Indekost
Kepada Nisaku: “Aku ini teramat sangat-sangat dan sungguh-sungguh
menyayangimu setulus hatiku. Bahkan aku tidak ingin berhenti beranjak dari
hatimu meski tak kau inginkan kehadiranku di setiap mimpi-mimpimu. Harus
bagaimana lagi Nisa agar kau mengerti bahwa aku tidak bisa hidup nyaman tanpa melihatmu
disisiku walau sekali saja di dalam seminggu. Malah kau selalu saja pergi
bersama kekasih barumu dan tega biarkan aku sendiri terjebak sepi di malam
hari.
Lalu saat itu
hari terakhir aku berusaha meninggalkanmu, membawa satu rahasia yang terjadi sesungguhnya
dibalik dari kepergianku. Selamat tinggal Nisa perempuanku, itu ucapku dan kau
hanya diam saja tanpa kata-kata. Kau takkan pernah merasa kehilanganku untuk
itu biarlah aku yang mencoba meninggalkanmu, agar kau tahu bahwa aku sudah
teramat lelah untuk menunggumu dan agar kau tahu bahwa aku ingin melepas semua
penderitaanku yang bodohnya mencintaimu–tanpa dicintaimu.”
Disatu sisi cerita: “Keluargaku sekarang sedang dilanda masalah besar.
Memang bukan satu hal yang baru bagiku bahwa ibuku selalu terserang bathin
karena kelakuan bejad ayahku sendiri hingga Ibu terkena penyakit stroke saat
ini.
Sejujurnya aku
tidak ingin menceritakan tentang masalah keluargaku di dalam buku ini karena
itu sama saja aku akan membuka aib keluargaku sendiri. Tapi bagaimana pun
justru buku ini adalah perjalanan hidupku, bercerita tentang kisah kasih cintaku
beserta kesedihan terpendamku.
Hanya saja
bisa aku ceritakan ini dengan singkat tentang apa yang menimpa keluargaku
saat-saat ini:
Di mulai dari
tentang ayahku: Bagiku sosok seorang Ayah itu tidak aku dapatkan sedikitpun
darinya. Dari semenjak aku kecil ayah tak pernah ada disisiku saat ku bersedih diejek
teman sepermainan, menangis tertusuk duri atau terjatuh saat belajar
mengendarai sepeda. Malah sejak ku kecil itu, ayah sering menyiksaku karena
buat adikku menangis, dia cambuk kakiku dengan tongkat kayu dan dia pukuli aku
tanpa ampun. Sampai sering kaliku menangis menahan sakit di sekujur tubuhku ini
bahkan luka darah mengalir lewat wajahku, badanku serta kakiku.
Sampai sekarang
pun Ayah tidak pernah berubah. Bukan hanya aku saja yang dari dulu disiksa tapi
ibuku juga sering teraniaya.
Sementara bila
kita bicara tentang Ibuku: Bagiku ibuku adalah seorang bidadari berhati emas
dan hanya darinya ku diajari mengenali dunia.
Aku ingat saat
itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar–Ibu selalu membuatkanku nasi goreng
kecap telor 2 mata sapi kesukaan aku sebagai bekal istirahat di sekolah.
Aku juga ingat
setiap aku di pukuli ayah sewaktu kecil ibu selalu ada untuk melindungi aku, relakan
tubuh lemahnya tercambuk juga demi mempertahankanku.
Dan hari ini
hal itu terulang kembali tapi bukan aku yang disiksa ayah melainkan ibuku yang
sering dianiaya akhir-akhir ini.
Betapa
bodohnya aku karena aku telah membiarkan ibuku bersedih seorang diri di rumah.
Sementara aku harus tinggal kost jauh darinya tanpa bisa lagi melindungi dan juga
menemaninya.
Tapi alasan
kenapa aku bisa kost karena perekonomian keluargaku sedang kacau. Aku bahkan
terpaksa menjual sepeda motorku tuk menghidupi kami semua dan biaya sekolah
kedua adikku. Karena aku sudah tidak punya kendaraan lagi sementara sekolahku
berjarak 16km akhirnya aku harus hemat untuk hidup kost atau aku bisa saja
berhenti sekolah karena sudah tidak ada biaya.
Aku sedih dan sangat sedih sekali, aku larut dan sangat kalut sekali,
aku menangis dan sangat deras sekali. Pertama aku harus rela kehilangan Nisa
sebagai penyemangat hidupku karena aku sudah berjanji tuk tak mengganggu
hidupnya lagi. Kedua aku tengah mendapatkan Ibu sudah mulai susah melangkah dan
berjalan seperti kakinya bagai di pasang rantai 100 ton pemberat sampai susah
bergerak.
Saat itu
akupun tahu bahwa ayahlah yang harus bertanggungjawab akan hal ini. Demi
melindungi Ibu aku selalu bertengkar dengan ayah. Aku tidak takut lagi pada
ayah karena aku sekarang sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi seperti dulu
yang disiksanya.
Aku mulai
sering bolos sekolah hanya untuk menjaga Ibu di rumah karena penyakit stroke
Ibu makin bertambah parah. Sementara aku juga mulai sangat jauh dari Nisa mungkin
sekarang dia sudah tidak peduli lagi padaku. Tapi itu tidak aneh karena memang
dari dulu pun Nisa tak pernah sedikitpun peduli padaku.
Disamping itu
ayahku jarang pulang dan memberi nafkah pada kami sekeluarga seakan ayah tidak
peduli lagi. Sementara barang-barang elektronik di rumah sudah di jual untuk
biaya makan kami sehari-hari.
Kedua adikku
pun kini menjadi liar luar biasa tak terkendali. Yang kesatu adikku Indra mulai
coba memenuhi badannya dengan tattoo permanent, dia suka mabuk-mabukan, menjadi
pengedar ganja dan selalu gonta-ganti wanita. Padahal Indra saat ini baru saja
kelas 1 SMA dan usianya baru 15 tahun. Adikku yang kedua Dimas dia mulai pasang
tindikkan di telinga, sering berkelahi di sekolah dan mulai merokok didepan
umum meski dia itu baru kelas 1 SMP dan usianya hanya 12 tahun.
Sementara
sebagai anak pertama Ibu aku hanya bisa bersedih melihat adikku seperti aku
yang dahulu, yang sama-sama frustasi hadapi kenyataan keluargaku yang hancur
ini.
Dimalam ini aku ada dalam kegundahan, berjalan tanpa arahan, pikiranku
kosong tetapi seribu masalah sedang bermain di isi kepalaku.
Sadarkan lamunanku
di sudut kamar kostku: “Aku ulangi lagi,
aku memulai cerita ini pada Pukul 20:30 malam, hari minggu pertama di tanggal
01 Mei 2005. Tepatnya ini adalah malam pertama pula aku mengawali tidur di
kamar tempat kost ku.”
Sekarang aku
ingin menulis surat untuk Ibu dan mengabarkan keadaanku saat ini agar dia tidak
mencemaskanku. Aku akan berjanji padanya juga bahwa aku pasti bisa bertahan di
tempat ini, meski sudah jauh dari rumah.
Cibeber, Minggu 1 Mei 2005
Teruntuk:
Ibu di rumah
Dari :
Anakmu Angga
Ibu… saat ini
keadaanku baik-baik saja ternyata tempat kostku ini cukup bagus dan sepertinya
aku merasa nyaman tinggal disini. Orang-orang di rumah ini sangat ramah sekali
padaku, mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Disini aku
tidak sendiri, sebagai anak kost aku punya teman kost yang kebanyakkan masih
satu sekolahan denganku.
Baru saja aku
berkenalan dengan mereka bu dan mereka sangat perhatian sekali padaku. Awal
pertama kali aku datang kesini mereka sudah membantuku bawakan barang-barangku
yang berat ke kamar sekaligus merapikannya. Lalu satu persatu dari mereka ulurkan
tangan padaku sambil sebutkan nama. Aku sungguh tersanjung sekali bu teman
sekost perempuan disini cantik-cantik loh tapi anehnya meskipun mereka satu
sekolah denganku kok aku baru melihat dan mengenal mereka.
Yang pertama
mengenalkan dirinya, dia bernama Nurul (tapi biasa dipanggil Nui). Dia cantik
sekali loh bu seperti ibu waktu muda! Kalau nanti ibu sudah bisa berjalan lagi,
ibu datang kesini ya? Nanti aku kenalin sama yang namanya Nui pokoknya dia itu
cantik, putih, tinggi sekitar 165cm dan beratnya kira-kira 55kg. Dia kakak
kelasku di sekolah bu, dia itu anak kelas 3 SMA tetapi kelakuannya masih
kekanak-kanakkan juga.
Selain Nurul,
ada yang bernama Wulan. Dia itu anaknya anggun sekali, murah senyum dan keibuan
banget kayaknya bu. Meskipun Wulan adik kelasku dan baru kelas 1 SMA tapi dia
dewasa banget loh bu! Ibu pasti penasaran sama anak yang namanya Wulan (aku
kasih tahu ciri-cirinya ya bu). Wulan itu rambutnya lurus hitam kemilau dan
panjang bu, warna kulitnya sawo matang lalu tingginya kira-kira 160cm dan berat
dari badannya mungkin 50kg, bibirnya itu mungil dan hidungnya mancung (pokoknya
lucu banget deh). Apalagi Wulan ini sangat beda banget sama Nui, kalau Wulan
terlihat anggun dan feminim tapi justru Nui sebaliknya (Nui itu tomboy bu, dari
gaya atau penampilannya aja udah kelihatan kok bu).
Tetapi selain
kedua cewek-cewek cantik teman sekostku itu, ada juga cowoknya disini. Yang
pertama namanya Fikri, dia itu adalah anak kelas 1 SMA adik kelasku. Kata
teman-teman yang lain Fikri itu anak jenius sampai-sampai Nui iseng memanggilnya
si manusia kamus. Awal aku melihatnya juga aku sudah yakin kalau Fikri itu anak
pintar. (Ibu lihat aja nanti dari penampilannya, matanya sipit dan pakai kacamata
tebal super minus lalu gayanya agak norak tetapi cara bicara sungguh
terjaga–nggak kayak Nui asal bunyi dan celabakkan).
Tapi temanku
yang terakhir ini lebih lucu dari semua anak kost yang ada disini, namanya Rubi
dan dia anak kelas 2 SMA satu angkatan denganku bu. Rubi itu pelawak paling
populer disini dan katanya dia yang selalu hangatkan suasana di tempat kost
ini. (Kalau Ibu lihat wajahnya aja, ibu pasti akan tertawa terbahak-bahak
hahaha). Ibu mau tahu gak ciri-cirinya Rubi?
Rubi itu katanya
anak laki-laki yang asal usulnya dari sebuah kampung sangat terpencil (Cidaun-cianjur
selatan, Jawa Barat) jadi kalau Ibu perhatiin logat bicaranya saja sudah pasti
tahu kok bu bahwa Rubi itu anaknya sedikit kampungan yang super norak. Sehingga
anak-anak kost yang lain suka ngeledek dengan cara ngikutin logat khas
daerahnya yang aneh kalau bicara. Tetapi meski pun Rubi menjadi bahan ejekan
dan tertawaan orang lain, dia nggak pernah marah malah ciri khasnya itu yang
buat Rubi jadi pelawak yang selalu menghangatkan suasana sepi di tempat kost
ini.
Selain itu
Rubi seringkali diledek karena warna kulitnya paling hitam dan juga bentuk
ekspresi wajahnya paling kocak diantara yang lain. (pokoknya aku senang dan
betah sekali tinggal disini bu jadi jangan khawatirkan aku lagi yah!!!).
Oh iya bu, aku
lupa tuk mendeskripsikan tentang suasana, fasilitas dan keadaan rumah kost ini
pada Ibu.
Fasilitas ditempat
kost ini cukup komplit, bagus, bersih dan juga rapi. Disini itu bentuk rumahnya
memanjang seperti huruf (L), kamar tidurnya ada 10 sedangkan kamar mandinya ada
2 (tapi airnya dari air sumur yang disedot pakai pompa listrik), udah gitu
disini juga ada tempat parkir mobil (yang bisa menampung 3 mobil karena Ibu
kost disini juga ternyata juragan angkutan umum). Selain itu Ibu kost membuka warung
dagangan kecil-kecilan tuk tempat kami biasa sarapan pagi dan makan sehari-hari
(ternyata warungnya ibu kost disini boleh ngutang dulu loh katanya bu… hehehe).
Oh iya aku
belum cerita tentang keluarga Ibu kost disini. Mereka punya 3 orang anak, dua
anak perempuan dan satu anak laki-laki. Anak pertama mereka seorang laki-laki
yang usianya 4 tahun lebih tua dariku, namanya Dedi dan dia sudah bekerja
sebagai montir bengkel di sebuah perusahaan deller motor di kota. Yang kedua
anak perempuan bernama Sulastri yang sekarang baru kelas 1 SMP. Dan yang
terakhir namanya Irma, dia adalah anak perempuan yang paling bungsu (usianya
baru 4 tahun tapi dia udah lincah sekali loh bu …).
Pekerjaan Ibu
kostku itu menjaga warung dagangannya setiap hari sementara suaminya bekerja
sebagai supir angkutan umum dengan mobil kepunyaannya sendiri.
Ada yang menarik dari tempat kost ini. Selain di huni oleh 5 pelajar anak kost, ada seseorang
yang kost disini tetapi dia bukan seorang pelajar dan bukan seorang pemuda. Aku
tidak tahu siapa namanya tapi yang pasti semua orang disini itu memanggilnya
(Abah). Tadi aku juga sempat berkenalan dengan dia dan ternyata dia orangnya
menyenangkan bu. Dilihat dari perawakannya dia berumur sekitar 50 tahunan,
meskipun sudah sedikit tua tapi ternyata dia punya selera humor yang tinggi dan
terkadang candanya kekanak-kanakkan.
Ketika dia
bicara padaku, aku baru tahu bahwa ternyata Abah itu bukanlah salah satu
penduduk kota ini. (Dia sudah beristri dan beranak angkat satu yang bertempat
tinggal asli di kota Sukabumi. Dia kost disini karena dia buka bengkel service
motor di seberang jalan tempat kost ini. Abah pulang seminggu sekali, biasanya
Abah pulang setiap hari Jumat dan hari raya saja) katanya.
Jadi jumlah semua
penghuni yang tinggal di rumah ini ada 11 orang bu dan mereka biasa menyebut
tempat kost ini dengan panggilan (Rumah Ceria). Kalau nanti Ibu sudah bisa
jalan dengan normal lagi dan ingin jenguk aku kesini, aku ada di kamar paling
depan nomor 1 (kamarku itu ada didekat pintu masuk utama).
Mungkin itu
saja surat pertamaku untuk Ibu dan aku harap Ibu tak mencemaskan lagi keadaanku
saat ini (karena disini aku baik-baik saja). Aku berjanji tidak akan mengkhianati
kebebasan yang sudah Ibu berikan padaku. Dan semoga keberadaanku yang jauh dari
Ibu ini bisa buatku lebih dewasa dalam berbuat dan bersikap, lebih amat sangat mandiri
dalam mengerjakan sesuatu dan bijaksana di dalam menghadapi masalah hidup.
Jika nanti ibu
perlu apapun dan butuhkan aku tuk segera pulang. Ibu bisa menghubungi nomor
Handphone teman sekostku Rubi (nanti aku sisipkan nomornya di surat ini ya bu
…).
Tertanda,
Anakmu Angga Nudatar
***
Tak terasa selesai juga surat yang kubuat untuk ibu dan aku mulai
bingung apalagi yang harus aku lakukan sekarang ini (Pukul 23.45) sementara aku
susah tidur malam ini.
Coba kalian
bayangkan suasana di kamar tempat kostku ini. Kamarku ukuran 3x3 meter dengan
cat berwarna ungu polos yang sebagian ku hiasi dengan lukisan buatanku,
lantainya ku lapisi dengan karpet miliku berwarna biru dan kasurnya sangat
tipis sekali (tebalnya hanya sampai 4cm dengan warna merah tua). Disudut kamar
hanya ada sebuah lemari kecil ukuran 1x1 meter untuk tempat penyimpanan bajuku.
Sedangkan untuk hiburanku sehari-hari hanya ada sebuah radio compo kecil (dan
itu adalah hadiah ulang tahun yang ke 10 dari Ibu dulu). Sekarang kalian pasti
sudah bisa bayangkan situasi kamar kostku. Aku sengaja tidak bawa semua
barang-barangku yang ada di kamar rumahku termasuk kasur empukku itu, karena
aku (semenjak memutuskan untuk kost) sudah berniat untuk hidup susah, siap menderita
dan meninggalkan semua fasilitas yang kupunya.
Suasana
kamarku saat ini begitu hening, yang terdengar hanya detak suara mesin jam dan
nyanyian jangkrik dimalam hari. Selain itu akupun bisa mendengar suara nyamuk-nyamuk
yang menari menggoda. Mereka beterbangan menyerupai suara helikopter atau jet
tempur yang menyerangku (dengan torpedo, amunisi dan roketnya) tanpa ampun.
Hingga di seluruh kaki dan tanganku meronta-ronta saat mereka mendarat di kulit,
menyuntikku dengan jarum, menghisap darahku lalu pergi meninggalkan serum racun
(senjata pamungkasnya) di lubang pori-poriku. Tapi ku tak begitu saja diam
tanpa lakukan sebuah perlawanan. Akupun berdiri, dengan wajah kesal kuajak
mereka berkelahi. Aku tepukkan kedua tanganku tuk menghimpit nyamuk nakal itu
hingga remuk dan satu per satu kubunuh mereka tanpa mengenal kasihan. Tetesan
darah mereka berceceran menghiasi tanganku dan kemudian kujilat darah mereka
agar kembali menyatu dengan darahku yang tadi mereka ambil dari tubuhku.
Kini semua nyamuk-nyamuk
itu sudah mati dan tidak ada lagi yang berani menggoda dan mengejekku. Sekarang
aku pun bisa tidur tenang, ku matikan lampu kamarku lalu ku pejamkan mata dan
ku mulai tertidur perlahan.
Pagi begitu
cepat kembali atau entah aku yang terlambat tidur tadi malam. Aku masih
tersesat di alam mimpi serentak terbangun mendengar suara ketukkan di balik
pintu kamarku. Dia (Ibu kost) memanggil namaku dengan nada membangunkanku dan
seperti inilah yang kudengar: ”Angga… (sambil ketuk pintu kamarku) cepetan
bangun!! salat subuh dulu gih entar keburu kesiangan”. Sementara aku tersentak
bangun langsung menjawab: “Iyah Ibu Angga sudah bangun,” gumamku.
Mataku yang
masih terpejam perlahan kubuka. Dan dengan gontai ku berjalan untuk
menghidupkan lampu kamarku, kulihat jam dinding menunjukkan Pukul 05:00 pagi.
Tapi meski langit masih gelap disini suasananya sudah nampak ramai.
Apalagi teman
satu kostku (ada di kamar sebelah) Rubi Versus Nui yang sudah pada
teriak-teriak mirip ayam jago padahal masih pagi buta tapi mereka sudah pada
bertengkar kayak kucing dan anjing saja. Tapi meski pun begitu mereka telah
berhasil buatku tertawa karena aku sungguh tak tahan lihat kelakuan mereka yang
kayak anak kecil saja.
Pagi buta ini
pun terlihat lebih indah kala canda tawa mulai mewarnai suasana. Akhirnya
kitapun salat subuh berjamaah di ruang tengah. Aku yang masih agak jaim (jaga-image) dan pendiam
mulai mereka goda. Mereka semua merayu supaya aku mau jadi imam (pemimpin
salat) karena aku termasuk anak baru disini. (Kata mereka sih ini sudah jadi
tradisi siapa anak kost cowok yang baru masuk kesini harus jadi imam salat
selama sebulan sementara anak kost cewek baru masuk harus masak selama seminggu
untuk anak-anak kost yang lain).
