Minggu, 28 Mei 2017

Kekasih Terakhir 2 Eps 5: Catatan Akhir Sekolah



Catatan Akhir Sekolah


Sudah selama setahun ini aku tinggal di rumah kost, jauh dari orangtua. Dan akhirnya semua penderitaan sudah usai karena kini aku baru saja menyelesaikan sekolahku, di SMA Negeri di kota Cianjur, Jawa Barat.
Besok aku akan pulang ke rumahku untuk menemui Ibu yang masih sakit dari pertama kali aku datang ke tempat kost ini. Aku rindu padanya karena selama ini aku hanya bisa melihatnya 2 minggu sekali bahkan sampai sebulan sekali.
Selama aku kost, tak ada seorang pun dari keluargaku yang mau menjengukku disini. Bahkan ayahku sendiri saja tak mau tanggung jawab untuk membiayai sekolahku, makanku sehari-hari atau bahkan membayar uang kost setiap bulannya. Akhirnya aku sendirilah yang harus berjuang mati-matian setiap hari untuk mendapatkan uang, sampai-sampai aku hanya bisa membeli makanan sekali setiap harinya. Tapi untunglah aku masih bisa hidup sampai sekarang, bahkan bisa membiayai keperluan keluargaku di rumah. Untuk itu, lewat tulisan ‘Catatan Akhir Sekolah’ ini aku goreskan sebentuk cerita yang telah terukir di perjalanan masa-masa indah sekolahku.
Sebelumnya aku ingin bilang dulu pada kalian, kalau hari ini aku berulang tahun yang ke 18. Dan malam ini juga akan jadi malam terakhirku dirumah kost:

Hari ultahku yang ke 18 dan
Malam terakhirku di rumah kost

            Hari ini tanggal 30 Mei 2006 pukul 12 malam adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Tapi semua itu tak ada artinya karena takkan ada seorang pun yang akan ingat hari ultahku, apalagi mengucapkan selamat untukku. Kata orang usiaku ini adalah babak awal menuju kedewasaan. Namun kurasa semuanya biasa saja karena hari ini, esok atau lusa takkan ada seorang pun yang bisa membuat aku merasa paling berharga–walau setidaknya menjadikan aku bak raja dihari ultahku sendiri. Sepertinya aku memang manusia yang tidak berguna dan mungkin tak dianggap ada di dunia oleh semua orang yang mengaku teman.
Seperti ada rasa sesak di dada ketika ku kenang masa lalu bersama Nisa saat-saat di sekolah. Walau akhirnya usai sudah satu kisah bagai kertas yang terbakar bersama lembaran-lembaran tawa dan duka bersamanya. Sudah setahun ini aku tak berjumpa lagi dengannya, rasa-rasanya ingin sekali aku melihatnya di balik bayangan. Meski telah kuberi tahu hatiku tuk membenci dan melupakannya, namun tak cukup waktu tuk membiasakan hidup sendiri tanpa kehadirannya.
Terkadang di saat ku berangan, andai saja dia masih disini bersamaku seperti 6 tahun yang lalu ketika aku dan dia berikrar akan selalu bersama–mungkin hari ini kami masih bersenda gurau dan tertawa merayakan ulang tahun bersama.
            Mungkin kalian tak tahu bahwa Nisa lahir pada Tanggal 1 Juni 1988. Itu berarti ulang tahunku hanya berselang 1 hari dengan dia. Andai saja satu tahun yang lalu aku tak berjanji takkan mengganggu hidupnya lagi, mungkin lusa nanti aku ingin sekali ucapkan selamat ulang tahun untuknya. Walau pun dia sendiri mungkin sudah lupa bahwa hari ini ulang tahunku. Tapi aku percaya, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buatku. Mungkin dengan tanpa Nisa ini adalah kado teristimewa yang Tuhan berikan untukku.
            Tapi malam ini kurapuh tanpa seorang pun teman yang akan peduli hari terindahku. Aku seperti manusia yang terlahir tak dinanti dan mungkin mati pun tak akan ada yang mau menangisi. Tapi untungnya dulu ibuku selalu menegarkanku di setiap aku merasa lemah dan dia pun berpesan: “Jika waktu dilahirkan kita menangis maka yang lainnya bisa bergembira menyambut kedatangan kita ke dunia. Untuk itu berjuanglah hingga kita mati bergembira dan yang lainnya menangis karena merasa kehilangan kita yang berharga.”
            Mohon datang sekarang teman, aku pikir ku terjatuh dan bertahan di atas semua yang kuanggap adalah aman. Ohh… wahai sang hujan, sembunyikanlah air mataku dan bawa mengalirlah bersamamu. Supaya tidak seorang pun tahu bahwa aku sedang menangisi kekalahanku. Malam terasa sangat panjang, semua tentangnya (Nisa) telah mengisi ruang khayalku. Tapi aku benci pada malam ini karena dua alasan: Satu, sekarang dia takkan ada lagi disampingku. Dua, aku amat sangat merindukan candanya saat ini.
            Semakin ku sadari diantara kita berdua memang tidak ada yang tahu, siapa yang akan memutuskan untuk pergi lebih dulu?
            Dan ternyata kau yang telah abaikanku lebih dulu bahkan kau yang telah melukaiku. Kini ku sadari, ternyata melihat cinta dengan mata itu hanya membuatku merasa sangat lapar–selalu ingin memilikinya walau kutahu ternyata bidadari itu berhati iblis.
            Teramat melankoli sang malam biru, seumur perjalanan ultahku ternyata malam inilah yang paling menyedihkan dan membuat hidupku penuh dengan beban. Aku lingkari kalender dan kutulis dalam binder tentang apa yang ku rasakan malam ini sebagai penggalan perjalanan kisah sedihku. Tak kusangka orang yang selama ini kupikir adalah peri kecilku, bidadari penolongku–telah berhasil hancurkan harapanku dan membuatku jadi setengah gila.
            Disudut kamar kost aku menangis, peduli setan kalian mau ngomong apa? Aku memang cengeng, banci kaleng dan juga cemen tapi yang penting aku merasa lebih nyaman bila menangis. Kurobek semua foto di dinding kamar yang memampang wajah dan lukisannya–Anisa Yuniar Purwana. Peri kecil itu sekarang kuanggap lebih hina dan rendah dari Yudas si pengkhianat nomor satu didunia.
Aku cukup salut sekali dengan caranya membunuh. Dia selalu membuaiku, mengelus-elus kakiku layaknya kucing jinak. Sementara ketika kulengah dia menikamku seperti singa yang menerkam buruannya. Atau dia tak jauh beda dengan seorang anak kecil yang sedang membangun istana pasir di pantai. Ditatanya pasir putih itu menyerupai rumah puteri raja. Nampak indah memang pada awalnya tapi setelah jenuh dengan permainan itu, tak ayal rayap dia hancurkan dengan riang dan semua pun berakhir tanpa alasan.
Mungkin memang takdirku seperti ini dan kuanggap semuanya biasa saja–tak ada bedanya dengan ceritaku bersama Nisa sejak pertama kali kita berjumpa.
Tetapi disini ada sesuatu yang telah membisikiku tentang arti hidup dan kenyataan ini pun bisa membiusku ke jurang kesesatan. Dia berkata memang aku lah yang salah, mengapa aku tercipta sebagai makhluk yang lemah di hadapan wanita? Kadang aku berpikir semua itu akan nampak indah bila aku punya rumah mewah dan harta yang melimpah ruah. Apakah memang benar bahwa kebahagiaan itu bisa dibeli oleh uang? Dan memang rupanya aku terlalu tak berdaya unuk satu hal itu.
Ketika pikiranku ini berputar menatapi bayangan masa lampau. Air mataku keluar dan tubuhku terasa bergetar.
Dalamnya laut tak sanggup ku selami, tingginya gunung tak mampu kudaki. Setelah dua ribu hari aku mengejarmu tanpa henti–baru tersadar semuanya akan berakhir tanpa arti. Kini aku letih tak mampu berjalan lagi, aku menyerah. Saat ku berada diantara gelap malam, terlihat senyummu dibalik pisau tajam. Terlintas dua kata didalam rasa, aku menyerah. Hinalah aku tapi jangan sampai telingaku ini mendengarnya. Lebih baik aku tidak tahu apa-apa dari pada harus sakit hati lagi karena aku yakin tuk kali ini ku tak sanggup memikulnya sendiri. Aku yakin menyerah dan pasrah.
Aku akui, aku adalah orang pengecut, aku pecundang. Aku seorang laki-laki yang hanya bisa menangis, haruskah aku putus asa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan dan haruskah aku menyerah? Tapi kusungguh letih menantimu, mungkin ini untuk yang terakhir kali kumenanti. Membuktikan keyakinanku bahwasanya menunggumu tiada arti.
Aku ingin bertanya jika boleh, pernah kau menyukaiku? Pernah kau banggakanku? Aku rasa tidak, karena kau takkan pernah melihat sisi terangku. Jika kau izinkanku, aku yakin sudah mencacimu sejak dulu. Karena aku sudah cukup sabar kau sakiti, kau ludahi dan kau robek hatiku untuk yang kesekian kali. Mengapa kau yakinkanku untuk mendekatimu, jika kamu sendiri tidak pernah mencintaiku? Kau sudah puas mempermainkan perasaanku atau kau malah ingin lebih dari itu? Mengapa tak kau bunuh saja aku?
Aku menjadi pecandu luka karenamu, masa depanku buram karena hanya pikirkan kamu bahkan dewi penyelamatku pun ku musuhi atas permintaanmu. Apakah kau bisa merasakan apa yang sedang ku rasakan? Andai kau bisa memahami hatiku yang rapuh, Nisa.
Aku berharap ada seseorang yang akan datang hingga ku sanggup buang bayanganmu. Namun dimana aku harus mencarinya? Semua temanku saja malah pergi meninggalkan aku sendiri tersesat dalam ruang gelap ini. Aku menyesal mengenal dirimu, harusnya aku tak pernah punya niat untuk mencintaimu. Tapi aku tak mampu berdalih bahwasanya aku membutuhkanmu saat ini. Aku begitu merindu dan sangat ingin tahu apa yang sedang Nisa lakukan saat ini? Tentunya kau pasti sedang memimpikan seseorang malam ini dan aku yakin orang itu bukan aku. Karena aku memang tak pernah berarti bagimu.
Masih ingatkah kau saat itu? Malam itu indahnya, kita duduk di kursi depan rumahmu. Bicaramu adalah kehangatan dan senyummu adalah sebuah kesempatan. Kita tunjuk satu bintang, janjimu adalah pedoman hidupku, aku sungguh bahagia dihari bodoh itu. Hingga ku relakan sepenuh hatiku hanya untukmu.
Tapi salahku jua yang mau menyentuh bulan, berharap langit dapat ku miliki tanpa sadar kemampuan sendiri. Aku seperti berjalan di dalam tidurku, merasakan perihnya sakit hati akibat ingin mewujudkan mimpi yang selalu indah mewarnai kisah cinta antara kita berdua.
Saat kau terpuruk aku selalu ada di sisimu, selalu ingin membuatmu tersenyum gembira. Tapi saat kau sembuh dari luka, kau lekas terbang tanpa mengingatku. Bahkan kau pergi berkasih dengan lelaki yang lain dan mencampakan aku. Kau adalah bunga sekolah di waktu itu, pantas saja bila semua orang selalu ingin bersamamu. Siapa yang tak ingin memiliki cintamu adalah orang tak berakal dan bahkan tak pantas bila disebut lelaki sejati.
Kau (Nisa) adalah cinta pertamaku, kau perkenalkan aku pada duniamu dan kau ajari aku cara menyayangimu lebih dari nyawaku sendiri. Ohh cinta pertamaku, aku tak mungkin bisa melupakanmu setelah sekian lama kita menjalani hari bersama. Bayangan wajahmu selalu melekat pekat, terikat erat dan tak luput aku dari mengingat. Mengapa kau tega ingin pergi dari hidupku? Dengan alasan inilah yang terbaik untuk kita berdua agar kita tak buta dalam mengerti arti cinta. Ohh cinta pertama ku, jalan masih panjang untuk kita hadang, gunung masih tinggi menjulang untuk kita daki, pelabuhan pun masih terlampau jauh untuk kita menepi.
Tapi (Nisa) mengapa kau tak pernah mau jadi kekasihku, mau bersanding hidup dan berbagi arti cinta denganku? Tapi ya sudahlah, percuma saja aku mengeluh karena aku yakin kelak kita akan bertemu lagi. Selamat jalan cinta pertamaku, selamat berjuang meniti hari.
Malam ini hujan turun deras sekali, seperti alam semesta yang sedang bermain opera melankoli. Aku mendramatisir sembari mengenang masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama di sekolah. Dan saat mataku terpejam, hanya wajahmu yang ku khayalkan. Begitu pula dengan adegan hidupku di pagi hari yaitu kaulah orang pertama yang aku ingat dan namamu (Nisa) aku ucap. Baru ku sadari aku begitu menyayangimu bahkan lebih dari aku menyayangi nyawaku sendiri. Walau kau tak pernah peduli tapi biarkanlah aku berkata ‘aku sayang kamu’ Nisa. Hanya dirimu yang ada di dalam kepalaku dan biarkanlah aku bicara ‘aku cinta kamu’ Nisa.
Beribu-ribu masalah telah aku hadapi bersamamu, berjuta kisah patah hati telah aku lalui karenamu. Aku nampak tegar dan gagah berani waktu itu tapi mengapa saat ini aku merasa hancur? