan pergi ke sekolah.
Mereka berempat itu (Wulan, Abah, Nui, Rubi) saling dorong-dorongan untuk bisa lebih dulu masuk ke kamar mandi sedangkan aku mengalah karena aku cukup tahu diri (aku khan masih anak baru disini).
Sebenarnya kamar mandi disini ada 2 dan yang satunya lagi ada di dalam kamar Ibu kost tapi kamar mandi itu pun khusus untuk keluarga mereka. Hey… coba sekarang kalian lihat mereka disana, Nui hampir selangkah lagi memasuki kamar mandi tapi sulit sekali untuk melangkah sementara Abah yang ingin masuk kamar mandi malah di dorong oleh Nui dari arah depan dan tangan Abah juga ditarik oleh  Wulan dari arah belakang. Hingga tidak ada satu pun yang berhasil memasuki kamar mandi dengan mudah.
Aku hanya bisa diam saja di belakang menyaksikan kelakuan mereka dan sesekali aku tertawa terbahak-bahak karena tidak tahan melihat tingkah kekanak-kanakkan mereka.
Di akhir cerita, rupanya Nui menguasai strategi jitu. Dia mengeluarkan jurus ampuh yang dia beri nama ‘Jurus Menggigit Anjing’ dengan cara mencoba menggigit tangan Rubi yang sedang memegang tangannya hingga dia sulit untuk melangkah.
Setelah itu Nui berhasil meloloskan diri dari cengkraman Rubi dan akhirnya dia bisa memasuki kamar mandi lebih dahulu dari yang lain. Kemudian Nui tertawa-tawa menyambut kemenangannya itu di balik pintu kamar mandi yang sudah dia kunci sedangkan yang lainnya  pada dongkol menyalahkan Rubi yang gagal menahan Nui sehingga bisa masuk ke kamar mandi dengan mudah.
Lalu satu persatu dari mereka pun selesai mandi dan sekarang giliran aku yang terakhir mandi. Setelah itu aku melihat yang lainnya sedang sarapan pagi bahkan sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Meskipun kami ternyata satu sekolah tetapi sepertinya yang lainnya pun punya kesibukan masing-masing dan tinggal aku yang sedang sarapan kini. Tapi tak apalah bila mereka tak mau berangkat sekolah bareng denganku karena aku sendiripun masih merasa canggung belum terlalu dekat dengan mereka.
Ketika aku selesai sarapan pagi, waktu menunjukkan Pukul 7 kurang 5 menit dan aku pun pamit pada Ibu kost tuk berangkat sekolah karena takut kesiangan. Jarak antara sekolah dengan rumah kostku hanya berkisar 100 meter dan kalau pun berjalan hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja.
Kini aku mulai berjalan sendirian menuju sekolah, kalian tahu apa yang ku rasakan saat ini? Setiap aku melangkah kakiku bergetar, wajahku pucat lesu, mataku merah berair, bulu kudukku berdiri serta pori-pori yang terbuka. Sementara bibirku terkunci seakan tidak dapat bicara dan pikiran melayang ingatkan orang-orang yang kusayang (Anisa dan Ibu… aku sangat merindukan mereka saat ini, andai saja mereka juga merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini).
Aku teringat perkataan ibuku sebelum aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggu hidup Nisa (ketika itu aku hanya memintanya mencintaiku) sedangkan ibukupun sendiri tahu tentang perjalanan kisah cintaku dari awal ku bertemu dengan Nisa. Sementara Ibu waktu itu hanya berkata selayaknya perempuan biasa padaku: “Anak perempuan itu semakin kamu kejar semakin dia berlari jauh dari kamu, karena kamu telah memberikan rasa tidak aman kepadanya…!”
Iya sih, apa yang Ibu katakan waktu itu ada benarnya juga. Mungkin aku yang terlalu respect pada Nisa dan terlalu proteksi karena takut kehilangannya walau sebenarnya aku itu bukan siapa-siapa dia dan bagi dia aku hanya seorang TEMAN BIASA.
Aku begitu menjadi gila karena Nisa, aku tidak tahu apakah sekarang aku masih bisa bertahan tanpa kehadirannya lagi? Padahal selama 5 tahun aku hidup dalam lingkungan hatinya, berjuta hari ku habiskan waktu hanya untuk memujanya. Sungguh ini tak adil bagiku selama itu ku menunggunya dan hanya dengan sehari harus hancur semuanya. Hidupku terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah karena itulah aku selalu menganggapmu (Nisa) sebagai pilihan yang tepat dan aku tak menyesal menghabiskan seluruh waktuku yang singkat (bersamamu Nisa) hanya denganmu.
Aku masih disini berjalan sendiri menuju sekolah tetapi mengapa perjalanan ini buatku resah. Tak tersadar air mataku terjatuh saat terbayang wajah-wajah orang yang kusayang di rumah, jauh disana. Kata orang jaraknya 16 km dari sini, kalau naik motor hanya memakan waktu 40menit tapi kalau naik angkutan umum bisa saja mencapai 1 jam perjalanan. Aku juga tak mengerti mengapa kubisa terdampar disini, mengapa sekolahku jauh sekali dengan rumah?
Sebenarnya ada berjuta alasan mengapa aku mau sekolah di tempat yang jauh ini? Yang paling utama aku ingin melupakan orang-orang yang pernah kukenal di kotaku dan salah satunya adalah Nisa. Waktu pertama kali aku ingin melanjutkan ke SMA, yang terbayang dibenakku adalah ingin pergi sejauh mungkin ke kota terpencil dan mencoba untuk hidup baru (seperti bayi yang baru lahir) lalu menjalani hari bersama orang-orang yang tak pernah kulihat sebelumnya. Apalagi kota kecil ini (Cibeber) sungguh indah sekali, banyak ketenangan dapat ku rasakan serta kedamaian hati yang mampu merubah gelapnya sisi hidup ini.
Coba kalian bayangkan kota terpencil ini (Kecamatan Cibeber 13km dari pusat Cianjur) terkenal akan kecantikan alamnya yang belum terjamah oleh sebagian orang kota. Tempatnya di kelilingi pegunungan dengan panoramanya yang menakjubkan. Apalagi sekolah (SMAN I Cibeber) yang lokasinya tepat berada 30 meter di bawah sebuah induk pegunungan bernama ‘Gunung Gombong’.
Sepertinya aku tak akan begitu banyak menceritakan tentang keindahan alam yang mewarnai sekolahku ini. Karena aku sendiri yang terdampar selama 2 tahun di tempat ini  tak mampu ungkapkan betapa menyenangkan bisa sekolah disini. Banyak kenangan manis yang telah terukir di tempat ini bahkan di saat ku jenuh untuk belajar aku selalu kabur dari kelas ke arah bukit yang berada di belakang sekolahku ini. Diatas bukit itu aku selalu teriak sekuat tenaga untuk melepas semua masalah yang amat berat membebaniku. Aku  tak malu meskipun harus teriak-teriak seperti orang gila karena disana tak ada satu pun orang bisa mendengarkan. Bukit itu sangat tinggi dan cukup jauh dari rumah penduduk dan aku merasa sangat aman meski harus menangis sampai tersedu-sedu disana.
(Jika kalian tidak percaya dengan apa yang ku katakan tentang keindahan alam di lingkungan sekolahku, kalian lihat saja di filmku “TKC” di Channel Youtubeku Angga Nudatar disana sudah terekam suasana frame-background yang cantik berupa daun-daun yang hijau, hutan-hutan yang lebat, pohon-pohon yang rindang, udara sejuk serta angin yang berhembus menyegarkan).
Kita kembali lagi ke pokok adegan saat aku berjalan menuju sekolah di pagi pertama aku berstatus sebagai anak kost. Setelah 5 menit kemudian sejak kupamit pada Ibu kost untuk berangkat sekolah akhirnya aku sampai juga di depan gerbang sekolah di waktu angka 7 pas. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi seakan menyambutku sebagai tamu agung di awalku menjadi anak kost. Sedangkan aku masih disini di depan gerbang dan kupandang sekeliling sekolahku seakan berbeda hari ini, kutarik napas panjang ku pejamkan mata dan kubuang napas perlahan sambil melangkah menuju kelasku, aku siap.
Hari ini hari Senin, 2 Mei 2005 dan itu berarti saat ini aku pun harus siap-siap untuk mengikuti upacara bendera. Sebenarnya jujur aku tidak suka dengan acara hari ini, I hate Monday. Tapi bagaimana pun juga aku harus melewati pagi ini dengan muka yang ceria dan sedikit tebar pesona.
Karena ini adalah hari baru bagiku, bagai pena yang baru diisi tinta dan aku harus menulis jalan hidupku menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin. Tentunya satu hal yang kini harus ku sadari bahwa esok, lusa atau bahkan tahun depan aku tak akan bertemu dengan Nisa lagi. Karena aku harus buktikan kepadanya tentang janji yang pernah kuucap (bahwa aku takkan pernah mengganggu hidup dia lagi). Walau sesungguhnya aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi tapi inilah yang terbaik untukku dan juga untuknya.
Berjam-jam berlalu dari upacara bendera tadi pagi tapi itu tak cukup membuatku sadar bahwa waktu itu terus berputar.
Sekarang ini Guru sedang menceramahi murid-muridnya seperti menghakimi dirinya sendiri bahwa dia sudah merasa pintar untuk mendidik orang lain, bicara ilmu pengetahuan tentang filosofi arti kehidupan atau filologi naskah kematian. Kalau boleh jujur aku sangat membenci sekolah dan terlebih lagi ku begitu melaknat semua anak bajingan seperti mereka-mereka yang tidak peduli padaku. Sekolah itu lebih tolol dari kebodohanku dan mereka yang katanya kawan itu lebih bejad dari kelakuanku.
Selama ini sekolah tidak bisa memberiku apa-apa kecuali kemunafikan seorang guru dan kebiadaban seorang pelajar tak berguna yang tak mampu memperbaharui kehidupan mereka lebih baik. Sekolah itu pun adalah tempat bagi berkumpulnya orang-orang dungu bertopeng ijazah dan tempat berkerumunnya orang-orang bejad yang berilmu rendah. Aku dapat bersaksi bahwa yang namanya pahlawan tanpa tanda jasa itu sudah punah sejak di awal bangsa ini bobrok oleh para koruptor berhati busuk. Kini zaman sudah berganti dan generasi pahlawan tanpa tanda jasa itu banyak terbuang tersingkir oleh kebutuhan uang.
Aku merasa di sudutkan kenyataan, aku sudah muak menjadi makhluk lemah dan kalian pikir aku tidak bisa berontak. Kalian salah bila menganggapku seekor kutu biasa, karena kubisa sakiti kalian dan bersembunyi di semak-semak rambut kalian.
Di saat ini salah satu anjingpun sedang menggonggong padahal aku lebih wangi dari kebusukan-kebusukan dia dari ketimbang apa yang dia teriakan kepadaku.
Kalian tahu apa yang aku lakukan setiap guru-guruku mengajar? Aku selalu menonton film di dalam pikiranku bahkan ketika aku terlalu jengah kukabur dari pelajaran dan pergi ke tempat yang sunyi sepi. Aku lebih banyak menghabiskan waktu sekolahku berada di luar kelas daripada harus menjadi salah satu orang goblok yang di bodohi mereka-mereka yang mengaku orang pintar dan bijak itu. Padahal mereka sendiri diberi tahu oleh buku-buku yang sudah ada sejak dari dulu. Selain itu mereka tidak pantas mendidikku menjadi baik jika mereka sendiri belum bisa mendidik diri menjadi lebih baik karena yang aku tahu dia adalah koruptor kecil, bajingan bertopeng dan penguasa busuk yang sering acuhkanku.
Di samping itu aku pikir bahwa ilmu pengetahuan sudah tercipta sejak 2000 tahun sebelum Masehi dan akan tetap ada 2 juta tahun kemudian. Jika orang-orang Eropa bisa melahirkan ilmu biologi, geografi, matematika dan fisika mengapa kita tidak bisa? Padahal kita sama-sama menusia yang berpikir pakai akal. Ilmu matematika yang kalian pelajari itu sudah ada sebelum guru kalian dilahirkan. Jadi untuk apa mempelajari ilmu yang sudah ada pada mereka jika kalian sudah pandai baca dan menulis, tapi itu karena kita terlalu bodoh.
Sungguh pelajar zaman sekarang lebih menyedihkan ketimbang Thomas Alfa Edison (siswa yang paling bodoh di sekolahnya) tapi mampu menciptakan bola lampu yang kini bisa kita nikmati cahayanya. Apa kalian tahu rahasia menjadi orang pintar yang dikatakan Thomas Alfa Edison lewat bukunya? Dia hanya berpesan pada kita bahwa semua orang bisa sehebat dirinya bahkan lebih jika kita bisa resapi kata-katanya ini: “Rahasianya adalah…. 99% keringat dan 1% ilham.”
Lalu apa yang kalian harapkan dari guru-guru kalian? Mereka yang sudah pintar saja tak mampu memperbaharui ilmu pengetahuan yang sudah ada apalagi kalian yang hanya pandai menulis dan membaca yang kerjaan sehari-harinya selalu mengcopy tulisan guru di papan tulis tapi tak mengerti dengan apa yang kalian tulis di buku kalian sendiri. Untuk itu jangan pernah mengandalkan guru jika kalian ingin pintar karena sesungguhnya guru itu membodohi kalian. Semua yang guru ajarkan pada kalian sudah ada di dalam buku, jika kalian sudah pandai membaca mengapa tak kalian baca sendiri saja buku itu?
Dan inilah yang perlu di garis bawahi: “Sebuah pemikiran kita sendiri membuktikan bahwa pelajar sekarang malas tuk membaca.” Mereka cenderung menginginkan sesuatu yang instant yaitu ialah menonton serta dengarkan guru  menerangkan saja. Tapi apa yang kalian dapat dari orang yang bicara banyak sementara kalian tidak sedikit pun mengerti apa yang mereka katakan itu. Memangnya kalian bisa menangkap setiap dari kata-kata yang guru terangkan? Ayo kita taruhan, paling-paling dalam waktu sehari apa yang kalian dengar dan ingat itu akan hilang. Tapi berbeda dengan membaca buku, bila kalian lupa maka kalian membacanya kembali dan bisa mengingatnya berulang kali.
Ada sebuah kabar berduka menyelimuti keluarga para Novelis Indonesia dan kuharap ketika kalian membaca kalimat di bawah ini harus mengheningkan cipta:
“Telah meninggalkan dunia ini sebuah karya-karya milik Penulis berbakat Indonesia. Karena pada zaman ini semua pelajar tak bisa membaca lagi. Aku pun tidak tahu apa alasan mereka (mungkin mereka sudah jenuh belajar membaca atau memang mereka buta huruf tak kenal lagi aksara).
Mari kawan galakan ‘Gemar Membaca’ mulai dini karena dunia apabila tanpa kata seperti hidup tanpa napas.”

Kalian takkan pernah mengerti seberapa pusingnya membuat sebuah buku atau novel sepertiku. Ketika kalian harus terjun langsung ke dunia orang lain, menjadi karakter orang lain demi bisa membuat sebuah cerita menjadi lebih hidup. Dan aku pun bisa menjadi saksi di pengadilan imajinasi kalian bahwa orang yang paling pintar bahkan jenius di bumi ini adalah ‘Seorang Penulis’. Mereka itu adalah seorang yang berwawasan tinggi, berpengalaman luas (tentang cinta dan kematian) lalu bisa hidup di dunia imajinasi orang lain (menciptakan satu karakter dalam karyanya) serta yang terpenting lagi adalah dia bisa pahami setiap keinginan orang lain, bisa mengerti apa yang orang lain mau.
Salah satu alasan aku (indekost) jauh dari rumahku adalah ingin mencoba tuk mengerti arti hidup. Asal kalian tahu sejak umurku 6 tahun hingga saat ini (17 tahun) aku pernah hidup bersama 2 orang pembantu di rumahku. Aku tak pernah diberi kesempatan untuk walau cuma mencuci piring kotor, mencuci bajuku sendiri apalagi memasak untuk buat makanan sehari-hari.
Bahkan lagi karena terlalu manjanya aku (apalagi sama Ibu) meski waktu itu umurku sudah 11 tahun tapi aku masih suka disuapin setiap mau makan sama Ibu, dimandiin pakai air hangat setiap pagi apalagi yang lebih parahnya–aku masih suka ngompol di celana waktu tidur malam hari hingga akhir umurku 12 tahun. Sungguh begitu banyak kenanganku yang manis bersama Ibu semasa aku kecil, dan sekarang kalian tahu sendiri keadaan ibuku saat ini seperti apa?
Terakhir orang bilang (tepatnya 2 hari sebelum aku pergi dari kehidupan Nisa) bahwa Ibu terkena sakit stroke yang bisa membuatnya lumpuh total seumur hidup. Bahkan yang lebih parahnya lagi Ibu sudah tidak punya semangat hidup dan keinginan tuk sembuh dari sakitnya. Dia sudah susah makan, jarang mau bicara dan wajahnya pucat lesu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, di rahasiakan meski padaku–anak kesayangannya sendiri.
Aku melihat ada sebuah ketakutan yang begitu luar biasa di matanya. Aku bingung, sebenarnya apa yang tidak aku ketahui dari masalah Ibu? Aku tahu di ujung lidahnya ada sebuah kalimat rahasia yang ingin dia ungkap padaku tetapi anehnya dia seperti sulit untuk mengeluarkannya.