Ya karena ini
sudah jadi tradisi mereka maka aku terpaksa untuk menurut saja. Selain harus
jadi imam salat selama sebulan aku juga harus menyapu, mengepel dan
membersihkan rumah selama seminggu.
Setelah kami
salat subuh berjamaah dan semua orang kini mulai sibuk dengan kegiatan
masing-masing. Aku lihat Rubi sedang bantu Ibu kost membuka tempat warung
dagangnya. Sedangkan Wulanpun dengan sifat keibuannya sedang masak nasi goreng
untuk sarapan nanti sebelum kami berangkat kesekolah. Sementara Nui lagi asyik
membersihkan ruangan sambil mendengar radio di handphone pakai headset di
telinganya.
Sudah tidak
aneh kalau Nui disini adalah satu-satunya anak kost yang paling gila dan gokil
abizzz pake 3z. Sambil dengarkan musik dan menyapu rumah dia pun bernyanyi
lantang sekali dengan khas suara sumbang bin falsnya dia bernyanyi penuh
percaya diri.
Tetapi di sisi
lain Fikri sang anak paling jenius punya kegiatan sendiri yang agak aneh: Coba
kalian bayangkan, dia bisa kuat bertahan selama 40 menit berada di kamar mandi.
Entah apa yang dia lakukan tapi kata anak-anak yang lain seraya bercanda
berkata: “Fikri itu sudah biasa lama di kamar mandi bahkan terakhir ini dia
sudah berhasil pecahkan rekor MURI sebagai manusia yang mandinya paling lama
seantero bumi,” gumam Nui.
“Mungkin
sekarang Fikri sedang bertapa atau ganti kulit di kamar mandi,” ucap Ruby.
Tapi tidak
lama Nui menyela: “Mungkin saja sekarang dia lagi ngitung berapa jumlah tetes
air yang ada di bak pakai ilmu fisikanya, soalnya dia khan jenius banget he..he..he”.
Kemudian Abah
keluar dari kamarnya yang dekat kamar mandi itu sambil membawa handuk berwarna
kuning yang dia kalungkan, dan meneteng ember kecil untuk tempat penyimpanan
sabun, pasta gigi, shampoo dan sikat gigi miliknya. Dia perlahan sudah ikut dalam
kerumunan dengan kami yang sedang membicarakan Fikri di depan kamar mandi. Abah
pun angkat bicara dan mulai argumentasi ingin tandingi pendapat-pendapat kami
yang sedang menebak “ Apa yang sedang dilakukan Fikri di dalam kamar mandi
hingga 45 menit lamanya?” dan abahpun beragumentasi seperti ini: ”Fikri itu
sekarang lagi tidur sambil buang air besar, coba aja sekarang kalian bangunin”.
Dengan rasa
tak begitu percaya kami pun serentak bangunkan Fikri dengan mengetuk-ngetuk
pintu kamar mandi sambil memanggil lantang namanya. Kemudian terdengar suara
air yang menyirami closet lalu tidak lama itu keluarlah Fikri hanya kenakan
handuk warna biru dan berkata: ”Sorry ya, euh tadi aku habis mandi langsung
kebelet mau buang air besar, terus… (ketiduran lagi dech), kami serentak
memotong pembicaraannya.”
Akhirnya
setelah Fikri keluar dari kamar mandi, kami pun (Wulan, Nui, Rubi, Abah dan Aku)
saling berebut pengen mandi duluan (karena waktu saat ini menunjukkan pukul
06.35 menit) dan kami takut kesiangan pergi ke sekolah.
Mereka berempat
itu (Wulan, Abah, Nui, Rubi) saling dorong-dorongan untuk bisa lebih dulu masuk
ke kamar mandi sedangkan aku mengalah karena aku cukup tahu diri (aku khan
masih anak baru disini).
Sebenarnya
kamar mandi disini ada 2 dan yang satunya lagi ada di dalam kamar Ibu kost tapi
kamar mandi itu pun khusus untuk keluarga mereka. Hey… coba sekarang kalian
lihat mereka disana, Nui hampir selangkah lagi memasuki kamar mandi tapi sulit
sekali untuk melangkah sementara Abah yang ingin masuk kamar mandi malah di dorong
oleh Nui dari arah depan dan tangan Abah juga ditarik oleh Wulan dari arah belakang. Hingga tidak ada
satu pun yang berhasil memasuki kamar mandi dengan mudah.
Aku hanya bisa
diam saja di belakang menyaksikan kelakuan mereka dan sesekali aku tertawa
terbahak-bahak karena tidak tahan melihat tingkah kekanak-kanakkan mereka.
Di akhir
cerita, rupanya Nui menguasai strategi jitu. Dia mengeluarkan jurus ampuh yang
dia beri nama ‘Jurus Menggigit Anjing’ dengan cara mencoba menggigit tangan
Rubi yang sedang memegang tangannya hingga dia sulit untuk melangkah.
Setelah itu Nui
berhasil meloloskan diri dari cengkraman Rubi dan akhirnya dia bisa memasuki
kamar mandi lebih dahulu dari yang lain. Kemudian Nui tertawa-tawa menyambut
kemenangannya itu di balik pintu kamar mandi yang sudah dia kunci sedangkan
yang lainnya pada dongkol menyalahkan
Rubi yang gagal menahan Nui sehingga bisa masuk ke kamar mandi dengan mudah.
Lalu satu persatu
dari mereka pun selesai mandi dan sekarang giliran aku yang terakhir mandi. Setelah
itu aku melihat yang lainnya sedang sarapan pagi bahkan sudah siap untuk
berangkat ke sekolah. Meskipun kami ternyata satu sekolah tetapi sepertinya yang
lainnya pun punya kesibukan masing-masing dan tinggal aku yang sedang sarapan
kini. Tapi tak apalah bila mereka tak mau berangkat sekolah bareng denganku karena
aku sendiripun masih merasa canggung belum terlalu dekat dengan mereka.
Ketika aku
selesai sarapan pagi, waktu menunjukkan Pukul 7 kurang 5 menit dan aku pun
pamit pada Ibu kost tuk berangkat sekolah karena takut kesiangan. Jarak antara
sekolah dengan rumah kostku hanya berkisar 100 meter dan kalau pun berjalan hanya
memakan waktu sekitar 5 menit saja.
Kini aku mulai
berjalan sendirian menuju sekolah, kalian tahu apa yang ku rasakan saat ini?
Setiap aku melangkah kakiku bergetar, wajahku pucat lesu, mataku merah berair,
bulu kudukku berdiri serta pori-pori yang terbuka. Sementara bibirku terkunci
seakan tidak dapat bicara dan pikiran melayang ingatkan orang-orang yang kusayang
(Anisa dan Ibu… aku sangat merindukan mereka saat ini, andai saja mereka juga
merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini).
Aku teringat
perkataan ibuku sebelum aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggu hidup Nisa
(ketika itu aku hanya memintanya mencintaiku) sedangkan ibukupun sendiri tahu
tentang perjalanan kisah cintaku dari awal ku bertemu dengan Nisa. Sementara Ibu
waktu itu hanya berkata selayaknya perempuan biasa padaku: “Anak perempuan itu semakin kamu kejar semakin dia berlari jauh dari
kamu, karena kamu telah memberikan rasa tidak aman kepadanya…!”
Iya sih, apa
yang Ibu katakan waktu itu ada benarnya juga. Mungkin aku yang terlalu respect
pada Nisa dan terlalu proteksi karena takut kehilangannya walau sebenarnya aku
itu bukan siapa-siapa dia dan bagi dia aku hanya seorang TEMAN BIASA.
Aku begitu
menjadi gila karena Nisa, aku tidak tahu apakah sekarang aku masih bisa
bertahan tanpa kehadirannya lagi? Padahal selama 5 tahun aku hidup dalam
lingkungan hatinya, berjuta hari ku habiskan waktu hanya untuk memujanya.
Sungguh ini tak adil bagiku selama itu ku menunggunya dan hanya dengan sehari
harus hancur semuanya. Hidupku terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan
yang salah karena itulah aku selalu menganggapmu (Nisa) sebagai pilihan yang
tepat dan aku tak menyesal menghabiskan seluruh waktuku yang singkat (bersamamu
Nisa) hanya denganmu.
Aku masih disini
berjalan sendiri menuju sekolah tetapi mengapa perjalanan ini buatku resah. Tak
tersadar air mataku terjatuh saat terbayang wajah-wajah orang yang kusayang di rumah,
jauh disana. Kata orang jaraknya 16 km dari sini, kalau naik motor hanya
memakan waktu 40menit tapi kalau naik angkutan umum bisa saja mencapai 1 jam
perjalanan. Aku juga tak mengerti mengapa kubisa terdampar disini, mengapa sekolahku
jauh sekali dengan rumah?
Sebenarnya ada
berjuta alasan mengapa aku mau sekolah di tempat yang jauh ini? Yang paling
utama aku ingin melupakan orang-orang yang pernah kukenal di kotaku dan salah
satunya adalah Nisa. Waktu pertama kali aku ingin melanjutkan ke SMA, yang
terbayang dibenakku adalah ingin pergi sejauh mungkin ke kota terpencil dan
mencoba untuk hidup baru (seperti bayi yang baru lahir) lalu menjalani hari
bersama orang-orang yang tak pernah kulihat sebelumnya. Apalagi kota kecil ini
(Cibeber) sungguh indah sekali, banyak ketenangan dapat ku rasakan serta
kedamaian hati yang mampu merubah gelapnya sisi hidup ini.
Coba kalian
bayangkan kota terpencil ini (Kecamatan Cibeber 13km dari pusat Cianjur)
terkenal akan kecantikan alamnya yang belum terjamah oleh sebagian orang kota.
Tempatnya di kelilingi pegunungan dengan panoramanya yang menakjubkan. Apalagi
sekolah (SMAN I Cibeber) yang lokasinya tepat berada 30 meter di bawah sebuah
induk pegunungan bernama ‘Gunung Gombong’.
Sepertinya aku
tak akan begitu banyak menceritakan tentang keindahan alam yang mewarnai
sekolahku ini. Karena aku sendiri yang terdampar selama 2 tahun di tempat
ini tak mampu ungkapkan betapa
menyenangkan bisa sekolah disini. Banyak kenangan manis yang telah terukir di
tempat ini bahkan di saat ku jenuh untuk belajar aku selalu kabur dari kelas ke
arah bukit yang berada di belakang sekolahku ini. Diatas bukit itu aku selalu
teriak sekuat tenaga untuk melepas semua masalah yang amat berat membebaniku.
Aku tak malu meskipun harus teriak-teriak
seperti orang gila karena disana tak ada satu pun orang bisa mendengarkan.
Bukit itu sangat tinggi dan cukup jauh dari rumah penduduk dan aku merasa
sangat aman meski harus menangis sampai tersedu-sedu disana.
(Jika kalian
tidak percaya dengan apa yang ku katakan tentang keindahan alam di lingkungan
sekolahku, kalian lihat saja di filmku “TKC” di Channel Youtubeku Angga Nudatar disana sudah terekam suasana
frame-background yang cantik berupa daun-daun yang hijau, hutan-hutan yang
lebat, pohon-pohon yang rindang, udara sejuk serta angin yang berhembus
menyegarkan).
Kita kembali lagi ke pokok adegan saat aku berjalan menuju sekolah di
pagi pertama aku berstatus sebagai anak kost. Setelah 5 menit kemudian sejak
kupamit pada Ibu kost untuk berangkat sekolah akhirnya aku sampai juga di depan
gerbang sekolah di waktu angka 7 pas. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi seakan
menyambutku sebagai tamu agung di awalku menjadi anak kost. Sedangkan aku masih
disini di depan gerbang dan kupandang sekeliling sekolahku seakan berbeda hari
ini, kutarik napas panjang ku pejamkan mata dan kubuang napas perlahan sambil
melangkah menuju kelasku, aku siap.
Hari ini hari
Senin, 2 Mei 2005 dan itu berarti saat ini aku pun harus siap-siap untuk
mengikuti upacara bendera. Sebenarnya jujur aku tidak suka dengan acara hari
ini, I hate Monday. Tapi bagaimana pun juga aku harus melewati pagi ini dengan
muka yang ceria dan sedikit tebar pesona.
Karena ini
adalah hari baru bagiku, bagai pena yang baru diisi tinta dan aku harus menulis
jalan hidupku menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin. Tentunya satu hal
yang kini harus ku sadari bahwa esok, lusa atau bahkan tahun depan aku tak akan
bertemu dengan Nisa lagi. Karena aku harus buktikan kepadanya tentang janji
yang pernah kuucap (bahwa aku takkan pernah mengganggu hidup dia lagi). Walau
sesungguhnya aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi tapi inilah yang
terbaik untukku dan juga untuknya.
Berjam-jam
berlalu dari upacara bendera tadi pagi tapi itu tak cukup membuatku sadar bahwa
waktu itu terus berputar.
Sekarang ini
Guru sedang menceramahi murid-muridnya seperti menghakimi dirinya sendiri bahwa
dia sudah merasa pintar untuk mendidik orang lain, bicara ilmu pengetahuan
tentang filosofi arti kehidupan atau filologi naskah kematian. Kalau boleh
jujur aku sangat membenci sekolah dan terlebih lagi ku begitu melaknat semua anak
bajingan seperti mereka-mereka yang tidak peduli padaku. Sekolah itu lebih
tolol dari kebodohanku dan mereka yang katanya kawan itu lebih bejad dari
kelakuanku.
Selama ini
sekolah tidak bisa memberiku apa-apa kecuali kemunafikan seorang guru dan kebiadaban
seorang pelajar tak berguna yang tak mampu memperbaharui kehidupan mereka lebih
baik. Sekolah itu pun adalah tempat bagi berkumpulnya orang-orang dungu bertopeng
ijazah dan tempat berkerumunnya orang-orang bejad yang berilmu rendah. Aku
dapat bersaksi bahwa yang namanya pahlawan tanpa tanda jasa itu sudah punah
sejak di awal bangsa ini bobrok oleh para koruptor berhati busuk. Kini zaman
sudah berganti dan generasi pahlawan tanpa tanda jasa itu banyak terbuang
tersingkir oleh kebutuhan uang.
Aku merasa di
sudutkan kenyataan, aku sudah muak menjadi makhluk lemah dan kalian pikir aku
tidak bisa berontak. Kalian salah bila menganggapku seekor kutu biasa, karena
kubisa sakiti kalian dan bersembunyi di semak-semak rambut kalian.
Di saat ini
salah satu anjingpun sedang menggonggong padahal aku lebih wangi dari kebusukan-kebusukan
dia dari ketimbang apa yang dia teriakan kepadaku.
Kalian tahu
apa yang aku lakukan setiap guru-guruku mengajar? Aku selalu menonton film di
dalam pikiranku bahkan ketika aku terlalu jengah kukabur dari pelajaran dan
pergi ke tempat yang sunyi sepi. Aku lebih banyak menghabiskan waktu sekolahku
berada di luar kelas daripada harus menjadi salah satu orang goblok yang di bodohi
mereka-mereka yang mengaku orang pintar dan bijak itu. Padahal mereka sendiri
diberi tahu oleh buku-buku yang sudah ada sejak dari dulu. Selain itu mereka tidak
pantas mendidikku menjadi baik jika mereka sendiri belum bisa mendidik diri
menjadi lebih baik karena yang aku tahu dia adalah koruptor kecil, bajingan
bertopeng dan penguasa busuk yang sering acuhkanku.
Di samping itu
aku pikir bahwa ilmu pengetahuan sudah tercipta sejak 2000 tahun sebelum Masehi
dan akan tetap ada 2 juta tahun kemudian. Jika orang-orang Eropa bisa
melahirkan ilmu biologi, geografi, matematika dan fisika mengapa kita tidak
bisa? Padahal kita sama-sama menusia yang berpikir pakai akal. Ilmu matematika
yang kalian pelajari itu sudah ada sebelum guru kalian dilahirkan. Jadi untuk
apa mempelajari ilmu yang sudah ada pada mereka jika kalian sudah pandai baca
dan menulis, tapi itu karena kita terlalu bodoh.
Sungguh
pelajar zaman sekarang lebih menyedihkan ketimbang Thomas Alfa Edison (siswa
yang paling bodoh di sekolahnya) tapi mampu menciptakan bola lampu yang kini bisa
kita nikmati cahayanya. Apa kalian tahu rahasia menjadi orang pintar yang
dikatakan Thomas Alfa Edison lewat bukunya? Dia hanya berpesan pada kita bahwa
semua orang bisa sehebat dirinya bahkan lebih jika kita bisa resapi
kata-katanya ini: “Rahasianya adalah…. 99% keringat dan 1% ilham.”
Lalu apa yang
kalian harapkan dari guru-guru kalian? Mereka yang sudah pintar saja tak mampu
memperbaharui ilmu pengetahuan yang sudah ada apalagi kalian yang hanya pandai
menulis dan membaca yang kerjaan sehari-harinya selalu mengcopy tulisan guru di
papan tulis tapi tak mengerti dengan apa yang kalian tulis di buku kalian
sendiri. Untuk itu jangan pernah mengandalkan guru jika kalian ingin pintar karena
sesungguhnya guru itu membodohi kalian. Semua yang guru ajarkan pada kalian
sudah ada di dalam buku, jika kalian sudah pandai membaca mengapa tak kalian
baca sendiri saja buku itu?
Dan inilah
yang perlu di garis bawahi: “Sebuah pemikiran kita sendiri membuktikan bahwa
pelajar sekarang malas tuk membaca.” Mereka cenderung menginginkan sesuatu yang
instant yaitu ialah menonton serta dengarkan guru menerangkan saja. Tapi apa yang kalian dapat
dari orang yang bicara banyak sementara kalian tidak sedikit pun mengerti apa
yang mereka katakan itu. Memangnya kalian bisa menangkap setiap dari kata-kata
yang guru terangkan? Ayo kita taruhan, paling-paling dalam waktu sehari apa
yang kalian dengar dan ingat itu akan hilang. Tapi berbeda dengan membaca buku,
bila kalian lupa maka kalian membacanya kembali dan bisa mengingatnya berulang
kali.
Ada sebuah kabar berduka menyelimuti keluarga para Novelis Indonesia dan
kuharap ketika kalian membaca kalimat di bawah ini harus mengheningkan cipta:
“Telah meninggalkan dunia ini sebuah
karya-karya milik Penulis berbakat Indonesia. Karena pada zaman ini semua pelajar
tak bisa membaca lagi. Aku pun tidak tahu apa alasan mereka (mungkin mereka
sudah jenuh belajar membaca atau memang mereka buta huruf tak kenal lagi
aksara).
Mari kawan galakan ‘Gemar Membaca’ mulai
dini karena dunia apabila tanpa kata seperti hidup tanpa napas.”
Kalian takkan
pernah mengerti seberapa pusingnya membuat sebuah buku atau novel sepertiku.
Ketika kalian harus terjun langsung ke dunia orang lain, menjadi karakter orang
lain demi bisa membuat sebuah cerita menjadi lebih hidup. Dan aku pun bisa
menjadi saksi di pengadilan imajinasi kalian bahwa orang yang paling pintar
bahkan jenius di bumi ini adalah ‘Seorang Penulis’. Mereka itu adalah seorang
yang berwawasan tinggi, berpengalaman luas (tentang cinta dan kematian) lalu bisa
hidup di dunia imajinasi orang lain (menciptakan satu karakter dalam karyanya)
serta yang terpenting lagi adalah dia bisa pahami setiap keinginan orang lain,
bisa mengerti apa yang orang lain mau.
Salah satu
alasan aku (indekost) jauh dari rumahku adalah ingin mencoba tuk mengerti arti
hidup. Asal kalian tahu sejak umurku 6 tahun hingga saat ini (17 tahun) aku pernah
hidup bersama 2 orang pembantu di rumahku. Aku tak pernah diberi kesempatan
untuk walau cuma mencuci piring kotor, mencuci bajuku sendiri apalagi memasak
untuk buat makanan sehari-hari.
Bahkan lagi
karena terlalu manjanya aku (apalagi sama Ibu) meski waktu itu umurku sudah 11
tahun tapi aku masih suka disuapin setiap mau makan sama Ibu, dimandiin pakai air
hangat setiap pagi apalagi yang lebih parahnya–aku masih suka ngompol di celana
waktu tidur malam hari hingga akhir umurku 12 tahun. Sungguh begitu banyak
kenanganku yang manis bersama Ibu semasa aku kecil, dan sekarang kalian tahu
sendiri keadaan ibuku saat ini seperti apa?
Terakhir orang
bilang (tepatnya 2 hari sebelum aku pergi dari kehidupan Nisa) bahwa Ibu
terkena sakit stroke yang bisa membuatnya lumpuh total seumur hidup. Bahkan
yang lebih parahnya lagi Ibu sudah tidak punya semangat hidup dan keinginan tuk
sembuh dari sakitnya. Dia sudah susah makan, jarang mau bicara dan wajahnya
pucat lesu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, di rahasiakan meski padaku–anak
kesayangannya sendiri.
Aku melihat
ada sebuah ketakutan yang begitu luar biasa di matanya. Aku bingung, sebenarnya
apa yang tidak aku ketahui dari masalah Ibu? Aku tahu di ujung lidahnya ada
sebuah kalimat rahasia yang ingin dia ungkap padaku tetapi anehnya dia seperti
sulit untuk mengeluarkannya.
*
* *
Kita kembali
lagi pada saat ceritaku di tanggal 26 April 2005, tepatnya lima hari yang lalu
(Saat aku pergi ke rumah Nisa untuk yang terakhir kalinya).
Andai saja waktu
itu Nisa tahu apa yang sedang terjadi menimpaku? Tapi aku begitu hebat untuk
menyembunyikan air mataku di depannya. Aku tidak mau terlihat lemah di
hadapannya dan aku berani meyakinkan hatiku bahwa semua ini kan berlalu. Dan satu
hal lagi yang kutahu meski pun aku menceritakan semua masalah hidupku pada Nisa
mungkin dia juga takkan sedikitpun mau peduli dengan semua yang terjadi padaku.
Maka aku akan terkena bencana kesedihan kedua, selain aku harus menanggung
masalah keluargaku sendiri dan akupun harus menambah jadwal menangis lagi
Karena Nisa tak mau mempedulikanku, tak mau pedulikan apapun yang terjadi pada
hidupku.
Haruskah aku
mati agar dia mau sudi menangisi dan menyesali karena sudah tega mencampakkan
kehadiranku di kehidupannya. Atau haruskah kubunuh seseorang tuk mencuri
perhatiannya agar dia mau melihatku dan mau mendengarkan pembicaraanku sekali
ini saja.
Lalu apalagi
yang harus aku lakukan supaya dia jatuh hati kepadaku? Sementara selama 5 tahun
aku menunggunya, aku selalu berharap bisa peluk erat tubuhnya, menangis tersedu-sedu
dan menceritakan penderitaanku padanya. Tapi memang dia terlalu indah untuk ku
miliki, itu sebabnya selama 5 tahun dia selalu menolakku saat aku ungkapkan
rasa di hatiku kepadanya.
Itu sebabnya
pula aku menjadi seorang penulis. Karena dengan menulis aku pun bisa mengungkapkan
rasa rindu berat yang selalu kupendam terhadapnya (Nisa).
Asal kalian tahu mengapa aku menjadi seorang penulis seperti ini?
“Karena menulis buatku adalah cara terbaik
untuk mencintainya (Nisa), cara aku mengagumi kecantikannya dan caraku untuk
mengungkapkan tentang semua keindahannya. Menulis juga menjadi caraku untuk
mengobati rasa rindu yang tak tersampaikan padanya, menjadi caraku berkhayal ketika
aku ingin memeluknya.
Maka dengan menulis akupun bisa jadi seorang
pahlawan menyelamatkan nyawanya, aku bisa membuat sebuah masa depan yang indah
bersamanya (walau tak nyata, walau hanya sekedar imajinasi belaka).
Tapi setidaknya dengan menulis aku bisa
menghibur hatiku yang sepi, aku bisa membalut luka yang tertusuk cinta
karenanya dan setidaknya juga aku bisa mati tenang.
Karena kisah
sedih dalam hidupku ini dapat diketahui orang, dapat dibaca orang. Dan paling
tidak aku sudah membuktikan pada dunia bahwa hubungan aku dan Nisa adalah
hubungan yang paling abadi sepanjang masa.
***
Hari ke-2 aku tinggal di rumah kost
Cibeber,
Senin 02 Mei 2005
Malam
kedua aku tidur di tempat kost, tepatnya hari ini masih Tanggal 02 Mei 2005.
Sekarang ini waktu menunjukkan Pukul 20:00 malam dan aku masih mengurung diri
sendiri dikamar untuk berkonsentrasi pada pembuatan novel Kekasih Terakhir ini.
Aku
berjanji suatu hari nanti aku pasti akan kembali menemui Nisa setelah Novel ini
selesai aku buat dan aku terbitkan keseluruh penjuru dunia, agar semua orang
bisa tahu bahwa aku teramat sangat mencintaimu Nisa.
Tapi
jika seandainya dia tak harapkan kedatanganku lagi aku pun akan pergi sejauh
mungkin darinya ketempat yang tak mungkin seorang pun bisa menjangkaunya.
Malam
ini menjadi berbeda, ketika aku matikan lampu kamar dan ku nyalakan lilin-lilin
kecil mengelilingi ruanganku. Saat ini ku ingin menangis sepuasnya hingga
cucuran darah keluar dari mataku dan mewarnai kulit wajahku. Apalagi yang harus
ku lakukan agar semua orang bisa mengerti dengan apa yang ku rasakan atau
setidaknya mereka tanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan?
Jika aku bisa,
aku ingin merakit sebuah bom atau nuklir dan akan ku hancurkan bumi ini hingga
berkeping-keping, dan semua itu ku lakukan untuk sekedar mencuri perhatian
banyak orang agar mereka bisa mendengarkan sejenak tangisan darah dan jerit rentan
hatiku. Atau jika aku mampu aku pun ingin sekali membelah bumi ini menjadi 2
bagian agar semua orang mencariku sebagai pelaku utama, agar semua orangpun menjadi
berlomba-lomba memburuku sebagai buronan seharga 100 Milyaran, agar semua orang
memampang foto wajahku di media cetak dan elektronik hingga semua orangpun mengenalku
dan menanyakan dimana keberadaanku.
Tidak seperti
saat ini, tak ada satu pun orang yang mengkhawatirkan keadaanku. Aku disini
mengurung diri sejak dari sepulang sekolah tadi dan tak sekali pun aku keluar
dari kamar ini hingga sekarang jam 8 malam. Aku menahan lapar seharian ini
karena sudah tidak punya uang lagi tuk membeli makanan. Uang simpananku sudah
hampir habis di Bank untuk membantu pengobatan ibuku yang 4 hari lalu masuk
Rumah Sakit. Sementara motorku yang dulu biasa aku pakai ke sekolah kujual juga
untuk biaya kami sehari-harinya.
Bahkan satu per
satu barangku kujual murah (Hp, baju-celana, Tv-Vcd, kulkas dan computer) untuk
kehidupan keluarga kami dan keperluan biaya sekolah kedua adikku nanti.
Sementara ayahku tak pernah mau sedikitpun peduli lagi dengan keadaan kami saat
ini. Dia selalu beralasan sibuk kerja di luar kota hingga jarang pulang ke
rumah bahkan sudah tidak sempat mengirim uang ke rekeningku di Bank.
Mungkin rasa
lapar dan sakit di perut aku saat ini tak lebih menyakitkan ketimbang aku harus
menanggung semua beban hidupku sendirian, tanpa seorang pun teman. Bahkan orang
yang ku cintai sejak 5 tahun yang lalu itu (Nisa) sudah kubuang jauh dalam
pikiranku karena aku tidak sanggup lagi menunggunya mencintaiku.
Bagiku
mencintainya saat ini adalah sebuah beban yang terlalu berat untuk aku tanggung.
Karena semakin dia ku cintai, makin banyak orang lain yang ingin memiliki dan
semakin dia kukejar, makin diapun berlari dari cintaku hingga membuatku selalu
merasakan patah hati yang sangat dalam ini.
Sekarang ini
beban hidup aku sudah terlalu banyak dan juga berat untuk ku hadapi sendirian,
untuk itu sepertinya aku sudah tak punya waktu lagi menantinya, menanti Nisa
agar sudi mencintaiku. Maka dari itu mulai malam ini aku harus siap untuk
melupakannya atau ku akan mati dengan percuma dan sia-sia.
Seharian ini aku
menghabiskan waktu untuk menulis Novel ini (Kekasih Terakhir) yang menjadi
perjalanan hidupku bersama Nisa. Dan kuharap bila Novel ini sudah jadi nanti Nisa
mau menerimanya sebagai kado terakhir dariku.
Tetapi apakah
aku memang bodoh? Padahal aku ingin sekali melupakan Nisa tapi mengapa aku
harus menulis tentang dia lagi, mengapa aku harus mengenang saat-saat indah
bersamanya lagi? Jika itu hanya akan sakitiku, hanya akan membuatku menangis
lagi.
Asal kalian
tahu mengapa aku tak pernah bisa melupakannya meski dia selalu sakitiku?
“Karena dia (Nisa) terlalu manis untuk di
lupakan dan dia juga terlalu cantik untuk aku tinggalkan. Karena dia terlalu
sempurna untuk di benci dan dia juga terlalu indah untuk aku sakiti. Meski dia
selalu datang dan pergi sesuka hatinya. Menghilang tanpa kata dan mengabaikanku
dalam luka hingga kemudian dia kembali dengan wajah tak berdosa dan menemuiku
lagi tanpa sepatah kata maaf pun juga.
Tapi aku tak pernah dendam kepadanya karena
cinta ini bagiku seperti sebatang lilin untuknya. Ku akan selalu menerangi
hidupnya dengan cahaya sampai aku meredup dan mati karenanya.”
Setelah 7 jam
(dari sepulang sekolah) aku mengurung diri di kamar, setelah 7 jam aku hanya
menulis dan menahan lapar baru detik ini ada yang menanyakan keberadaanku. Dia
mengetuk pintu kamarku dan memanggil namaku berulang kali. Baru kutangkap
rambatan suaranya yang ternyata keluar dari mulut Rubi salah satu teman kostku
di kamar sebelah. Aku yang saat ini masih memegang pena dan memandang buku
harianku tersentak akan panggilannya menyerukanku. Sementara ruangan gelap,
cahaya remang-remang hanya timbul dari lilin-lilin kecil di sekelilingku.
Aku tahu semua
ini sudah gila maka dari itu ku bereskan semua lilin-lilin dan ku nyalakan
lampu kamarku kemudian kucoba hampiri sumber suara itu. Kubuka pintu dan
tersenyum pada orang yang ada di baliknya. Rubi pun menyambut baik senyumku dan
menyapaku lalu ku persilahkan masuk kamar dan kami bercerita tentang hari ini.
Rupanya
dia membawakanku sebuah bungkusan kecil yang dilapisi kantong plastik hitam dan
menyodorkannya kepadaku. Ku tak tahu apa maksudnya tapi yang jelas itu adalah
sebuah makanan dan dia tiba-tiba memberikan itu padaku. Aku hanya bisa
tersenyum tanpa bicara sedikit pun, aku ingin sekali menolak tawarannya tapi
cacing-cacing di dalam perut ini sudah meronta-ronta ingin diberi makan.
Terpaksa aku menerima pemberiannya lalu ku makan saja langsung di depannya.
Sementara aku
sedang makan dia mulai bicara tentang apa saja yang sudah dia lalui sejak sore
tadi hingga kini jam 9 malam.
Sore
tadi mereka (Rubi, Nui, Wulan dan Fikri) memang sempat mengajakku untuk pergi
jalan-jalan. Tetapi meski pun mereka mencoba berulang kali memaksaku tetap saja
aku tak mau ikut (karena sebenarnya aku tak punya uang).
Ternyata baru ku
tahu, selama seharian penuh ini mereka jalan-jalan ke kota Cianjur untuk
bersenang-senang sampai pulang selarut ini. Tentu saja kalau ada Ibu kost di
rumah, mereka pasti di marahi plus di ceramahi habis-habisan. Tapi untungnya
siang tadi Ibu kost dan keluarganya pergi ke Sukabumi untuk menjenguk orang
tuanya yang masuk Rumah Sakit, sepertinya ibu kost baru akan pulang antara 2
sampai 3 hari lagi. Jadi dalam waktu yang cukup lama itu mereka pergunakan
untuk bersenang-senang karena kesempatan itu amat jarang mereka dapatkan bila Ibu
kost sedang ada di rumah.
Disisi
lain Rubi yang dari tadi sedang ngomong di depanku, ku abaikan saja karena saat
ini aku sedang berkonsentrasi penuh pada makanan yang sedang ku lahap. Nikmatnya
makanan ini sampai-sampai aku pun tak bisa mendengar jelas apa yang Rubi
bicarakan dari tadi. Tetapi yang aku tahu bahwa semua makanan ini di beli
olehnya khusus untukku. Karena dia baru saja mendapat kiriman uang dari ayahnya
sore tadi jadi malam ini Rubi mentraktir semua anak kost di sini dan ini adalah
makanan bagianku.
Kalian mau tahu
apa yang aku makan? Kalau boleh jujur, dalam seumur hidupku baru kali ini aku rasakan
makanan yang namanya K….C itu (apalagi Rubi membelikanku nasi 2 porsi). Aduhh
Pokoknya dia tuh baik banget deh, dia tau aja yah kalo aku belum makan dari
tadi siang. Paling-paling juga seharian tadi aku hanya sarapan nasi goreng
buatan wulan dan itu pun cuma sedikit doang. Apalagi yang membuatku menyedihkan
ketika tadi disekolah aku hanya bisa gigit jari di kelas, sementara yang
lainnya pergi istirahat untuk jajan dan makan di kantin sekolah. Intinya sedih banget deh jadi aku saat ini
udah gak punya apa-apa.
Disaat
aku selesai makan, malam ini ku bisa tenang karena rasa lapar di perutku sudah
hilang. Selain 2 porsi nasi putih plus paha ayam dan minuman bersoda ku
habiskan, ada juga apel dan jeruk sebagai pencuci mulutnya.
Baru saja aku
gigit apel itu ketiga kalinya tiba-tiba ada yang datang dan masuk ke kamarku.
Dia adalah Nui yang sedang mencari Rubi yang kebetulan ada di kamarku sejak
dari tadi. Mereka memang seperti kucing dan anjing yang kalo sehari saja tak
bertengkar rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hari-hari mereka. Tapi malam
ini Nui tidak seperti biasanya, dia duduk manis di depanku saat ini dan matanya
nampak sedang piknik mengitari ruangan kamarku.
Setelah
itu dia bertanya padaku tentang berapa hal dan yang pertama: Dia menanyakan
tentang perempuan yang ada di dalam lukisan buatanku yang sengaja kupajang di
dinding tuk penuhi sebagian kamarku. Tapi ku tak mampu menjawab pertanyaannya
itu, karena bagiku terlalu berat untuk mengucapkan nama orang yang ada di
lukisanku.
Dia adalah
(Nisa) kujawab namanya dalam hati, karena dia sekarang hanya cukup bisa ku rasakan
dengan perasaan hati bukan untuk diperbincangkan atau pun diperdebatkan oleh
orang lain. Tapi saat Nui mulai penasaran dengan nama perempuan yang ada di
lukisan-lukisanku itu maka kujawab dengan singkat: “Dia itu adalah seorang
teman di masa laluku.” Nui mengerti dan tak mau mempermasalahkan lagi. Tetapi
matanya malah berpindah haluan sambil memungut kertas-kertas puisi yang
bertebaran di lantai. Dan dengan hasrat ingin tahu yang besar itu bertanya
lagi: “Kamu suka nulis puisi juga yah?” Aku hanya menjawab dengan sautan tak
akrab: “Ya….seperti itu.”
Sebenarnya
aku paling tidak suka kalau ada orang lain yang membaca karya-karyaku seperti
yang Nui lakukan saat ini, karena aku selalu takut orang-orang akan
menertawakan karya-karyaku, mengejeknya, apalagi tidak membacanya sampai tuntas
malahan cuma di lihat sekilas lalu di lempar lagi begitu aja.
Rasanya ku ingin
tampar saja siapa pun orang-orang yang menganggap karya-karyaku tidak berharga bahkan
mereka menghina dan menertawakannya.
“Itu karena karya-karyaku adalah sebagian
napas dari hidupku, sebagian nyawa dan cerita nostalgiaku bersama perempuan
yang sangat ku cintai di dunia ini (Nisa). Jika mereka menganggap karyaku tak
berharga itu sama saja mereka sudah berani menendangku, membuang ke tong sampah
dan menempatkan diriku bersama kumpulan orang-orang bodoh yang tak berguna. Apalagi
bila mereka berani menghina dan berkata bahwa karya-karyaku jelek semua dan isi
cerita di dalamnya tak menarik untuk dibaca. Jika mereka berkata seperti itu
maka sama saja mereka sudah menghina kisah percintaanku bersama Nisa,
menertawai kisah hidupku yang menyedihkan dan di penuhi tangisan, terlebih lagi
mereka sudah mengabaikan karyaku dan itu berarti mereka tak pedulikan
penderitaan hidupku”.
Tetapi untungnya
di saat Nui membaca puisi-puisi (tentang cerita cinta Aku dan Nisa) dia sangat
begitu antusias untuk membacanya dan animonya yang besar itu kuanggap sudah
menghargai perasaanku, ikut bersedih dengan penderitaanku dan bila memang dia
sudah bisa menghargai itu berarti dia sudah menghargai hidupku, membuat
berharga perjalanan cintaku bersama Nisa.
Seperti inilah
yang sempat Nui katakan padaku: “Duhh…. sedih banget puisinya, buat aku yach??
Atau kalau nggak aku salin kata-katanya dehh.” maka aku pun tersenyum senang
dan mengizinkannya untuk menyalin kata-katanya.
Dan inilah salah satu puisi yang telah dibaca olehnya:
Judulnya
:
Bayangan Putih yang Indah
Tanggal
buat : (sehari setelah aku pergi dari kehidupan
Nisa yaitu 27 April 2005)
Bayangan putih yang indah itu, terbentuk diantara gelapnya malam yang
mengatapi relung jiwaku...
Bayangan putih yang begitu menyita perhatiaan…
Bayangan putih yang menarik paksa diriku untuk tidak berpaling sedikit
pun pada keindahan-keindahan yang… dia miliki… Bayangan putih yang indah itu
membuat jiwaku mengalunkan lagu-lagu yang menusuk ke dalam rangka-rangka
tubuhku…
Bayangan putih yang indah…
juga membawa beban yang begitu berat untuk aku tanggung… karena… semakin
ingin ku miliki, makin banyak juga orang lain yang ingin memilikinya selain aku
karena… semakin ingin aku raih, makin dia bergerak pergi dan lebih-lebih
mengagumkan lagi, sehingga membuat jarak yang terlampau jauh dengan… aura-aura
tubuhku… karena… semakin ingin kupeluk, makin dia menunjukkan keindahannya,
sehingga membuatku hanya bisa diam menyerupai batu kerikil hitam… karena…
semakin ingin ku kecup, makin dia membisukan bibirku oleh musik jiwanya yang
terlalu… lembut…
Bayangan indah itu terlalu aku cintai,
tetapi juga terlalu sulit untuk bisa di cintai…
Bayangan indah itu terlalu aku impikan,
tetapi juga terlalu sulit untuk bisa di wujudkan…
Dia datang dan pergi melewati setiap impian-impian manusiaku, sehingga
membuat aku selalu terkurung sendiri di tengah imajinasi-imajinasi yang tidak
mau memudar…
Tetapi aku pun sadar…
Aku memanglah terlalu buruk… untuk bisa berada di sebelah Bayangan
Putih yang indah itu…
Puisi
itulah yang Nui baca saat dia berada di kamar kostku. Dan dia sangat menyukai
puisi itu karena kata-kata yang ada di dalam puisi itu sangat jujur sekali,
kata Nui. Bahkan berulang kali dia membaca puisi itu dengan sangat di resapi
tiap kata demi kata yang ada. Hingga wajahnya sempat bicara kesedihan tapi kadang tersenyum juga karena ternyata
cerita dalam puisi itu sama persis dengan kejadian percintaannya di masa lalu,
bersama lelaki yang pernah di kaguminya tapi tak pernah bisa dimilikinya.
