Catatan Akhir Sekolah
Sudah selama
setahun ini aku tinggal di rumah kost, jauh dari orangtua. Dan akhirnya semua
penderitaan sudah usai karena kini aku baru saja menyelesaikan sekolahku, di SMA
Negeri di kota Cianjur, Jawa Barat.
Besok aku akan
pulang ke rumahku untuk menemui Ibu yang masih sakit dari pertama kali aku datang
ke tempat kost ini. Aku rindu padanya karena selama ini aku hanya bisa
melihatnya 2 minggu sekali bahkan sampai sebulan sekali.
Selama aku kost,
tak ada seorang pun dari keluargaku yang mau menjengukku disini. Bahkan ayahku
sendiri saja tak mau tanggung jawab untuk membiayai sekolahku, makanku
sehari-hari atau bahkan membayar uang kost setiap bulannya. Akhirnya aku
sendirilah yang harus berjuang mati-matian setiap hari untuk mendapatkan uang,
sampai-sampai aku hanya bisa membeli makanan sekali setiap harinya. Tapi
untunglah aku masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan bisa membiayai keperluan
keluargaku di rumah. Untuk itu, lewat tulisan ‘Catatan Akhir Sekolah’ ini aku
goreskan sebentuk cerita yang telah terukir di perjalanan masa-masa indah
sekolahku.
Sebelumnya aku
ingin bilang dulu pada kalian, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 18.
Dan malam ini juga akan jadi malam terakhirku dirumah kost:
Hari ultahku yang ke 18 dan
Malam terakhirku di rumah kost
Hari
ini tanggal 30 Mei 2006 pukul 12 malam adalah hari ulang tahunku yang ke 18.
Tapi semua itu tak ada artinya karena takkan ada seorang pun yang akan ingat
hari ultahku, apalagi mengucapkan selamat untukku. Kata orang usiaku ini adalah
babak awal menuju kedewasaan. Namun kurasa semuanya biasa saja karena hari ini,
esok atau lusa takkan ada seorang pun yang bisa membuat aku merasa paling
berharga–walau setidaknya menjadikan aku bak raja dihari ultahku sendiri. Sepertinya
aku memang manusia yang tidak berguna dan mungkin tak dianggap ada di dunia
oleh semua orang yang mengaku teman.
Seperti ada rasa
sesak di dada ketika ku kenang masa lalu bersama Nisa saat-saat di sekolah. Walau
akhirnya usai sudah satu kisah bagai kertas yang terbakar bersama
lembaran-lembaran tawa dan duka bersamanya. Sudah setahun ini aku tak berjumpa
lagi dengannya, rasa-rasanya ingin sekali aku melihatnya di balik bayangan.
Meski telah kuberi tahu hatiku tuk membenci dan melupakannya, namun tak cukup
waktu tuk membiasakan hidup sendiri tanpa kehadirannya.
Terkadang di
saat ku berangan, andai saja dia masih disini bersamaku seperti 6 tahun yang
lalu ketika aku dan dia berikrar akan selalu bersama–mungkin hari ini kami
masih bersenda gurau dan tertawa merayakan ulang tahun bersama.
Mungkin
kalian tak tahu bahwa Nisa lahir pada Tanggal 1 Juni 1988. Itu berarti ulang
tahunku hanya berselang 1 hari dengan dia. Andai saja satu tahun yang lalu aku
tak berjanji takkan mengganggu hidupnya lagi, mungkin lusa nanti aku ingin
sekali ucapkan selamat ulang tahun untuknya. Walau pun dia sendiri mungkin sudah
lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Tapi aku percaya, Tuhan lebih tahu apa yang
terbaik buatku. Mungkin dengan tanpa Nisa ini adalah kado teristimewa yang
Tuhan berikan untukku.
Tapi
malam ini kurapuh tanpa seorang pun teman yang akan peduli hari terindahku. Aku
seperti manusia yang terlahir tak dinanti dan mungkin mati pun tak akan ada
yang mau menangisi. Tapi untungnya dulu ibuku selalu menegarkanku di setiap aku
merasa lemah dan dia pun berpesan: “Jika waktu dilahirkan kita menangis maka
yang lainnya bisa bergembira menyambut kedatangan kita ke dunia. Untuk itu
berjuanglah hingga kita mati bergembira dan yang lainnya menangis karena merasa
kehilangan kita yang berharga.”