 *  *  *  
Kita kembali lagi pada saat ceritaku di tanggal 26 April 2005, tepatnya lima hari yang lalu (Saat aku pergi ke rumah Nisa untuk yang terakhir kalinya).
Andai saja waktu itu Nisa tahu apa yang sedang terjadi menimpaku? Tapi aku begitu hebat untuk menyembunyikan air mataku di depannya. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapannya dan aku berani meyakinkan hatiku bahwa semua ini kan berlalu. Dan satu hal lagi yang kutahu meski pun aku menceritakan semua masalah hidupku pada Nisa mungkin dia juga takkan sedikitpun mau peduli dengan semua yang terjadi padaku. Maka aku akan terkena bencana kesedihan kedua, selain aku harus menanggung masalah keluargaku sendiri dan akupun harus menambah jadwal menangis lagi Karena Nisa tak mau mempedulikanku, tak mau pedulikan apapun yang terjadi pada hidupku.
Haruskah aku mati agar dia mau sudi menangisi dan menyesali karena sudah tega mencampakkan kehadiranku di kehidupannya. Atau haruskah kubunuh seseorang tuk mencuri perhatiannya agar dia mau melihatku dan mau mendengarkan pembicaraanku sekali ini saja.
Lalu apalagi yang harus aku lakukan supaya dia jatuh hati kepadaku? Sementara selama 5 tahun aku menunggunya, aku selalu berharap bisa peluk erat tubuhnya, menangis tersedu-sedu dan menceritakan penderitaanku padanya. Tapi memang dia terlalu indah untuk ku miliki, itu sebabnya selama 5 tahun dia selalu menolakku saat aku ungkapkan rasa di hatiku kepadanya.
Itu sebabnya pula aku menjadi seorang penulis. Karena dengan menulis aku pun bisa mengungkapkan rasa rindu berat yang selalu kupendam terhadapnya (Nisa).
Asal kalian tahu mengapa aku menjadi seorang penulis seperti ini?
“Karena menulis buatku adalah cara terbaik untuk mencintainya (Nisa), cara aku mengagumi kecantikannya dan caraku untuk mengungkapkan tentang semua keindahannya. Menulis juga menjadi caraku untuk mengobati rasa rindu yang tak tersampaikan padanya, menjadi caraku berkhayal ketika aku ingin memeluknya.
Maka dengan menulis akupun bisa jadi seorang pahlawan menyelamatkan nyawanya, aku bisa membuat sebuah masa depan yang indah bersamanya (walau tak nyata, walau hanya sekedar imajinasi belaka).
Tapi setidaknya dengan menulis aku bisa menghibur hatiku yang sepi, aku bisa membalut luka yang tertusuk cinta karenanya dan setidaknya juga aku bisa mati tenang.
Karena kisah sedih dalam hidupku ini dapat diketahui orang, dapat dibaca orang. Dan paling tidak aku sudah membuktikan pada dunia bahwa hubungan aku dan Nisa adalah hubungan yang paling abadi sepanjang masa.

***

Hari ke-2 aku tinggal di rumah kost

        Cibeber, Senin 02 Mei 2005
            Malam kedua aku tidur di tempat kost, tepatnya hari ini masih Tanggal 02 Mei 2005. Sekarang ini waktu menunjukkan Pukul 20:00 malam dan aku masih mengurung diri sendiri dikamar untuk berkonsentrasi pada pembuatan novel Kekasih Terakhir ini.
            Aku berjanji suatu hari nanti aku pasti akan kembali menemui Nisa setelah Novel ini selesai aku buat dan aku terbitkan keseluruh penjuru dunia, agar semua orang bisa tahu bahwa aku teramat sangat mencintaimu Nisa.
            Tapi jika seandainya dia tak harapkan kedatanganku lagi aku pun akan pergi sejauh mungkin darinya ketempat yang tak mungkin seorang pun bisa menjangkaunya.
            Malam ini menjadi berbeda, ketika aku matikan lampu kamar dan ku nyalakan lilin-lilin kecil mengelilingi ruanganku. Saat ini ku ingin menangis sepuasnya hingga cucuran darah keluar dari mataku dan mewarnai kulit wajahku. Apalagi yang harus ku lakukan agar semua orang bisa mengerti dengan apa yang ku rasakan atau setidaknya mereka tanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan?
Jika aku bisa, aku ingin merakit sebuah bom atau nuklir dan akan ku hancurkan bumi ini hingga berkeping-keping, dan semua itu ku lakukan untuk sekedar mencuri perhatian banyak orang agar mereka bisa mendengarkan sejenak tangisan darah dan jerit rentan hatiku. Atau jika aku mampu aku pun ingin sekali membelah bumi ini menjadi 2 bagian agar semua orang mencariku sebagai pelaku utama, agar semua orangpun menjadi berlomba-lomba memburuku sebagai buronan seharga 100 Milyaran, agar semua orang memampang foto wajahku di media cetak dan elektronik hingga semua orangpun mengenalku dan menanyakan dimana keberadaanku.
Tidak seperti saat ini, tak ada satu pun orang yang mengkhawatirkan keadaanku. Aku disini mengurung diri sejak dari sepulang sekolah tadi dan tak sekali pun aku keluar dari kamar ini hingga sekarang jam 8 malam. Aku menahan lapar seharian ini karena sudah tidak punya uang lagi tuk membeli makanan. Uang simpananku sudah hampir habis di Bank untuk membantu pengobatan ibuku yang 4 hari lalu masuk Rumah Sakit. Sementara motorku yang dulu biasa aku pakai ke sekolah kujual juga untuk biaya kami sehari-harinya.
Bahkan satu per satu barangku kujual murah (Hp, baju-celana, Tv-Vcd, kulkas dan computer) untuk kehidupan keluarga kami dan keperluan biaya sekolah kedua adikku nanti. Sementara ayahku tak pernah mau sedikitpun peduli lagi dengan keadaan kami saat ini. Dia selalu beralasan sibuk kerja di luar kota hingga jarang pulang ke rumah bahkan sudah tidak sempat mengirim uang ke rekeningku di Bank.
Mungkin rasa lapar dan sakit di perut aku saat ini tak lebih menyakitkan ketimbang aku harus menanggung semua beban hidupku sendirian, tanpa seorang pun teman. Bahkan orang yang ku cintai sejak 5 tahun yang lalu itu (Nisa) sudah kubuang jauh dalam pikiranku karena aku tidak sanggup lagi menunggunya mencintaiku.
Bagiku mencintainya saat ini adalah sebuah beban yang terlalu berat untuk aku tanggung. Karena semakin dia ku cintai, makin banyak orang lain yang ingin memiliki dan semakin dia kukejar, makin diapun berlari dari cintaku hingga membuatku selalu merasakan patah hati yang sangat dalam ini.
Sekarang ini beban hidup aku sudah terlalu banyak dan juga berat untuk ku hadapi sendirian, untuk itu sepertinya aku sudah tak punya waktu lagi menantinya, menanti Nisa agar sudi mencintaiku. Maka dari itu mulai malam ini aku harus siap untuk melupakannya atau ku akan mati dengan percuma dan sia-sia.
Seharian ini aku menghabiskan waktu untuk menulis Novel ini (Kekasih Terakhir) yang menjadi perjalanan hidupku bersama Nisa. Dan kuharap bila Novel ini sudah jadi nanti Nisa mau menerimanya sebagai kado terakhir dariku.
Tetapi apakah aku memang bodoh? Padahal aku ingin sekali melupakan Nisa tapi mengapa aku harus menulis tentang dia lagi, mengapa aku harus mengenang saat-saat indah bersamanya lagi? Jika itu hanya akan sakitiku, hanya akan membuatku menangis lagi.
Asal kalian tahu mengapa aku tak pernah bisa melupakannya meski dia selalu sakitiku?
“Karena dia (Nisa) terlalu manis untuk di lupakan dan dia juga terlalu cantik untuk aku tinggalkan. Karena dia terlalu sempurna untuk di benci dan dia juga terlalu indah untuk aku sakiti. Meski dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya. Menghilang tanpa kata dan mengabaikanku dalam luka hingga kemudian dia kembali dengan wajah tak berdosa dan menemuiku lagi tanpa sepatah kata maaf pun juga.
Tapi aku tak pernah dendam kepadanya karena cinta ini bagiku seperti sebatang lilin untuknya. Ku akan selalu menerangi hidupnya dengan cahaya sampai aku meredup dan mati karenanya.”

Setelah 7 jam (dari sepulang sekolah) aku mengurung diri di kamar, setelah 7 jam aku hanya menulis dan menahan lapar baru detik ini ada yang menanyakan keberadaanku. Dia mengetuk pintu kamarku dan memanggil namaku berulang kali. Baru kutangkap rambatan suaranya yang ternyata keluar dari mulut Rubi salah satu teman kostku di kamar sebelah. Aku yang saat ini masih memegang pena dan memandang buku harianku tersentak akan panggilannya menyerukanku. Sementara ruangan gelap, cahaya remang-remang hanya timbul dari lilin-lilin kecil di sekelilingku.
Aku tahu semua ini sudah gila maka dari itu ku bereskan semua lilin-lilin dan ku nyalakan lampu kamarku kemudian kucoba hampiri sumber suara itu. Kubuka pintu dan tersenyum pada orang yang ada di baliknya. Rubi pun menyambut baik senyumku dan menyapaku lalu ku persilahkan masuk kamar dan kami bercerita tentang hari ini.
            Rupanya dia membawakanku sebuah bungkusan kecil yang dilapisi kantong plastik hitam dan menyodorkannya kepadaku. Ku tak tahu apa maksudnya tapi yang jelas itu adalah sebuah makanan dan dia tiba-tiba memberikan itu padaku. Aku hanya bisa tersenyum tanpa bicara sedikit pun, aku ingin sekali menolak tawarannya tapi cacing-cacing di dalam perut ini sudah meronta-ronta ingin diberi makan. Terpaksa aku menerima pemberiannya lalu ku makan saja langsung di depannya.
Sementara aku sedang makan dia mulai bicara tentang apa saja yang sudah dia lalui sejak sore tadi hingga kini jam 9 malam.
            Sore tadi mereka (Rubi, Nui, Wulan dan Fikri) memang sempat mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Tetapi meski pun mereka mencoba berulang kali memaksaku tetap saja aku tak mau ikut (karena sebenarnya aku tak punya uang).
Ternyata baru ku tahu, selama seharian penuh ini mereka jalan-jalan ke kota Cianjur untuk bersenang-senang sampai pulang selarut ini. Tentu saja kalau ada Ibu kost di rumah, mereka pasti di marahi plus di ceramahi habis-habisan. Tapi untungnya siang tadi Ibu kost dan keluarganya pergi ke Sukabumi untuk menjenguk orang tuanya yang masuk Rumah Sakit, sepertinya ibu kost baru akan pulang antara 2 sampai 3 hari lagi. Jadi dalam waktu yang cukup lama itu mereka pergunakan untuk bersenang-senang karena kesempatan itu amat jarang mereka dapatkan bila Ibu kost sedang ada di rumah.
            Disisi lain Rubi yang dari tadi sedang ngomong di depanku, ku abaikan saja karena saat ini aku sedang berkonsentrasi penuh pada makanan yang sedang ku lahap. Nikmatnya makanan ini sampai-sampai aku pun tak bisa mendengar jelas apa yang Rubi bicarakan dari tadi. Tetapi yang aku tahu bahwa semua makanan ini di beli olehnya khusus untukku. Karena dia baru saja mendapat kiriman uang dari ayahnya sore tadi jadi malam ini Rubi mentraktir semua anak kost di sini dan ini adalah makanan bagianku.
Kalian mau tahu apa yang aku makan? Kalau boleh jujur, dalam seumur hidupku baru kali ini aku rasakan makanan yang namanya K….C itu (apalagi Rubi membelikanku nasi 2 porsi). Aduhh Pokoknya dia tuh baik banget deh, dia tau aja yah kalo aku belum makan dari tadi siang. Paling-paling juga seharian tadi aku hanya sarapan nasi goreng buatan wulan dan itu pun cuma sedikit doang. Apalagi yang membuatku menyedihkan ketika tadi disekolah aku hanya bisa gigit jari di kelas, sementara yang lainnya pergi istirahat untuk jajan dan makan di kantin sekolah.  Intinya sedih banget deh jadi aku saat ini udah gak punya apa-apa.
            Disaat aku selesai makan, malam ini ku bisa tenang karena rasa lapar di perutku sudah hilang. Selain 2 porsi nasi putih plus paha ayam dan minuman bersoda ku habiskan, ada juga apel dan jeruk sebagai pencuci mulutnya.
Baru saja aku gigit apel itu ketiga kalinya tiba-tiba ada yang datang dan masuk ke kamarku. Dia adalah Nui yang sedang mencari Rubi yang kebetulan ada di kamarku sejak dari tadi. Mereka memang seperti kucing dan anjing yang kalo sehari saja tak bertengkar rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hari-hari mereka. Tapi malam ini Nui tidak seperti biasanya, dia duduk manis di depanku saat ini dan matanya nampak sedang piknik mengitari ruangan kamarku.
            Setelah itu dia bertanya padaku tentang berapa hal dan yang pertama: Dia menanyakan tentang perempuan yang ada di dalam lukisan buatanku yang sengaja kupajang di dinding tuk penuhi sebagian kamarku. Tapi ku tak mampu menjawab pertanyaannya itu, karena bagiku terlalu berat untuk mengucapkan nama orang yang ada di lukisanku.
Dia adalah (Nisa) kujawab namanya dalam hati, karena dia sekarang hanya cukup bisa ku rasakan dengan perasaan hati bukan untuk diperbincangkan atau pun diperdebatkan oleh orang lain. Tapi saat Nui mulai penasaran dengan nama perempuan yang ada di lukisan-lukisanku itu maka kujawab dengan singkat: “Dia itu adalah seorang teman di masa laluku.” Nui mengerti dan tak mau mempermasalahkan lagi. Tetapi matanya malah berpindah haluan sambil memungut kertas-kertas puisi yang bertebaran di lantai. Dan dengan hasrat ingin tahu yang besar itu bertanya lagi: “Kamu suka nulis puisi juga yah?” Aku hanya menjawab dengan sautan tak akrab: “Ya….seperti itu.”
            Sebenarnya aku paling tidak suka kalau ada orang lain yang membaca karya-karyaku seperti yang Nui lakukan saat ini, karena aku selalu takut orang-orang akan menertawakan karya-karyaku, mengejeknya, apalagi tidak membacanya sampai tuntas malahan cuma di lihat sekilas lalu di lempar lagi begitu aja.
Rasanya ku ingin tampar saja siapa pun orang-orang yang menganggap karya-karyaku tidak berharga bahkan mereka menghina dan menertawakannya.
“Itu karena karya-karyaku adalah sebagian napas dari hidupku, sebagian nyawa dan cerita nostalgiaku bersama perempuan yang sangat ku cintai di dunia ini (Nisa). Jika mereka menganggap karyaku tak berharga itu sama saja mereka sudah berani menendangku, membuang ke tong sampah dan menempatkan diriku bersama kumpulan orang-orang bodoh yang tak berguna. Apalagi bila mereka berani menghina dan berkata bahwa karya-karyaku jelek semua dan isi cerita di dalamnya tak menarik untuk dibaca. Jika mereka berkata seperti itu maka sama saja mereka sudah menghina kisah percintaanku bersama Nisa, menertawai kisah hidupku yang menyedihkan dan di penuhi tangisan, terlebih lagi mereka sudah mengabaikan karyaku dan itu berarti mereka tak pedulikan penderitaan hidupku”.