Sebenarnya
puisi itu sengaja aku buat khusus untuk Nisa dan tadinya aku ingin sekali
memberikan puisi itu padanya, tapi aku takut dia tak mau terima apalagi coba membacanya.
Karena aku tahu, Nisa takkan pernah mau
tahu tentang perasaanku dan itu sebabnya aku hanya bisa menyimpan ratusan puisi
yang aku buat ini untuknya dan hanya untuknya seorang aku membuatnya, dan aku
pun ingin hanya dia seorang pula yang membacanya.
Tak
lama kemudian ketika Nui selesai menyalin kata-kata dari puisinya dia langsung
pergi ke kamarnya dan ternyata ketika dia kembali ke kamarku lagi dia sudah
membawa sebuah gitar miliknya. Dengan raut muka yang berbinar-binar, dia
meminta izin padaku ingin memasukkan beberapa unsur-unsur musik tuk mengiringi
puisi ciptaanku itu. Bukan hanya itu saja, Nui juga mengajak Wulan tuk masuk ke
kamarku dan ikut membantu Nui bacakan puisi sambil dia ingin mengiringinya
dengan petikkan suara gitar.
Wulan yang saat
itu sedang nonton di ruang tengah (tak jauh dari depan kamarku) tersipu
malu-malu menanggapi permintaannya. Memang Wulan itu paling pemalu dan agak
pendiam tapi ketika Nui mulai memaksanya akhirnya Wulan luluh juga.
Setelah itu
wulan berjalan memasuki kamarku dengan gayanya yang anggun dia duduk manis dan ikut
berkumpul dengan kami. Sementara Nui dan Wulan sedang sibuk mencari nada-nada
untuk menyelaraskan puisi itu aku dan Rubi malah asyik ngobrol tentang gosip
terbaru di sekolah (bahwa teman sekelas aku pacaran dengan wali kelasku yang
sudah beristri dan beranak 4).
Tiba-tiba
ada suara yang begitu merdu telah berhasil menarik perhatianku. Apalagi suara
itu makin terdengar indah ketika sebuah petikkan nada gitar mampu
menyelaraskannya. Rupanya pemilik suara itu adalah Wulan dan dia tengah
membacakan puisiku dengan penuh penjiwaan. Saat kata demi kata terucap lewat
mulutnya aku menjadi diam terkesima, terpaku bisu seakan tak mampu
berkata-kata. Lalu ketika ada satu bait yang dia nyanyikan (yang awalnya
berbunyi, bayangan indah itu terlalu aku cintai….) kudengar nyanyiannya seperti
napas yang memberi kehidupan hingga dapat membuat hidup setiap kata demi kata,
bait demi bait dan akhirnya puisi itu kini bagai gambar hitam putih yang diberi
warna pelangi.
Jika kalian bisa
mendengarnya saat ini maka emosi kalian dapat di permainkannya, kadang aku ingin
menangis mendengar Wulan bernyanyai dan kadang juga ingin ikut marah ketika ada
sebuah bait yang Wulan bacakan lebih lantang penuh getaran.
“Saat dia bersenandung dan bernyanyi lagu
yang sendu, hatiku sempat bergetar dan bibir menjadi pilu. Teruskan saja
bernyanyi tidak perlu kau malu karena
suaramu teramat merdu, seperti itu lah yang kudengar di telingaku dan kuharap
kau tak menghentikan nyanyianmu. Aku sangat suka mendengar suaramu tapi
terlebih lagi ku tergoda untuk selalu memandangi bibir mungilmu. Jika memang
aku hanya sebatas mengagumimu, mohon jangan tarik aku lebih dalam untuk
mencintaimu. Karena aku tahu, hanya Nisa seoranglah pemilik hatiku,” ucapku dalam hati saat mendengar Wulan
sedang menyanyikan puisi ciptaanku.
Tidak
lama kemudian Rubi bertepuk tangan yang terdengar keras sekali di dekat
telingaku. Rupanya itu sebuah tanda bahwa Nui dan Wulan sudah selesai beraksi
untuk memikat perhatianku. Aku tak bisa berkata-kata ketika Nui meminta
pandapatku tentang Arransmentnya yang
sudah mengubah puisi itu. Tapi yang kutahu, puisiku itu ternyata lebih bagus
kedengarannya dari perkiraanku ketika membuatnya apabila memang merekalah yang
membawakannya.
Dan satu hal
yang baru kutahu ternyata mereka memang sudah biasa bermain gitar dan bernyanyi
di rumah kost ini dan itu sudah terjadi sebelum aku datang kesini. Inilah satu hal yang paling menyenangkan bila
kita tinggal di rumah kost, apalagi teman sebaya sekost kita banyak disini.
Mungkin akan jadi sebuah kebiasaan, bila setiap malam di waktu senggan kita
habiskan untuk berkumpul bersama teman sekost yang lain. Bersenda gurau,
mencumbu angin malam dan segelas kopi hangat serta roti menjadi simbolik anak
kost mandiri yang sedang mencari mimpi. Seperti itu pun yang ku lakukan saat
ini, kami bercerita satu sama lain tentang mimpi yang kami punya.
Di
tempat kost ini, Nui adalah anak yang paling dewasa dan menjadi panutan kami
semua. Dia mengajarkan kami tentang banyak hal termasuk memahami hidup yang
singkat ini. Saat ini dia sedang ada di depan mataku, begitu terampil bermain
gitar sambil ngobrol denganku.
“kamu suka main
band nggak?” sebuah pertanyaan Nui yang dia lemparkan padaku. Aku pun
menjawabnya: “Ya… kadang-kadang juga sih, tapi Cuma buat nyari kesenangan doang
kok. Dibilang suka musik nggak terlalu juga, di bilang nggak suka musik tapi
kadang aku seneng juga maen musik. Bahkan aku suka iseng-iseng bikin lagu waktu
dulu saat aku masih punya band”.
“Oh ya… jadi
kamu selain suka bikin puisi, kamu suka bikin lagu juga, hebat banget kamu, Ga!
Eueu… kalo gitu maenin satu lagu aja buat kita dong Ga” (sambil menyodorkan
gitarnya) ucap Nui padaku. Sambil tersipu malu, aku menerima permintaannya
untuk memainkan satu lagu ciptaanku. Sementara aku bernyanyi dengan diiringi
petikan suara gitar yang sendu sedangkan yang lainnya (Wulan, Nui, Rubi)
mendengarkanku dengan tatapan yang tajam. Awalnya aku malu untuk bernyanyi tapi
mereka terus memaksaku karena mereka penasaran ingin mendengarkan lagu
ciptaanku. Sungguh aku tak menyangka bahwa aku akan kambali bermain gitar
setelah hampir 2 tahun aku tak pernah memegangnya.
Terakhir
kali aku bernyanyi saat di pesta perpisahan SMPku 2 tahun yang lalu. Ketika itu
aku bernyanyi lagu ciptaanku dengan bandku untuk Nisa. Berharap Nisa bisa
mendengarkan setiap kata demi kata yang ku ucapkan sebagai perasaanku
terhadapnya. Tapi yang kutahu, Nisa saat itu sudah pulang sebelum aku bernyanyi
untuknya. Dan aku semakin sadar bahwa Nisa takkan pernah peduli dengan apapun
yang ku lakukan hingga akhirnya perpisahan sekolah itu berlalu begitu saja,
tanpa akhir yang menyenangkan antara aku dan Nisa. Dan inilah lagu ciptaanku
yang dulu aku nyanyikan di pesta perpisahan ketika ku telah menyelesaikan
SMPku. Dan sekarang lagu itu kembali ku nyanyikan di hadapan Nui, Wulan dan
Rubi teman sekostku yang saat ini ada di kamarku, di depan mataku.
SUNYI
Sendiri di heningnya malam ini
Ratapi sunyi, teringat kau yang
telah pergi
Sinar rembulan pun tak mampu
terangi
Hatiku yang redup tanpa kau
sinari
Bagai
angin yang tak tentu arah
Tak
tahu kemana harus ku cari?
Kau yang telah pergi
Tinggalkan sejuta kenangan di
hati
Yang tak pernah mati
Tersimpan selalu sampai akhir
napasku
Terbayang
saat kita dulu
Menjalani kisah
hidup penuh warna
Tak pernah
terpikirkan sebelumnya
Kita kan
berpisah untuk selamanya
Ketika
ku bernyanyi, sungguh debaran kencang menusuk jantungku setiap kali ku ingat
dirinya (Nisa) lagi. Sedang apa dia kini, apakah dia merindukan keberadaanku
malam ini? Entahlah … tapi yang ku tahu dia takkan pernah mengerti perasaanku
terhadapnya.
Saat
nyanyianku ini berakhir dengan di tandai sebuah petikan terakhir dari gitar
yang ku mainkan. Maka yang lainnya tersenyum, bertepuk tangan sambil
mengeluarkan banyak kalimat-kalimat pujian padaku. Aku semakin terharu karena
mereka begitu sangat menghargai karya-karyaku. Rupanya kemarin aku salah
menilai mereka, aku pikir mereka sama saja dengan teman-temanku yang lainnya
yang tak pernah menghargai keberadaanku. Tapi ternyata mereka beda, mereka bisa
mengerti setiap kata yang ada di dalam karya-karyaku dan tentunya mereka juga
bisa memahami isi dari perasaanku ketika menciptakannya.
Dan
saat ku selesai bernyanyi, tak lama Nui mengajakku untuk ikut bergabung di Band
amatirnya. Kalian tahu siapa saja personil bandnya? Tentu saja mereka-mereka
yang ada di sini, di tempat kost ini. Aku sendiri baru tahu bahwa ternyata
mereka membuat sebuah Band di tempat kost ini. Ya walau pun sebenarnya mereka
baru mendirikan Band itu 3 minggu yang lalu dan Nui seorang lah yang menjadi
penggagasnya.
Awalnya mereka
membuat Band ini untuk sebuah kado perpisahan Nui yang akan meninggalkan tempat
kost ini. Karena 2 bulan lagi Nui menyelesaikan SMA nya dan melanjutkan kuliah
di Bandung, di sana Nui akan tinggal bersama pamannya.
Karena
alasannya seperti itu maka aku pun setuju untuk ikut bergabung di Band mereka.
Dan disini aku mendapat peran sebagai gitaris sekaligus Backing vocal seperti
apa yang di minta Nui kepadaku. Selain itu Nui juga menjelaskan peranan yang
lainnya di Band ini.
Salah satunya
Wulan yang memegang alat musik piano sekaligus vocal, Nui pada melodi gitar,
ada Rubi juga pada Drum dan terakhir Fikri si jenius memegang Bass. Karena Band
ini baru di dirikan Nui 3 minggu yang lalu jadi sampai saat ini mereka belum
sempat memberi nama.
Tak
terasa kami sudah hampir 2 jam ngobrol dari tadi sejak pukul 9 malam. Dan kini
malamku tak terasa gelap lagi saat mereka temaniku dengan candanya saat ini.
Tak sedikit pun kantuk yang mampu mengalahkan kami dan di waktu jam 11 malam
ini kami makin menggila melewati malam. Untungnya Ibu kost tak ada di rumah,
kalau saja dia ada mungkin dia sudah memaksa kami untuk cepat tidur maximal jam
9 malam. Tapi meskipun Ibu kost kami agak sedikit cerewet, kami tetap merasa
akan kehilangan dia untuk dua hari kedepan ini. Karena kami tahu, di balik
ketegasannya itu tersirat sosok keibuan yang mampu menggantikan peranan Ibu
kandung kami masing-masing di rumah.
Saat
ini kami masih disini (di kamarku) bercanda-canda dan bercerita tentang semua
kejadian yang pernah terjadi di tempat kost ini sebelum aku terdampar ke sini.
Rubi
sebagai orang pertama yang menjadi anak kost disini mulai menceritakan sebuah
sejarah rumah kost ini.
Rupanya
waktu dulu Ibu kost kami tak pernah berniat menjadikan rumahnya ini untuk di jadikan
tempat kost anak sekolah.
Dimulai
ketika 3 tahun yang lalu, saat itu Ibu kost mengujungi orangtuanya yang tinggal
di Sukabumi tuk sekedar sillaturahmi di hari Raya Idul Fitri. Tak diduga dari
sekedar bicara antar tetangga, akhirnya yang bernama panggilan Abah berumur 50
tahunan (yang sekarang menjadi salah satu penghuni rumah kost ini) bertemu
dengan Ibu kost kemudian mereka merencanakan ingin mendirikan bengkel service motor
di seberang jalan rumah Ibu kost. Abah yang waktu itu memang menjadi
pengangguran tentu saja menyetujui keinginan Ibu kost untuk membuat bengkel
motor. Di samping itu kelihaian Abah dalam memperbaiki motor sudah tidak
diragukan lagi, banyak tetangganya yang tak jarang meminta bantuannya untuk
memperbaiki motor mereka yang rusak.
Beberapa bulan
kemudian rencana Ibu kost dan Abah itu rupanya menjadi kenyataan saat mereka mulai
patungan membangun sebuah bengkel beserta isi-isinya. Sejak bengkel itu selesai
di bangun akhirnya Abah memutuskan untuk menetap di kota ini dan dia mengontrak di rumah Ibu kostku sampai kini.
4
bulan kemudian setelah bengkel itu selesai di bangun, Rubi yang waktu itu baru
saja menyelesaikan SMPnya berniat ingin melanjutkan sekolah SMAnya di kota.
Rubi adalah salah seorang warga kota terpencil yang ingin meneruskan pendidikan
ke kota karena baginya tinggal di kampung itu takkan pernah bisa membuat hidupnya lebih maju. Tapi sayangnya dengan
NEM SMPnya yang pas-pasan itu dia tidak diterima di SMA Negeri di pusat kota
Cianjur, akhirnya dia memutar haluan ke daerah Cibeber (13 KM dari Cianjur) dan
mendaftar ke sebuah SMA yang bernama SMA Negeri I Cibeber. Hingga akhirnya dia
di terima juga menjadi seorang siswa disana, termasuk aku yang satu angkatan
dengannya.
Setelah Rubi
mendapat pernyataan bahwa dia sudah sah diterima di SMA itu, dia pun langsung
mencari tempat kost yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Mungkin sudah takdir
Tuhan bahwa Rubi harus melangkahkan kakinya ke rumah seseorang yang kini
menjadi Ibu kostku juga. Awalnya Ibu kost itu tidak bisa menerima seorang
pelajar untuk tinggal di rumahnya, apalagi sebelumnya dia tak pernah berniat
sedikitpun untuk menjadikan rumah besarnya itu sebagai tempat koat anak
sekolah. Tapi entah dimana mulanya, tahu-tahu Rubi diterima juga untuk tinggal
di tempat kost ini?
Kata Rubi sih, dulu
sebelum dia datang kesini–rumah ini sangat sepi dan dingin sekali. Ditambah
lagi rumah ini sangat luas dengan kamar yang lumayan banyak tapi penghuni
sedikit. Maka tak aneh bila kesepian itu menambah arti keangkeran di sekeliling
ruangan dengan banyak kamar yang kosong ketimbang yang berisi. Pertama saat
Rubi menghuni tempat kost ini, dia juga merasakan sebuah ketakutan ditambah
lagi ada gossip yang menyatakan bahwa di rumah ini ada orang yang pernah mati mendadak
akibat sakit.
Tapi
setelah hari-hari berlalu dan waktu pun semakin cepat berputar, terasa menjadi
biasa bagi mereka untuk bergerak bebas di tempat kost ini. Tatkala rumah-rumah
baru tumbuh di sekeliling rumah kost ini, membuat suasana menjadi ramai dari
biasanya maka perlahan stigma keangkeran rumah kost ini pun menjadi hilang.
6
bulan kemudian setelah Rubi menempati Rumah kost ini, itu tandanya dia sudah
melewati semester pertama sekolahnya sebagi anak SMA. Bukan hal yang aneh lagi,
bila ada orang yang mencari tempat kost di awal masuk sekolah atau diakhir semester.
Maka itulah yang terjadi pada orang yang bernama Nurul (atau sekarang dipanggil
Nui). Nurul masih terbilang sebagai kakak kelas Rubi di sekolah karena saat itu
Nurul duduk dibangku kelas 2. Nurul adalah orang kedua yang kost disini setelah
Rubi, aku belum tahu apa alasan Nurul memutuskan untuk kost? Mungkin suatu hari
dia mau membicarakannya padaku.
Mulai
saat itu anak kost bertambah lagi untuk memenuhi rumah ini, tepatnya setelah 2
bulan Nui (Nurul) tinggal disini. Ada
2 lelaki yang masih seorang pelajar juga pernah datang menjadi bagian di rumah
ceria ini, namanya Rangga Madewa dan Gilang Ramadhan. Tapi sayangnya kedua orang
ini tak lama tinggal disini jadi tentang jati diri mereka tidak ada yang tahu
dengan jelas termasuk Nui dan Rubi sekalipun.
Yang mereka tahu
kedua orang ini adalah seorang siswa sekolah Teknik Menengah, dan hanya itu
saja. Tapi terakhir kali ada selentingan kabar yang mengatakan bahwa kedua
orang ini masuk penjara akibat tawuran yang menewaskan seseorang, selain itu
ternyata kedua orang misterius ini juga seorang pengedar kelas kakap di
kalangan pelajar. Bila memang kabar itu
benar, bila kedua orang itu sekarang di penjara, maka kemungkinan orang itu
butuh waktu sekitar 14 tahunan untuk bisa keluar dari penjara karena kasus pembunuhan
dan narkoba.
1
tahun kemudian dari mulai Nui sudah menempati rumah kost ini, datanglah
penghuni baru yaitu Wulan. Bagaimana sejarah Wulan hingga dia bisa terdampar ke
tempat ini? Sementara Wulan bertempat tinggal asli di Surabaya
dan dia pindah ke kota
ini saat dia masih kelas satu SMA pada awal semester dua dan sekarang dia
menjadi adik kelasku di sekolah. Seperti inilah ceritanya mengapa Wulan pindah
dari Surabaya ke kota ini:
Sebenarnya
Ibu kostku itu masih ada hubungan darah dengan Wulan, tepatnya Wulan wajib
memanggil bibi (tante) padanya karena Ibu
kandung Wulan adalah kakak perempuan pertama Ibu kostku.
Di
mulai ketika 5 bulan yang lalu, saat Wulan baru saja menerima Raportnya di
akhir semester satu ada bencana besar yang melanda Ibu kandungnya. Kalian tahu
apa yang terjadi menimpa ibunya? Waktu itu Ibu Wulan meninggal dunia di usianya
yang ke 43 tahun. Penyebab kematiannya akibat penyakit Hepatitis akut yang
sudah fatal dan mengakibatkan empedunya pecah hingga membuatnya meninggal
seketika.
