Minggu, 28 Mei 2017

Kekasih Terakhir 2 Eps 5: Catatan Akhir Sekolah



Catatan Akhir Sekolah


Sudah selama setahun ini aku tinggal di rumah kost, jauh dari orangtua. Dan akhirnya semua penderitaan sudah usai karena kini aku baru saja menyelesaikan sekolahku, di SMA Negeri di kota Cianjur, Jawa Barat.
Besok aku akan pulang ke rumahku untuk menemui Ibu yang masih sakit dari pertama kali aku datang ke tempat kost ini. Aku rindu padanya karena selama ini aku hanya bisa melihatnya 2 minggu sekali bahkan sampai sebulan sekali.
Selama aku kost, tak ada seorang pun dari keluargaku yang mau menjengukku disini. Bahkan ayahku sendiri saja tak mau tanggung jawab untuk membiayai sekolahku, makanku sehari-hari atau bahkan membayar uang kost setiap bulannya. Akhirnya aku sendirilah yang harus berjuang mati-matian setiap hari untuk mendapatkan uang, sampai-sampai aku hanya bisa membeli makanan sekali setiap harinya. Tapi untunglah aku masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan bisa membiayai keperluan keluargaku di rumah. Untuk itu, lewat tulisan ‘Catatan Akhir Sekolah’ ini aku goreskan sebentuk cerita yang telah terukir di perjalanan masa-masa indah sekolahku.
Sebelumnya aku ingin bilang dulu pada kalian, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 18. Dan malam ini juga akan jadi malam terakhirku dirumah kost:

Hari ultahku yang ke 18 dan
Malam terakhirku di rumah kost

            Hari ini tanggal 30 Mei 2006 pukul 12 malam adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Tapi semua itu tak ada artinya karena takkan ada seorang pun yang akan ingat hari ultahku, apalagi mengucapkan selamat untukku. Kata orang usiaku ini adalah babak awal menuju kedewasaan. Namun kurasa semuanya biasa saja karena hari ini, esok atau lusa takkan ada seorang pun yang bisa membuat aku merasa paling berharga–walau setidaknya menjadikan aku bak raja dihari ultahku sendiri. Sepertinya aku memang manusia yang tidak berguna dan mungkin tak dianggap ada di dunia oleh semua orang yang mengaku teman.
Seperti ada rasa sesak di dada ketika ku kenang masa lalu bersama Nisa saat-saat di sekolah. Walau akhirnya usai sudah satu kisah bagai kertas yang terbakar bersama lembaran-lembaran tawa dan duka bersamanya. Sudah setahun ini aku tak berjumpa lagi dengannya, rasa-rasanya ingin sekali aku melihatnya di balik bayangan. Meski telah kuberi tahu hatiku tuk membenci dan melupakannya, namun tak cukup waktu tuk membiasakan hidup sendiri tanpa kehadirannya.
Terkadang di saat ku berangan, andai saja dia masih disini bersamaku seperti 6 tahun yang lalu ketika aku dan dia berikrar akan selalu bersama–mungkin hari ini kami masih bersenda gurau dan tertawa merayakan ulang tahun bersama.
            Mungkin kalian tak tahu bahwa Nisa lahir pada Tanggal 1 Juni 1988. Itu berarti ulang tahunku hanya berselang 1 hari dengan dia. Andai saja satu tahun yang lalu aku tak berjanji takkan mengganggu hidupnya lagi, mungkin lusa nanti aku ingin sekali ucapkan selamat ulang tahun untuknya. Walau pun dia sendiri mungkin sudah lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Tapi aku percaya, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buatku. Mungkin dengan tanpa Nisa ini adalah kado teristimewa yang Tuhan berikan untukku.
            Tapi malam ini kurapuh tanpa seorang pun teman yang akan peduli hari terindahku. Aku seperti manusia yang terlahir tak dinanti dan mungkin mati pun tak akan ada yang mau menangisi. Tapi untungnya dulu ibuku selalu menegarkanku di setiap aku merasa lemah dan dia pun berpesan: “Jika waktu dilahirkan kita menangis maka yang lainnya bisa bergembira menyambut kedatangan kita ke dunia. Untuk itu berjuanglah hingga kita mati bergembira dan yang lainnya menangis karena merasa kehilangan kita yang berharga.”
            Mohon datang sekarang teman, aku pikir ku terjatuh dan bertahan di atas semua yang kuanggap adalah aman. Ohh… wahai sang hujan, sembunyikanlah air mataku dan bawa mengalirlah bersamamu. Supaya tidak seorang pun tahu bahwa aku sedang menangisi kekalahanku. Malam terasa sangat panjang, semua tentangnya (Nisa) telah mengisi ruang khayalku. Tapi aku benci pada malam ini karena dua alasan: Satu, sekarang dia takkan ada lagi disampingku. Dua, aku amat sangat merindukan candanya saat ini.
            Semakin ku sadari diantara kita berdua memang tidak ada yang tahu, siapa yang akan memutuskan untuk pergi lebih dulu?
            Dan ternyata kau yang telah abaikanku lebih dulu bahkan kau yang telah melukaiku. Kini ku sadari, ternyata melihat cinta dengan mata itu hanya membuatku merasa sangat lapar–selalu ingin memilikinya walau kutahu ternyata bidadari itu berhati iblis.
            Teramat melankoli sang malam biru, seumur perjalanan ultahku ternyata malam inilah yang paling menyedihkan dan membuat hidupku penuh dengan beban. Aku lingkari kalender dan kutulis dalam binder tentang apa yang ku rasakan malam ini sebagai penggalan perjalanan kisah sedihku. Tak kusangka orang yang selama ini kupikir adalah peri kecilku, bidadari penolongku–telah berhasil hancurkan harapanku dan membuatku jadi setengah gila.
            Disudut kamar kost aku menangis, peduli setan kalian mau ngomong apa? Aku memang cengeng, banci kaleng dan juga cemen tapi yang penting aku merasa lebih nyaman bila menangis. Kurobek semua foto di dinding kamar yang memampang wajah dan lukisannya–Anisa Yuniar Purwana. Peri kecil itu sekarang kuanggap lebih hina dan rendah dari Yudas si pengkhianat nomor satu didunia.
Aku cukup salut sekali dengan caranya membunuh. Dia selalu membuaiku, mengelus-elus kakiku layaknya kucing jinak. Sementara ketika kulengah dia menikamku seperti singa yang menerkam buruannya. Atau dia tak jauh beda dengan seorang anak kecil yang sedang membangun istana pasir di pantai. Ditatanya pasir putih itu menyerupai rumah puteri raja. Nampak indah memang pada awalnya tapi setelah jenuh dengan permainan itu, tak ayal rayap dia hancurkan dengan riang dan semua pun berakhir tanpa alasan.
Mungkin memang takdirku seperti ini dan kuanggap semuanya biasa saja–tak ada bedanya dengan ceritaku bersama Nisa sejak pertama kali kita berjumpa.
Tetapi disini ada sesuatu yang telah membisikiku tentang arti hidup dan kenyataan ini pun bisa membiusku ke jurang kesesatan. Dia berkata memang aku lah yang salah, mengapa aku tercipta sebagai makhluk yang lemah di hadapan wanita? Kadang aku berpikir semua itu akan nampak indah bila aku punya rumah mewah dan harta yang melimpah ruah. Apakah memang benar bahwa kebahagiaan itu bisa dibeli oleh uang? Dan memang rupanya aku terlalu tak berdaya unuk satu hal itu.
Ketika pikiranku ini berputar menatapi bayangan masa lampau. Air mataku keluar dan tubuhku terasa bergetar.
Dalamnya laut tak sanggup ku selami, tingginya gunung tak mampu kudaki. Setelah dua ribu hari aku mengejarmu tanpa henti–baru tersadar semuanya akan berakhir tanpa arti. Kini aku letih tak mampu berjalan lagi, aku menyerah. Saat ku berada diantara gelap malam, terlihat senyummu dibalik pisau tajam. Terlintas dua kata didalam rasa, aku menyerah. Hinalah aku tapi jangan sampai telingaku ini mendengarnya. Lebih baik aku tidak tahu apa-apa dari pada harus sakit hati lagi karena aku yakin tuk kali ini ku tak sanggup memikulnya sendiri. Aku yakin menyerah dan pasrah.
Aku akui, aku adalah orang pengecut, aku pecundang. Aku seorang laki-laki yang hanya bisa menangis, haruskah aku putus asa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan dan haruskah aku menyerah? Tapi kusungguh letih menantimu, mungkin ini untuk yang terakhir kali kumenanti. Membuktikan keyakinanku bahwasanya menunggumu tiada arti.
Aku ingin bertanya jika boleh, pernah kau menyukaiku? Pernah kau banggakanku? Aku rasa tidak, karena kau takkan pernah melihat sisi terangku. Jika kau izinkanku, aku yakin sudah mencacimu sejak dulu. Karena aku sudah cukup sabar kau sakiti, kau ludahi dan kau robek hatiku untuk yang kesekian kali. Mengapa kau yakinkanku untuk mendekatimu, jika kamu sendiri tidak pernah mencintaiku? Kau sudah puas mempermainkan perasaanku atau kau malah ingin lebih dari itu? Mengapa tak kau bunuh saja aku?
Aku menjadi pecandu luka karenamu, masa depanku buram karena hanya pikirkan kamu bahkan dewi penyelamatku pun ku musuhi atas permintaanmu. Apakah kau bisa merasakan apa yang sedang ku rasakan? Andai kau bisa memahami hatiku yang rapuh, Nisa.
Aku berharap ada seseorang yang akan datang hingga ku sanggup buang bayanganmu. Namun dimana aku harus mencarinya? Semua temanku saja malah pergi meninggalkan aku sendiri tersesat dalam ruang gelap ini. Aku menyesal mengenal dirimu, harusnya aku tak pernah punya niat untuk mencintaimu. Tapi aku tak mampu berdalih bahwasanya aku membutuhkanmu saat ini. Aku begitu merindu dan sangat ingin tahu apa yang sedang Nisa lakukan saat ini? Tentunya kau pasti sedang memimpikan seseorang malam ini dan aku yakin orang itu bukan aku. Karena aku memang tak pernah berarti bagimu.
Masih ingatkah kau saat itu? Malam itu indahnya, kita duduk di kursi depan rumahmu. Bicaramu adalah kehangatan dan senyummu adalah sebuah kesempatan. Kita tunjuk satu bintang, janjimu adalah pedoman hidupku, aku sungguh bahagia dihari bodoh itu. Hingga ku relakan sepenuh hatiku hanya untukmu.
Tapi salahku jua yang mau menyentuh bulan, berharap langit dapat ku miliki tanpa sadar kemampuan sendiri. Aku seperti berjalan di dalam tidurku, merasakan perihnya sakit hati akibat ingin mewujudkan mimpi yang selalu indah mewarnai kisah cinta antara kita berdua.
Saat kau terpuruk aku selalu ada di sisimu, selalu ingin membuatmu tersenyum gembira. Tapi saat kau sembuh dari luka, kau lekas terbang tanpa mengingatku. Bahkan kau pergi berkasih dengan lelaki yang lain dan mencampakan aku. Kau adalah bunga sekolah di waktu itu, pantas saja bila semua orang selalu ingin bersamamu. Siapa yang tak ingin memiliki cintamu adalah orang tak berakal dan bahkan tak pantas bila disebut lelaki sejati.
Kau (Nisa) adalah cinta pertamaku, kau perkenalkan aku pada duniamu dan kau ajari aku cara menyayangimu lebih dari nyawaku sendiri. Ohh cinta pertamaku, aku tak mungkin bisa melupakanmu setelah sekian lama kita menjalani hari bersama. Bayangan wajahmu selalu melekat pekat, terikat erat dan tak luput aku dari mengingat. Mengapa kau tega ingin pergi dari hidupku? Dengan alasan inilah yang terbaik untuk kita berdua agar kita tak buta dalam mengerti arti cinta. Ohh cinta pertama ku, jalan masih panjang untuk kita hadang, gunung masih tinggi menjulang untuk kita daki, pelabuhan pun masih terlampau jauh untuk kita menepi.
Tapi (Nisa) mengapa kau tak pernah mau jadi kekasihku, mau bersanding hidup dan berbagi arti cinta denganku? Tapi ya sudahlah, percuma saja aku mengeluh karena aku yakin kelak kita akan bertemu lagi. Selamat jalan cinta pertamaku, selamat berjuang meniti hari.
Malam ini hujan turun deras sekali, seperti alam semesta yang sedang bermain opera melankoli. Aku mendramatisir sembari mengenang masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama di sekolah. Dan saat mataku terpejam, hanya wajahmu yang ku khayalkan. Begitu pula dengan adegan hidupku di pagi hari yaitu kaulah orang pertama yang aku ingat dan namamu (Nisa) aku ucap. Baru ku sadari aku begitu menyayangimu bahkan lebih dari aku menyayangi nyawaku sendiri. Walau kau tak pernah peduli tapi biarkanlah aku berkata ‘aku sayang kamu’ Nisa. Hanya dirimu yang ada di dalam kepalaku dan biarkanlah aku bicara ‘aku cinta kamu’ Nisa.
Beribu-ribu masalah telah aku hadapi bersamamu, berjuta kisah patah hati telah aku lalui karenamu. Aku nampak tegar dan gagah berani waktu itu tapi mengapa saat ini aku merasa hancur? Begitu berat beban hidupku seiring tiada kau yang menghiburku malam ini. Apa kau dengar patahnya suara cinta ini bernyanyi, sedihnya hatiku ini menari? Dalam persembunyian sang rembulan kau ku resapi. Prihal cinta ini mengkhianati, kepalsuan hati kamu kini ku pahami. Adakah satu alasan yang mampu hindari luka tangisan? Hanya tertipu, tertipulah aku oleh cintamu. Tertipu aku oleh rayuan manismu dan tertipu oleh kebahagiaan yang sempat kau berikan sebelum aku segera kau tinggalkan.
Tapi hari ini pesta ulang tahunku, hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Aku harus menghapus air mata ini atau selamanya aku akan terus terpuruk dalam kepedihan duka nestapa. Sekarang malam sudah meredap dan suara-suara telah tenggelam di dalam alunan musik dedaunan. Sang penyair mulai keluar dari tempat persembunyian hendaki bersajak menyerupai nada-nada denting suara jam atau lebih elok jelmaan malam.
Akhirnya aku tak sendiri lagi malam ini, rupanya nyamuk-nyamuk sahabatku telah datang tuk menepati undangan. Bahkan disini tamu kehormatanku pun baru hadir ketika kupanggil dan ku serukan: “Hey cicak-cicak kawanku, datanglah kau ke kamar kostku dan hadirilah pesta ulang tahunku. Kalian tidak perlu repot-repot membawakan kado untukku, justru aku ingin memperkenalkan para nyamuk sahabatku pada kalian.”
Tidak begitu mudah rupanya aku rayu mereka, saat kuingat sebelumnya ku bukakan jendela dan bicara pada para nyamuk itu: “Hey nyamuk sahabatku, malam ini aku mau undang kalian untuk datang ke pesta ulang tahunku karena kudengar kalian hebat soal bernyanyi. Jadi aku mohon datanglah dan ramaikan pula pestaku segera dengan iringan nyanyian suara merdumu itu.”
Bukan hanya itu saja, bahkan aku turut hadirkan bintang tamu malam ini. Sengaja ku matikan lampu kamar dan mulai melepas satu persatu kunang-kunang peliharaanku. Lengkap sudah semuanya, kini aku mulai merayakan pesta ultahku bersama mereka. Ditengah ruang gelap ku bernyanyi sendiri memandang kue kecil beserta nyala lilin angka 18. Ada yang membuatku marah ketika sang nyamuk salah satu tamu istimewaku mulai merusak suasana acara. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi hidangan lezat yang aku siapkan. Tentu saja mereka sangat menolak ketika ku tawarkan kelezatan kue ultahku ini karena bagi mereka–darah adalah menu spesial sekaligus hidangan penutup serta pencuci mulut. Tapi ku relakan tanpa perlawanan dan bahkan tanpa alasan, kutahan nyeri yang layaknya jarum menusuk rusukku.
Saat aku menangis meresapi kesedihan dan kesepianku. Tiba-tiba kucing peliharaanku mengeong sambil mengelus-elus manja dikaki seakan ingin memelukku–coba menenangkan tangisku dan menghibur kesepianku. Seakan dia dapat bicara untuk meyakinkanku bahwa aku sekarang tak sendiri dan tak akan pernah kesepian lagi karena mereka; kecoa, tikus, semut dan jangkrik selalu setia menghibur malam-malamku. Bahkan perasaanku kan jadi lebih baik saat aku menuliskan duniaku dalam buku. Saat-saat itu aku merasa menjadi raja dan terlebih berharga karena aku bisa saja mengarang masa depanku walau tak nyata–walau hanya sekedar imajinasi belaka.
Telah habis air mata dan segenap kata-kata tentangmu, saat aku coba mengenangmu (Nisa). Dan kau tega menghilang dariku tanpa penyesalan hingga membuat aku merindu tak tersampaikan. Akhirnya kutahu tak berartinya diriku bagimu. Tetapi aku tak menyesal telah mencintai dirimu, paling tidak Tuhan sudah membolehkanku tuk bertemu dengan dongeng bidadari surga seperti dirimu Nisa.
Pernahkah kalian merasakan hari paling indah? Sebisa mungkin kalian tak mampu berkata tentang keindahan dunia. Saat perempuan terindah yang kalian cinta, temani kalian ditaman surgawi. Apakah kalian bisa elakan kenikmatan yang telah Tuhan berikan? Tapi semua itu tak dengan mudah kalian dapatkan ketika harus jalani malam sendiri kesepian tanpa teman. Maka kalian tidak akan percaya jika kesedihan bisa menebus sebuah kebahagiaan yang tertunda dan mungkin butuh waktu lama untuk membuatnya menjadi nyata.
Kekosongan yang sedang ku jalani saat ini mungkin bisa mengajarkan aku tentang arti hidup. Dan hanya anak kecil yang tidak punya beban hidup serta masalah yang berat. Jadi kapankah kita bisa siap untuk mengakui bahwa sekarang kita bukan anak kecil lagi? Coba kalian berkaca dan tanya usia kalian berapa, sudah pantaskah kalian dewasa?
Ohh Tuhan… ini adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Dan permohonanku kali ini adalah bisa melihat ibuku dapat berjalan normal lagi, dia bisa tersenyum melihatku lagi. Hingga besok aku akan pulang kembali ke rumahku, aku ingin dia tiba-tiba bisa berdiri dan memelukku lalu bicara apa saja yang ku lewati selama setahun tinggal dirumah kost ini.
Saat ini pukul 04.00 pagi, tak terasa sudah 4 jam aku menulis dijudul kecil buku Kekasih Terakhir ini yaitu (Catatan Akhir Sekolah). Entah apa sebenarnya yang harus kutulis tentang perjalanan sekolahku karena aku tak punya kesan yang menyenangkan. Yang aku rasakan dan kutahu selama ini, aku sebenarnya sudah ‘seperti mati’ disekolah dan keberadaanku setiap pagi dikelas hanyalah bak sebuah jasad yang berjalan.
Ya mungkin kata itu bagiku adalah kata yang paling tepat untuk mengungkapkan semuanya. Sungguh membuatku selalu ingin menangis bila menceritakannya pada kalian di buku ini. Bahwa semasa sekolah aku seperti dianggap mati oleh teman-teman sekelasku, teman seangkatanku dan seluruh orang yang ada di sekolahku.
Aku tidak pernah punya sahabat dekat yang selalu setia menemaniku setiap waktu istirahat sekolah atau setidaknya berangkat dan pulang bareng bersamanya.
Semasa aku ada dikelasku, aku selalu duduk sendiri dibangku paling sudut yang ada disamping kanan belakang. Tidak ada seorang pun yang sudi menemaniku duduk bersama hingga akhirnya bangku kosong yang ada di sisiku tak pernah terisi selama bertahun-tahun.
Memang aku juga yang salah, ku selalu menganggap semua orang itu adalah musuhku dan aku tak pernah ingin berkawan dengan orang-orang yang penuh kepalsuan. Aku tak percaya lagi dengan yang namanya sahabat, mereka hanya mendekatiku saat mereka sangat membutuhkan pertolongan. Sementara ketika aku sedang sedih merana, mereka malah pergi meninggalkanku sendiri dan tak pernah sedikit pun mempedulikan apa yang telah ku rasakan. Sedangkan diwaktu istirahat sekolah, ku selalu menghabiskannya sendiri ditempat yang sepi.
(Aku punya tempat persembunyian rahasia yang sunyi di sekolah) dan disana aku selalu bisa mengekspresikan diri sesuka hati. Kadang aku bernyanyi sendiri di iringi musik dedaunan dan suara hembusan angin. Kadang aku juga ikut menari riang saat pohon-pohon bergoyang dan air mengalir di daun pisang.
Tapi semua itu sudah berakhir kini, beberapa minggu lagi kuakan menerima ijazah di SMA ini. Dan berarti saat itu tiba maka aku telah resmi keluar dari sekolah.
Aku bingung apa yang harus aku tulis untuk mengisi Catatan Akhir Sekolah? Karena aku tak punya kesan yang paling indah selama berada dilingkungan sekolah ini. Tapi kupunya satu puisi untuk teman seangkatanku sebagai catatan akhir sekolahku bersama kalian, meski aku tak punya sahabat tapi ini untuk kalian:
Teman sejati
Bersama detikmu
diantara kita
Persahabatan itu
tanda kasih sayang
Ku selalu rindu dan
mengingatmu persahabatan
Yang ikhlas dan sejati
buat selama-lamanya
            aku akan mengkekalkan
            persahabatan sampai
            akhir jiwaku dan musim-musim yang
            mendatang agar persahabatan kita
            kekal selalu bersamamu

            Disaat itu ku terpaku melihat sekeliling arah sekolahku, mungkin untuk yang terakhir kali aku bisa berdiri disana. Seakan jiwaku terbelenggu oleh sesuatu yang membuatku tak dapat mengedipkan mata walau cuma sedetik saja. Saat itu terdengar suara keramaian orang-orang yang berlalu lalang, tak cukup sadarkan aku hingga kumasih merasa sepi sendiri.
Dipagi cerah itu adalah hari terakhir aku mengikuti Ujian Akhir Nasional SMAku. Dan itu berarti mulai detik itu juga aku telah menyelesaikan semua tugas akhir sekolahku.
Tak terasa sudah 13 hari disaat itupun berlalu, kini aku lewati sekolah tanpa belajar lagi dikelas hingga sampai saat ini aku masih menunggu hasil UANku keluar. Lalu kerjaan aku kini disekolah sampai sebulan ke depan ini hanya mondar-mandir cari tahu kabar terbaru. Sungguh senangnya; Takkan ada lagi kegiatan belajar mengajar, tak ada lagi mengisi ulangan harian dan mencontek PR teman. Mungkin untuk waktu kedepan ini tak ada lagi kegiatan baca buku dan menghafal semua pelajaran.
            Tidak aku sangka ternyata 12 tahun itu waktu yang sangat sebentar saat dihabiskan di bangku sekolahan. Tiada kukira juga secepat ini aku harus melepas baju seragam sekolahku untuk selamanya (berhenti menjadi pasukan putih abu-abu).
Inilah pengalamanku saat ku mengikuti UAN:
            Dimulai dihari sabtu tanggal 13 mei 2006, tepatnya 17 hari yang lalu dari sekarang. Ketika itu dihari lusanya akan dilaksanakan Ujian Akhir Nasional yang serempak diseluruh wilayah SMA di Indonesia.
            Dimulai hari sabtu itu aku pun melihat semua orang sedang sibuk menyiapkan diri. Tentu saja semua teman-teman seangkatanku juga saat itu lebih mementingkan diri sendiri ketimbang harus capek-capek mengurusi orang lain. Akan tetapi saat itu aku malah sengaja memperhatikan mereka yang ada disekitarku; ada sebagian orang yang menghabiskan hari itu untuk membeli kelengkapan berupa alat-alat tulis. Selain itu ada yang sedang susah payah mencari kunci jawaban, bocoran untuk mengisi soal UAN dihari senin–besok lusanya.
            Tapi apakah kalian tahu, hal apa yang malah ku lakukan sebagai persiapan? Hal yang ku lakukan bukan menghafal buku pelajaran, bukan juga membeli perlengkapan alat tulis. Saat itu aku tidak pernah berpikir sedikitpun juga untuk menyiapkan diriku sendiri hadapi ujian akhir.
            Coba saja kalian bayangkan, siang dan malamku dari sejak awal aku kost–ku habiskan untuk bekerja keras banting tulang supaya aku bisa memenuhi keperluan hidupku sehari-hari. Membayar uang kostku tiap bulan, membayar semua biaya sekolah dan lebihnya aku berikan untuk keperluan Ibu dan adikku dirumah. Jadi aku tak punya kesempatan untuk menyiapkan diriku menghadapi soal ujian. Yang ada malah kadang bebanku semakin berat saat pihak dari sekolah menuntutku untuk cepat melunasi sisa tunggakanku.
            Lalu apa yang sedang terjadi dengan keluargaku dirumah sementara aku harus kerja keras mencari uang sambil kost sejak setahun yang lalu?
            Mungkin tidak banyak yang harus aku ceritakan pada kalian tentang semua masalah pribadiku ini. Karena semua itu pun sudah ada jawabannya dijudul cerita “Indekost” yang ada dihalaman sebelumnya.
            Sampai saat ini ibuku masih terbaring diranjang akibat kelumpuhan yang dideritanya. Sementara ayahku hingga sekarangpun tak lagi membiayai hidupku dan keluargaku dirumah. Sedangkan semua fasilitas yang mengisi ruang rumahku sudah habis terjual untuk keperluan makan keluargaku sehari-hari.
            Karena itu aku tak lagi peduli dengan hari Senin atau esok lusa walau hari itu akan ada kegiatan UAN yang akan menjadi “hasil akhir” masa pendidikanku.
            Tapi apa kalian tahu kesanku ketika sudah selesai menghadapi UAN selama 3 hari itu? Kesanku, yaa biasa saja. Dengan mudahnya aku mengisi ketiga mata pelajaran yang diUANkan oleh Negara itu. Apalagi bahasa Indonesia (favoriteku) kuisi soal-soalnya dengan cepat dan aku sangat yakin bahwa nilainya akan paling tinggi diantara yang lain.
            Kini sudah 13 harinya aku melewati ujian akhir nasional tersebut, dan saat ini aku hanya tinggal menunggu kapan hasil UAN itu akan keluar?
            Malam ini sangat istimewa bagiku karena seperti yang sudah aku katakan tadi di halaman depan bahwa sekarang adalah hari ultahku yang ke 18. Tepatnya saat ini di jam dinding kamarku sudah pukul 05.30 pagi, hari Selasa tanggal 30 Mei 2006.
            Dari sejak hampir 6 jam yang lalu aku menulis tentang cerita Catatan Akhir Sekolah ini tanpa tidur semalaman penuh. Dan sebentar lagi aku sudah siap bergegas berangkat pulang ke rumahku, meninggalkan tempat kost ini untuk selamanya.
            Mungkin sampai disini kubisa menulis tentang semua ini dan untuk selanjutnya kisah ini akan bersambung ke judul Teruntuk; Ibu disurga yang ada di halaman setelah ini.
            Mohon teruslah untuk ikuti perjalanan hidupku hingga tuntas: Dalam misi pencarian diriku untuk menemukan dimana keberadaan “Kekasih Terakhir” sebagai jawaban dari akhir kisah cintaku.

***


kunjungi blog ini di:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anudatar.blogspot.com kekasih terakhir 2 eps 4 : indekost

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

  Wasiat Sang Penyair                CATATAN AKHIR   TAHUN 2006                                                                   SURAT ...