Tetapi untungnya di saat Nui membaca puisi-puisi (tentang cerita cinta Aku dan Nisa) dia sangat begitu antusias untuk membacanya dan animonya yang besar itu kuanggap sudah menghargai perasaanku, ikut bersedih dengan penderitaanku dan bila memang dia sudah bisa menghargai itu berarti dia sudah menghargai hidupku, membuat berharga perjalanan cintaku bersama Nisa.
Seperti inilah yang sempat Nui katakan padaku: “Duhh…. sedih banget puisinya, buat aku yach?? Atau kalau nggak aku salin kata-katanya dehh.” maka aku pun tersenyum senang dan mengizinkannya untuk menyalin kata-katanya.
Dan inilah salah satu puisi yang telah dibaca olehnya:

Judulnya      :    Bayangan Putih yang Indah
Tanggal buat :   (sehari setelah aku pergi dari kehidupan
Nisa yaitu 27 April 2005)

Bayangan putih yang indah itu, terbentuk diantara gelapnya malam yang mengatapi relung jiwaku...
Bayangan putih yang begitu menyita perhatiaan…
Bayangan putih yang menarik paksa diriku untuk tidak berpaling sedikit pun pada keindahan-keindahan yang… dia miliki… Bayangan putih yang indah itu membuat jiwaku mengalunkan lagu-lagu yang menusuk ke dalam rangka-rangka tubuhku…
Bayangan putih yang indah…
juga membawa beban yang begitu berat untuk aku tanggung… karena… semakin ingin ku miliki, makin banyak juga orang lain yang ingin memilikinya selain aku karena… semakin ingin aku raih, makin dia bergerak pergi dan lebih-lebih mengagumkan lagi, sehingga membuat jarak yang terlampau jauh dengan… aura-aura tubuhku… karena… semakin ingin kupeluk, makin dia menunjukkan keindahannya, sehingga membuatku hanya bisa diam menyerupai batu kerikil hitam… karena… semakin ingin ku kecup, makin dia membisukan bibirku oleh musik jiwanya yang terlalu… lembut…
Bayangan indah itu terlalu aku cintai,
tetapi juga terlalu sulit untuk bisa di cintai…
Bayangan indah itu terlalu aku impikan,
tetapi juga terlalu sulit untuk bisa di wujudkan…
Dia datang dan pergi melewati setiap impian-impian manusiaku, sehingga membuat aku selalu terkurung sendiri di tengah imajinasi-imajinasi yang tidak mau memudar…
Tetapi aku pun sadar…
Aku memanglah terlalu buruk… untuk bisa berada di sebelah Bayangan Putih yang indah itu…

            Puisi itulah yang Nui baca saat dia berada di kamar kostku. Dan dia sangat menyukai puisi itu karena kata-kata yang ada di dalam puisi itu sangat jujur sekali, kata Nui. Bahkan berulang kali dia membaca puisi itu dengan sangat di resapi tiap kata demi kata yang ada. Hingga wajahnya sempat bicara kesedihan tapi kadang tersenyum juga karena ternyata cerita dalam puisi itu sama persis dengan kejadian percintaannya di masa lalu, bersama lelaki yang pernah di kaguminya tapi tak pernah bisa dimilikinya.
            Sebenarnya puisi itu sengaja aku buat khusus untuk Nisa dan tadinya aku ingin sekali memberikan puisi itu padanya, tapi aku takut dia tak mau terima apalagi coba membacanya. Karena aku tahu, Nisa takkan  pernah mau tahu tentang perasaanku dan itu sebabnya aku hanya bisa menyimpan ratusan puisi yang aku buat ini untuknya dan hanya untuknya seorang aku membuatnya, dan aku pun ingin hanya dia seorang pula yang membacanya.
            Tak lama kemudian ketika Nui selesai menyalin kata-kata dari puisinya dia langsung pergi ke kamarnya dan ternyata ketika dia kembali ke kamarku lagi dia sudah membawa sebuah gitar miliknya. Dengan raut muka yang berbinar-binar, dia meminta izin padaku ingin memasukkan beberapa unsur-unsur musik tuk mengiringi puisi ciptaanku itu. Bukan hanya itu saja, Nui juga mengajak Wulan tuk masuk ke kamarku dan ikut membantu Nui bacakan puisi sambil dia ingin mengiringinya dengan petikkan suara gitar.
Wulan yang saat itu sedang nonton di ruang tengah (tak jauh dari depan kamarku) tersipu malu-malu menanggapi permintaannya. Memang Wulan itu paling pemalu dan agak pendiam tapi ketika Nui mulai memaksanya akhirnya Wulan luluh juga.
Setelah itu wulan berjalan memasuki kamarku dengan gayanya yang anggun dia duduk manis dan ikut berkumpul dengan kami. Sementara Nui dan Wulan sedang sibuk mencari nada-nada untuk menyelaraskan puisi itu aku dan Rubi malah asyik ngobrol tentang gosip terbaru di sekolah (bahwa teman sekelas aku pacaran dengan wali kelasku yang sudah beristri dan beranak 4).
            Tiba-tiba ada suara yang begitu merdu telah berhasil menarik perhatianku. Apalagi suara itu makin terdengar indah ketika sebuah petikkan nada gitar mampu menyelaraskannya. Rupanya pemilik suara itu adalah Wulan dan dia tengah membacakan puisiku dengan penuh penjiwaan. Saat kata demi kata terucap lewat mulutnya aku menjadi diam terkesima, terpaku bisu seakan tak mampu berkata-kata. Lalu ketika ada satu bait yang dia nyanyikan (yang awalnya berbunyi, bayangan indah itu terlalu aku cintai….) kudengar nyanyiannya seperti napas yang memberi kehidupan hingga dapat membuat hidup setiap kata demi kata, bait demi bait dan akhirnya puisi itu kini bagai gambar hitam putih yang diberi warna pelangi.
Jika kalian bisa mendengarnya saat ini maka emosi kalian dapat di permainkannya, kadang aku ingin menangis mendengar Wulan bernyanyai dan kadang juga ingin ikut marah ketika ada sebuah bait yang Wulan bacakan lebih lantang penuh getaran.
            Saat dia bersenandung dan bernyanyi lagu yang sendu, hatiku sempat bergetar dan bibir menjadi pilu. Teruskan saja bernyanyi tidak perlu kau  malu karena suaramu teramat merdu, seperti itu lah yang kudengar di telingaku dan kuharap kau tak menghentikan nyanyianmu. Aku sangat suka mendengar suaramu tapi terlebih lagi ku tergoda untuk selalu memandangi bibir mungilmu. Jika memang aku hanya sebatas mengagumimu, mohon jangan tarik aku lebih dalam untuk mencintaimu. Karena aku tahu, hanya Nisa seoranglah pemilik hatiku,ucapku dalam hati saat mendengar Wulan sedang menyanyikan puisi ciptaanku.
            Tidak lama kemudian Rubi bertepuk tangan yang terdengar keras sekali di dekat telingaku. Rupanya itu sebuah tanda bahwa Nui dan Wulan sudah selesai beraksi untuk memikat perhatianku. Aku tak bisa berkata-kata ketika Nui meminta pandapatku tentang Arransmentnya  yang sudah mengubah puisi itu. Tapi yang kutahu, puisiku itu ternyata lebih bagus kedengarannya dari perkiraanku ketika membuatnya apabila memang merekalah yang membawakannya.
Dan satu hal yang baru kutahu ternyata mereka memang sudah biasa bermain gitar dan bernyanyi di rumah kost ini dan itu sudah terjadi sebelum aku datang kesini.  Inilah satu hal yang paling menyenangkan bila kita tinggal di rumah kost, apalagi teman sebaya sekost kita banyak disini. Mungkin akan jadi sebuah kebiasaan, bila setiap malam di waktu senggan kita habiskan untuk berkumpul bersama teman sekost yang lain. Bersenda gurau, mencumbu angin malam dan segelas kopi hangat serta roti menjadi simbolik anak kost mandiri yang sedang mencari mimpi. Seperti itu pun yang ku lakukan saat ini, kami bercerita satu sama lain tentang mimpi yang kami punya.
            Di tempat kost ini, Nui adalah anak yang paling dewasa dan menjadi panutan kami semua. Dia mengajarkan kami tentang banyak hal termasuk memahami hidup yang singkat ini. Saat ini dia sedang ada di depan mataku, begitu terampil bermain gitar sambil ngobrol denganku.
“kamu suka main band nggak?” sebuah pertanyaan Nui yang dia lemparkan padaku. Aku pun menjawabnya: “Ya… kadang-kadang juga sih, tapi Cuma buat nyari kesenangan doang kok. Dibilang suka musik nggak terlalu juga, di bilang nggak suka musik tapi kadang aku seneng juga maen musik. Bahkan aku suka iseng-iseng bikin lagu waktu dulu saat aku masih punya band”.
“Oh ya… jadi kamu selain suka bikin puisi, kamu suka bikin lagu juga, hebat banget kamu, Ga! Eueu… kalo gitu maenin satu lagu aja buat kita dong Ga” (sambil menyodorkan gitarnya) ucap Nui padaku. Sambil tersipu malu, aku menerima permintaannya untuk memainkan satu lagu ciptaanku. Sementara aku bernyanyi dengan diiringi petikan suara gitar yang sendu sedangkan yang lainnya (Wulan, Nui, Rubi) mendengarkanku dengan tatapan yang tajam. Awalnya aku malu untuk bernyanyi tapi mereka terus memaksaku karena mereka penasaran ingin mendengarkan lagu ciptaanku. Sungguh aku tak menyangka bahwa aku akan kambali bermain gitar setelah hampir 2 tahun aku tak pernah memegangnya.
            Terakhir kali aku bernyanyi saat di pesta perpisahan SMPku 2 tahun yang lalu. Ketika itu aku bernyanyi lagu ciptaanku dengan bandku untuk Nisa. Berharap Nisa bisa mendengarkan setiap kata demi kata yang ku ucapkan sebagai perasaanku terhadapnya. Tapi yang kutahu, Nisa saat itu sudah pulang sebelum aku bernyanyi untuknya. Dan aku semakin sadar bahwa Nisa takkan pernah peduli dengan apapun yang ku lakukan hingga akhirnya perpisahan sekolah itu berlalu begitu saja, tanpa akhir yang menyenangkan antara aku dan Nisa. Dan inilah lagu ciptaanku yang dulu aku nyanyikan di pesta perpisahan ketika ku telah menyelesaikan SMPku. Dan sekarang lagu itu kembali ku nyanyikan di hadapan Nui, Wulan dan Rubi teman sekostku yang saat ini ada di kamarku, di depan mataku.
SUNYI

Sendiri di heningnya malam ini
Ratapi sunyi, teringat kau yang telah pergi
Sinar rembulan pun tak mampu terangi
Hatiku yang redup tanpa kau sinari
            Bagai angin yang tak tentu arah
            Tak tahu kemana harus ku cari?
Kau yang telah pergi
Tinggalkan sejuta kenangan di hati
Yang tak pernah mati
Tersimpan selalu sampai akhir napasku
            Terbayang saat kita dulu
Menjalani kisah hidup penuh warna
Tak pernah terpikirkan sebelumnya
Kita kan berpisah untuk selamanya