Penyebab utama
penyakit Hepatitis adalah terlalu banyak bekerja berat, kurangnya tidur malam
dan pola makan yang tidak teratur. Mungkin penyebab kematian ibunya ini sudah
tak aneh lagi untuk Wulan. Karena Wulan tahu, sejak di tinggal mati oleh
ayahnya 12 tahun yang lalu–Ibunya sendirilah yang banting tulang untuk menghidupi
biaya sehari-hari Wulan sebagai anak tunggal semata wayangnya.
Wulan mulai
sangat terpukul sejak kematian ibunya itu, dia selalu saja menyalahkan dirinya
sendiri sebagai penyebab kematian ibunya. Karena dia merasa tak bisa merawat
kesehatan ibunya yang mulai memburuk saat di awal-awal dia mulai masuk SMA.
Karena demi ingin menyekolahkan anak satu-satunya itu, ibunya rela bekerja
siang dan malam mencari uang.
Andai saja Wulan
terlahir dari keluarga kaya raya, mungkin dia akan melarang ibunya untuk tidak
bekerja keras sepanjang hari. Tapi sayangnya Wulan terlahir dari keluarga yang
sangat sederhana, dan hanya rumah kecil peninggalan ayahnya itulah yang dia
punya.
Sementara bila
siang hari ibunya bekerja sebagai buruh pabrik kue, dan malam harinya dia
bekerja di café malam sebagai penyanyi atau biduan panggung. Wulan sering
memperingati ibunya untuk menjaga kesehatan dan berhenti dari pekerjaan
malamnya. Selain itu Wulan juga selalu mengingatkan ibunya untuk menikah lagi,
tapi ternyata saking cintanya Ibu Wulan terhadap ayahnya dia tak pernah mau
menikah lagi sampai kapanpun juga.
Tapi
semua itu sudah terlambat, penyesalan Wulan makin tersayat ketika menyaksikan
ibunya harus mati tak berdaya. Bagi Wulan dunia ini sungguh tak adil, dia masih tegar ketika ditinggal mati ayahnya
saat dia masih berumur 3 tahun. Tapi dia sungguh rapuh saat melihat ibunya
harus mati juga di depan matanya.
Kini Wulan tidak
punya siapa-siapa lagi di dunia ini, bahkan Wulan sempat mencoba bunuh diri
waktu itu (itulah salah satu curhatan Wulan pada kami saat berbincang-bincang
tentang keluarganya di kamarku).
Cerita
Wulan belum selesai sampai disini saja karena sesungguhnya Tuhan Maha Adil
terhadap sesama umatnya.
Ibu
kostku yang juga bibi Wulan, langsung berangkat ke Surabaya saat mendengar kabar kematian
kakaknya itu lewat telepon. Dia sangat prihatin akan nasib keluarga Wulan maka
dari itu Ibu kostku merayu Wulan untuk ikut bersamanya. Dia juga berjanji akan
menyekolahkan Wulan sampai menjadi orang sukses yang bisa mengangkat harkat dan
derajat kedua orangtuanya yang kini sudah ada di alam berbeda.
Wulan saat itu
sudah tak memiliki gairah hidup, dia seperti sebuah kapas yang mudah diterpa
angin dan terbang terombang-ambing. Ketika itu Wulan tak punya alasan lagi
untuk hidup, yang ada dihatinya hanya sebuah tujuan untuk mati. Dia layaknya
air yang tak mampu melawan arus hingga air terjun di depannya membuat dia
terhempas jatuh dengan mudahnya.
Saat
itu Wulan sulit sekali untuk di bujuk, dia seperti tak mau jauh dengan jenazah
kedua orang tuanya yang sudah ada di dalam tanah. Ternyata dia lebih betah
tinggal di kuburan ayah ibunya ketimbang tidur di rumah. Tapi bagaimanapun juga
Wulan bukan orang yang sebatangkara karena di sekelilingnya masih banyak yang
ingin mempedulikannya, termasuk yang paling antusias adalah ibu kostku.
Ibu kostku waktu
itu tak henti-hentinya merayu Wulan untuk tinggal di rumahnya. Dan Wulan mulai
pasrah dengan hidupnya, dia bagai dedaunan yang selalu pasrah di terpa angin
kemana pun angin itu berhembus menerpanya, dia akan mengikutinya.
Akhirnya
Wulan setuju untuk tinggal di rumah bibinya yang juga menjadi Ibu kostku saat
ini. Tentu saja Ibu kost sangat senang sekali mendengar keputusan Wulan untuk
bersedia tinggal di rumahnya, di kota Cibeber-Cianjur.
Dengan
akhir cerita, Ibu kostku langsung mengurusi surat kepindahan sekolah Wulan di
Surabaya dan memindahkan sekolahnya ke SMAku (SMAN I Cibeber). Untung saja saat
itu Wulan baru-baru saja menerima Raport semester pertamanya jadi dia dengan
mudah bisa pindah sekolah dan melanjutkan semester keduanya di sekolah yang
lain.
Hingga
kini dia berhasil melewati hari-harinya yang dulu suram di rumah kost ini. Tak
terasa sudah hampir 6 bulan kematian ibunya berlalu dan dia makin ceria kembali
dengan hidup barunya disini bersama kami yang akan selalu melindungi senyumnya
setiap waktu.
Dan
kini Wulan 2 bulan lagi akan menyelesaikan semester keduanya, itu berarti dia
akan naik kelas menjadi seorang siswi kelas 2 SMA.
Itulah yang
Wulan ceritakan pada kami saat kami sedang berbincang-bincang di kamarku, dari
mulai jam 9 malam hingga kini tak terasa sudah jam 2 pagi.
Sekarang
kalian (pembaca) coba ingat-ingat lagi, siapa yang belum menceritakan tentang
sejarah─mengapa kami bisa kost di tempat ini, dan apa alasan kami bisa
memutuskan untuk hidup kost di masa SMA? Sekarang kalian sudah mengetahui
mengapa Rubi, Nui dan Wulan bisa sampai terdampar di rumah kost ini. Itu
berarti sisanya─aku dan Fikri yang belum menceritakan alasan mengapa kami disini.
Tapi saat ini waktu
menunjukkan pukul 2 pagi dan aku protes pada mereka untuk mengakhiri
curhat-curhatannya sampai disini saja karena aku sudah ngantuk. Tapi mereka malah
balik memprotesku karena hanya aku disini yang belum curhat pada mereka tentang
alasan mengapa aku sampai ingin hidup kost. Mereka menganggapku curang karena
tak mau cerita tapi untungnya aku punya alasan jitu, aku bilang saja kalau aku
mau cerita asal Fikri dulu yang cerita. Waktu itu aku pikir Fikri sudah tidur
di kamarnya jadi aku punya alasan untuk mengakhiri kegiatan ini, sesuatu yang
bodoh ini.
Tapi mereka
banyak akalnya hingga permintaanku itu dengan mudah mereka kabulkan. Waktu itu
Nui jadi orang pertama yang punya gagasan ingin mengajak kami begadang sampai
pagi. Akhirnya Nui menyuruh Rubi supaya pergi ke kamar Fikri dan membangunkannya
juga untuk ikut begadang. Dan tak kusangka Fikri dengan mudah menurut
permintaan Nui untuk ikut begadang sampai pagi bersama kami.
Acara
curhat-curhatan kembali berlanjut dengan di hadiri anggota baru yaitu Fikri.
Kali ini kegiatannya menjadi seru saat Wulan memberi pendapat untuk mematikan
lampu kamarku, dan hanya sebatang lilin yang ada di tengah-tengah kami yang
memberi cahaya samar-samar. Wulan yang seorang anggota teater mungkin baginya
acara ini sudah biasa karena dia sering melakukannya di ekskul teater sekolah
yang diikutinya. Tapi bagiku ini adalah hal yang aneh, asing dan baru bahkan
aku malu saat mereka memintaku untuk curhat dengan jujur tentang keluargaku,
percintaanku hingga ciuman pertamaku.
Saat ini lilin
kecil itu sudah menyala di tengah-tengah kami yang mengelilinginya, itu sebagai
tanda bahwa acara curhat-curhatan ini sudah di mulai. Fikri terpilih menjadi orang
pertama yang bicara lebih dulu, tentang alasan mengapa dia memutuskan untuk
hidup kost dan bahkan dia harus menceritakan semua hal yang menyangkut
kehidupan pribadi.
Sementara
malam ini adalah malam keduaku tidur di tempat kost, dan ini akan membuatku
menjadi orang goblok bila harus jujur pada mereka yang sepenuhnya belum aku
kenal sedikitpun. Tapi mungkin ada benarnya juga alasan mereka mengapa membuat
acara seintim ini? Dikarenakan mereka ingin mengetahui tentangku lebih jauh agar
kami bisa kompak untuk menjalani hari-hari ke depan di rumah kost ini, di rumah
ceria ini.
Coba kalian
perhatikan siapa yang sedang bicara sekarang, dia adalah Fikri yang baru saja
bangun tidur langsung dipaksa untuk menceritakan tentang jati dirinya. Hal
pertama yang dia ucapkan adalah sebuah alasan mengapa dia bisa tersesat di
rumah kost ini, dan inilah yang dia ceritakan pada kami.
Ucap Fikri:
“Aku baru 2 bulan kost di tempat ini dan yang selama ini aku rasakan─aku merasa
nyaman tinggal bersama kalian. Alasan aku ingin hidup kost sebenarnya pada
awalnya dulu aku pikir menjadi anak kost itu menyenangkan, bisa hidup bebas
tanpa banyak di perintah oleh orang tua, udah gitu aku bisa ngelakuin apa saja
yang ku mau sesuka hatiku disini.
Pada mulanya
orangtuaku sangat mengecam keras atas permintaanku yang ingin hidup kost waktu
itu. Karena aku adalah anak tunggal dan anak satu-satunya yang sangat mereka
andalkan. Dari kecil aku selalu terbebani karena Ayahku menginginkan aku
menjadi seorang Fisikawan yang terkenal. Setiap hari, siang dan malam aku
selalu di paksa untuk belajar dengan giat agar aku bisa menang di perlombaan
‘Ajang Olimpiade Fisika sedunia’. Dan itu sangat menyiksaku karena aku tak
pernah boleh main bersama kawan-kawanku, main bola di lapang, main
layang-layang di taman atau main petak umpet bersama teman-teman.
Masa kecilku
ku habiskan tuk belajar dan belajar terus menerus hingga tak punya waktu
sedikitpun bermain dengan teman-teman sebayaku. Dari sejak kecil itu aku seperti robot yang harus menuruti
semua perintah kedua orangtuaku, hingga mereka tak pernah sempat menanyakan
‘apa yang sebenarnya aku inginkan?’
Sepanjang aku
menjadi seorang siswa, aku selalu menjadi rangking pertama dan nilai-nilaiku
selalu paling tinggi di antara yang lainnya. Tapi di suatu ketika, saat ujian
akhir nasional SMPku tiba─aku mengisi semua UANku itu dengan asal-asalan hingga
NEMku kecil. Aku sengaja melakukannya karena waktu itu aku sangat tertekan,
orangtuaku memaksaku supaya aku mendapatkan NEM paling tinggi agar aku bisa
masuk di SMA terfavorite di luar kota.
Waktu itu aku
sudah lelah terus menerus mengikuti kemauan mereka, aku seperti anjing dan
leherku dibelenggu kalung rantai oleh orangtuaku sendiri. Maka dari itu aku
mulai memberontak dan mengisi UANku dengan asal-asalan hingga NEM SMPku paling
kecil bahkan sebenarnya aku tidak lulus dalam ujian akhir itu.
Tapi aku tak
menyesal telah melakukan perbuatan bodoh itu karena waktu itu aku malah merasa
nyaman dan hatiku sangat tenang, beban berat yang selama ini aku pendam
akhirnya bisa ku keluarkan. Secara ilmiah aku memang tidak lulus dalam ujian
akhir itu tapi secara harfiah akhirnya orangtuaku bisa sadar dengan apa yang
sudah mereka lakukan terhadapku?
Awalnya di
saat hasil UAN SMPku itu keluar dan aku dinyatakan sebagai siswa yang tidak lulus, tentu saja Ayahku sangat murka hingga
dia berulang kali memukulku dengan bambu rotan di sekujur tubuhku. Tapi aku
tidak menangis dan tidak merasa sakit sedikitpun walau cambuknya itu membuatku
bermandikan darah. Malah aku memberinya sebuah pisau dapur dan memintanya untuk
menusukkan pisau itu tepat ke jantungku. Hingga aku bisa mengakhiri hidupku
yang penuh beban karena selama kuhidup─ku harus menuruti semua keinginan mereka
sementara mereka tak mau tahu dengan apa yang sebenarnya aku mau?”
Seperti inilah
yang Fikri katakan pada orangtuanya saat mereka memukul Fikri tanpa ampun,
karena dia tidak lulus Ujian Akhir SMP: “Kenapa Ayah hanya memukul aku dengan
bambu rotan saja? Itu tidak akan cukup menyakitiku, seharusnya ayah bawa pisau
dan tikam jantungku, rajang aku beramai-ramai dan bunuhlah aku atau bakar saja
aku hidup-hidup. Bambu rotan yang ayah cambukkan padaku itu tak membuatku
merasa sakit sedikitpun. Karena ada yang lebih sakit ketimbang aku harus
dicambuk, ditikam atau dibakar hidup-hidup.
Kalian mau
tahu apa yang lebih menyakitkan dari semua? yang lebih menyakitkan adalah… dari
kecil aku harus melakukan semua perintah Ayah dan Ibu sementara kalian tidak
pernah bertanya padaku, ‘apakah aku merasa senang dengan apa yang sudah aku
lakukan untuk menuruti semua perintah kalian?’ mengapa kalian tak pernah mau
tau sedikit pun dengan perasaanku? Mengapa kalian tak pernah mengerti dengan
apa yang sebenarnya aku inginkan selama ini? Aku butuh kebebasan berekspresi
yah… aku butuh kebebasan untuk mengeluarkan pendapat bu, aku sudah capek
menuruti semua keinginan kalian”.
Apa kalian tahu, apa ekspresi
ayahku dan ibuku saat mendengar aku bicara? Mereka hanya bisa menangis
menyaksikan anak satu-satunya itu bisa bicara tak seperti biasa. Sementara yang
mereka tahu bahwa semenjak kecil aku adalah anak yang penurut, yang selalu mengikuti
semua kemauan kedua orangtuaku, tanpa berani membantah atau melawan sedikit pun perintah ayah dan ibu.
Tapi hari itu aku menjadi berbeda, saat aku memberontak dan bicara dengan
lantang kepada orangtuaku, layaknya Gunung berapi yang meletus dan larvanya
mampu membakar orang-orang di sekitarnya.
Aku saat itu sedang menggenggam pisau dapur dan aku meminta ayahku
untuk menusukkan pisau itu tepat di jantungku. Tapi Ayah hanya bisa diam
menyesali semua yang sudah dia lakukan terhadapku sedangkan Ibu langsung
memelukku erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.
Awal saat
kejadian itu, kehidupanku menjadi berubah dengan cara berpikirku sendiri. Aku
bisa lebih dihargai oleh Ayah dan Ibuku, segala keinginanku itu sudah sepenuhnya
menjadi tanggungjawabku sendiri tanpa ada sedikitpun kekangan dari kedua orangtuaku
lagi.
Kalian tahu
sendiri khan kalau aku itu tidak lulus dalam Ujian Akhir Nasional SMP? Itu
berarti aku harus mengikuti ujian susulan agar bisa melanjutkan dan diterima di
SMA. Ada pepatah bijak berkata, siapa yang berbuat─dia yang harus
bertanggungjawab? Maka dari itu aku harus perbaiki apa yang sudah ku lakukan,
mengisi soal UAN dengan asal-asalan adalah hal yang sangat bodoh. Tentu saja
tak ada seorang pun yang percaya bahwa aku tidak lulus ujian, bagi semua
teman-temanku kabar itu sebagai sebuah lelucon yang paling lucu yang pernah
mereka dengar. Tapi bagaimana pun juga hasil akhir berkata seperti itu dan aku
wajib untuk mengikuti ujian akhir nasional kedua agar aku bisa diterima di SMA.
Tentu saja UAN
yang kedua itu aku ikuti tanpa ada sedikitpun
hambatan. Alhasil nilai susulanku memecahkan rekor sebagai nilai paling
tinggi di antara siswa seangkatan yang lain. Tapi meski pun begitu, dengan
nilaiku yang tinggi itu belum tentu bisa menjaminku diterima di SMA Negeri
favorite karena bagaimana pun juga hasil akhir menyatakan bahwa aku tidak lulus.
Dengan akhir
cerita, aku memang tidak diterima di SMA favorite di luar kota. Tapi aku tidak
putus asa, aku yang di dukung kedua orangtua berusaha untuk mencari SMA Negeri
yang mau menerimaku. Dengan menggunakan sedikit ‘uang pelican’ akhirnya aku
diterima disini. Tapi tentu niat sekolah disini itu semata-mata sebagai batu
loncatan saja, karena bila sudah naik ke kelas 2─ayahku akan memindahkanku ke
SMA terfavorite di luar kota.
Dan semua itu
butuh 2 bulan lagi dari sekarang sebelum akhirnya aku bisa pindah sekolah ke
SMA Negeri yang lain. Dengan kata lain aku pun hanya tinggal 2 bulan lagi di
tempat kost ini dan aku ingin mempergunakan waktu yang singkat itu bersama
kalian.
Maka seperti itulah yang Fikrie ceritakan pada kami di acara
curhat-curhatan malam ini, yang hampir sudah jam 3 pagi tapi kami masih tetap bisa
ketawa-ketiwi tanpa kantuk dan tanpa ingin bermimpi di malam ini.
Ketika Fikri
hampir menyudahi curhatan tentang keluarganya tiba-tiba Nui memotong
pembicaraan Fikri dan berkata: “Eh nanti dulu belum selesai, itu khan tadi
tentang cerita keluarga kamu Fik. Nah sekarang gimana kalau kamu ceritain
tentang masalah percintaan kamu, setuju gak temen-temen? Kita semua khan disini
pengen tau tentang perjalanan kisah cinta kamu, tentang cinta pertama kamu,
tentang cara “nembak” kamu, atau mungkin tentang kenangan ciuman pertama kamu…
(iya nggak guys?), ucap Nui pada kami seraya bercanda dan ketawa.
Suasana yang
tadi agak menyedihkan saat mendengar cerita tentang masa lalu Fikrie. Akhirnya
Nui dan kawan-kawan hangatkan singgasana dengan curhatan-curhatan seperti percintaan
Fikri.
Kalian mau
tahu tentang kisah percintaan masa lalu Fikri? Seperti inilah kisah yang dia
curhatkan pada kami dengan cara bicaranya yang agak malu-malu.
Ucap Fikri: “ Kalau masalah cinta, aku nggak punya
kesan yang indah bersama seorang perempuan. Mungkin karena penampilanku yang
agak terlalu serius kali, dengan pakai kacamata yang aneh, gaya rambut yang
norak banget, baju-baju yang gak gaul─membuat semua cewek-cewek gak bakal merasa
tertarik untuk melirikku.
Sampai-sampai di usiaku yang sekarang udah 16 tahun
ini─aku masih berstatus sebagai pelajar jomblo sejati, (hehehe… kasihan banget
yah gue). Tapi meskipun begitu, dulu aku pernah bertemu dengan seorang wanita
cantik yang bersamanya aku merasa menjadi lelaki yang paling sempurna.
Dia adalah teman sekelasku waktu kelas 2 SMP,
namanya Renita dan dia cewek paling cantik di lingkungan sekolahku waktu itu.
Dulu dia selalu mendekatiku untuk menanyakan soal-soal latihan Fisika yang
sulit dan aku pun mengajarinya dengan senang hati. Renita selalu dekat di
sampingku untuk mendengarkanku yang sedang menjelaskan rumus-rumus soal fisika
yang baginya sukar.
Kalian tahu, apa yang ku rasakan saat pipinya bersandar
di pangkal tanganku? Perasaanku saat itu sungguh resah, debaran jantungku
berdetak begitu kacau, wajahku merona merah dan keringat dingin bercucuran di
ujung kepalaku. Terkadang dia selalu siap untuk mengambil tisu dan mengelap
wajahku yagn di penuhi keringat itu.
Kadang dia selalu mengingatkanku tuk bicara tak
gugup di depannya, dan kata dia: (hey kenapa kamu suka gugup kalau ngomong sama
aku, biasa aja lagi, jangan takut─aku nggak bakalan gigit kamu kok).
Renita memang tak pernah sadar bahwa aku saat itu
mulai menyukainya, tapi aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan
perasaanku padanya. Hingga di waktu itu, usai sudah cerita indah antara aku dan
Renita. Aku memang seorang pengecut yang tak bisa jujur dengan perasaanku,
sampai akhirnya sebulan kemudian dia pindah sekolah ke Bandung saat naik kelas
tiga. Sampai saat ini aku masih merasa menyesal karena tak sempat ungkapkan
perasaanku kepadanya.
Tapi aku yakin semua itu tak penting bagi Renita,
kata teman-temanku─dia hanya memanfaatkanku karena saat itu ingin masuk rangking
5 besar di semester dua dengan cara meminta bantuanku agar nilai-nilainya
menjadi tinggi dari semester pertama. Renita juga waktu itu sempat bilang
padaku, bahwa dia punya sebuah perjanjian dengan ayahnya.
Perjanjiannya adalah kalau Renita berhasil masuk
rangking 5 besar di semester kedua kelas 2, maka Renita boleh sekolah di
Bandung saat dia naik kelas 3 SMP. Dan saat itu juga Renita tidak biasanya
selalu ingin bersamaku, dia ingin diajarkan pelajaran-pelajaran yang masih
sukar buatnya. Tapi setelah akhirnya dia menerima raport di akhir kelas 2 itu,
dia mulai terlihat menjauhiku, apalagi dia tak pernah mengucapkan terima kasih
padaku karena ternyata dia sudah mendapat rangking ke 3 besar waktu itu.
Tapi meskipun begitu, aku tidak mengharapkan
apa-apa darinya, karena cintaku tulus walau aku pernah mengungkapkan perasaanku
padanya─hingga saat perpisahan itu tiba,” (duch sedih banget yah kisah cintaku,
ucap Fikri pada kami.)
Setelah Fikri selesai mencurahkan semua tentang masalah pribadinya itu,
maka tibalah waktunya untukku (Angga) mencurahkan semua tentang kehidupanku
kepada mereka (Nui, Wulan, Rubi, Fikri) yang ada di depanku saat ini.
Aku bingung
apa yang harus aku ceritakan pada mereka? Sementara kehidupan tentang
keluargaku sudah hancur berantakan, sedangkan kisah percintaanku bersama Nisa
sangat menyedihkan buat ku ceritakan. Disisi lain, Nui dan kawan-kawan terus
memaksaku untuk cepat bicara tentang apa saja yang menyangkut kehidupanku.
Tapi saat ini
aku masih saja diam membisu sambil malu-malu, apakah mereka bisa mengerti bahwa
semua ini terlalu berat untuk ku curahkan kesedihanku pada mereka, orang-orang
yang baru kukenal 2 hari yang lalu di rumah kost ini (Nui, Wulan, Rubi, dan
Fikri).
Aku tahu ini
bodoh tapi ku katakan saja semua kebodohan itu pada mereka sebagai pembuka jati
diriku yang sebenarnya. Aku bilang tak ada yang spesial dalam hidupku: “Keluargaku
di rumah saat ini lumayan baik dan masalah percintaanku tak ada bedanya dengan
lelaki yang lainnya. Hanya saja dalam hidupku aku mengagumi seorang perempuan
yang menjadi sumber inspirasiku untuk tetap bertahan hidup, tetap menciptakan
sebuah karya dan memahami dirinya berarti juga aku sedang mencari arti
kehidupan ini.
Dia adalah
ibuku, dia adalah sebuah alasan untukku
mengerti sosok seorang perempuan. Bahkan sebuah puisi pertama yang kubuat di
waktu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD adalah tentangnya. Karena bagiku dia
lebih dari sekedar pahlawan dalam hidupku yang harus ku abadikan lewat tulisan
prasasti hatiku.
Sementara
sekarang ini dia jatuh sakit dan tak berdaya melawan derasnya sisi keangkuhan
dunia. Apakah aku harus diam menghadapi semua kenyataan ini? Tidak … aku pikir
aku harus memberikan sebuah kado terakhir dalam ujung hidupnya sebelum dia
merasa tidak tenang meninggalkanku untuk selamanya.
Di tempat kost
ini aku ingin bisa bertahan hidup tanpa bantuan orangtuaku, agar Ibu tak
mencemaskan lagi masa depanku nanti. Aku adalah seorang lelaki, seorang anak
pertama darinya yang dia andalkan. Dia selalu berpesan padaku untuk mencari
kehidupan sendiri diluar sana, melawan arus derita, mengerti artinya menahan
lapar dan menghidupi diri dengan hasil keringatku sendiri. Aku mengerti apa
maksudnya, karena aku adalah calon ayah yang harus menghidupi anak-anak dan
istriku nanati. Lalu apa bedanya jika dari sekarang aku ingin belajar mencari
uang sendiri paling tidak menghidupi diri sendiri sehari-hari. Selain itu juga,
jika memang uang yang kudapat sedikit lebih dari hasil pekerjaanku nanti, aku ingin
membawa ibuku berobat ke Rumah Sakit ternama. Aku ingin sekali menyembuhkan
penyakit stroke yang membuatnya menjadi lumpuh tak berdaya.
Kemudian Wulan
memotong pembicaraanku (curhatanku) dan dia berkata: “Terus Ga, Ayah kamu
kemana? Perasaan dari tadi kamu tidak pernah ingin membicarakannya. Tapi Ayah
kamu masih ada khan, dan apa yang dia lakukan terhadap keadaan Ibu kamu?
Mengapa harus kamu yang ingin membawa
Ibu kamu berobat ke Rumah Sakit memangnya ayah kamu kenapa, dia masih kerja
khan?”
Rupanya tanpa
ku sadari, Wulan sangat memperhatikan ucapanku dan dia sepertinya sudah bisa
menebak tentang masalah yang tersembunyi dalam keluargaku. Entah mengapa
semuanya harus terjadi seperti ini, entah apa alasannya aku harus menceritakan
semua curhatanku lebih jauh lagi pada mereka? Tapi yang ku tahu, aku memang
butuh seorang teman untuk meluapkan semua masalah yang selama ini kupendam.
Semua orang yang
ada di tempat kost ini mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda tapi
intinya kami sama-sama punya masalah yang lebih berat ketimbang seorang siswa
SMA lainnya. Dan bedanya, kami punya keinginan untuk melawan dan membela diri
dari duri-duri tajam kehidupan. Setidaknya kami menghabiskan masa muda bukan
untuk berpoya-poya menikmati uang hasil kerja orangtua. Dan paling tidak, kami
masih punya hati dan perasaan untuk tak mau membebani siapapun lagi.
Karena tempat
kost ini mengajarkan kami untuk bisa lebih baik ketimbang orang-orang seusia
kami yang kerjaannya hanya bisa pamer harta orang tua, berdandan dan berpenampilan
mewah dari hasil kerja orangtuanya. Sungguh kami disini menjuluki mereka-mereka
itu sebagai manusia bodoh yang hanya bisa bersembunyi di balik ketiak ibunya.
Itulah sebabnya pada bulan Oktober 2006 aku menciptakan dan menyelesaikan
cerita ini yang berjudul INDEKOST sebuah mahakarya dariku yang ke 10.
Baiklah para
pembacaku, mari kita lanjutkan kembali adegan curhatanku yang belum selesai
pada mereka ini. Kita mulai lagi dari saat Wulan bertanya tentang keberadaan
ayahku. Akupun kembali menceritakan semua masalah hidupku pada mereka di pagi
ini, Pukul 03.45 menit─Tanggal 03 Mei 2005 di kamarku dan kami masih belum tidur malam ini padahal
pagi nanti kami harus berangkat sekolah.
Aku berkata
dengan nada protes lagi pada mereka: “Duh… udah hampir jam 4 pagi nih udahan
aja yuk curhat-curhatannya, nanti dilanjutin lagi besok malam deh aku udah
ngantuk nich, pagi-pagi khan kita harus berangkat sekolah.”
Tapi Nui malah
menjawab gagasanku seperti ini: “Nggak mau ah, kamu khan belum selesai
curhatannya jadi kita sekalian aja sama-sama nggak usah tidur. Setuju nggak
kawan-kawan? Dan yang lainnya menjawab setuju untuk satu hal itu. Malah kami
sepakat untuk bolos sekolah hari ini karena bagaimana pun juga kami harus tidur
dan istirahat pagi nanti. Untungnya Ibu kost dan keluarganya tak ada di rumah
untuk 2 hari ke depan. Jadi ini kesempatan kami untuk menghibur diri segila
mungkin.
Maka saat itu
juga aku mulai kembali menceritakan tentang
masalah keluargaku, terutama kini ku ingin menceritakan tentang ayahku
pada mereka. Saat itu Nui, Wulan, Rubi dan Fikri sedang memandangku dengan
tatapan yang kosong ketika ku mulai kembali curhatanku. Mungkin aku telah
berdosa besar karena sudah membohongi mereka dengan perkataanku yang tak jujur,
tentang jati diri ayahku yang sebenarnya.
Pada intinya
aku menceritakan bahwa “Orangtuaku sudah bercerai” saat aku masih berumur 6
tahun jadi aku tidak begitu banyak punya kenangan bersama Ayah karena aku
tinggal bersama Ibu. Mereka pun yang sedang mendengarkan ucapanku langsung
percaya begitu saja. Aku sadar bahwa aku telah berdusta pada mereka, tapi
itulah yang selama ini aku rasakan terhadap sosok ayahku, bahwa dia sudah tidak
ada dalam hatiku sejak aku masih berusia 6 tahunan.
Mungkin semua
orang punya masa lalu yang sangat indah bersama ayahnya sejak masih kecil. Tapi
tidak untukku, yang ku rasakan semasa kecilku adalah kekerasan, penganiayaan dan
saling meneriaki satu sama lainnya.
Setiap malam
semasa kecilku, aku tidur tanpa merasakan sebuah ketenangan, kedamaian,
kenyamanan bahkan aku tak pernah punya mimpi indah menjalani tidurku. Kalian
tahu kenapa ? Karena setiap menjelang tengah malam Ayah dan Ibuku selalu
bertengkar, saling teriak-teriak lebih kencang hingga membuat tidurku tak
pernah merasa aman.
Masa kecilku
telah ku habiskan untuk mendengar pertengkaran mereka, mendengar Ibuku kalah
dan menangis, melihat ayahku menjadi pemenang karena selalu menganiaya ibuku
tanpa perlawanan. Lalu apa yang bisa aku perbuat untuk membela ibuku ?
sementara ketika itu aku masih berusia 6 tahunan.
Maka dari itu aku menganggap bahwa ayahku sudah
tidak ada sejak dia menganiaya aku dan Ibu dari saat itu aku masih kecil. Apa
aku salah karena sudah berdusta diantara curhat-curhatan itu pada mereka? Bahwa
aku telah berkata tentang kebohongan ayahku yang kubuat-buat, padahal sampai
saat ini ayahku masih hidup bersama kami dan masih menindasku serta ibuku.
Padahal dia tahu kini bahwa Ibu sudah terkapar di
ranjang tanpa daya dan upaya. Dimana perasaan Ayahku meski dia tahu bahwa Ibu
sekarang sudah lumpuh total tapi dia tetap saja masih suka menekan bathin ibuku?
Kalian tentu
akan menangis bila melihat Ibu kalian disakiti dan dilukai, itu jugalah yang
kulihat seminggu yang lalu saat Ayah dengan leluasa mendorong Ibu hingga
terjatuh lalu dia injak kaki ibu sekuat tenaganya kemudian Ibu diludahi
wajahnya oleh ayah sambil dicaci maki dan di sumpahi biar cepat mati. Apa
kalian bisa merasakan perasaanku saat itu aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri?
Coba kalian
robek dadaku dan lihatlah sebuah pesan dari isi hatiku, bahwa aku telah hancur,
dan merasa hidupku telah gagal. Aku ingin sekali membakar rumahku sendiri
hingga aku bisa mati dengan semua keluargaku yang sudah hancur ini.
Tapi apa kalian tahu, alasan Aku ingin tetap hidup
lebih lama lagi? Karena aku ingin membuktikan pada dunia bahwa aku adalah anak
karang yang tak pernah takut di terjang gelombang. Aku juga bisa membuktikan
pada orang-orang yang tertawa di atas pedihku bahwa aku terlalu tangguh untuk
di remehkan, terlalu hebat untuk di abaikan.
Dan semua hal yang paling penting dari semua itu–hanya
ada satu, yaitu aku ingin buktikan bahwa semua yang pernah di katakan Nisa
(pesan terakhir Nisa) padaku adalah salah besar. Dia telah berpendapat tentang
kepribadianku di SMS terakhirnya (Tanggal 30 April 2005 Pukul 19:41:33) seperti
inilah SMS terakhirnya untukku: “Meskipun kenyataannya seperti ini. Tapi Nisa
gak suka sama orang yang gak nerima kenyataan hidup dan ngomong seenaknya.
Tunjukkin bahwa kamu itu bisa tanpa Nisa, mungkin ada orang yang lebih dari
Nisa di balik ini semua.”
Ya seperti itulah pasan terakhir yang di katakan
Nisa 4 hari yang lalu padaku, sejak saat itu pun aku dan Nisa tak pernah berkomunikasi
atau bertemu lagi. Entah sampai kapan? Mungkin hingga esok lusa atau untuk
selamanya sampai aku mati.
Dan sebelum Nisa mengirim SMS itu padaku,
sebenarnya aku jugalah yang memulai mengirim SMS terakhirku untuknya. Seperti inilah
SMS terakhirku untuk Nisa: “Aku tahu kau takkan pernah mencintaiku.
Ketidakpedulianmu telah menyadarkan ketidaksempurnaanku. Aku mengaku kalah tapi
itu bukan berarti aku menyerah. Sementara aku akan berhenti berharap dan
belajar melupakan cinta pertamaku, walau terasa sakit bagiku. Tapi aku berjanji
suatu saat nanti aku pasti kembali sebagai sosok yang akan membuatmu bangga dan
aku percaya kau akan menerimaku lebih dari apa adanya.”
Aku selalu percaya bahwa aku bisa menepati janjiku
untuk Nisa, bahwasanya aku akan kembali menemuinya sebagai sosok yang akan
membuatnya bangga. Dan satu hal yang paling indah saat aku mengirim SMS
terakhir itu adalah, saat itu hari sabtu malam sekitar jam 8 kurang (4 hari
yang lalu dari hari sekarang tanggal 3 Mei 2005) telah terjadi bulan purnama
yang sangat menakjubkan. Cahaya itu begitu menusuk perasaanku dan membuatku
selalu ingin mengalunkan puisi-puisi terindah tentang rasa kekagumanku terhadap
Nisa. Tapi sayang, bulan purnama itu harus menjadi saksi bisu perpisahan antara
aku dan Nisa. Andai cahaya terang itu bisa menyampaikan rasa rinduku, mungkin
Nisa akn tergugah untuk kembali padaku- atau setidaknya merasa enggan untuk
meninggalkanku.
Seandainya di malam terakhirku itu aku bisa memohon
pada Nisa untuk memberiku waktu 1 jam lagi di sampingnya. Karena sesungguhnya
aku belum merasa puas untuk melangkahkan kaki dan pergi untuk selamanya dari
kehidupannya. Tapi apa mau di kata, yang lalu tak mungkin kembali terulang
karena waktu tak akan pernah berhenti berputar. Kini ku hanya bisa sesali dan
resapi, bersama sang malam ku bersyair penuh ritma kerinduan.
Inilah kisah sedih yang aku alami, hilangnya
seorang perempuan yang sangat ku cintai sejak 5 tahun yang lalu itu. Dalam hati
ini hanya bisa kusimpan wajahnya, dan ku pastikan rasa cinta ini tak akan
pernah berubah sedikit pun hingga aku kembali menemuinya: “Ya suatu hari nanti aku
yakin bisa menepati sumpahku pada bulan purnama itu, bahwasanya aku akan
kembali menemui Nisa sebagai sosok pria tangguh yang bisa membuatnya jatuh
cinta.”
Sumpah itulah yang membuat aku selalu ingin hidup
lebih lama lagi. Supaya aku bisa punya alasan untuk menemui Nisa lagi, paling
tidak aku sudah berusaha untuk bisa melihat Nisa lagi hingga aku dapat
mengobati rasa rindu yang tak tersampaikan ini.
Di tempat ku berdiri saat ini, di kamar kostku ini–ku ikrarkan janjiku
untukmu duhai wanita pujaanku (Nisa).
Bahwasanya
seluruh hidupku–ku pertaruhkan untuk menunggumu mencintaiku. Dan sampai nanti
meski aku keburu mati, akan tetap ku tinggalkan seberkas cahaya yang tersisa dari
sinar lilinku yang meredup untukmu.”
Tapi aku
bersumpah sebelum aku mati, aku pasti akan kembali untuk mempertanyakan sekali
lagi: “Pada siapakah hatimu akan kau labuhkan?”
Mungkin sampai disini saja akhir dari segala curhatanku
kepada kawan-kawan baruku itu. Dan ternyata aku merasa lega setelah semua
cerita terpendam di dalam dadaku ini ku keluarkan pada mereka (Nui, Wulan,
Rubi, Fikri). Dan satu hal lagi yang terpenting dan sangat ku sadari bahwa tak
ada sebuah hubungan yang paling indah dari persahabatan yang tulus–yang mau
menerima segala kekurangan diantara sesama kawannya.
(Untuk hari ini Tanggal 3 Mei 2005, hari Selasa Pukul 04.35 pagi–aku
menyelesaikan dulu tulisan di buku harianku, di hari ke 3 aku tinggal di rumah
kost ini, dan juga di hari ke 4 aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan Anisa
Yuniar Purwana.
Mungkin nanti
malam aku akan menceritakan lagi pada kalian tentang pengalamanku selama
tinggal di rumah kostku ini bersama teman-teman baruku (Nui, Wulan, Rubi, Fikri).
Hari ke 3 aku tinggal di tempat kostku
Cibeber, Selasa 3 Mei 2005
CATATAN
HARIAN
Saat ini waktu
menunjukkan Pukul 22.37 malam, aku akan menuliskan kembali ceritaku di hari ini
pada kalian (pembaca setiaku).
Tadi pagi
sekitar Pukul 09.05 menit aku menjadi orang pertama yang bangun lebih dulu
diantara yang lainnya. Apa kalian tahu? Tadi malam kami curhat-curhatan dan
baru bisa tidur pada pukul 5 pagi ini. Dan lebih parahnya lagi, hari ini kami
bolos sekolah karena bagaimana pun juga kami harus istirahat dan butuh tidur
seperti manusia biasa lainnya.
Di pagi itu
aku terbangun karena suara bising mesin kendaraan terngiang mengganggu
pendengaranku. Saat ku berdiri dari
pembaringanku, aku melihat yag lainnya (Nui, Wulan, Rubi, Fikri) masih tertidur
di sekelilingku di kamarku. Mereka tertidur sangat pulas sekali hingga lupa
untuk pindah ke kamar masing-masing waktu subuh tadi.
Disini kami
sudah seperti saudara kandung sendiri hingga kami tidak ragu-ragu lagi tidur
bersama dengan lawan jenis dalam satu kamar. Tapi meskipun Nui dan Wulan ikut
tidur ada pembatasnya yang cukup jauh antara lelaki dan perempuan.