Mohon
datang sekarang teman, aku pikir ku terjatuh dan bertahan di atas semua yang kuanggap
adalah aman. Ohh… wahai sang hujan, sembunyikanlah air mataku dan bawa
mengalirlah bersamamu. Supaya tidak seorang pun tahu bahwa aku sedang menangisi
kekalahanku. Malam terasa sangat panjang, semua tentangnya (Nisa) telah mengisi
ruang khayalku. Tapi aku benci pada malam ini karena dua alasan: Satu, sekarang
dia takkan ada lagi disampingku. Dua, aku amat sangat merindukan candanya saat
ini.
Semakin
ku sadari diantara kita berdua memang tidak ada yang tahu, siapa yang akan
memutuskan untuk pergi lebih dulu?
Dan
ternyata kau yang telah abaikanku lebih dulu bahkan kau yang telah melukaiku.
Kini ku sadari, ternyata melihat cinta dengan mata itu hanya membuatku merasa
sangat lapar–selalu ingin memilikinya walau kutahu ternyata bidadari itu
berhati iblis.
Teramat
melankoli sang malam biru, seumur perjalanan ultahku ternyata malam inilah yang
paling menyedihkan dan membuat hidupku penuh dengan beban. Aku lingkari kalender
dan kutulis dalam binder tentang apa yang ku rasakan malam ini sebagai
penggalan perjalanan kisah sedihku. Tak kusangka orang yang selama ini kupikir
adalah peri kecilku, bidadari penolongku–telah berhasil hancurkan harapanku dan
membuatku jadi setengah gila.
Disudut
kamar kost aku menangis, peduli setan kalian mau ngomong apa? Aku memang
cengeng, banci kaleng dan juga cemen tapi yang penting aku merasa lebih nyaman
bila menangis. Kurobek semua foto di dinding kamar yang memampang wajah dan
lukisannya–Anisa Yuniar Purwana. Peri kecil itu sekarang kuanggap lebih hina
dan rendah dari Yudas si pengkhianat nomor satu didunia.
Aku cukup salut
sekali dengan caranya membunuh. Dia selalu membuaiku, mengelus-elus kakiku
layaknya kucing jinak. Sementara ketika kulengah dia menikamku seperti singa
yang menerkam buruannya. Atau dia tak jauh beda dengan seorang anak kecil yang sedang
membangun istana pasir di pantai. Ditatanya pasir putih itu menyerupai rumah
puteri raja. Nampak indah memang pada awalnya tapi setelah jenuh dengan
permainan itu, tak ayal rayap dia hancurkan dengan riang dan semua pun berakhir
tanpa alasan.
Mungkin memang
takdirku seperti ini dan kuanggap semuanya biasa saja–tak ada bedanya dengan
ceritaku bersama Nisa sejak pertama kali kita berjumpa.
Tetapi disini
ada sesuatu yang telah membisikiku tentang arti hidup dan kenyataan ini pun
bisa membiusku ke jurang kesesatan. Dia berkata memang aku lah yang salah,
mengapa aku tercipta sebagai makhluk yang lemah di hadapan wanita? Kadang aku
berpikir semua itu akan nampak indah bila aku punya rumah mewah dan harta yang
melimpah ruah. Apakah memang benar bahwa kebahagiaan itu bisa dibeli oleh uang?
Dan memang rupanya aku terlalu tak berdaya unuk satu hal itu.
Ketika pikiranku
ini berputar menatapi bayangan masa lampau. Air mataku keluar dan tubuhku
terasa bergetar.
Dalamnya laut
tak sanggup ku selami, tingginya gunung tak mampu kudaki. Setelah dua ribu hari
aku mengejarmu tanpa henti–baru tersadar semuanya akan berakhir tanpa arti.
Kini aku letih tak mampu berjalan lagi, aku menyerah. Saat ku berada diantara
gelap malam, terlihat senyummu dibalik pisau tajam. Terlintas dua kata didalam
rasa, aku menyerah. Hinalah aku tapi jangan sampai telingaku ini mendengarnya.