            Ketika ku bernyanyi, sungguh debaran kencang menusuk jantungku setiap kali ku ingat dirinya (Nisa) lagi. Sedang apa dia kini, apakah dia merindukan keberadaanku malam ini? Entahlah … tapi yang ku tahu dia takkan pernah mengerti perasaanku terhadapnya.
            Saat nyanyianku ini berakhir dengan di tandai sebuah petikan terakhir dari gitar yang ku mainkan. Maka yang lainnya tersenyum, bertepuk tangan sambil mengeluarkan banyak kalimat-kalimat pujian padaku. Aku semakin terharu karena mereka begitu sangat menghargai karya-karyaku. Rupanya kemarin aku salah menilai mereka, aku pikir mereka sama saja dengan teman-temanku yang lainnya yang tak pernah menghargai keberadaanku. Tapi ternyata mereka beda, mereka bisa mengerti setiap kata yang ada di dalam karya-karyaku dan tentunya mereka juga bisa memahami isi dari perasaanku ketika menciptakannya.
            Dan saat ku selesai bernyanyi, tak lama Nui mengajakku untuk ikut bergabung di Band amatirnya. Kalian tahu siapa saja personil bandnya? Tentu saja mereka-mereka yang ada di sini, di tempat kost ini. Aku sendiri baru tahu bahwa ternyata mereka membuat sebuah Band di tempat kost ini. Ya walau pun sebenarnya mereka baru mendirikan Band itu 3 minggu yang lalu dan Nui seorang lah yang menjadi penggagasnya.
Awalnya mereka membuat Band ini untuk sebuah kado perpisahan Nui yang akan meninggalkan tempat kost ini. Karena 2 bulan lagi Nui menyelesaikan SMA nya dan melanjutkan kuliah di Bandung, di sana Nui akan tinggal bersama pamannya.
            Karena alasannya seperti itu maka aku pun setuju untuk ikut bergabung di Band mereka. Dan disini aku mendapat peran sebagai gitaris sekaligus Backing vocal seperti apa yang di minta Nui kepadaku. Selain itu Nui juga menjelaskan peranan yang lainnya di Band ini.
Salah satunya Wulan yang memegang alat musik piano sekaligus vocal, Nui pada melodi gitar, ada Rubi juga pada Drum dan terakhir Fikri si jenius memegang Bass. Karena Band ini baru di dirikan Nui 3 minggu yang lalu jadi sampai saat ini mereka belum sempat memberi nama.
            Tak terasa kami sudah hampir 2 jam ngobrol dari tadi sejak pukul 9 malam. Dan kini malamku tak terasa gelap lagi saat mereka temaniku dengan candanya saat ini. Tak sedikit pun kantuk yang mampu mengalahkan kami dan di waktu jam 11 malam ini kami makin menggila melewati malam. Untungnya Ibu kost tak ada di rumah, kalau saja dia ada mungkin dia sudah memaksa kami untuk cepat tidur maximal jam 9 malam. Tapi meskipun Ibu kost kami agak sedikit cerewet, kami tetap merasa akan kehilangan dia untuk dua hari kedepan ini. Karena kami tahu, di balik ketegasannya itu tersirat sosok keibuan yang mampu menggantikan peranan Ibu kandung kami masing-masing di rumah.
            Saat ini kami masih disini (di kamarku) bercanda-canda dan bercerita tentang semua kejadian yang pernah terjadi di tempat kost ini sebelum aku terdampar ke sini.
            Rubi sebagai orang pertama yang menjadi anak kost disini mulai menceritakan sebuah sejarah rumah kost ini.
            Rupanya waktu dulu Ibu kost kami tak pernah berniat menjadikan rumahnya ini untuk di jadikan tempat kost anak sekolah.
            Dimulai ketika 3 tahun yang lalu, saat itu Ibu kost mengujungi orangtuanya yang tinggal di Sukabumi tuk sekedar sillaturahmi di hari Raya Idul Fitri. Tak diduga dari sekedar bicara antar tetangga, akhirnya yang bernama panggilan Abah berumur 50 tahunan (yang sekarang menjadi salah satu penghuni rumah kost ini) bertemu dengan Ibu kost kemudian mereka merencanakan ingin mendirikan bengkel service motor di seberang jalan rumah Ibu kost. Abah yang waktu itu memang menjadi pengangguran tentu saja menyetujui keinginan Ibu kost untuk membuat bengkel motor. Di samping itu kelihaian Abah dalam memperbaiki motor sudah tidak diragukan lagi, banyak tetangganya yang tak jarang meminta bantuannya untuk memperbaiki motor mereka yang rusak.
Beberapa bulan kemudian rencana Ibu kost dan Abah itu rupanya menjadi kenyataan saat mereka mulai patungan membangun sebuah bengkel beserta isi-isinya. Sejak bengkel itu selesai di bangun akhirnya Abah memutuskan untuk menetap di kota ini dan dia  mengontrak di rumah Ibu kostku sampai kini.
            4 bulan kemudian setelah bengkel itu selesai di bangun, Rubi yang waktu itu baru saja menyelesaikan SMPnya berniat ingin melanjutkan sekolah SMAnya di kota. Rubi adalah salah seorang warga kota terpencil yang ingin meneruskan pendidikan ke kota karena baginya tinggal di kampung itu takkan pernah bisa  membuat hidupnya lebih maju. Tapi sayangnya dengan NEM SMPnya yang pas-pasan itu dia tidak diterima di SMA Negeri di pusat kota Cianjur, akhirnya dia memutar haluan ke daerah Cibeber (13 KM dari Cianjur) dan mendaftar ke sebuah SMA yang bernama SMA Negeri I Cibeber. Hingga akhirnya dia di terima juga menjadi seorang siswa disana, termasuk aku yang satu angkatan dengannya.
Setelah Rubi mendapat pernyataan bahwa dia sudah sah diterima di SMA itu, dia pun langsung mencari tempat kost yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Mungkin sudah takdir Tuhan bahwa Rubi harus melangkahkan kakinya ke rumah seseorang yang kini menjadi Ibu kostku juga. Awalnya Ibu kost itu tidak bisa menerima seorang pelajar untuk tinggal di rumahnya, apalagi sebelumnya dia tak pernah berniat sedikitpun untuk menjadikan rumah besarnya itu sebagai tempat koat anak sekolah. Tapi entah dimana mulanya, tahu-tahu Rubi diterima juga untuk tinggal di tempat kost ini?
Kata Rubi sih, dulu sebelum dia datang kesini–rumah ini sangat sepi dan dingin sekali. Ditambah lagi rumah ini sangat luas dengan kamar yang lumayan banyak tapi penghuni sedikit. Maka tak aneh bila kesepian itu menambah arti keangkeran di sekeliling ruangan dengan banyak kamar yang kosong ketimbang yang berisi. Pertama saat Rubi menghuni tempat kost ini, dia juga merasakan sebuah ketakutan ditambah lagi ada gossip yang menyatakan bahwa di rumah ini ada orang yang pernah mati mendadak akibat sakit.
            Tapi setelah hari-hari berlalu dan waktu pun semakin cepat berputar, terasa menjadi biasa bagi mereka untuk bergerak bebas di tempat kost ini. Tatkala rumah-rumah baru tumbuh di sekeliling rumah kost ini, membuat suasana menjadi ramai dari biasanya maka perlahan stigma keangkeran rumah kost ini pun menjadi hilang.
            6 bulan kemudian setelah Rubi menempati Rumah kost ini, itu tandanya dia sudah melewati semester pertama sekolahnya sebagi anak SMA. Bukan hal yang aneh lagi, bila ada orang yang mencari tempat kost di awal masuk sekolah atau diakhir semester. Maka itulah yang terjadi pada orang yang bernama Nurul (atau sekarang dipanggil Nui). Nurul masih terbilang sebagai kakak kelas Rubi di sekolah karena saat itu Nurul duduk dibangku kelas 2. Nurul adalah orang kedua yang kost disini setelah Rubi, aku belum tahu apa alasan Nurul memutuskan untuk kost? Mungkin suatu hari dia mau membicarakannya padaku.
            Mulai saat itu anak kost bertambah lagi untuk memenuhi rumah ini, tepatnya setelah 2 bulan Nui (Nurul) tinggal disini. Ada 2 lelaki yang masih seorang pelajar juga pernah datang menjadi bagian di rumah ceria ini, namanya Rangga Madewa dan Gilang Ramadhan. Tapi sayangnya kedua orang ini tak lama tinggal disini jadi tentang jati diri mereka tidak ada yang tahu dengan jelas termasuk Nui dan Rubi sekalipun.
Yang mereka tahu kedua orang ini adalah seorang siswa sekolah Teknik Menengah, dan hanya itu saja. Tapi terakhir kali ada selentingan kabar yang mengatakan bahwa kedua orang ini masuk penjara akibat tawuran yang menewaskan seseorang, selain itu ternyata kedua orang misterius ini juga seorang pengedar kelas kakap di kalangan pelajar.  Bila memang kabar itu benar, bila kedua orang itu sekarang di penjara, maka kemungkinan orang itu butuh waktu sekitar 14 tahunan untuk bisa keluar dari penjara karena kasus pembunuhan dan narkoba.
            1 tahun kemudian dari mulai Nui sudah menempati rumah kost ini, datanglah penghuni baru yaitu Wulan. Bagaimana sejarah Wulan hingga dia bisa terdampar ke tempat ini? Sementara Wulan bertempat tinggal asli di Surabaya dan dia pindah ke kota ini saat dia masih kelas satu SMA pada awal semester dua dan sekarang dia menjadi adik kelasku di sekolah. Seperti inilah ceritanya mengapa Wulan pindah dari Surabaya ke kota ini:
            Sebenarnya Ibu kostku itu masih ada hubungan darah dengan Wulan, tepatnya Wulan wajib memanggil bibi (tante) padanya karena Ibu  kandung Wulan adalah kakak perempuan pertama Ibu kostku.
            Di mulai ketika 5 bulan yang lalu, saat Wulan baru saja menerima Raportnya di akhir semester satu ada bencana besar yang melanda Ibu kandungnya. Kalian tahu apa yang terjadi menimpa ibunya? Waktu itu Ibu Wulan meninggal dunia di usianya yang ke 43 tahun. Penyebab kematiannya akibat penyakit Hepatitis akut yang sudah fatal dan mengakibatkan empedunya pecah hingga membuatnya meninggal seketika.
Penyebab utama penyakit Hepatitis adalah terlalu banyak bekerja berat, kurangnya tidur malam dan pola makan yang tidak teratur. Mungkin penyebab kematian ibunya ini sudah tak aneh lagi untuk Wulan. Karena Wulan tahu, sejak di tinggal mati oleh ayahnya 12 tahun yang lalu–Ibunya sendirilah yang banting tulang untuk menghidupi biaya sehari-hari Wulan sebagai anak tunggal semata wayangnya.
Wulan mulai sangat terpukul sejak kematian ibunya itu, dia selalu saja menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian ibunya. Karena dia merasa tak bisa merawat kesehatan ibunya yang mulai memburuk saat di awal-awal dia mulai masuk SMA. Karena demi ingin menyekolahkan anak satu-satunya itu, ibunya rela bekerja siang dan malam mencari uang.
Andai saja Wulan terlahir dari keluarga kaya raya, mungkin dia akan melarang ibunya untuk tidak bekerja keras sepanjang hari. Tapi sayangnya Wulan terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, dan hanya rumah kecil peninggalan ayahnya itulah yang dia punya.
Sementara bila siang hari ibunya bekerja sebagai buruh pabrik kue, dan malam harinya dia bekerja di café malam sebagai penyanyi atau biduan panggung. Wulan sering memperingati ibunya untuk menjaga kesehatan dan berhenti dari pekerjaan malamnya. Selain itu Wulan juga selalu mengingatkan ibunya untuk menikah lagi, tapi ternyata saking cintanya Ibu Wulan terhadap ayahnya dia tak pernah mau menikah lagi sampai kapanpun juga.
            Tapi semua itu sudah terlambat, penyesalan Wulan makin tersayat ketika menyaksikan ibunya harus mati tak berdaya. Bagi Wulan dunia ini sungguh tak adil, dia  masih tegar ketika ditinggal mati ayahnya saat dia masih berumur 3 tahun. Tapi dia sungguh rapuh saat melihat ibunya harus mati juga di depan matanya.
Kini Wulan tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bahkan Wulan sempat mencoba bunuh diri waktu itu (itulah salah satu curhatan Wulan pada kami saat berbincang-bincang tentang keluarganya di kamarku).
            Cerita Wulan belum selesai sampai disini saja karena sesungguhnya Tuhan Maha Adil terhadap sesama umatnya.
            Ibu kostku yang juga bibi Wulan, langsung berangkat ke Surabaya saat mendengar kabar kematian kakaknya itu lewat telepon. Dia sangat prihatin akan nasib keluarga Wulan maka dari itu Ibu kostku merayu Wulan untuk ikut bersamanya. Dia juga berjanji akan menyekolahkan Wulan sampai menjadi orang sukses yang bisa mengangkat harkat dan derajat kedua orangtuanya yang kini sudah ada di alam berbeda.
Wulan saat itu sudah tak memiliki gairah hidup, dia seperti sebuah kapas yang mudah diterpa angin dan terbang terombang-ambing. Ketika itu Wulan tak punya alasan lagi untuk hidup, yang ada dihatinya hanya sebuah tujuan untuk mati. Dia layaknya air yang tak mampu melawan arus hingga air terjun di depannya membuat dia terhempas jatuh dengan mudahnya.
            Saat itu Wulan sulit sekali untuk di bujuk, dia seperti tak mau jauh dengan jenazah kedua orang tuanya yang sudah ada di dalam tanah. Ternyata dia lebih betah tinggal di kuburan ayah ibunya ketimbang tidur di rumah. Tapi bagaimanapun juga Wulan bukan orang yang sebatangkara karena di sekelilingnya masih banyak yang ingin mempedulikannya, termasuk yang paling antusias adalah ibu kostku.
Ibu kostku waktu itu tak henti-hentinya merayu Wulan untuk tinggal di rumahnya. Dan Wulan mulai pasrah dengan hidupnya, dia bagai dedaunan yang selalu pasrah di terpa angin kemana pun angin itu berhembus menerpanya, dia akan mengikutinya.
            Akhirnya Wulan setuju untuk tinggal di rumah bibinya yang juga menjadi Ibu kostku saat ini. Tentu saja Ibu kost sangat senang sekali mendengar keputusan Wulan untuk bersedia tinggal di rumahnya, di kota Cibeber-Cianjur.
            Dengan akhir cerita, Ibu kostku langsung mengurusi surat kepindahan sekolah Wulan di Surabaya dan memindahkan sekolahnya ke SMAku (SMAN I Cibeber). Untung saja saat itu Wulan baru-baru saja menerima Raport semester pertamanya jadi dia dengan mudah bisa pindah sekolah dan melanjutkan semester keduanya di sekolah yang lain.
            Hingga kini dia berhasil melewati hari-harinya yang dulu suram di rumah kost ini. Tak terasa sudah hampir 6 bulan kematian ibunya berlalu dan dia makin ceria kembali dengan hidup barunya disini bersama kami yang akan selalu melindungi senyumnya setiap waktu.
            Dan kini Wulan 2 bulan lagi akan menyelesaikan semester keduanya, itu berarti dia akan naik kelas menjadi seorang siswi kelas 2 SMA.
Itulah yang Wulan ceritakan pada kami saat kami sedang berbincang-bincang di kamarku, dari mulai jam 9 malam hingga kini tak terasa sudah jam 2 pagi.

Sekarang kalian (pembaca) coba ingat-ingat lagi, siapa yang belum menceritakan tentang sejarah─mengapa kami bisa kost di tempat ini, dan apa alasan kami bisa memutuskan untuk hidup kost di masa SMA? Sekarang kalian sudah mengetahui mengapa Rubi, Nui dan Wulan bisa sampai terdampar di rumah kost ini. Itu berarti sisanya─aku dan Fikri yang belum menceritakan alasan mengapa kami disini.
Tapi saat ini waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan aku protes pada mereka untuk mengakhiri curhat-curhatannya sampai disini saja karena aku sudah ngantuk. Tapi mereka malah balik memprotesku karena hanya aku disini yang belum curhat pada mereka tentang alasan mengapa aku sampai ingin hidup kost. Mereka menganggapku curang karena tak mau cerita tapi untungnya aku punya alasan jitu, aku bilang saja kalau aku mau cerita asal Fikri dulu yang cerita. Waktu itu aku pikir Fikri sudah tidur di kamarnya jadi aku punya alasan untuk mengakhiri kegiatan ini, sesuatu yang bodoh ini.
Tapi mereka banyak akalnya hingga permintaanku itu dengan mudah mereka kabulkan. Waktu itu Nui jadi orang pertama yang punya gagasan ingin mengajak kami begadang sampai pagi. Akhirnya Nui menyuruh Rubi supaya pergi ke kamar Fikri dan membangunkannya juga untuk ikut begadang. Dan tak kusangka Fikri dengan mudah menurut permintaan Nui untuk ikut begadang sampai pagi bersama kami.
Acara curhat-curhatan kembali berlanjut dengan di hadiri anggota baru yaitu Fikri. Kali ini kegiatannya menjadi seru saat Wulan memberi pendapat untuk mematikan lampu kamarku, dan hanya sebatang lilin yang ada di tengah-tengah kami yang memberi cahaya samar-samar. Wulan yang seorang anggota teater mungkin baginya acara ini sudah biasa karena dia sering melakukannya di ekskul teater sekolah yang diikutinya. Tapi bagiku ini adalah hal yang aneh, asing dan baru bahkan aku malu saat mereka memintaku untuk curhat dengan jujur tentang keluargaku, percintaanku hingga ciuman pertamaku.
Saat ini lilin kecil itu sudah menyala di tengah-tengah kami yang mengelilinginya, itu sebagai tanda bahwa acara curhat-curhatan ini sudah di mulai. Fikri terpilih menjadi orang pertama yang bicara lebih dulu, tentang alasan mengapa dia memutuskan untuk hidup kost dan bahkan dia harus menceritakan semua hal yang menyangkut kehidupan pribadi.
Sementara malam ini adalah malam keduaku tidur di tempat kost, dan ini akan membuatku menjadi orang goblok bila harus jujur pada mereka yang sepenuhnya belum aku kenal sedikitpun. Tapi mungkin ada benarnya juga alasan mereka mengapa membuat acara seintim ini? Dikarenakan mereka ingin mengetahui tentangku lebih jauh agar kami bisa kompak untuk menjalani hari-hari ke depan di rumah kost ini, di rumah ceria ini.
Coba kalian perhatikan siapa yang sedang bicara sekarang, dia adalah Fikri yang baru saja bangun tidur langsung dipaksa untuk menceritakan tentang jati dirinya. Hal pertama yang dia ucapkan adalah sebuah alasan mengapa dia bisa tersesat di rumah kost ini, dan inilah yang dia ceritakan pada kami.
Ucap Fikri: “Aku baru 2 bulan kost di tempat ini dan yang selama ini aku rasakan─aku merasa nyaman tinggal bersama kalian. Alasan aku ingin hidup kost sebenarnya pada awalnya dulu aku pikir menjadi anak kost itu menyenangkan, bisa hidup bebas tanpa banyak di perintah oleh orang tua, udah gitu aku bisa ngelakuin apa saja yang ku mau sesuka hatiku disini.
Pada mulanya orangtuaku sangat mengecam keras atas permintaanku yang ingin hidup kost waktu itu. Karena aku adalah anak tunggal dan anak satu-satunya yang sangat mereka andalkan. Dari kecil aku selalu terbebani karena Ayahku menginginkan aku menjadi seorang Fisikawan yang terkenal. Setiap hari, siang dan malam aku selalu di paksa untuk belajar dengan giat agar aku bisa menang di perlombaan ‘Ajang Olimpiade Fisika sedunia’. Dan itu sangat menyiksaku karena aku tak pernah boleh main bersama kawan-kawanku, main bola di lapang, main layang-layang di taman atau main petak umpet bersama teman-teman.
Masa kecilku ku habiskan tuk belajar dan belajar terus menerus hingga tak punya waktu sedikitpun bermain dengan teman-teman sebayaku. Dari sejak kecil  itu aku seperti robot yang harus menuruti semua perintah kedua orangtuaku, hingga mereka tak pernah sempat menanyakan ‘apa yang sebenarnya aku inginkan?’
Sepanjang aku menjadi seorang siswa, aku selalu menjadi rangking pertama dan nilai-nilaiku selalu paling tinggi di antara yang lainnya. Tapi di suatu ketika, saat ujian akhir nasional SMPku tiba─aku mengisi semua UANku itu dengan asal-asalan hingga NEMku kecil. Aku sengaja melakukannya karena waktu itu aku sangat tertekan, orangtuaku memaksaku supaya aku mendapatkan NEM paling tinggi agar aku bisa masuk di SMA terfavorite di luar kota.
Waktu itu aku sudah lelah terus menerus mengikuti kemauan mereka, aku seperti anjing dan leherku dibelenggu kalung rantai oleh orangtuaku sendiri. Maka dari itu aku mulai memberontak dan mengisi UANku dengan asal-asalan hingga NEM SMPku paling kecil bahkan sebenarnya aku tidak lulus dalam ujian akhir itu.
Tapi aku tak menyesal telah melakukan perbuatan bodoh itu karena waktu itu aku malah merasa nyaman dan hatiku sangat tenang, beban berat yang selama ini aku pendam akhirnya bisa ku keluarkan. Secara ilmiah aku memang tidak lulus dalam ujian akhir itu tapi secara harfiah akhirnya orangtuaku bisa sadar dengan apa yang sudah mereka lakukan terhadapku?
Awalnya di saat hasil UAN SMPku itu keluar dan aku dinyatakan sebagai siswa yang  tidak lulus, tentu saja Ayahku sangat murka hingga dia berulang kali memukulku dengan bambu rotan di sekujur tubuhku. Tapi aku tidak menangis dan tidak merasa sakit sedikitpun walau cambuknya itu membuatku bermandikan darah. Malah aku memberinya sebuah pisau dapur dan memintanya untuk menusukkan pisau itu tepat ke jantungku. Hingga aku bisa mengakhiri hidupku yang penuh beban karena selama kuhidup─ku harus menuruti semua keinginan mereka sementara mereka tak mau tahu dengan apa yang sebenarnya aku mau?”
Seperti inilah yang Fikri katakan pada orangtuanya saat mereka memukul Fikri tanpa ampun, karena dia tidak lulus Ujian Akhir SMP: “Kenapa Ayah hanya memukul aku dengan bambu rotan saja? Itu tidak akan cukup menyakitiku, seharusnya ayah bawa pisau dan tikam jantungku, rajang aku beramai-ramai dan bunuhlah aku atau bakar saja aku hidup-hidup. Bambu rotan yang ayah cambukkan padaku itu tak membuatku merasa sakit sedikitpun. Karena ada yang lebih sakit ketimbang aku harus dicambuk, ditikam atau dibakar hidup-hidup.
Kalian mau tahu apa yang lebih menyakitkan dari semua? yang lebih menyakitkan adalah… dari kecil aku harus melakukan semua perintah Ayah dan Ibu sementara kalian tidak pernah bertanya padaku, ‘apakah aku merasa senang dengan apa yang sudah aku lakukan untuk menuruti semua perintah kalian?’ mengapa kalian tak pernah mau tau sedikit pun dengan perasaanku? Mengapa kalian tak pernah mengerti dengan apa yang sebenarnya aku inginkan selama ini? Aku butuh kebebasan berekspresi yah… aku butuh kebebasan untuk mengeluarkan pendapat bu, aku sudah capek menuruti semua keinginan kalian”.
    Apa kalian tahu, apa ekspresi ayahku dan ibuku saat mendengar aku bicara? Mereka hanya bisa menangis menyaksikan anak satu-satunya itu bisa bicara tak seperti biasa. Sementara yang mereka tahu bahwa semenjak kecil aku adalah anak yang penurut, yang selalu mengikuti semua kemauan kedua orangtuaku, tanpa berani membantah atau  melawan sedikit pun perintah ayah dan ibu. Tapi hari itu aku menjadi berbeda, saat aku memberontak dan bicara dengan lantang kepada orangtuaku, layaknya Gunung berapi yang meletus dan larvanya mampu membakar orang-orang di sekitarnya.
Aku saat itu sedang menggenggam pisau dapur dan aku meminta ayahku untuk menusukkan pisau itu tepat di jantungku. Tapi Ayah hanya bisa diam menyesali semua yang sudah dia lakukan terhadapku sedangkan Ibu langsung memelukku erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.
Awal saat kejadian itu, kehidupanku menjadi berubah dengan cara berpikirku sendiri. Aku bisa lebih dihargai oleh Ayah dan Ibuku, segala keinginanku itu sudah sepenuhnya menjadi tanggungjawabku sendiri tanpa ada sedikitpun kekangan dari kedua orangtuaku lagi.
Kalian tahu sendiri khan kalau aku itu tidak lulus dalam Ujian Akhir Nasional SMP? Itu berarti aku harus mengikuti ujian susulan agar bisa melanjutkan dan diterima di SMA. Ada pepatah bijak berkata, siapa yang berbuat─dia yang harus bertanggungjawab? Maka dari itu aku harus perbaiki apa yang sudah ku lakukan, mengisi soal UAN dengan asal-asalan adalah hal yang sangat bodoh. Tentu saja tak ada seorang pun yang percaya bahwa aku tidak lulus ujian, bagi semua teman-temanku kabar itu sebagai sebuah lelucon yang paling lucu yang pernah mereka dengar. Tapi bagaimana pun juga hasil akhir berkata seperti itu dan aku wajib untuk mengikuti ujian akhir nasional kedua agar aku bisa diterima di SMA.
Tentu saja UAN yang kedua itu aku ikuti tanpa ada sedikitpun  hambatan. Alhasil nilai susulanku memecahkan rekor sebagai nilai paling tinggi di antara siswa seangkatan yang lain. Tapi meski pun begitu, dengan nilaiku yang tinggi itu belum tentu bisa menjaminku diterima di SMA Negeri favorite karena bagaimana pun juga hasil akhir menyatakan bahwa aku tidak lulus.
Dengan akhir cerita, aku memang tidak diterima di SMA favorite di luar kota. Tapi aku tidak putus asa, aku yang di dukung kedua orangtua berusaha untuk mencari SMA Negeri yang mau menerimaku. Dengan menggunakan sedikit ‘uang pelican’ akhirnya aku diterima disini. Tapi tentu niat sekolah disini itu semata-mata sebagai batu loncatan saja, karena bila sudah naik ke kelas 2─ayahku akan memindahkanku ke SMA terfavorite di luar kota.
Dan semua itu butuh 2 bulan lagi dari sekarang sebelum akhirnya aku bisa pindah sekolah ke SMA Negeri yang lain. Dengan kata lain aku pun hanya tinggal 2 bulan lagi di tempat kost ini dan aku ingin mempergunakan waktu yang singkat itu bersama kalian.
Maka seperti itulah yang Fikrie ceritakan pada kami di acara curhat-curhatan malam ini, yang hampir sudah jam 3 pagi tapi kami masih tetap bisa ketawa-ketiwi tanpa kantuk dan tanpa ingin bermimpi di malam ini.
Ketika Fikri hampir menyudahi curhatan tentang keluarganya tiba-tiba Nui memotong pembicaraan Fikri dan berkata: “Eh nanti dulu belum selesai, itu khan tadi tentang cerita keluarga kamu Fik. Nah sekarang gimana kalau kamu ceritain tentang masalah percintaan kamu, setuju gak temen-temen? Kita semua khan disini pengen tau tentang perjalanan kisah cinta kamu, tentang cinta pertama kamu, tentang cara “nembak” kamu, atau mungkin tentang kenangan ciuman pertama kamu… (iya nggak guys?), ucap Nui pada kami seraya bercanda dan ketawa.
Suasana yang tadi agak menyedihkan saat mendengar cerita tentang masa lalu Fikrie. Akhirnya Nui dan kawan-kawan hangatkan singgasana dengan curhatan-curhatan seperti percintaan Fikri.
Kalian mau tahu tentang kisah percintaan masa lalu Fikri? Seperti inilah kisah yang dia curhatkan pada kami dengan cara bicaranya yang agak malu-malu.
Ucap Fikri: “ Kalau masalah cinta, aku nggak punya kesan yang indah bersama seorang perempuan. Mungkin karena penampilanku yang agak terlalu serius kali, dengan pakai kacamata yang aneh, gaya rambut yang norak banget, baju-baju yang gak gaul─membuat semua cewek-cewek gak bakal merasa tertarik untuk melirikku.
Sampai-sampai di usiaku yang sekarang udah 16 tahun ini─aku masih berstatus sebagai pelajar jomblo sejati, (hehehe… kasihan banget yah gue). Tapi meskipun begitu, dulu aku pernah bertemu dengan seorang wanita cantik yang bersamanya aku merasa menjadi lelaki yang paling sempurna.
Dia adalah teman sekelasku waktu kelas 2 SMP, namanya Renita dan dia cewek paling cantik di lingkungan sekolahku waktu itu. Dulu dia selalu mendekatiku untuk menanyakan soal-soal latihan Fisika yang sulit dan aku pun mengajarinya dengan senang hati. Renita selalu dekat di sampingku untuk mendengarkanku yang sedang menjelaskan rumus-rumus soal fisika yang baginya sukar.
Kalian tahu, apa yang ku rasakan saat pipinya bersandar di pangkal tanganku? Perasaanku saat itu sungguh resah, debaran jantungku berdetak begitu kacau, wajahku merona merah dan keringat dingin bercucuran di ujung kepalaku. Terkadang dia selalu siap untuk mengambil tisu dan mengelap wajahku yagn di penuhi keringat itu.
Kadang dia selalu mengingatkanku tuk bicara tak gugup di depannya, dan kata dia: (hey kenapa kamu suka gugup kalau ngomong sama aku, biasa aja lagi, jangan takut─aku nggak bakalan gigit kamu kok).
Renita memang tak pernah sadar bahwa aku saat itu mulai menyukainya, tapi aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Hingga di waktu itu, usai sudah cerita indah antara aku dan Renita. Aku memang seorang pengecut yang tak bisa jujur dengan perasaanku, sampai akhirnya sebulan kemudian dia pindah sekolah ke Bandung saat naik kelas tiga. Sampai saat ini aku masih merasa menyesal karena tak sempat ungkapkan perasaanku kepadanya.
Tapi aku yakin semua itu tak penting bagi Renita, kata teman-temanku─dia hanya memanfaatkanku karena saat itu ingin masuk rangking 5 besar di semester dua dengan cara meminta bantuanku agar nilai-nilainya menjadi tinggi dari semester pertama. Renita juga waktu itu sempat bilang padaku, bahwa dia punya sebuah perjanjian dengan ayahnya.
Perjanjiannya adalah kalau Renita berhasil masuk rangking 5 besar di semester kedua kelas 2, maka Renita boleh sekolah di Bandung saat dia naik kelas 3 SMP. Dan saat itu juga Renita tidak biasanya selalu ingin bersamaku, dia ingin diajarkan pelajaran-pelajaran yang masih sukar buatnya. Tapi setelah akhirnya dia menerima raport di akhir kelas 2 itu, dia mulai terlihat menjauhiku, apalagi dia tak pernah mengucapkan terima kasih padaku karena ternyata dia sudah mendapat rangking ke 3 besar waktu itu.
Tapi meskipun begitu, aku tidak mengharapkan apa-apa darinya, karena cintaku tulus walau aku pernah mengungkapkan perasaanku padanya─hingga saat perpisahan itu tiba,” (duch sedih banget yah kisah cintaku, ucap Fikri pada kami.)
Setelah Fikri selesai mencurahkan semua tentang masalah pribadinya itu, maka tibalah waktunya untukku (Angga) mencurahkan semua tentang kehidupanku kepada mereka (Nui, Wulan, Rubi, Fikri) yang ada di depanku saat ini.
Aku bingung apa yang harus aku ceritakan pada mereka? Sementara kehidupan tentang keluargaku sudah hancur berantakan, sedangkan kisah percintaanku bersama Nisa sangat menyedihkan buat ku ceritakan. Disisi lain, Nui dan kawan-kawan terus memaksaku untuk cepat bicara tentang apa saja yang menyangkut kehidupanku.
Tapi saat ini aku masih saja diam membisu sambil malu-malu, apakah mereka bisa mengerti bahwa semua ini terlalu berat untuk ku curahkan kesedihanku pada mereka, orang-orang yang baru kukenal 2 hari yang lalu di rumah kost ini (Nui, Wulan, Rubi, dan Fikri).
Aku tahu ini bodoh tapi ku katakan saja semua kebodohan itu pada mereka sebagai pembuka jati diriku yang sebenarnya. Aku bilang tak ada yang spesial dalam hidupku: “Keluargaku di rumah saat ini lumayan baik dan masalah percintaanku tak ada bedanya dengan lelaki yang lainnya. Hanya saja dalam hidupku aku mengagumi seorang perempuan yang menjadi sumber inspirasiku untuk tetap bertahan hidup, tetap menciptakan sebuah karya dan memahami dirinya berarti juga aku sedang mencari arti kehidupan ini.
Dia adalah ibuku, dia adalah sebuah alasan  untukku mengerti sosok seorang perempuan. Bahkan sebuah puisi pertama yang kubuat di waktu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD adalah tentangnya. Karena bagiku dia lebih dari sekedar pahlawan dalam hidupku yang harus ku abadikan lewat tulisan prasasti hatiku.
Sementara sekarang ini dia jatuh sakit dan tak berdaya melawan derasnya sisi keangkuhan dunia. Apakah aku harus diam menghadapi semua kenyataan ini? Tidak … aku pikir aku harus memberikan sebuah kado terakhir dalam ujung hidupnya sebelum dia merasa tidak tenang meninggalkanku untuk selamanya.
Di tempat kost ini aku ingin bisa bertahan hidup tanpa bantuan orangtuaku, agar Ibu tak mencemaskan lagi masa depanku nanti. Aku adalah seorang lelaki, seorang anak pertama darinya yang dia andalkan. Dia selalu berpesan padaku untuk mencari kehidupan sendiri diluar sana, melawan arus derita, mengerti artinya menahan lapar dan menghidupi diri dengan hasil keringatku sendiri. Aku mengerti apa maksudnya, karena aku adalah calon ayah yang harus menghidupi anak-anak dan istriku nanati. Lalu apa bedanya jika dari sekarang aku ingin belajar mencari uang sendiri paling tidak menghidupi diri sendiri sehari-hari. Selain itu juga, jika memang uang yang kudapat sedikit lebih dari hasil pekerjaanku nanti, aku ingin membawa ibuku berobat ke Rumah Sakit ternama. Aku ingin sekali menyembuhkan penyakit stroke yang membuatnya menjadi lumpuh tak berdaya.
Kemudian Wulan memotong pembicaraanku (curhatanku) dan dia berkata: “Terus Ga, Ayah kamu kemana? Perasaan dari tadi kamu tidak pernah ingin membicarakannya. Tapi Ayah kamu masih ada khan, dan apa yang dia lakukan terhadap keadaan Ibu kamu? Mengapa  harus kamu yang ingin membawa Ibu kamu berobat ke Rumah Sakit memangnya ayah kamu kenapa, dia masih kerja khan?”
Rupanya tanpa ku sadari, Wulan sangat memperhatikan ucapanku dan dia sepertinya sudah bisa menebak tentang masalah yang tersembunyi dalam keluargaku. Entah mengapa semuanya harus terjadi seperti ini, entah apa alasannya aku harus menceritakan semua curhatanku lebih jauh lagi pada mereka? Tapi yang ku tahu, aku memang butuh seorang teman untuk meluapkan semua masalah yang selama ini kupendam.
Semua orang yang ada di tempat kost ini mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda tapi intinya kami sama-sama punya masalah yang lebih berat ketimbang seorang siswa SMA lainnya. Dan bedanya, kami punya keinginan untuk melawan dan membela diri dari duri-duri tajam kehidupan. Setidaknya kami menghabiskan masa muda bukan untuk berpoya-poya menikmati uang hasil kerja orangtua. Dan paling tidak, kami masih punya hati dan perasaan untuk tak mau membebani siapapun lagi.
Karena tempat kost ini mengajarkan kami untuk bisa lebih baik ketimbang orang-orang seusia kami yang kerjaannya hanya bisa pamer harta orang tua, berdandan dan berpenampilan mewah dari hasil kerja orangtuanya. Sungguh kami disini menjuluki mereka-mereka itu sebagai manusia bodoh yang hanya bisa bersembunyi di balik ketiak ibunya.
Itulah sebabnya pada bulan Oktober 2006 aku menciptakan dan menyelesaikan cerita ini yang berjudul INDEKOST sebuah mahakarya dariku yang ke 10.
Baiklah para pembacaku, mari kita lanjutkan kembali adegan curhatanku yang belum selesai pada mereka ini. Kita mulai lagi dari saat Wulan bertanya tentang keberadaan ayahku. Akupun kembali menceritakan semua masalah hidupku pada mereka di pagi ini, Pukul 03.45 menit─Tanggal 03 Mei 2005 di kamarku  dan kami masih belum tidur malam ini padahal pagi nanti kami harus berangkat sekolah.
Aku berkata dengan nada protes lagi pada mereka: “Duh… udah hampir jam 4 pagi nih udahan aja yuk curhat-curhatannya, nanti dilanjutin lagi besok malam deh aku udah ngantuk nich, pagi-pagi khan kita harus berangkat sekolah.”
Tapi Nui malah menjawab gagasanku seperti ini: “Nggak mau ah, kamu khan belum selesai curhatannya jadi kita sekalian aja sama-sama nggak usah tidur. Setuju nggak kawan-kawan? Dan yang lainnya menjawab setuju untuk satu hal itu. Malah kami sepakat untuk bolos sekolah hari ini karena bagaimana pun juga kami harus tidur dan istirahat pagi nanti. Untungnya Ibu kost dan keluarganya tak ada di rumah untuk 2 hari ke depan. Jadi ini kesempatan kami untuk menghibur diri segila mungkin.
Maka saat itu juga aku mulai kembali menceritakan tentang  masalah keluargaku, terutama kini ku ingin menceritakan tentang ayahku pada mereka. Saat itu Nui, Wulan, Rubi dan Fikri sedang memandangku dengan tatapan yang kosong ketika ku mulai kembali curhatanku. Mungkin aku telah berdosa besar karena sudah membohongi mereka dengan perkataanku yang tak jujur, tentang jati diri ayahku yang sebenarnya.
Pada intinya aku menceritakan bahwa “Orangtuaku sudah bercerai” saat aku masih berumur 6 tahun jadi aku tidak begitu banyak punya kenangan bersama Ayah karena aku tinggal bersama Ibu. Mereka pun yang sedang mendengarkan ucapanku langsung percaya begitu saja. Aku sadar bahwa aku telah berdusta pada mereka, tapi itulah yang selama ini aku rasakan terhadap sosok ayahku, bahwa dia sudah tidak ada dalam hatiku sejak aku masih berusia 6 tahunan.
Mungkin semua orang punya masa lalu yang sangat indah bersama ayahnya sejak masih kecil. Tapi tidak untukku, yang ku rasakan semasa kecilku adalah kekerasan, penganiayaan dan saling meneriaki satu sama lainnya.
Setiap malam semasa kecilku, aku tidur tanpa merasakan sebuah ketenangan, kedamaian, kenyamanan bahkan aku tak pernah punya mimpi indah menjalani tidurku. Kalian tahu kenapa ? Karena setiap menjelang tengah malam Ayah dan Ibuku selalu bertengkar, saling teriak-teriak lebih kencang hingga membuat tidurku tak pernah merasa aman.
Masa kecilku telah ku habiskan untuk mendengar pertengkaran mereka, mendengar Ibuku kalah dan menangis, melihat ayahku menjadi pemenang karena selalu menganiaya ibuku tanpa perlawanan. Lalu apa yang bisa aku perbuat untuk membela ibuku ? sementara ketika itu aku masih berusia 6 tahunan.
Maka dari itu aku menganggap bahwa ayahku sudah tidak ada sejak dia menganiaya aku dan Ibu dari saat itu aku masih kecil. Apa aku salah karena sudah berdusta diantara curhat-curhatan itu pada mereka? Bahwa aku telah berkata tentang kebohongan ayahku yang kubuat-buat, padahal sampai saat ini ayahku masih hidup bersama kami dan masih menindasku serta ibuku.
Padahal dia tahu kini bahwa Ibu sudah terkapar di ranjang tanpa daya dan upaya. Dimana perasaan Ayahku meski dia tahu bahwa Ibu sekarang sudah lumpuh total tapi dia tetap saja masih suka menekan bathin ibuku?
Kalian tentu akan menangis bila melihat Ibu kalian disakiti dan dilukai, itu jugalah yang kulihat seminggu yang lalu saat Ayah dengan leluasa mendorong Ibu hingga terjatuh lalu dia injak kaki ibu sekuat tenaganya kemudian Ibu diludahi wajahnya oleh ayah sambil dicaci maki dan di sumpahi biar cepat mati. Apa kalian bisa merasakan perasaanku saat itu aku melihatnya  dengan mata kepalaku sendiri?
Coba kalian robek dadaku dan lihatlah sebuah pesan dari isi hatiku, bahwa aku telah hancur, dan merasa hidupku telah gagal. Aku ingin sekali membakar rumahku sendiri hingga aku bisa mati dengan semua keluargaku yang sudah hancur ini.

Tapi apa kalian tahu, alasan Aku ingin tetap hidup lebih lama lagi? Karena aku ingin membuktikan pada dunia bahwa aku adalah anak karang yang tak pernah takut di terjang gelombang. Aku juga bisa membuktikan pada orang-orang yang tertawa di atas pedihku bahwa aku terlalu tangguh untuk di remehkan, terlalu hebat untuk di abaikan.
Dan semua hal yang paling penting dari semua itu–hanya ada satu, yaitu aku ingin buktikan bahwa semua yang pernah di katakan Nisa (pesan terakhir Nisa) padaku adalah salah besar. Dia telah berpendapat tentang kepribadianku di SMS terakhirnya (Tanggal 30 April 2005 Pukul 19:41:33) seperti inilah SMS terakhirnya untukku: “Meskipun kenyataannya seperti ini. Tapi Nisa gak suka sama orang yang gak nerima kenyataan hidup dan ngomong seenaknya. Tunjukkin bahwa kamu itu bisa tanpa Nisa, mungkin ada orang yang lebih dari Nisa di balik ini semua.”
Ya seperti itulah pasan terakhir yang di katakan Nisa 4 hari yang lalu padaku, sejak saat itu pun aku dan Nisa tak pernah berkomunikasi atau bertemu lagi. Entah sampai kapan? Mungkin hingga esok lusa atau untuk selamanya sampai aku mati.
Dan sebelum Nisa mengirim SMS itu padaku, sebenarnya aku jugalah yang memulai mengirim SMS terakhirku untuknya. Seperti inilah SMS terakhirku untuk Nisa: “Aku tahu kau takkan pernah mencintaiku. Ketidakpedulianmu telah menyadarkan ketidaksempurnaanku. Aku mengaku kalah tapi itu bukan berarti aku menyerah. Sementara aku akan berhenti berharap dan belajar melupakan cinta pertamaku, walau terasa sakit bagiku. Tapi aku berjanji suatu saat nanti aku pasti kembali sebagai sosok yang akan membuatmu bangga dan aku percaya kau akan menerimaku lebih dari apa adanya.”
Aku selalu percaya bahwa aku bisa menepati janjiku untuk Nisa, bahwasanya aku akan kembali menemuinya sebagai sosok yang akan membuatnya bangga. Dan satu hal yang paling indah saat aku mengirim SMS terakhir itu adalah, saat itu hari sabtu malam sekitar jam 8 kurang (4 hari yang lalu dari hari sekarang tanggal 3 Mei 2005) telah terjadi bulan purnama yang sangat menakjubkan. Cahaya itu begitu menusuk perasaanku dan membuatku selalu ingin mengalunkan puisi-puisi terindah tentang rasa kekagumanku terhadap Nisa. Tapi sayang, bulan purnama itu harus menjadi saksi bisu perpisahan antara aku dan Nisa. Andai cahaya terang itu bisa menyampaikan rasa rinduku, mungkin Nisa akn tergugah untuk kembali padaku- atau setidaknya merasa enggan untuk meninggalkanku.
Seandainya di malam terakhirku itu aku bisa memohon pada Nisa untuk memberiku waktu 1 jam lagi di sampingnya. Karena sesungguhnya aku belum merasa puas untuk melangkahkan kaki dan pergi untuk selamanya dari kehidupannya. Tapi apa mau di kata, yang lalu tak mungkin kembali terulang karena waktu tak akan pernah berhenti berputar. Kini ku hanya bisa sesali dan resapi, bersama sang malam ku bersyair penuh ritma kerinduan.
Inilah kisah sedih yang aku alami, hilangnya seorang perempuan yang sangat ku cintai sejak 5 tahun yang lalu itu. Dalam hati ini hanya bisa kusimpan wajahnya, dan ku pastikan rasa cinta ini tak akan pernah berubah sedikit pun hingga aku kembali menemuinya: “Ya suatu hari nanti aku yakin bisa menepati sumpahku pada bulan purnama itu, bahwasanya aku akan kembali menemui Nisa sebagai sosok pria tangguh yang bisa membuatnya jatuh cinta.”
Sumpah itulah yang membuat aku selalu ingin hidup lebih lama lagi. Supaya aku bisa punya alasan untuk menemui Nisa lagi, paling tidak aku sudah berusaha untuk bisa melihat Nisa lagi hingga aku dapat mengobati rasa rindu yang tak tersampaikan ini.

Di tempat ku berdiri saat ini, di kamar kostku ini–ku ikrarkan janjiku untukmu duhai wanita pujaanku (Nisa).
Bahwasanya seluruh hidupku–ku pertaruhkan untuk menunggumu mencintaiku. Dan sampai nanti meski aku keburu mati, akan tetap ku tinggalkan seberkas cahaya yang tersisa dari sinar lilinku yang meredup untukmu.”
Tapi aku bersumpah sebelum aku mati, aku pasti akan kembali untuk mempertanyakan sekali lagi: “Pada siapakah hatimu akan kau labuhkan?”
Mungkin sampai disini saja akhir dari segala curhatanku kepada kawan-kawan baruku itu. Dan ternyata aku merasa lega setelah semua cerita terpendam di dalam dadaku ini ku keluarkan pada mereka (Nui, Wulan, Rubi, Fikri). Dan satu hal lagi yang terpenting dan sangat ku sadari bahwa tak ada sebuah hubungan yang paling indah dari persahabatan yang tulus–yang mau menerima segala kekurangan diantara sesama kawannya.
(Untuk hari ini Tanggal 3 Mei 2005, hari Selasa Pukul 04.35 pagi–aku menyelesaikan dulu tulisan di buku harianku, di hari ke 3 aku tinggal di rumah kost ini, dan juga di hari ke 4 aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan Anisa Yuniar Purwana.
Mungkin nanti malam aku akan menceritakan lagi pada kalian tentang pengalamanku selama tinggal di rumah kostku ini bersama teman-teman baruku (Nui, Wulan, Rubi, Fikri).
Hari ke 3 aku tinggal di tempat kostku
                                                                                    Cibeber, Selasa 3 Mei 2005
CATATAN HARIAN
Saat ini waktu menunjukkan Pukul 22.37 malam, aku akan menuliskan kembali ceritaku di hari ini pada kalian (pembaca setiaku).
Tadi pagi sekitar Pukul 09.05 menit aku menjadi orang pertama yang bangun lebih dulu diantara yang lainnya. Apa kalian tahu? Tadi malam kami curhat-curhatan dan baru bisa tidur pada pukul 5 pagi ini. Dan lebih parahnya lagi, hari ini kami bolos sekolah karena bagaimana pun juga kami harus istirahat dan butuh tidur seperti manusia biasa lainnya.
Di pagi itu aku terbangun karena suara bising mesin kendaraan terngiang mengganggu pendengaranku. Saat ku berdiri  dari pembaringanku, aku melihat yag lainnya (Nui, Wulan, Rubi, Fikri) masih tertidur di sekelilingku di kamarku. Mereka tertidur sangat pulas sekali hingga lupa untuk pindah ke kamar masing-masing waktu subuh tadi.
Disini kami sudah seperti saudara kandung sendiri hingga kami tidak ragu-ragu lagi tidur bersama dengan lawan jenis dalam satu kamar. Tapi meskipun Nui dan Wulan ikut tidur ada pembatasnya yang cukup jauh antara lelaki dan perempuan.
Coba sekarang kalian perhatikan Nui dan Wulan yang saat ini sedang tertidur lelap tak jauh dariku. Wajah mereka sangat polos penuh kejujuran dan cara tidur mereka jelas menandakan kepribadian asli mereka. Aku melihat Nui dengan rambutnya yang lurus sebahu–yang biasanya suka terikat  tapi saat ini terurai menutupi sebagian pipinya.
Tak kusangka Nui ternyata cantik juga jika saat tidur, aku pikir dia akan selamanya terlihat tomboy di mataku tapi hari ini dia berbeda. Aura kecantikannya mulai terpancar bila dia terdiam dan mungkin orang yang melihatnya akan ikut terpaku tak berdaya.
Tapi ada sebuah sinar yang mampu menarik perhatianku untuk menatapnya. Sinar itu terpancar dari wajah Wulan yang saat ini sedang tertidur nyenyak di sebelah Nui. Pemilik sinar itu sangat indah sekali, tanpa aku sadari aku ingin selalu memandang wajahnya sebelum dia terbangun nanti.
Ada apa dengan perasaanku, mengapa hati ini selalu bergetar bila memandang wajah Wulan? Padahal aku baru 3 hari yang lalu mengenalnya di tempat kost ini, mengapa secepat ini aku selalu ingin membelainya dengan rasa sayangku?
Apakah dia memang jadi pelarianku saja setelah aku terluka oleh cinta Nisa? Aku sendiri tidak pernah tahu jawabannya, yang pasti aku selalu merasa bahagia bila selalu memandangnya, apalagi saat ini dia sedang tertidur pulas tak jauh dariku.
Aku yang saat ini sedang terduduk (memandang Wulan tidur) sambil menyandarkan pipi kiriku ke lutut–serentak dia terbangun dari tidurnya, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan? Entah karena aku malu (takut dia melihatku yang sedang memandangnya) maka aku pun langsung pura-pura berbaring dan tertidur kembali. Ini adalah sesuatu hal yang sangat bodoh sekali bagiku, mengapa jantungku berdebar kencang ketika kudengar Wulan bicara membangunkan Nui yang berarti itu tandanya kini Wulan sudah terbangun dari tidurnya.
Akhirnya Wulan yang sudah terbangun itu pun langsung membangunkan Nui yang masih tidur di sampingnya, mereka sekarang sudah tersadar–kemudian langsung membangunkan kami juga yang sedang tertidur.
Tak lama dari itu semua orang akhirnya terbangun dan baru tersadar satu hal: “Bahwa sekarang sudah pukul 09.15 pagi, mereka baru saja terbangun sementara hari ini seharusnya mereka pergi sekolah. Tapi apa mau dikata, mereka kini sudah terlambat untuk pergi sekolah jadi mau tak mau kami hari ini harus bolos sekolah. Tak bisa di bayangkan kalau Ibu kost sampai tahu tentang hal ini, untungnya dia masih ada di Sukabumi dan kemungkinan dia pulang sekitar hari besok atau lusa.”
Semua orang berargumentasi saling menyalahkan atas semua yang terjadi. Semua orang memperdebatkan kesalahan masing-masing dan tak mau di salahkan atas semua yang terjadi. Siapa yang harus bertanggungjawab sementara orang-orang sibuk mencari-cari alasan untuk membela diri? Sebuah realita bahwa hari ini kami semua sudah berani bolos sekolah, tapi tak cukup membuktikan semua bisa tahu alasannya. Sejak dari dini hari tadi, semuanya sudah setuju untuk bolos sekolah. Jadi tak ada yang harus tahu masalah ini maka kami semua siap untuk menanggung segala resikonya.
“Nui sih enak karena sudah kelas 3, terlebih lagi Nui udah ngikutin UAN 2 minggu yang lalu. Jadi baginya saat ini mau sekolah atau pun tidak sudah nggak ada masalah lagi. Duh… Nui emang curang yah, jadi kami sekarang sepakat buat ngejitakin dia rame-rame. Karena dia yang nyebabin kita semua ampe bolos sekolah soalnya dia khan yang duluan ngajakin begadang tadi malem.”
Akhirnya kami yang baru bangun tidur langsung diajak lari-lari ngejar Nui buat ngejitakin dia rame-rame. Bayangin aja, harusnya hari ini Aku, Wulan dan Fikrie ngikutin ulangan harian pagi ini. Tapi gara-gara kami gak sekolah karena bolos akhirnya hari ini kami nggak bisa ngikutin ulangan. Dan terlebih lagi kayaknya kami bakal kena semprot Bu guru karena coba-coba alfa waktu mau ulangan. Duh nyesel banget deh ampe berani bolos sekolah hari ini dan semua ini gara-gara Nui, sekarang kami harus ngejar Nui ampe dapet dan ngejitakin dia rame-rame.
Tak lama kemudian, akhirnya Rubi berhasil nangkap Nui dan kami pun serentak menyiksanya sambil ketawa-tawa: “Ada yang menggelitiki Nui ampe tergeli-geli, ada yang menjitaki kepalanya ampe Nui bilang ampun, dan ada juga yang mencubitinya ampe Nui ngerasa kesakitan”.
Terlebih lagi kami menyiksa Nui ampe perut kami sakit karena kecapean tertawa terbahak-bahak. Rupanya kami semua sama-sama lapar karena belum sarapan pagi ini, maka kami pun sudahi becandanya untuk saat ini, Nui pun kami lepaskan setelah kami puas menyiksanya barusan.
Pagi ini kami mulai bingung, apa yang harus kami lakukan untuk mengisi kekosongan waktu yang biasanya kami gunakan untuk sekolah? Akhirnya kami semua berunding untuk membuat jadwal kegiatan hari ini bersama-sama. Diantaranya hari ini kami berencana untuk mancing ikan di kolam Ibu kost belakang rumah buat lauk makan siang. Udah gitu pokoknya hari ini kami mau having fun abis-abisan deh, soalnya kami pasti bakal bete kalau lama-lama diem di rumah. Duh…  di pikir-pikir enak juga yah sekali-kali bolos sekolah bareng.
Sekarang ini tak ada apapun yang patut kami urusi terlebih dahulu kecuali mengisi perut untuk sekedar mengenyangkan badan biar sehat dan bertenaga kayak Gatot Kaca. Pagi ini Wulan sedang masak untuk kami sementara yang lainnya ada yang mandi dan nonton TV. Ini kesempatan buat aku lebih dekat dengan Wulan, sok gelagat pengen “caper” deketin Wulan akhirnya aku beranikan diri buat ngebantu dia masak berdua di dapur.
Kali ini cuman kita berdua di sini dan aku lebih leluasa untuk tanya-tanya Wulan. Sok belaganya jago masak, aku mulai nanya mau masak apaan sekarang? Begonya aku, udah tahu yang ada bahannya cuman dedaunan doang jadi yang pasti masak sayur dong.
Duh Wulan mulai nyuruh aku potong-potong bawang putih padahal aku belum pernah melakukannya seumur hidupku. Ohh... saat-saat seperti ini romantis banget, apalagi aku punya kesempatan buat masak berdua  sama Wulan. Udah deh kalau kayak gini aku pasti banyak ngelamunin yang nggak-nggak, pasti aku berharap dia ngajarin aku gimana caranya motong bawang putih yang baik dan benar, moga aja dia pegang tangan aku dengan mesra. Tuh khan dia tersenyum dan sedang menuju ke arahku tapi tiba-tiba dia bilang kayak gini: “Hayo loh ngelamunin apa, cepetan dong potong bawang putihnya katanya mau bantuin aku masak.”
Jawabku: “Ya-iya… aku mau tapi gimana sih cara motongnya ajarin dong?
“Ya ampun Angga, motong bawang aja nggak bisa. Ya udah mana sini tangannya,” ucap Wulan.
Tuh khan akhirnya aku menang taruhan dengan hatiku. Wulan mulai pegang-pegang kedua tanganku dan ngajarin aku gimana caranya buat motong bawang yang baik dan benar.
Biar nambah romantis, aku pura-pura kelilipan kayak mau nangis. Soalnya aroma perih bawang itu menusuk mataku dan buat aku jadi pengen nangis. Akhirnya Wulan niupin kedua mataku bergantian supaya mataku nggak perih lagi. Duh… rasanya deg-degan banget saat bibir Wulan sudah mulai terasa dekat dengan mataku. Ah dasar… Wulan memang curang karena udah berhasil menarikku ke dalam jurang hatinya. Tapi ku cukup punya kesadaran diri untuk tak terjerat lebih dalam lagi ke samudera cintanya yang amat dalam itu.
“Hanya ingin kau tahu, bahwa hatiku hanya untuk Nisa. Dan segala yang terjadi saat ku telah jatuh hati pada perempuan lain, itu hanya sekedar persinggahan letihku di persimpangan jalan. Dan selanjutnya setelah ku kembali ingin memulai perjalanan hidupku, maka aku akan berpegangan pada hatimu (Nisa) dan ku percaya akan seperti itulah adanya,” ucapku untuk Nisa.
Di saat itu, di kala Wulan masih meniupi kedua mataku yang perih. Ada sesuatu yang berbeda mulai merasuki jiwa kami, ada debaran aneh yang mengganggu napasku. Ketika kulihat Wulan mulai memandangku dengan tatapan yang kosong tanpa henti seraya dia remas erat jemariku. Apa yang Wulan pikirkan tentangku, mengapa aku merasa bergetar saat wulan menatapku tanpa henti? Apa mungkin Wulan menyukaiku atau barangkali aku pernah berkata salah hingga Wulan menjadi aneh seperti ini?
Tapi kucoba saja untuk menyadarkan lamunan Wulan yang membuatku makin “horni” itu. Aku tersenyum sembari memanggil pelan namanya agar dia tergugah dan kembali terjaga. Tapi dia malah kelihatan makin aneh saat dia memelukku dengan erat sekali. Setelah itu dia juga mengeluarkan kata-kata yang tak ku mengerti. Tapi intinya dia bilang kalau dia mulai suka sama aku, dia ngerasa bahwa aku tipical cowok idaman yang selama ini dia cari. Pokoknya dia selalu membicarakan kembali tentang semua yang pernah ku bicarakan di acara curhat-curhatan tadi malam.
Duh… aku benar-benar belum mengerti dengan semua yang terjadi ini. Tapi aku bisa merasakan kenapa Wulan menyukaiku. Mungkin nasibnya tak jauh berbeda dengan nasibku, kami berdua sama-sama butuh perhatian dari kedua orangtua, secara kami berdua baru tumbuh dewasa dan belum mengerti apa tujuan hidup kami ke depan nanti. Yang lebih parahnya, Wulan sekarang sudah tidak punya Ayah dan Ibu lagi, dia anak yatim piatu yang sedang mencari arti hidup dan ingin saling di sayangi.
Sekarang coba kalian lihat kembali dan perhatikan setiap kata yang pernah ku ucapkan di acara curhat-curhatan tadi malam. Yang Wulan tahu tentangku bahwa Ayahku sudah pergi tinggalkan keluarga sejak umurku 6 tahun sementara ibuku sedang sakit parah di rumah. Dan Wulan juga tahunya kalau aku ngekost cuman pengen nyari kerja (nyari uang) buat ngobatin ibuku.
Lalu coba kisah hidupku ini kalian gabungkan dengan cerita hidup Wulan. Bahwa pada dasarnya kami sama-sama punya nasib yang buruk dan menyedihkan. Untuk itu Wulan ngerasa cocok sama aku. Tapi saat dia bilang apakah aku juga suka sama dia, dia malah nyuruh aku buat nggak usah di jawab aja. Soalnya Wulan cuman pengen  aku tahu bahwa dia udah jatuh hati sama aku, itu saja.
Tak lama kemudian Wulan berhenti memelukku dan kami melanjutkan untuk memasak kembali. Aku masih terdiam saat ini, apakah tadi aku hanya bermimpi? Mungkin hanya aku dan Wulan saja yang tahu jawabannya.
Sesaat tersentak, aku telah tersadar dari lamunan panjang seakan rohku kembali rasuki jiwa setelah sekian lama menghilang entah kemana. Baru ku sadari bahwa cerita barusan hanya khayalanku saja: “Itu tadi nggak ada cerita mesra-mesraan bareng Wulan, nggak pernah ada peluk-pelukkan, nggak pernah ada bilang cinta-cintaan kok, dan yang pasti Wulan nggak pernah bilang kalau dia suka atau sayang padaku.”
Sepanjang  cerita dari tadi saat aku dan Wulan masak di dapur, hanya ada adegan saat aku melamun sambil memotong bawang putih. Sementara Wulan memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam wajan untuk di racik menjadi masakan. Duh… andai saja cerita barusan bukan khayalan mungkin aku ngerasa jadi lelaki seutuhnya. Bayangkan aja, kayaknya seumur hidupku itu aku nggak pernah ngerasain gimana rasanya meluk cewek, membelai rambutnya, bilang sayang-sayangan dan janji gak bakalan ninggalin dia.
Tapi kapan yah aku bisa kayak gitu? Sementara pacaran aja aku belum pernah ngalaminnya. Ini semua gara-gara Nisa, kenapa juga Nisa gak pernah mau jadi pacar aku padahal aku khan pengen banget pacaran sama dia. Ya sudahlah, aku buang aja khayalanku jauh-jauh. Dan kini aku melanjutkan kembali acara masaknya bareng Wulan.
Hingga akhirnya beberapa menit setelah itu, kami selesai masak dan semua makanan sekarang sudah siap di hidangkan di meja makan.
Sementara yang lainnya menyambut setelah aku dan Wulan memanggil mereka untuk segera makan. Sekarang semuanya sudah datang dan kami lanjutkan acara makan sembari melakukan beberapa topik obrolan mesra di meja makan. Kami tak berhenti tertawa ketika Rubi dan Nui melayangkan beberapa  pertanyaan teka-teki. Rasanya aku bahagia banget bisa tinggal disini bersama mereka, aku bangga dan bahagia punya teman-teman kayak mereka yang sekarang udah aku anggap saudara.
Saat ini waktu tepat di jam 10 pagi kami pun selesai makan dan bersiap ngehabisin waktu di hari ini. Sementara yang lainnya saat ini masih sedang sekolah, kami seakan bangga bolos hingga kami berani keluar rumah gitu aja tanpa takut kepergok guru. Ya bayangin aja jarak antara kostku sama sekolahku itu cukup dekat tapi kami selengean aja keluyuran di jam sekolah.
“Hehehe… kalau aku pikir-pikir sih ternyata Aku, Wulan, Rubi, Nui dan Fikri bandel juga yah.”
Tapi biasanya kami nggak sering kayak gini kok, ya mumpung lagi di tinggal Ibu kost aja jadi kami manfaatin buat seneng-seneng sehari aja. Yang mungkin hanya sekedar refresing aja biar otak nggak butek karena di cekokin terus sama yang namanya sekolah dan buku.
Acara pertama yaitu masak dan makan, barusan aja kami udah ngelakuinnya. Dan kali ini acara kedua yaitu “Mancing ikan di kolam belakakng rumah” buat persiapan makan siang.
Saat ini kami sedang siap-siap untuk menyediakan berbagai macam yang masih menyangkut tentang tata cara mancing ikan. Tentu saja hal pertama yang harus disiapkan adalah kail pancingan serta umpan ikan mas dan nila.
Sekarang semua anak sudah berkumpul di pinggiran kolam ikan. Mereka mencari tempat duduk yang strategis dan empuk biar pantat mereka nggak pada pegal-pegal dan keram-keram.
“Ayo kita lomba mancing guys, siapa yang dapat ikannya paling terakhir, dia harus diceburin ke kolam rame-rame, setuju nggak?” ucap Nui pada kami berempat.
Konsentrasiku saat ini tertuju pada riuh-riuh air yang bergerak terhempas angin. Ku lemparkan kailku di antara gelembung udara–dalam air yang terjatuh masuk mengalir menuju kolam. Naluriku berkata kalau di bawah kailku jatuh sekarang sedang ada ikan besar yang mondar-mandir sambil berpikir: “Makan nggak yah umpannya?” dan secara udah pasti, aku yakin ikan-ikan itu akan tergoda dengan umpan lezat yang sengaja ku hidangkan buat mereka. Harapanku saat ini tertuju pada ikan Nila yang besar, semoga aja cacing yang terkait di kailku ini bisa menarik ikan itu ke daratan.
Hey coba kalian dengar, ada teriakan gembira terlontar dari mulut Wulan kala dia berhasil menarik ikan itu ke atas air. Wulan loncat-loncat kegirangan karena ikan mas yang di dapatnya itu cukup lumayan besar. Sementara yang lainnya pada “mupeng” ngeliat Wulan jadi juara pertama yang lebih dulu mendapatkan ikan.
Di sisi lain saat ini kamera menuju caster Rubi: “Coba sekarang kalian perhatikan wajah senyum-senyum sendiri karena kailnya bergerak-gerak ke atas dan kebawah sebagai tanda bahwa ikan itu sekarang sedang bermain-main dengan sang umpan (cacing). Mungkinkah Rubi jadi juara kedua setelah Wulan? “Bersambung…”
Nantikan kisah ini selanjutnya minggu depan di jam yang sama dan menit yang berbeda: “Loh kok malah jadi nggak nyambung yah ceritanya? Ok deh sekarang aku lanjutin lagi kisah selanjutnya.”
Saat ini Rubi sedang siap-siap untuk menarik pancingnya karena dia pikir sekarang ikan itu sudah tersangkut di kailnya. Tapi tiba-tiba apa yang terjadi saudara-saudara rupanya Nui tidak tinggal diam saja, Nui mengambil batu sebesar kepalan tangannya lalu dia melempar ke arah kail Rubi dan kemudian… Aduh sayang sekali saudara-saudara, ikan yang hampir berhasil Rubi pancing itu seketika terkejut: “Ada batu besar yang terjatuh di atas langit menimpa kepala ikan itu hingga benjol-benjol segede telor saudara-saudara.”
Rubi pun kecewa karena ikan buruannya itu terlepas lagi, barangkali ikan itu membatalkan janji untuk makan umpan sarapan. Lalu apalagi yang terjadi kali ini saudara-saudara? Akhirnya Rubi marah pada Nui karena berlaku curang mengganggu Rubi yang hampir saja mendapatkan ikan.
Sekarang lihatlah Rubi mengejar Nui keliling-keliling kolam untuk diceburkan ke air. Sementara di sisi lain, Fikri lagi asyik-asyikan aja tuh baca komik kartun sambil nunggu kailnya di embat ikan. Sedangkan Wulan lagi berteduh di bawah payung sambil menyandarkan tubuhnya di kursi bambu bersantai-santai, minum juice jeruk seraya nunggu ikan kedua yang nyangkut di kailnya. Lalu aku saat ini, ya gitu dech… aku lagi ngeliatin Wulan dari jauh karena mungkin aku nggak punya daya untuk menyentuh dan mengusiknya.
Untung aja aku pake kacamata hitam jadi aku lebih leluasa untuk memandang Wulan tanpa dia ketahui: “Duh… Wulan sexy banget deh, dia pake kaos putih dan celana pendek, kulitnya mulus dan enak di pandang. Kalo aku perhatiin lama-lama dia agak mirip sama Mulan Kwok vokalis group band Duo Ratu.”
Sekarang semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing di pinggiran kolam. Dan tetap saja dari tadi Rubi versus Nui yang terus kejar-kejaran mengelilingi kolam. Niat Rubi buat nyeburin Nui kayaknya kurang teralokasi baik kalo nggak aku ikut bantu juga nangkepin Nui.
Akhirnya Aku, Wulan dan Fikri ikut-ikutan ngejar Nui setelah dapat komando langsung dari Rubi. Nah… sekarang Nui baru nggak bisa lari kemana-mana lagi, soalnya kami berempat berhasil mengepungnya untuk siap-siap segera diceburin ke kolam.
“Haaa… mau lari kemana lagi sekarang lo?” ucap Rubi pada Nui. Setelah itu akhirnya kami berempat merajang kaki dan tangan Nui untuk dilemparkan ke kolam. Tubuh Nui kami ayun-ayunkan seiring hitungan Rubi: “Satu… Dua… Tiga…” baru pada hitungan ketiga kami lemparkan Nui sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara Nui sendiri bertampang menyedihkan untuk dilihat. Salah Nui sendiri pake curang dan jailin Rubi segala, tuh khan akhirnya dia dapet balasannya juga.
Ya ampun… jadi berantakan deh acara mancing ikannya. Mana ikannya cuman dapet satu lagi, itu juga untungnya Wulan berhasil dapet ikan mas gede. Ya mungkin cukup deh buat lauk-pauk makan siang nanti.
Kisah berikutnya setelah Nui kini masih mengambang di atas air. Tiba-tiba Rubi mengangkat alis matanya padaku sebagai isyarat untuk menceburkan Wulan juga yang kebetulan ada di depanku, tak jauh dari pinggir kolam. Duh… sumpah deh aku mana mungkin berani ngejailin Wulan jadi aku suruh Fikri  aja buat jadi algojonya.
Dan akhirnya Fikri mau bersekongkol dengan Rubi untuk siap mengangkat tangan dan kaki Wulan. Wulan sendiri sempat berontak seakan nggak rela waktu mereka melaksanakan niatnya untuk nyeburin Wulan juga. Tapi Wulan khan perempuan jadi terang aja dia kalah dan hanya bisa mempasrahkan dirinya akan dilemparkan ke kolam seperti Nui barusan.
Kalian pikir aku bakal ngerelain gitu aja saat Rubi dan Fikri mau nyeburin pujaan hatiku Wulan, “Tentu saja tidak!”
Saat Rubi mengayunkan tubuh Wulan dan mulai menghitung, aku yang berada diantara mereka bertiga langsung aja aku dorong mereka semua ke kolam, adil khan?
“Hahaha…” aku ketawain aja mereka semua seperti badak yang sedang berada di kubangan.
Akhirnya cuman aku doang yang selamat, nggak ikut nyebur bareng mereka ke kolam. Rasanya puas dan seneng banget deh bisa ketawain mereka yang sedang kedinginan, basah kuyup, berenang bareng ikan: “Makan tuh ikan, hahaha…”
Setiap mereka mau naik ke daratan, aku dorong kepala mereka agar nggak bisa naik ke atas. Selalu seperti itu dalam beberapa detik hingga akhirnya Rubi berhasil memegang tanganku dan menarikku sampai aku pun ikut terbawa loncat ke kolam.
“Yah sekarang baru adil deh,” semua udah ada di kolam air dan kami bukannya jadi kesel malah sekarang kami makin gila-gilaan bercanda bermain di air keruh. Sembur-semburan bahkan Rubi dan Nui malah bertengkar saling nenggelamin kepala ke bawah air.
Sedangkan aku sama Wulan main sembur-semburan air, saling tertawa terbahak-bahak: “Duh… sumpah deh romantis banget.”
Beberapa saat dari itu, kami mengakhiri semua permainan dan hendak pulang. Sekarang waktu hampir jam 12 siang, kami bersama-sama melanjutkan untuk menjalani hari di siang yang cerah ini.
Sampai tiba depan kost masih berjalan perlahan karena basah kuyup, ucap Rubi masih kesal: “Gara-gara Nui nih gue jadi mandi 2 kali khan sialan” lalu Nui ngotot nyalahin Rubi pertama kali nyeburin dia.
“Ohh... jadi ceritanya lo nggak mau tanggungjawab nih. Ah sialan lo, kawan-kawan gimana kalo kita sekarang siksa Nui rame-rame? Kita jitakin dia, gelitikin kaki dia atau sekalian aja kita iket dia di pohon.”
“Setujuuu!” seru yang lainnya dan Wulan yang paling bersemangat sekali kali ini.
“Hehehe… mau lari kemana lo? Sebelum kita besok dimarahin Guru abis-abisan karena bolos gara-gara lo juga, mending sekarang sebagai balasannya kita siksa Nui si biang kerok sepuasnya,” geretak Rubi pada Nui.
“Ampun deh ampun… nggak kok beneran Nui mau tanggungjawab, sumpah deh jangan aniaya Nui yah guys, entar bilangin Ibu kost loh!” Ucap Nui.
Tapi kami semua nggak takut sama gertakan Nui, akhirnya kami laksanakan juga niat kami buat jailin Nui rame-rame. Lagian disini Nui itu paling jail jadi wajar aja kalo sekali-kali kita semua bersatu buat ngasih pelajaran Nui biar dia kapok dan nggak pernah ngejailin kita lagi.
Nggak lama kemudian kami berhasil ngiket Nui di pohon depan halaman. Dia kayak pengen nangis tapi kami tertawa terbahak-bahak sambil ngeledekin dia: “Kalau di pikir-pikir, kawan macam apa kita ini tega ngejailin sobat sendiri hehehe…”
Hey lihat Ruby punya ide brilian; Wajah Nui dicorat-coret pake arang hitam, kepala Nui di taplokin telor mentah, tubuh Nui ditaburin pake tepung terigu lalu kali ini Nui di gelitikin pake bulu ayam. Wah… pokoknya masih banyak lagi deh siksaannya.
Sementara Nui nggak bisa bergerak tubuhnya diiket erat di pohon mangga. Awalnya Nui emang sempet bawel tapi sekarang udah “beres” soalnya mulutnya udah kami sumpel pake sapu tangan.
Siksaan terakhir yaitu nyiramin seluruh tubuh Nui dengan aer comberan yang udah berwarna ijo tua biar tambah kuyup dan bau. Pokoknya menjijikan banget deh dan aku pikir Nui nggak bakalan lupain cerita ini hingga akhir hidupnya.
Disaat Rubi mulai perlahan menyiram tubuh Nui sementara Wulan pergi ke dalam rumah untuk membawa sesuatu, yang mungkin bisa mengejutkan Nui. Apakah yang dibawa Wulan di dalam rumah untuk Nui?
Sekarang wajah Nui dipenuhi lumpur kotor yang menjadi ampas dari aer comberan tadi. Nui mencoba melepaskan sumpalan sapu tangan yang membungkam mulutnya setelah terlepas barulah Nui bisa bicara dan memaki: “Kampret lo Rubi… ini udah keterlaluan tau. Kalian pikir gue seneng diperlakukan kayak gini. Lepasin nggak ikatan gue atau kalo nggak gue bakal marah banget sama kalian semua, cepetan lepasin gue,” teriak Nui.
Tiba-tiba Wulan keluar dari dalam rumah dengan mengangkat sebuah kotak yang berisi… yang berisi kue Ultah dan bernyanyi: “Happy Birthday Nui… Happy Birthday Nui… Happy Birthday–Happy Birthday… Happy Birthday Nuuuiii…” lalu setelah itu dilanjutin oleh yang lain dengan menyanyikan lagu yang serupa dalam beberapa menit yang hening dan mengharukan.
Aku sendiri baru tahu kalau Nui hari ini ulang tahun, pantesan aja tadi malam Nui minta kita temanin semalam suntuk–memaksa kita untuk bolos agar bisa bersamanya seharian. Ternyata ini adalah hari istimewanya dan sepertinya dia sedih, dia kesepian dan dia butuh teman dan yang lain sadari itu. Aku baru sadar kalau seperti ini ceritanya, pantas mereka mau-maunya aja bolos sekolah hari ini. Sepertinya aku telah dibodohi oleh mereka semua karena tidak diberi tahu sebelumnya kalau mau kasih kejutan tuk Nui.
Lalu Nui barusan udah marah-marah pun seketika berwajah merah malu dan sesaat menjadi diam membisu mungkin karena terharu.
Lilin angka 18  yang menyala di atas kue itu semakin mendekati arah Nui. Sementara Rubi melepaskan ikatan Nui dan yang lainnya tetap melantunkan lagu selamat ulang tahun untuk Nui dengan penuh haru.
Acaranya sukses; Nui bener-bener kaget dengan “Surprise Brithday” yang udah kita lakuin spesial buat dia. Sebenarnya kejutan ini udah terencana dari mulai beberapa hari yang lalu, tapi ada sedikit kejadian diluar jalur karena tadinya mereka mau realisasikan surprise ini pada malam harinya, bukan siang hari seperti sekarang. Tapi karena udah terlanjur jadi mereka lanjutin aja acara ultah Nui yang terakhir di rumah kost ini sebelum 2 bulan lagi dia bakal kuliah di Bandung dan ninggalin kita semua di sini (di rumah ceria ini).
Nui jadi malu karena tadi sempat marah-marah sama anak-anak. Rupanya dia bisa mengakui bahwa “Surprise” ini bener-bener sukses tanpa ada sedikitpun kecurigaan. Kata dia sih, baru kali ini dia mendapatkan kejutan dari orang lain yang ternyata ikut peduli akan hari ini yang paling istimewa buatnya.
Padahal Nui nggak pernah sekali pun cerita sama anak-anak tentang tanggal ulang tahunnya, lalu dari mana mereka bisa tahu kalau hari ini tuh ultahnya Nui? Jadi katanya pada awalnya Wulan udah curiga dan menduga kalau bulan Mei itu ultahnya Nui, secara nama lengkapnya aja Nurul Maydiawati: “Ya pastilah dia dilahirin di bulan Mei.
Selain itu beberapa minggu yang lalu juga Wulan pernah nanyain hari ultahnya Nui ke teman sekelasnya dari SMP. Dan alhasil ternyata tanggal lahir Nui itu 03 Mei 1987, tepatnya hari ini tuh usianya 18 tahun.
Udah deh sekarang kita balik lagi ke adegan barusan; Setelah ikatan Nui dilepas Rubi, Nui malah nangis karena anak-anak ternyata udah “care” banget sama dia. Kami berempat  masih tetap bernyanyi tapi kali ini kata-katanya berubah menjadi kayak gini: “Tiup lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… Sekaraang jugaaa…”
Lilin itu pun redup seketika ditiupnya didetik-detik lagu terakhir. Wulan yang sedang ngangkat kue langsung nitipin kue itu ke Rubi saat Wulan ingin memeluk Nui sambil ngucapin selamat ulang tahun  untuknya. Si Wulan kayaknya meluknya ati-ati banget tuh, soalnya tubuhnya Nui khan kotor banget dipenuhi lumpur air comberan, tepung terigu, telor mentah plus bau badan Nui.
Kita-kita sih udah nyangka kalo Nui bakalan balas jailin Wulan, tuh khan liat aja gak lama dia peluk erat Wulan  kayak sengaja pengen ngotorin bajunya: “biar sama-sama kotor dan bau lumpur,” kata Nui pada Wulan.
Akhirnya kita ketawa-ketiwi saat Rubi mulai nyolek sedikit kue dan namplokinnya di wajah Wulan  berulang-ulang. Tadinya seluruh kue itu pengen ditamplokin sekalian aja ke wajah Nui tapi sayang juga kalo dibuang percuma. Jadi sebagian besar kue itu disimpan dulu dan sisanya pada ditamplokin ke wajah Wulan, Nui, Aku dan Fikri.
Acara ultahnya makin jadi berantakan, semua orang kini pada berlarian karena takut dikejar Nui yang ingin balas dendam. Hampir seluruh parkiran teras dibasahi oleh air, kala Nui nyiram anak-anak pake selang air buat nyuci mobil. Kini semuanya makin basah kuyup tapi kami senang banget hari ini.
Sementara aku punya ide brilian untuk mengisi kegiatan di saat ini; Aku melihat setengah kantung besar semen bahan bangunan yang tergeletak di sudut rumah. Aku bawa semen itu dan ku taburkan dengan rapi membentuk segi empat 60x30cm dengan tebal sekitar 5cm. Sebelumnya ku sirami semen murni itu dengan campuran 2 ember air hingga merata agar bisa  membeku dengan kokoh.
Sebelum semen itu cepat membeku, aku segera menyuruh yang lainnya untuk menjiplakan jari telapak tangan kanan mereka di atas semen yang hampir membeku itu. Selain itu mereka juga mengukirkan nama pendek mereka di bawah telapak tangan mereka masing-masing. Semen itu sekarang akan cepat membeku dengan sangat kokoh dalam hitungan sekitar 15 menit.
Coba sekarang kalian bayangkan; Ada sebuah semen yang dibentuk sebidang segi panjang yang diatasnya terjiplak telapak juga nama mereka di bawahnya. Pemilik telapak tangan itu adalah Nui, Rubi, Fikri, Angga, Wulan dan mungkin tanda itu takkan pernah bisa hilang hingga 10 tahun kedepan.
Saat ini semen segi panjang itu sudah sangat membeku dan keras. Sungguh bagus dan rapi sekali bila kalian pandang. Kami akan menyimpan benda bersejarah ini di depan rumah kost, di sebuah taman kecil yang di payungi pohon rimbun dan rumput rindang. Aku yakin benda ini akan tetap utuh seperti ini hingga 10 tahun kedepan kami janji kembali kesini. Biarlah benda bersejarah ini menjadi saksi bisu “Sebuah legenda 5 sahabat di rumah kost ini.”
Mungkin hanya ini yang bisa kami tinggalkan untuk suatu hari nanti bisa kami kenang di kala usia sudah senja.
“Kami 5 sahabat sejati berjanji; Takkan saling melupakan meski jarak akan memisahkan.”
Nggak kerasa, sekarang waktu udah nunjukkin jam 2 siang. Dan saat ini kami sudahi permainan dan hendak mandi membersihkan badan. Hari ini sungguh melelahkan, tapi masih banyak lagi kegiatan yang harus kami lakukan sampai menjelang malam.
Ceritanya; Sekarang kita-kita udah mandi dan berpakaian rapi kini. Lalu apa lagi yah yang harus kita lakuin  saat ini?  Oh iya … kami belum  makan siang! Jadi sekarang rencananya aku dan Wulan masak berdua lagi di dapur: “Duch senengnya deh bisa selalu deket sama Wulan sepanjang hari ini.”
Tadi pagi aku dan Wulan  sudah masak menu Capcay dan sayur-sayuran  yang lainnya. Dan sekarang ini kita mau ganti menu masakan yaitu; Semur jengkol kesukaan Nui, balado tempe pedas kesukaan Fikri, (tuum peda) plus sambel goreng kesukaanku, sedangkan Wulan kali ini dia pengen makan sama pepes ikan mas super pedas hasil tangkapannya.
Aku dan Wulan sekarang sudah siap masak, mudah-mudahan hidangan kali ini lebih lezat dari hari-hari biasanya. Tapi aku sih nggak ngeraguin kalihaian Wulan dalam memasak, soalnya dia jago banget dalam bidang ini. Secara Wulan itu adalah sosok seorang perempuan perfect idaman para pria gitu loh! Wulan itu ngingetin aku pada sosok ibuku, dan aku harus akui bahwasanya aku sangat mengagumi dia akhir-akhir ini.
Duh kayaknya aku udah ngomong ngelantur nih, udah ah jangan diterusin lagi entar Nisa cemburu kalau ngebaca halaman ini, hehehe… pede banget yah gue.
Cerita berikutnya; Sekarang aku dan Wulan udah beres masak dan semua makanan udah siap disantap. Berhubung hari ini Ultahnya Nui jadi kami mulai sekarang bikin tradisi kalo hari ini tuh Nui boleh jadi Ratu dan kami budaknya. Mulai detik ini Nui berhak memerintah apa pun pada kami selama itu tidak melanggar norma-norma dan etika.
Pertama-tama Nui pengen makan sama lauk pauk yang dia kehendaki tapi kayaknya dia malah nyoba semua makanan yang ada di meja makan, kami sabar soalnya ini udah perjanjian kami sama Nui.
Yang kedua, Nui pengen di pijitin dari mulai kepala, pundak, tangan dan kakinya. Awalnya kita sempat nggak mau tapi berhubung ini masih Ultahnya Nui jadi kami nurut aja asal dia bisa bahagia di hari paling istimewa buatnya ini.
Ya... akhirnya sore ini aku makan dikit deh, soalnya Nui hampir embat semua makanan yang ada di meja. Tapi gimana pun juga aku harus sabar karena Nui layak bahagia di hari ini paling tidak cuma sehari ini.
Udah beres makan plus mijitin Nui, kami berencana pengen rental musik malam ini. Tapi sebelumnya sekarang kami mau latihan bareng dulu biar gak gugup lagi kalo udah ada di ruang musik nanti.
Sekarang kita udah ngumpul di kamarku; Nui lagi main gitar, Wulan maenin piano kecil, Fikri yang maen bassnya, Rubi lagi diem bengong kayak dongo sementara aku maen gitar ngikutin petikan Nui. Sekarang baru deh kami siap buat bawain lagu-lagu yang udah populer di dalam negeri.
“Ehh… sekarang kita mau nyanyi genre musik apa yah enaknya,” ucap Rubi.
“ehmm… gimana kalo kita masukin musik Rock and Roll di band kita ini, biar metal coy; Terus entar kita bawain lagu-lagunya Slank, BIP atau biar lebih cadas lagi kita bawain lagu dari Metalica, Sepultura atau Aerosmith,” ucap Nui.
“Ah nggak mau ach… khan disini aku yang nyanyi jadi aku juga dong yang berhak nentuin, pokoknya aku pengen bawain lagu-lagunya band Cokelat aja,” ucap Wulan.
Lalu kemudian Fikri menyelang: “Ihh… aku tuh pengen lagu-lagunya dari Linkin Park aja, pokoknya aku nggak mau ikutan kalo kita nggak bawain lagu dari Linkin Park, Titik.
Akhirnya semua anak-anak pada manyun karena ternyata aliran  musik favorite kita tuh beda-beda banget. Sementara aku sih nggak terlalu  mempersalahkan semua ini, apalagi Rubi cuman diem aja karena dia sih nggak begitu tau musik jadi dia juga  bisa ikut kemana aja yang anak-anak mau.
                     ***
Lalu jalur musik apakah yang akan dianut Band kita ini?
Sementara 2 bulan lagi akan ada acara Perpisahan Sekolah dan Nui bermimpi bisa manggung bersama Band ini di acara tersebut. Sebagai acara perpisahan sekolah dan perpisahan bersama kami semua.


 Kunjungi juga:



B e r s a m b u n g …

4 komentar:

  1. Bagus tuh, cakep tuh ceritanya... jd inget cerita cinta SMA...

    BalasHapus
  2. Nostalgia persahabatan thn 2005an, isi hatinya jujur, ngena buat d baca, jd penasaran cerita selanjutnya...

    BalasHapus
  3. Baguss alur ceritanya..
    Ditunggu kelanjutannya..

    BalasHapus
  4. Terimakasih untuk support nya, mari berkarya...

    BalasHapus

anudatar.blogspot.com kekasih terakhir 2 eps 4 : indekost

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

  Wasiat Sang Penyair                CATATAN AKHIR   TAHUN 2006                                                                   SURAT ...