Coba sekarang
kalian perhatikan Nui dan Wulan yang saat ini sedang tertidur lelap tak jauh
dariku. Wajah mereka sangat polos penuh kejujuran dan cara tidur mereka jelas
menandakan kepribadian asli mereka. Aku melihat Nui dengan rambutnya yang lurus
sebahu–yang biasanya suka terikat tapi
saat ini terurai menutupi sebagian pipinya.
Tak kusangka
Nui ternyata cantik juga jika saat tidur, aku pikir dia akan selamanya terlihat
tomboy di mataku tapi hari ini dia berbeda. Aura kecantikannya mulai terpancar
bila dia terdiam dan mungkin orang yang melihatnya akan ikut terpaku tak
berdaya.
Tapi ada
sebuah sinar yang mampu menarik perhatianku untuk menatapnya. Sinar itu
terpancar dari wajah Wulan yang saat ini sedang tertidur nyenyak di sebelah
Nui. Pemilik sinar itu sangat indah sekali, tanpa aku sadari aku ingin selalu
memandang wajahnya sebelum dia terbangun nanti.
Ada apa dengan perasaanku,
mengapa hati ini selalu bergetar bila memandang wajah Wulan? Padahal aku baru 3
hari yang lalu mengenalnya di tempat kost ini, mengapa secepat ini aku selalu
ingin membelainya dengan rasa sayangku?
Apakah dia
memang jadi pelarianku saja setelah aku terluka oleh cinta Nisa? Aku sendiri tidak
pernah tahu jawabannya, yang pasti aku selalu merasa bahagia bila selalu
memandangnya, apalagi saat ini dia sedang tertidur pulas tak jauh dariku.
Aku yang saat
ini sedang terduduk (memandang Wulan tidur) sambil menyandarkan pipi kiriku ke
lutut–serentak dia terbangun dari tidurnya, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan?
Entah karena aku malu (takut dia melihatku yang sedang memandangnya) maka aku
pun langsung pura-pura berbaring dan tertidur kembali. Ini adalah sesuatu hal
yang sangat bodoh sekali bagiku, mengapa jantungku berdebar kencang ketika kudengar
Wulan bicara membangunkan Nui yang berarti itu tandanya kini Wulan sudah
terbangun dari tidurnya.
Akhirnya Wulan
yang sudah terbangun itu pun langsung membangunkan Nui yang masih tidur di
sampingnya, mereka sekarang sudah tersadar–kemudian langsung membangunkan kami
juga yang sedang tertidur.
Tak lama dari
itu semua orang akhirnya terbangun dan baru tersadar satu hal: “Bahwa sekarang
sudah pukul 09.15 pagi, mereka baru saja terbangun sementara hari ini
seharusnya mereka pergi sekolah. Tapi apa mau dikata, mereka kini sudah
terlambat untuk pergi sekolah jadi mau tak mau kami hari ini harus bolos sekolah.
Tak bisa di bayangkan kalau Ibu kost sampai tahu tentang hal ini, untungnya dia
masih ada di Sukabumi dan kemungkinan dia pulang sekitar hari besok atau lusa.”
Semua orang
berargumentasi saling menyalahkan atas semua yang terjadi. Semua orang
memperdebatkan kesalahan masing-masing dan tak mau di salahkan atas semua yang
terjadi. Siapa yang harus bertanggungjawab sementara orang-orang sibuk mencari-cari
alasan untuk membela diri? Sebuah realita bahwa hari ini kami semua sudah
berani bolos sekolah, tapi tak cukup membuktikan semua bisa tahu alasannya.
Sejak dari dini hari tadi, semuanya sudah setuju untuk bolos sekolah. Jadi tak
ada yang harus tahu masalah ini maka kami semua siap untuk menanggung segala
resikonya.
“Nui sih enak
karena sudah kelas 3, terlebih lagi Nui udah ngikutin UAN 2 minggu yang lalu.
Jadi baginya saat ini mau sekolah atau pun tidak sudah nggak ada masalah lagi.
Duh… Nui emang curang yah, jadi kami sekarang sepakat buat ngejitakin dia rame-rame.
Karena dia yang nyebabin kita semua ampe bolos sekolah soalnya dia khan yang
duluan ngajakin begadang tadi malem.”
Akhirnya kami
yang baru bangun tidur langsung diajak lari-lari ngejar Nui buat ngejitakin dia
rame-rame. Bayangin aja, harusnya hari ini Aku, Wulan dan Fikrie ngikutin
ulangan harian pagi ini. Tapi gara-gara kami gak sekolah karena bolos akhirnya
hari ini kami nggak bisa ngikutin ulangan. Dan terlebih lagi kayaknya kami
bakal kena semprot Bu guru karena coba-coba alfa waktu mau ulangan. Duh nyesel
banget deh ampe berani bolos sekolah hari ini dan semua ini gara-gara Nui,
sekarang kami harus ngejar Nui ampe dapet dan ngejitakin dia rame-rame.
Tak lama
kemudian, akhirnya Rubi berhasil nangkap Nui dan kami pun serentak menyiksanya
sambil ketawa-tawa: “Ada yang menggelitiki Nui ampe tergeli-geli, ada yang
menjitaki kepalanya ampe Nui bilang ampun, dan ada juga yang mencubitinya ampe
Nui ngerasa kesakitan”.
Terlebih lagi
kami menyiksa Nui ampe perut kami sakit karena kecapean tertawa terbahak-bahak.
Rupanya kami semua sama-sama lapar karena belum sarapan pagi ini, maka kami pun
sudahi becandanya untuk saat ini, Nui pun kami lepaskan setelah kami puas
menyiksanya barusan.
Pagi ini kami
mulai bingung, apa yang harus kami lakukan untuk mengisi kekosongan waktu yang
biasanya kami gunakan untuk sekolah? Akhirnya kami semua berunding untuk
membuat jadwal kegiatan hari ini bersama-sama. Diantaranya hari ini kami
berencana untuk mancing ikan di kolam Ibu kost belakang rumah buat lauk makan
siang. Udah gitu pokoknya hari ini kami mau having fun abis-abisan deh, soalnya
kami pasti bakal bete kalau lama-lama diem di rumah. Duh… di pikir-pikir enak juga yah sekali-kali
bolos sekolah bareng.
Sekarang ini
tak ada apapun yang patut kami urusi terlebih dahulu kecuali mengisi perut
untuk sekedar mengenyangkan badan biar sehat dan bertenaga kayak Gatot Kaca.
Pagi ini Wulan sedang masak untuk kami sementara yang lainnya ada yang mandi
dan nonton TV. Ini kesempatan buat aku lebih dekat dengan Wulan, sok gelagat
pengen “caper” deketin Wulan akhirnya aku beranikan diri buat ngebantu dia
masak berdua di dapur.
Kali ini cuman
kita berdua di sini dan aku lebih leluasa untuk tanya-tanya Wulan. Sok belaganya
jago masak, aku mulai nanya mau masak apaan sekarang? Begonya aku, udah tahu
yang ada bahannya cuman dedaunan doang jadi yang pasti masak sayur dong.
Duh Wulan
mulai nyuruh aku potong-potong bawang putih padahal aku belum pernah
melakukannya seumur hidupku. Ohh... saat-saat seperti ini romantis banget,
apalagi aku punya kesempatan buat masak berdua
sama Wulan. Udah deh kalau kayak gini aku pasti banyak ngelamunin yang
nggak-nggak, pasti aku berharap dia ngajarin aku gimana caranya motong bawang
putih yang baik dan benar, moga aja dia pegang tangan aku dengan mesra. Tuh khan
dia tersenyum dan sedang menuju ke arahku tapi tiba-tiba dia bilang kayak gini:
“Hayo loh ngelamunin apa, cepetan dong potong bawang putihnya katanya mau
bantuin aku masak.”
Jawabku:
“Ya-iya… aku mau tapi gimana sih cara motongnya ajarin dong?
“Ya ampun
Angga, motong bawang aja nggak bisa. Ya udah mana sini tangannya,” ucap Wulan.
Tuh khan
akhirnya aku menang taruhan dengan hatiku. Wulan mulai pegang-pegang kedua
tanganku dan ngajarin aku gimana caranya buat motong bawang yang baik dan
benar.
Biar nambah
romantis, aku pura-pura kelilipan kayak mau nangis. Soalnya aroma perih bawang
itu menusuk mataku dan buat aku jadi pengen nangis. Akhirnya Wulan niupin kedua
mataku bergantian supaya mataku nggak perih lagi. Duh… rasanya deg-degan banget
saat bibir Wulan sudah mulai terasa dekat dengan mataku. Ah dasar… Wulan memang
curang karena udah berhasil menarikku ke dalam jurang hatinya. Tapi ku cukup
punya kesadaran diri untuk tak terjerat lebih dalam lagi ke samudera cintanya
yang amat dalam itu.
“Hanya ingin kau
tahu, bahwa hatiku hanya untuk Nisa. Dan segala yang terjadi saat ku telah
jatuh hati pada perempuan lain, itu hanya sekedar persinggahan letihku di
persimpangan jalan. Dan selanjutnya setelah ku kembali ingin memulai perjalanan
hidupku, maka aku akan berpegangan pada hatimu (Nisa) dan ku percaya akan
seperti itulah adanya,” ucapku untuk Nisa.
Di saat itu,
di kala Wulan masih meniupi kedua mataku yang perih. Ada sesuatu yang berbeda
mulai merasuki jiwa kami, ada debaran aneh yang mengganggu napasku. Ketika kulihat
Wulan mulai memandangku dengan tatapan yang kosong tanpa henti seraya dia remas
erat jemariku. Apa yang Wulan pikirkan tentangku, mengapa aku merasa bergetar
saat wulan menatapku tanpa henti? Apa mungkin Wulan menyukaiku atau barangkali
aku pernah berkata salah hingga Wulan menjadi aneh seperti ini?
Tapi kucoba
saja untuk menyadarkan lamunan Wulan yang membuatku makin “horni” itu. Aku
tersenyum sembari memanggil pelan namanya agar dia tergugah dan kembali
terjaga. Tapi dia malah kelihatan makin aneh saat dia memelukku dengan erat
sekali. Setelah itu dia juga mengeluarkan kata-kata yang tak ku mengerti. Tapi
intinya dia bilang kalau dia mulai suka sama aku, dia ngerasa bahwa aku tipical
cowok idaman yang selama ini dia cari. Pokoknya dia selalu membicarakan kembali
tentang semua yang pernah ku bicarakan di acara curhat-curhatan tadi malam.
Duh… aku
benar-benar belum mengerti dengan semua yang terjadi ini. Tapi aku bisa
merasakan kenapa Wulan menyukaiku. Mungkin nasibnya tak jauh berbeda dengan
nasibku, kami berdua sama-sama butuh perhatian dari kedua orangtua, secara kami
berdua baru tumbuh dewasa dan belum mengerti apa tujuan hidup kami ke depan
nanti. Yang lebih parahnya, Wulan sekarang sudah tidak punya Ayah dan Ibu lagi,
dia anak yatim piatu yang sedang mencari arti hidup dan ingin saling di sayangi.
Sekarang coba
kalian lihat kembali dan perhatikan setiap kata yang pernah ku ucapkan di acara
curhat-curhatan tadi malam. Yang Wulan tahu tentangku bahwa Ayahku sudah pergi
tinggalkan keluarga sejak umurku 6 tahun sementara ibuku sedang sakit parah di
rumah. Dan Wulan juga tahunya kalau aku ngekost cuman pengen nyari kerja (nyari
uang) buat ngobatin ibuku.
Lalu coba
kisah hidupku ini kalian gabungkan dengan cerita hidup Wulan. Bahwa pada
dasarnya kami sama-sama punya nasib yang buruk dan menyedihkan. Untuk itu Wulan
ngerasa cocok sama aku. Tapi saat dia bilang apakah aku juga suka sama dia, dia
malah nyuruh aku buat nggak usah di jawab aja. Soalnya Wulan cuman pengen aku tahu bahwa dia udah jatuh hati sama aku,
itu saja.
Tak lama
kemudian Wulan berhenti memelukku dan kami melanjutkan untuk memasak kembali.
Aku masih terdiam saat ini, apakah tadi aku hanya bermimpi? Mungkin hanya aku
dan Wulan saja yang tahu jawabannya.
Sesaat tersentak, aku telah tersadar dari
lamunan panjang seakan rohku kembali rasuki jiwa setelah sekian lama menghilang
entah kemana. Baru ku sadari bahwa cerita barusan hanya khayalanku saja: “Itu
tadi nggak ada cerita mesra-mesraan bareng Wulan, nggak pernah ada
peluk-pelukkan, nggak pernah ada bilang cinta-cintaan kok, dan yang pasti Wulan
nggak pernah bilang kalau dia suka atau sayang padaku.”
Sepanjang cerita dari tadi saat aku dan Wulan masak di
dapur, hanya ada adegan saat aku melamun sambil memotong bawang putih. Sementara
Wulan memasukkan bahan-bahan makanan ke dalam wajan untuk di racik menjadi
masakan. Duh… andai saja cerita barusan bukan khayalan mungkin aku ngerasa jadi
lelaki seutuhnya. Bayangkan aja, kayaknya seumur hidupku itu aku nggak pernah
ngerasain gimana rasanya meluk cewek, membelai rambutnya, bilang
sayang-sayangan dan janji gak bakalan ninggalin dia.
Tapi kapan yah
aku bisa kayak gitu? Sementara pacaran aja aku belum pernah ngalaminnya. Ini
semua gara-gara Nisa, kenapa juga Nisa gak pernah mau jadi pacar aku padahal
aku khan pengen banget pacaran sama dia. Ya sudahlah, aku buang aja khayalanku
jauh-jauh. Dan kini aku melanjutkan kembali acara masaknya bareng Wulan.
Hingga
akhirnya beberapa menit setelah itu, kami selesai masak dan semua makanan
sekarang sudah siap di hidangkan di meja makan.
Sementara yang
lainnya menyambut setelah aku dan Wulan memanggil mereka untuk segera makan.
Sekarang semuanya sudah datang dan kami lanjutkan acara makan sembari melakukan
beberapa topik obrolan mesra di meja makan. Kami tak berhenti tertawa ketika
Rubi dan Nui melayangkan beberapa
pertanyaan teka-teki. Rasanya aku bahagia banget bisa tinggal disini
bersama mereka, aku bangga dan bahagia punya teman-teman kayak mereka yang
sekarang udah aku anggap saudara.
Saat ini waktu
tepat di jam 10 pagi kami pun selesai makan dan bersiap ngehabisin waktu di
hari ini. Sementara yang lainnya saat ini masih sedang sekolah, kami seakan
bangga bolos hingga kami berani keluar rumah gitu aja tanpa takut kepergok
guru. Ya bayangin aja jarak antara kostku sama sekolahku itu cukup dekat tapi
kami selengean aja keluyuran di jam sekolah.
“Hehehe… kalau
aku pikir-pikir sih ternyata Aku, Wulan, Rubi, Nui dan Fikri bandel juga yah.”
Tapi biasanya
kami nggak sering kayak gini kok, ya mumpung lagi di tinggal Ibu kost aja jadi
kami manfaatin buat seneng-seneng sehari aja. Yang mungkin hanya sekedar
refresing aja biar otak nggak butek karena di cekokin terus sama yang namanya
sekolah dan buku.
Acara pertama
yaitu masak dan makan, barusan aja kami udah ngelakuinnya. Dan kali ini acara
kedua yaitu “Mancing ikan di kolam belakakng rumah” buat persiapan makan siang.
Saat ini kami
sedang siap-siap untuk menyediakan berbagai macam yang masih menyangkut tentang
tata cara mancing ikan. Tentu saja hal pertama yang harus disiapkan adalah kail
pancingan serta umpan ikan mas dan nila.
Sekarang semua
anak sudah berkumpul di pinggiran kolam ikan. Mereka mencari tempat duduk yang
strategis dan empuk biar pantat mereka nggak pada pegal-pegal dan keram-keram.
“Ayo kita
lomba mancing guys, siapa yang dapat ikannya paling terakhir, dia harus
diceburin ke kolam rame-rame, setuju nggak?” ucap Nui pada kami berempat.
Konsentrasiku
saat ini tertuju pada riuh-riuh air yang bergerak terhempas angin. Ku lemparkan
kailku di antara gelembung udara–dalam air yang terjatuh masuk mengalir menuju
kolam. Naluriku berkata kalau di bawah kailku jatuh sekarang sedang ada ikan
besar yang mondar-mandir sambil berpikir: “Makan nggak yah umpannya?” dan
secara udah pasti, aku yakin ikan-ikan itu akan tergoda dengan umpan lezat yang
sengaja ku hidangkan buat mereka. Harapanku saat ini tertuju pada ikan Nila
yang besar, semoga aja cacing yang terkait di kailku ini bisa menarik ikan itu
ke daratan.
Hey coba
kalian dengar, ada teriakan gembira terlontar dari mulut Wulan kala dia
berhasil menarik ikan itu ke atas air. Wulan loncat-loncat kegirangan karena
ikan mas yang di dapatnya itu cukup lumayan besar. Sementara yang lainnya pada
“mupeng” ngeliat Wulan jadi juara pertama yang lebih dulu mendapatkan ikan.
Di sisi lain
saat ini kamera menuju caster Rubi: “Coba sekarang kalian perhatikan wajah
senyum-senyum sendiri karena kailnya bergerak-gerak ke atas dan kebawah sebagai
tanda bahwa ikan itu sekarang sedang bermain-main dengan sang umpan (cacing).
Mungkinkah Rubi jadi juara kedua setelah Wulan? “Bersambung…”
Nantikan kisah
ini selanjutnya minggu depan di jam yang sama dan menit yang berbeda: “Loh kok
malah jadi nggak nyambung yah ceritanya? Ok deh sekarang aku lanjutin lagi
kisah selanjutnya.”
Saat ini Rubi sedang siap-siap untuk menarik
pancingnya karena dia pikir sekarang ikan itu sudah tersangkut di kailnya. Tapi
tiba-tiba apa yang terjadi saudara-saudara rupanya Nui tidak tinggal diam saja,
Nui mengambil batu sebesar kepalan tangannya lalu dia melempar ke arah kail
Rubi dan kemudian… Aduh sayang sekali saudara-saudara, ikan yang hampir
berhasil Rubi pancing itu seketika terkejut: “Ada batu besar yang terjatuh di
atas langit menimpa kepala ikan itu hingga benjol-benjol segede telor
saudara-saudara.”
Rubi pun kecewa karena ikan buruannya itu terlepas
lagi, barangkali ikan itu membatalkan janji untuk makan umpan sarapan. Lalu apalagi
yang terjadi kali ini saudara-saudara? Akhirnya Rubi marah pada Nui karena
berlaku curang mengganggu Rubi yang hampir saja mendapatkan ikan.
Sekarang lihatlah Rubi mengejar Nui
keliling-keliling kolam untuk diceburkan ke air. Sementara di sisi lain, Fikri
lagi asyik-asyikan aja tuh baca komik kartun sambil nunggu kailnya di embat
ikan. Sedangkan Wulan lagi berteduh di bawah payung sambil menyandarkan
tubuhnya di kursi bambu bersantai-santai, minum juice jeruk seraya nunggu ikan
kedua yang nyangkut di kailnya. Lalu aku saat ini, ya gitu dech… aku lagi ngeliatin
Wulan dari jauh karena mungkin aku nggak punya daya untuk menyentuh dan mengusiknya.
Untung aja aku
pake kacamata hitam jadi aku lebih leluasa untuk memandang Wulan tanpa dia
ketahui: “Duh… Wulan sexy banget deh, dia pake kaos putih dan celana pendek,
kulitnya mulus dan enak di pandang. Kalo aku perhatiin lama-lama dia agak mirip
sama Mulan Kwok vokalis group band Duo Ratu.”
Sekarang semua
orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing di pinggiran kolam. Dan tetap
saja dari tadi Rubi versus Nui yang terus kejar-kejaran mengelilingi kolam.
Niat Rubi buat nyeburin Nui kayaknya kurang teralokasi baik kalo nggak aku ikut
bantu juga nangkepin Nui.
Akhirnya Aku,
Wulan dan Fikri ikut-ikutan ngejar Nui setelah dapat komando langsung dari
Rubi. Nah… sekarang Nui baru nggak bisa lari kemana-mana lagi, soalnya kami
berempat berhasil mengepungnya untuk siap-siap segera diceburin ke kolam.
“Haaa… mau
lari kemana lagi sekarang lo?” ucap Rubi pada Nui. Setelah itu akhirnya kami
berempat merajang kaki dan tangan Nui untuk dilemparkan ke kolam. Tubuh Nui kami
ayun-ayunkan seiring hitungan Rubi: “Satu… Dua… Tiga…” baru pada hitungan
ketiga kami lemparkan Nui sambil tertawa terbahak-bahak. Sementara Nui sendiri
bertampang menyedihkan untuk dilihat. Salah Nui sendiri pake curang dan jailin
Rubi segala, tuh khan akhirnya dia dapet balasannya juga.
Ya ampun… jadi
berantakan deh acara mancing ikannya. Mana ikannya cuman dapet satu lagi, itu
juga untungnya Wulan berhasil dapet ikan mas gede. Ya mungkin cukup deh buat
lauk-pauk makan siang nanti.
Kisah
berikutnya setelah Nui kini masih mengambang di atas air. Tiba-tiba Rubi
mengangkat alis matanya padaku sebagai isyarat untuk menceburkan Wulan juga
yang kebetulan ada di depanku, tak jauh dari pinggir kolam. Duh… sumpah deh aku
mana mungkin berani ngejailin Wulan jadi aku suruh Fikri aja buat jadi algojonya.
Dan akhirnya
Fikri mau bersekongkol dengan Rubi untuk siap mengangkat tangan dan kaki Wulan.
Wulan sendiri sempat berontak seakan nggak rela waktu mereka melaksanakan
niatnya untuk nyeburin Wulan juga. Tapi Wulan khan perempuan jadi terang aja
dia kalah dan hanya bisa mempasrahkan dirinya akan dilemparkan ke kolam seperti
Nui barusan.
Kalian pikir
aku bakal ngerelain gitu aja saat Rubi dan Fikri mau nyeburin pujaan hatiku
Wulan, “Tentu saja tidak!”
Saat Rubi
mengayunkan tubuh Wulan dan mulai menghitung, aku yang berada diantara mereka
bertiga langsung aja aku dorong mereka semua ke kolam, adil khan?
“Hahaha…” aku
ketawain aja mereka semua seperti badak yang sedang berada di kubangan.
Akhirnya cuman
aku doang yang selamat, nggak ikut nyebur bareng mereka ke kolam. Rasanya puas
dan seneng banget deh bisa ketawain mereka yang sedang kedinginan, basah kuyup,
berenang bareng ikan: “Makan tuh ikan, hahaha…”
Setiap mereka
mau naik ke daratan, aku dorong kepala mereka agar nggak bisa naik ke atas.
Selalu seperti itu dalam beberapa detik hingga akhirnya Rubi berhasil memegang
tanganku dan menarikku sampai aku pun ikut terbawa loncat ke kolam.
“Yah sekarang
baru adil deh,” semua udah ada di kolam air dan kami bukannya jadi kesel malah
sekarang kami makin gila-gilaan bercanda bermain di air keruh. Sembur-semburan
bahkan Rubi dan Nui malah bertengkar saling nenggelamin kepala ke bawah air.
Sedangkan aku
sama Wulan main sembur-semburan air, saling tertawa terbahak-bahak: “Duh…
sumpah deh romantis banget.”
Beberapa saat
dari itu, kami mengakhiri semua permainan dan hendak pulang. Sekarang waktu
hampir jam 12 siang, kami bersama-sama melanjutkan untuk menjalani hari di
siang yang cerah ini.
Sampai tiba
depan kost masih berjalan perlahan karena basah kuyup, ucap Rubi masih kesal: “Gara-gara
Nui nih gue jadi mandi 2 kali khan sialan” lalu Nui ngotot nyalahin Rubi
pertama kali nyeburin dia.
“Ohh... jadi
ceritanya lo nggak mau tanggungjawab nih. Ah sialan lo, kawan-kawan gimana kalo
kita sekarang siksa Nui rame-rame? Kita jitakin dia, gelitikin kaki dia atau
sekalian aja kita iket dia di pohon.”
“Setujuuu!”
seru yang lainnya dan Wulan yang paling bersemangat sekali kali ini.
“Hehehe… mau
lari kemana lo? Sebelum kita besok dimarahin Guru abis-abisan karena bolos
gara-gara lo juga, mending sekarang sebagai balasannya kita siksa Nui si biang
kerok sepuasnya,” geretak Rubi pada Nui.
“Ampun deh ampun…
nggak kok beneran Nui mau tanggungjawab, sumpah deh jangan aniaya Nui yah guys,
entar bilangin Ibu kost loh!” Ucap Nui.
Tapi kami
semua nggak takut sama gertakan Nui, akhirnya kami laksanakan juga niat kami
buat jailin Nui rame-rame. Lagian disini Nui itu paling jail jadi wajar aja
kalo sekali-kali kita semua bersatu buat ngasih pelajaran Nui biar dia kapok
dan nggak pernah ngejailin kita lagi.
Nggak lama
kemudian kami berhasil ngiket Nui di pohon depan halaman. Dia kayak pengen
nangis tapi kami tertawa terbahak-bahak sambil ngeledekin dia: “Kalau di pikir-pikir,
kawan macam apa kita ini tega ngejailin sobat sendiri hehehe…”
Hey lihat Ruby
punya ide brilian; Wajah Nui dicorat-coret pake arang hitam, kepala Nui di
taplokin telor mentah, tubuh Nui ditaburin pake tepung terigu lalu kali ini Nui
di gelitikin pake bulu ayam. Wah… pokoknya masih banyak lagi deh siksaannya.
Sementara Nui
nggak bisa bergerak tubuhnya diiket erat di pohon mangga. Awalnya Nui emang
sempet bawel tapi sekarang udah “beres” soalnya mulutnya udah kami sumpel pake
sapu tangan.
Siksaan
terakhir yaitu nyiramin seluruh tubuh Nui dengan aer comberan yang udah
berwarna ijo tua biar tambah kuyup dan bau. Pokoknya menjijikan banget deh dan
aku pikir Nui nggak bakalan lupain cerita ini hingga akhir hidupnya.
Disaat Rubi
mulai perlahan menyiram tubuh Nui sementara Wulan pergi ke dalam rumah untuk
membawa sesuatu, yang mungkin bisa mengejutkan Nui. Apakah yang dibawa Wulan di
dalam rumah untuk Nui?
Sekarang wajah
Nui dipenuhi lumpur kotor yang menjadi ampas dari aer comberan tadi. Nui
mencoba melepaskan sumpalan sapu tangan yang membungkam mulutnya setelah
terlepas barulah Nui bisa bicara dan memaki: “Kampret lo Rubi… ini udah
keterlaluan tau. Kalian pikir gue seneng diperlakukan kayak gini. Lepasin nggak
ikatan gue atau kalo nggak gue bakal marah banget sama kalian semua, cepetan
lepasin gue,” teriak Nui.
Tiba-tiba
Wulan keluar dari dalam rumah dengan mengangkat sebuah kotak yang berisi… yang
berisi kue Ultah dan bernyanyi: “Happy Birthday Nui… Happy Birthday Nui… Happy
Birthday–Happy Birthday… Happy Birthday Nuuuiii…” lalu setelah itu dilanjutin
oleh yang lain dengan menyanyikan lagu yang serupa dalam beberapa menit yang
hening dan mengharukan.
Aku sendiri
baru tahu kalau Nui hari ini ulang tahun, pantesan aja tadi malam Nui minta
kita temanin semalam suntuk–memaksa kita untuk bolos agar bisa bersamanya
seharian. Ternyata ini adalah hari istimewanya dan sepertinya dia sedih, dia
kesepian dan dia butuh teman dan yang lain sadari itu. Aku baru sadar kalau
seperti ini ceritanya, pantas mereka mau-maunya aja bolos sekolah hari ini.
Sepertinya aku telah dibodohi oleh mereka semua karena tidak diberi tahu sebelumnya
kalau mau kasih kejutan tuk Nui.
Lalu Nui
barusan udah marah-marah pun seketika berwajah merah malu dan sesaat menjadi
diam membisu mungkin karena terharu.
Lilin angka
18 yang menyala di atas kue itu semakin
mendekati arah Nui. Sementara Rubi melepaskan ikatan Nui dan yang lainnya tetap
melantunkan lagu selamat ulang tahun untuk Nui dengan penuh haru.
Acaranya
sukses; Nui bener-bener kaget dengan “Surprise Brithday” yang udah kita lakuin
spesial buat dia. Sebenarnya kejutan ini udah terencana dari mulai beberapa
hari yang lalu, tapi ada sedikit kejadian diluar jalur karena tadinya mereka
mau realisasikan surprise ini pada malam harinya, bukan siang hari seperti
sekarang. Tapi karena udah terlanjur jadi mereka lanjutin aja acara ultah Nui
yang terakhir di rumah kost ini sebelum 2 bulan lagi dia bakal kuliah di
Bandung dan ninggalin kita semua di sini (di rumah ceria ini).
Nui jadi malu
karena tadi sempat marah-marah sama anak-anak. Rupanya dia bisa mengakui bahwa
“Surprise” ini bener-bener sukses tanpa ada sedikitpun kecurigaan. Kata dia sih,
baru kali ini dia mendapatkan kejutan dari orang lain yang ternyata ikut peduli
akan hari ini yang paling istimewa buatnya.
Padahal Nui
nggak pernah sekali pun cerita sama anak-anak tentang tanggal ulang tahunnya,
lalu dari mana mereka bisa tahu kalau hari ini tuh ultahnya Nui? Jadi katanya
pada awalnya Wulan udah curiga dan menduga kalau bulan Mei itu ultahnya Nui,
secara nama lengkapnya aja Nurul Maydiawati: “Ya pastilah dia dilahirin di
bulan Mei.
Selain itu
beberapa minggu yang lalu juga Wulan pernah nanyain hari ultahnya Nui ke teman
sekelasnya dari SMP. Dan alhasil ternyata tanggal lahir Nui itu 03 Mei 1987,
tepatnya hari ini tuh usianya 18 tahun.
Udah deh
sekarang kita balik lagi ke adegan barusan; Setelah ikatan Nui dilepas Rubi,
Nui malah nangis karena anak-anak ternyata udah “care” banget sama dia. Kami
berempat masih tetap bernyanyi tapi kali
ini kata-katanya berubah menjadi kayak gini: “Tiup lilinnya… tiup lilinnya…
tiup lilinnya sekarang juga… Sekaraang jugaaa…”
Lilin itu pun
redup seketika ditiupnya didetik-detik lagu terakhir. Wulan yang sedang ngangkat
kue langsung nitipin kue itu ke Rubi saat Wulan ingin memeluk Nui sambil
ngucapin selamat ulang tahun untuknya.
Si Wulan kayaknya meluknya ati-ati banget tuh, soalnya tubuhnya Nui khan kotor
banget dipenuhi lumpur air comberan, tepung terigu, telor mentah plus bau badan
Nui.
Kita-kita sih udah
nyangka kalo Nui bakalan balas jailin Wulan, tuh khan liat aja gak lama dia
peluk erat Wulan kayak sengaja pengen
ngotorin bajunya: “biar sama-sama kotor dan bau lumpur,” kata Nui pada Wulan.
Akhirnya kita
ketawa-ketiwi saat Rubi mulai nyolek sedikit kue dan namplokinnya di wajah
Wulan berulang-ulang. Tadinya seluruh
kue itu pengen ditamplokin sekalian aja ke wajah Nui tapi sayang juga kalo
dibuang percuma. Jadi sebagian besar kue itu disimpan dulu dan sisanya pada
ditamplokin ke wajah Wulan, Nui, Aku dan Fikri.
Acara ultahnya
makin jadi berantakan, semua orang kini pada berlarian karena takut dikejar Nui
yang ingin balas dendam. Hampir seluruh parkiran teras dibasahi oleh air, kala
Nui nyiram anak-anak pake selang air buat nyuci mobil. Kini semuanya makin
basah kuyup tapi kami senang banget hari ini.
Sementara aku
punya ide brilian untuk mengisi kegiatan di saat ini; Aku melihat setengah kantung
besar semen bahan bangunan yang tergeletak di sudut rumah. Aku bawa semen itu
dan ku taburkan dengan rapi membentuk segi empat 60x30cm dengan tebal sekitar 5cm.
Sebelumnya ku sirami semen murni itu dengan campuran 2 ember air hingga merata
agar bisa membeku dengan kokoh.
Sebelum semen
itu cepat membeku, aku segera menyuruh yang lainnya untuk menjiplakan jari
telapak tangan kanan mereka di atas semen yang hampir membeku itu. Selain itu
mereka juga mengukirkan nama pendek mereka di bawah telapak tangan mereka
masing-masing. Semen itu sekarang akan cepat membeku dengan sangat kokoh dalam
hitungan sekitar 15 menit.
Coba sekarang
kalian bayangkan; Ada sebuah semen yang dibentuk sebidang segi panjang yang
diatasnya terjiplak telapak juga nama mereka di bawahnya. Pemilik telapak
tangan itu adalah Nui, Rubi, Fikri, Angga, Wulan dan mungkin tanda itu takkan
pernah bisa hilang hingga 10 tahun kedepan.
Saat ini semen
segi panjang itu sudah sangat membeku dan keras. Sungguh bagus dan rapi sekali
bila kalian pandang. Kami akan menyimpan benda bersejarah ini di depan rumah
kost, di sebuah taman kecil yang di payungi pohon rimbun dan rumput rindang.
Aku yakin benda ini akan tetap utuh seperti ini hingga 10 tahun kedepan kami
janji kembali kesini. Biarlah benda bersejarah ini menjadi saksi bisu “Sebuah
legenda 5 sahabat di rumah kost ini.”
Mungkin hanya
ini yang bisa kami tinggalkan untuk suatu hari nanti bisa kami kenang di kala
usia sudah senja.
“Kami 5
sahabat sejati berjanji; Takkan saling melupakan meski jarak akan memisahkan.”
Nggak kerasa, sekarang waktu udah nunjukkin jam 2 siang. Dan saat ini
kami sudahi permainan dan hendak mandi membersihkan badan. Hari ini sungguh
melelahkan, tapi masih banyak lagi kegiatan yang harus kami lakukan sampai
menjelang malam.
Ceritanya; Sekarang
kita-kita udah mandi dan berpakaian rapi kini. Lalu apa lagi yah yang harus
kita lakuin saat ini? Oh iya … kami belum makan siang! Jadi sekarang rencananya aku dan
Wulan masak berdua lagi di dapur: “Duch senengnya deh bisa selalu deket sama
Wulan sepanjang hari ini.”
Tadi pagi aku
dan Wulan sudah masak menu Capcay dan
sayur-sayuran yang lainnya. Dan sekarang
ini kita mau ganti menu masakan yaitu; Semur jengkol kesukaan Nui, balado tempe
pedas kesukaan Fikri, (tuum peda) plus sambel goreng kesukaanku, sedangkan
Wulan kali ini dia pengen makan sama pepes ikan mas super pedas hasil
tangkapannya.
Aku dan Wulan
sekarang sudah siap masak, mudah-mudahan hidangan kali ini lebih lezat dari hari-hari
biasanya. Tapi aku sih nggak ngeraguin kalihaian Wulan dalam memasak, soalnya dia
jago banget dalam bidang ini. Secara Wulan itu adalah sosok seorang perempuan
perfect idaman para pria gitu loh! Wulan itu ngingetin aku pada sosok ibuku,
dan aku harus akui bahwasanya aku sangat mengagumi dia akhir-akhir ini.
Duh kayaknya
aku udah ngomong ngelantur nih, udah ah jangan diterusin lagi entar Nisa
cemburu kalau ngebaca halaman ini, hehehe… pede banget yah gue.
Cerita
berikutnya; Sekarang aku dan Wulan udah beres masak dan semua makanan udah siap
disantap. Berhubung hari ini Ultahnya Nui jadi kami mulai sekarang bikin
tradisi kalo hari ini tuh Nui boleh jadi Ratu dan kami budaknya. Mulai detik
ini Nui berhak memerintah apa pun pada kami selama itu tidak melanggar
norma-norma dan etika.
Pertama-tama
Nui pengen makan sama lauk pauk yang dia kehendaki tapi kayaknya dia malah
nyoba semua makanan yang ada di meja makan, kami sabar soalnya ini udah
perjanjian kami sama Nui.
Yang kedua,
Nui pengen di pijitin dari mulai kepala, pundak, tangan dan kakinya. Awalnya
kita sempat nggak mau tapi berhubung ini masih Ultahnya Nui jadi kami nurut aja
asal dia bisa bahagia di hari paling istimewa buatnya ini.
Ya... akhirnya
sore ini aku makan dikit deh, soalnya Nui hampir embat semua makanan yang ada
di meja. Tapi gimana pun juga aku harus sabar karena Nui layak bahagia di hari
ini paling tidak cuma sehari ini.
Udah beres
makan plus mijitin Nui, kami berencana pengen rental musik malam ini. Tapi
sebelumnya sekarang kami mau latihan bareng dulu biar gak gugup lagi kalo udah
ada di ruang musik nanti.
Sekarang kita
udah ngumpul di kamarku; Nui lagi main gitar, Wulan maenin piano kecil, Fikri
yang maen bassnya, Rubi lagi diem bengong kayak dongo sementara aku maen gitar
ngikutin petikan Nui. Sekarang baru deh kami siap buat bawain lagu-lagu yang
udah populer di dalam negeri.
“Ehh… sekarang
kita mau nyanyi genre musik apa yah enaknya,” ucap Rubi.
“ehmm… gimana
kalo kita masukin musik Rock and Roll di band kita ini, biar metal coy; Terus
entar kita bawain lagu-lagunya Slank, BIP atau biar lebih cadas lagi kita
bawain lagu dari Metalica, Sepultura atau Aerosmith,” ucap Nui.
“Ah nggak mau
ach… khan disini aku yang nyanyi jadi aku juga dong yang berhak nentuin,
pokoknya aku pengen bawain lagu-lagunya band Cokelat aja,” ucap Wulan.
Lalu kemudian
Fikri menyelang: “Ihh… aku tuh pengen lagu-lagunya dari Linkin Park aja,
pokoknya aku nggak mau ikutan kalo kita nggak bawain lagu dari Linkin Park,
Titik.
Akhirnya semua
anak-anak pada manyun karena ternyata aliran
musik favorite kita tuh beda-beda banget. Sementara aku sih nggak
terlalu mempersalahkan semua ini,
apalagi Rubi cuman diem aja karena dia sih nggak begitu tau musik jadi dia
juga bisa ikut kemana aja yang anak-anak
mau.
***
Lalu jalur musik apakah yang akan dianut
Band kita ini?
Sementara 2 bulan lagi akan ada acara
Perpisahan Sekolah dan Nui bermimpi bisa manggung bersama Band ini di acara
tersebut. Sebagai acara perpisahan sekolah dan perpisahan bersama kami semua.
Kunjungi juga:
B e r
s a m b u n g …
Bagus tuh, cakep tuh ceritanya... jd inget cerita cinta SMA...
BalasHapusNostalgia persahabatan thn 2005an, isi hatinya jujur, ngena buat d baca, jd penasaran cerita selanjutnya...
BalasHapusBaguss alur ceritanya..
BalasHapusDitunggu kelanjutannya..
Terimakasih untuk support nya, mari berkarya...
BalasHapus