Lebih baik aku tidak tahu apa-apa dari pada harus sakit hati lagi karena aku
yakin tuk kali ini ku tak sanggup memikulnya sendiri. Aku yakin menyerah dan
pasrah.
Aku akui, aku
adalah orang pengecut, aku pecundang. Aku seorang laki-laki yang hanya bisa
menangis, haruskah aku putus asa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan dan haruskah
aku menyerah? Tapi kusungguh letih menantimu, mungkin ini untuk yang terakhir
kali kumenanti. Membuktikan keyakinanku bahwasanya menunggumu tiada arti.
Aku ingin
bertanya jika boleh, pernah kau menyukaiku? Pernah kau banggakanku? Aku rasa
tidak, karena kau takkan pernah melihat sisi terangku. Jika kau izinkanku, aku
yakin sudah mencacimu sejak dulu. Karena aku sudah cukup sabar kau sakiti, kau
ludahi dan kau robek hatiku untuk yang kesekian kali. Mengapa kau yakinkanku
untuk mendekatimu, jika kamu sendiri tidak pernah mencintaiku? Kau sudah puas
mempermainkan perasaanku atau kau malah ingin lebih dari itu? Mengapa tak kau
bunuh saja aku?
Aku menjadi
pecandu luka karenamu, masa depanku buram karena hanya pikirkan kamu bahkan
dewi penyelamatku pun ku musuhi atas permintaanmu. Apakah kau bisa merasakan
apa yang sedang ku rasakan? Andai kau bisa memahami hatiku yang rapuh, Nisa.
Aku berharap ada
seseorang yang akan datang hingga ku sanggup buang bayanganmu. Namun dimana aku
harus mencarinya? Semua temanku saja malah pergi meninggalkan aku sendiri
tersesat dalam ruang gelap ini. Aku menyesal mengenal dirimu, harusnya aku tak
pernah punya niat untuk mencintaimu. Tapi aku tak mampu berdalih bahwasanya aku
membutuhkanmu saat ini. Aku begitu merindu dan sangat ingin tahu apa yang
sedang Nisa lakukan saat ini? Tentunya kau pasti sedang memimpikan seseorang
malam ini dan aku yakin orang itu bukan aku. Karena aku memang tak pernah
berarti bagimu.
Masih ingatkah
kau saat itu? Malam itu indahnya, kita duduk di kursi depan rumahmu. Bicaramu
adalah kehangatan dan senyummu adalah sebuah kesempatan. Kita tunjuk satu bintang,
janjimu adalah pedoman hidupku, aku sungguh bahagia dihari bodoh itu. Hingga ku
relakan sepenuh hatiku hanya untukmu.
Tapi salahku jua
yang mau menyentuh bulan, berharap langit dapat ku miliki tanpa sadar kemampuan
sendiri. Aku seperti berjalan di dalam tidurku, merasakan perihnya sakit hati
akibat ingin mewujudkan mimpi yang selalu indah mewarnai kisah cinta antara
kita berdua.
Saat kau
terpuruk aku selalu ada di sisimu, selalu ingin membuatmu tersenyum gembira.
Tapi saat kau sembuh dari luka, kau lekas terbang tanpa mengingatku. Bahkan kau
pergi berkasih dengan lelaki yang lain dan mencampakan aku. Kau adalah bunga
sekolah di waktu itu, pantas saja bila semua orang selalu ingin bersamamu.
Siapa yang tak ingin memiliki cintamu adalah orang tak berakal dan bahkan tak
pantas bila disebut lelaki sejati.
Kau (Nisa)
adalah cinta pertamaku, kau perkenalkan aku pada duniamu dan kau ajari aku cara
menyayangimu lebih dari nyawaku sendiri. Ohh cinta pertamaku, aku tak mungkin
bisa melupakanmu setelah sekian lama kita menjalani hari bersama. Bayangan
wajahmu selalu melekat pekat, terikat erat dan tak luput aku dari mengingat.
Mengapa kau tega ingin pergi dari hidupku? Dengan alasan inilah yang terbaik
untuk kita berdua agar kita tak buta dalam mengerti arti cinta. Ohh cinta
pertama ku, jalan masih panjang untuk kita hadang, gunung masih tinggi menjulang
untuk kita daki, pelabuhan pun masih terlampau jauh untuk kita menepi.
Tapi (Nisa)
mengapa kau tak pernah mau jadi kekasihku, mau bersanding hidup dan berbagi
arti cinta denganku? Tapi ya sudahlah, percuma saja aku mengeluh karena aku yakin
kelak kita akan bertemu lagi. Selamat jalan cinta pertamaku, selamat berjuang
meniti hari.
Malam ini hujan
turun deras sekali, seperti alam semesta yang sedang bermain opera melankoli.
Aku mendramatisir sembari mengenang masa-masa indah yang pernah kita lalui
bersama di sekolah. Dan saat mataku terpejam, hanya wajahmu yang ku khayalkan.
Begitu pula dengan adegan hidupku di pagi hari yaitu kaulah orang pertama yang
aku ingat dan namamu (Nisa) aku ucap. Baru ku sadari aku begitu menyayangimu
bahkan lebih dari aku menyayangi nyawaku sendiri. Walau kau tak pernah peduli
tapi biarkanlah aku berkata ‘aku sayang kamu’ Nisa. Hanya dirimu yang ada di
dalam kepalaku dan biarkanlah aku bicara ‘aku cinta kamu’ Nisa.
Beribu-ribu masalah
telah aku hadapi bersamamu, berjuta kisah patah hati telah aku lalui karenamu.
Aku nampak tegar dan gagah berani waktu itu tapi mengapa saat ini aku merasa
hancur? Begitu berat beban hidupku seiring tiada kau yang menghiburku malam
ini. Apa kau dengar patahnya suara cinta ini bernyanyi, sedihnya hatiku ini
menari? Dalam persembunyian sang rembulan kau ku resapi. Prihal cinta ini
mengkhianati, kepalsuan hati kamu kini ku pahami. Adakah satu alasan yang mampu
hindari luka tangisan? Hanya tertipu, tertipulah aku oleh cintamu. Tertipu aku
oleh rayuan manismu dan tertipu oleh kebahagiaan yang sempat kau berikan
sebelum aku segera kau tinggalkan.
Tapi hari ini
pesta ulang tahunku, hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Aku harus
menghapus air mata ini atau selamanya aku akan terus terpuruk dalam kepedihan duka
nestapa. Sekarang malam sudah meredap dan suara-suara telah tenggelam di dalam
alunan musik dedaunan. Sang penyair mulai keluar dari tempat persembunyian hendaki
bersajak menyerupai nada-nada denting suara jam atau lebih elok jelmaan malam.
Akhirnya aku tak
sendiri lagi malam ini, rupanya nyamuk-nyamuk sahabatku telah datang tuk menepati
undangan. Bahkan disini tamu kehormatanku pun baru hadir ketika kupanggil dan
ku serukan: “Hey cicak-cicak kawanku, datanglah kau ke kamar kostku dan
hadirilah pesta ulang tahunku. Kalian tidak perlu repot-repot membawakan kado
untukku, justru aku ingin memperkenalkan para nyamuk sahabatku pada kalian.”
Tidak begitu
mudah rupanya aku rayu mereka, saat kuingat sebelumnya ku bukakan jendela dan
bicara pada para nyamuk itu: “Hey nyamuk sahabatku, malam ini aku mau undang
kalian untuk datang ke pesta ulang tahunku karena kudengar kalian hebat soal
bernyanyi. Jadi aku mohon datanglah dan ramaikan pula pestaku segera dengan
iringan nyanyian suara merdumu itu.”
Bukan hanya itu
saja, bahkan aku turut hadirkan bintang tamu malam ini. Sengaja ku matikan
lampu kamar dan mulai melepas satu persatu kunang-kunang peliharaanku. Lengkap
sudah semuanya, kini aku mulai merayakan pesta ultahku bersama mereka. Ditengah
ruang gelap ku bernyanyi sendiri memandang kue kecil beserta nyala lilin angka
18. Ada yang membuatku marah ketika sang nyamuk salah satu tamu istimewaku
mulai merusak suasana acara. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi
hidangan lezat yang aku siapkan. Tentu saja mereka sangat menolak ketika ku
tawarkan kelezatan kue ultahku ini karena bagi mereka–darah adalah menu spesial
sekaligus hidangan penutup serta pencuci mulut. Tapi ku relakan tanpa
perlawanan dan bahkan tanpa alasan, kutahan nyeri yang layaknya jarum menusuk
rusukku.
Saat aku
menangis meresapi kesedihan dan kesepianku. Tiba-tiba kucing peliharaanku
mengeong sambil mengelus-elus manja dikaki seakan ingin memelukku–coba menenangkan
tangisku dan menghibur kesepianku. Seakan dia dapat bicara untuk meyakinkanku bahwa
aku sekarang tak sendiri dan tak akan pernah kesepian lagi karena mereka;
kecoa, tikus, semut dan jangkrik selalu setia menghibur malam-malamku. Bahkan
perasaanku kan jadi lebih baik saat aku menuliskan duniaku dalam buku.
Saat-saat itu aku merasa menjadi raja dan terlebih berharga karena aku bisa
saja mengarang masa depanku walau tak nyata–walau hanya sekedar imajinasi
belaka.
Telah habis air
mata dan segenap kata-kata tentangmu, saat aku coba mengenangmu (Nisa). Dan kau
tega menghilang dariku tanpa penyesalan hingga membuat aku merindu tak
tersampaikan. Akhirnya kutahu tak berartinya diriku bagimu. Tetapi aku tak
menyesal telah mencintai dirimu, paling tidak Tuhan sudah membolehkanku tuk
bertemu dengan dongeng bidadari surga seperti dirimu Nisa.
Pernahkah kalian
merasakan hari paling indah? Sebisa mungkin kalian tak mampu berkata tentang
keindahan dunia. Saat perempuan terindah yang kalian cinta, temani kalian ditaman
surgawi. Apakah kalian bisa elakan kenikmatan yang telah Tuhan berikan? Tapi
semua itu tak dengan mudah kalian dapatkan ketika harus jalani malam sendiri
kesepian tanpa teman. Maka kalian tidak akan percaya jika kesedihan bisa
menebus sebuah kebahagiaan yang tertunda dan mungkin butuh waktu lama untuk
membuatnya menjadi nyata.
Kekosongan yang
sedang ku jalani saat ini mungkin bisa mengajarkan aku tentang arti hidup. Dan
hanya anak kecil yang tidak punya beban hidup serta masalah yang berat. Jadi
kapankah kita bisa siap untuk mengakui bahwa sekarang kita bukan anak kecil
lagi? Coba kalian berkaca dan tanya usia kalian berapa, sudah pantaskah kalian
dewasa?
Ohh Tuhan… ini
adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Dan permohonanku kali ini adalah bisa
melihat ibuku dapat berjalan normal lagi, dia bisa tersenyum melihatku lagi.
Hingga besok aku akan pulang kembali ke rumahku, aku ingin dia tiba-tiba bisa
berdiri dan memelukku lalu bicara apa saja yang ku lewati selama setahun
tinggal dirumah kost ini.
Saat ini pukul
04.00 pagi, tak terasa sudah 4 jam aku menulis dijudul kecil buku Kekasih
Terakhir ini yaitu (Catatan Akhir Sekolah). Entah apa sebenarnya yang harus
kutulis tentang perjalanan sekolahku karena aku tak punya kesan yang
menyenangkan. Yang aku rasakan dan kutahu selama ini, aku sebenarnya sudah
‘seperti mati’ disekolah dan keberadaanku setiap pagi dikelas hanyalah bak sebuah
jasad yang berjalan.
Ya mungkin kata
itu bagiku adalah kata yang paling tepat untuk mengungkapkan semuanya. Sungguh
membuatku selalu ingin menangis bila menceritakannya pada kalian di buku ini.
Bahwa semasa sekolah aku seperti dianggap mati oleh teman-teman sekelasku,
teman seangkatanku dan seluruh orang yang ada di sekolahku.
Aku tidak pernah
punya sahabat dekat yang selalu setia menemaniku setiap waktu istirahat sekolah
atau setidaknya berangkat dan pulang bareng bersamanya.
Semasa aku ada
dikelasku, aku selalu duduk sendiri dibangku paling sudut yang ada disamping
kanan belakang. Tidak ada seorang pun yang sudi menemaniku duduk bersama hingga
akhirnya bangku kosong yang ada di sisiku tak pernah terisi selama bertahun-tahun.
Memang aku juga
yang salah, ku selalu menganggap semua orang itu adalah musuhku dan aku tak
pernah ingin berkawan dengan orang-orang yang penuh kepalsuan. Aku tak percaya
lagi dengan yang namanya sahabat, mereka hanya mendekatiku saat mereka sangat membutuhkan
pertolongan. Sementara ketika aku sedang sedih merana, mereka malah pergi
meninggalkanku sendiri dan tak pernah sedikit pun mempedulikan apa yang telah
ku rasakan. Sedangkan diwaktu istirahat sekolah, ku selalu menghabiskannya
sendiri ditempat yang sepi.
(Aku punya
tempat persembunyian rahasia yang sunyi di sekolah) dan disana aku selalu bisa
mengekspresikan diri sesuka hati. Kadang aku bernyanyi sendiri di iringi musik
dedaunan dan suara hembusan angin. Kadang aku juga ikut menari riang saat pohon-pohon
bergoyang dan air mengalir di daun pisang.
Tapi semua itu
sudah berakhir kini, beberapa minggu lagi kuakan menerima ijazah di SMA ini.
Dan berarti saat itu tiba maka aku telah resmi keluar dari sekolah.
Aku bingung apa
yang harus aku tulis untuk mengisi Catatan Akhir Sekolah? Karena aku tak punya
kesan yang paling indah selama berada dilingkungan sekolah ini. Tapi kupunya
satu puisi untuk teman seangkatanku sebagai catatan akhir sekolahku bersama
kalian, meski aku tak punya sahabat tapi ini untuk kalian:
Teman sejati
Bersama detikmu
diantara kita
Persahabatan itu
tanda kasih sayang
Ku selalu rindu dan
mengingatmu persahabatan
Yang ikhlas dan sejati
buat selama-lamanya
aku akan mengkekalkan
persahabatan sampai
akhir jiwaku dan
musim-musim yang
mendatang agar
persahabatan kita
kekal selalu bersamamu
Disaat
itu ku terpaku melihat sekeliling arah sekolahku, mungkin untuk yang terakhir
kali aku bisa berdiri disana. Seakan jiwaku terbelenggu oleh sesuatu yang
membuatku tak dapat mengedipkan mata walau cuma sedetik saja. Saat itu
terdengar suara keramaian orang-orang yang berlalu lalang, tak cukup sadarkan
aku hingga kumasih merasa sepi sendiri.
Dipagi cerah itu
adalah hari terakhir aku mengikuti Ujian Akhir Nasional SMAku. Dan itu berarti
mulai detik itu juga aku telah menyelesaikan semua tugas akhir sekolahku.
Tak terasa sudah
13 hari disaat itupun berlalu, kini aku lewati sekolah tanpa belajar lagi
dikelas hingga sampai saat ini aku masih menunggu hasil UANku keluar. Lalu
kerjaan aku kini disekolah sampai sebulan ke depan ini hanya mondar-mandir cari
tahu kabar terbaru. Sungguh senangnya; Takkan ada lagi kegiatan belajar
mengajar, tak ada lagi mengisi ulangan harian dan mencontek PR teman. Mungkin
untuk waktu kedepan ini tak ada lagi kegiatan baca buku dan menghafal semua
pelajaran.
Tidak
aku sangka ternyata 12 tahun itu waktu yang sangat sebentar saat dihabiskan di
bangku sekolahan. Tiada kukira juga secepat ini aku harus melepas baju seragam
sekolahku untuk selamanya (berhenti menjadi pasukan putih abu-abu).
Inilah pengalamanku saat ku mengikuti UAN:
Dimulai dihari
sabtu tanggal 13 mei 2006, tepatnya 17 hari yang lalu dari sekarang. Ketika itu
dihari lusanya akan dilaksanakan Ujian Akhir Nasional yang serempak diseluruh
wilayah SMA di Indonesia.
Dimulai
hari sabtu itu aku pun melihat semua orang sedang sibuk menyiapkan diri. Tentu
saja semua teman-teman seangkatanku juga saat itu lebih mementingkan diri
sendiri ketimbang harus capek-capek mengurusi orang lain. Akan tetapi saat itu
aku malah sengaja memperhatikan mereka yang ada disekitarku; ada sebagian orang
yang menghabiskan hari itu untuk membeli kelengkapan berupa alat-alat tulis.
Selain itu ada yang sedang susah payah mencari kunci jawaban, bocoran untuk
mengisi soal UAN dihari senin–besok lusanya.
Tapi
apakah kalian tahu, hal apa yang malah ku lakukan sebagai persiapan? Hal yang
ku lakukan bukan menghafal buku pelajaran, bukan juga membeli perlengkapan alat
tulis. Saat itu aku tidak pernah berpikir sedikitpun juga untuk menyiapkan diriku
sendiri hadapi ujian akhir.
Coba
saja kalian bayangkan, siang dan malamku dari sejak awal aku kost–ku habiskan
untuk bekerja keras banting tulang supaya aku bisa memenuhi keperluan hidupku
sehari-hari. Membayar uang kostku tiap bulan, membayar semua biaya sekolah dan
lebihnya aku berikan untuk keperluan Ibu dan adikku dirumah. Jadi aku tak punya
kesempatan untuk menyiapkan diriku menghadapi soal ujian. Yang ada malah kadang
bebanku semakin berat saat pihak dari sekolah menuntutku untuk cepat melunasi
sisa tunggakanku.
Lalu
apa yang sedang terjadi dengan keluargaku dirumah sementara aku harus kerja
keras mencari uang sambil kost sejak setahun yang lalu?
Mungkin
tidak banyak yang harus aku ceritakan pada kalian tentang semua masalah pribadiku
ini. Karena semua itu pun sudah ada jawabannya dijudul cerita “Indekost” yang
ada dihalaman sebelumnya.
Sampai
saat ini ibuku masih terbaring diranjang akibat kelumpuhan yang dideritanya. Sementara
ayahku hingga sekarangpun tak lagi membiayai hidupku dan keluargaku dirumah.
Sedangkan semua fasilitas yang mengisi ruang rumahku sudah habis terjual untuk
keperluan makan keluargaku sehari-hari.
Karena
itu aku tak lagi peduli dengan hari Senin atau esok lusa walau hari itu akan
ada kegiatan UAN yang akan menjadi “hasil akhir” masa pendidikanku.
Tapi
apa kalian tahu kesanku ketika sudah selesai menghadapi UAN selama 3 hari itu?
Kesanku, yaa biasa saja. Dengan mudahnya aku mengisi ketiga mata pelajaran yang
diUANkan oleh Negara itu. Apalagi bahasa Indonesia (favoriteku) kuisi soal-soalnya
dengan cepat dan aku sangat yakin bahwa nilainya akan paling tinggi diantara
yang lain.
Kini
sudah 13 harinya aku melewati ujian akhir nasional tersebut, dan saat ini aku
hanya tinggal menunggu kapan hasil UAN itu akan keluar?
Malam ini sangat istimewa bagiku
karena seperti yang sudah aku katakan tadi di halaman depan bahwa sekarang
adalah hari ultahku yang ke 18. Tepatnya saat ini di jam dinding kamarku sudah
pukul 05.30 pagi, hari Selasa tanggal 30 Mei 2006.
Dari
sejak hampir 6 jam yang lalu aku menulis tentang cerita Catatan Akhir Sekolah ini tanpa tidur semalaman penuh. Dan sebentar
lagi aku sudah siap bergegas berangkat pulang ke rumahku, meninggalkan tempat
kost ini untuk selamanya.
Mungkin
sampai disini kubisa menulis tentang semua ini dan untuk selanjutnya kisah ini
akan bersambung ke judul Teruntuk; Ibu
disurga yang ada di halaman setelah ini.
Mohon
teruslah untuk ikuti perjalanan hidupku hingga tuntas: Dalam misi pencarian
diriku untuk menemukan dimana keberadaan “Kekasih Terakhir” sebagai jawaban
dari akhir kisah cintaku.
***
kunjungi blog ini di:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar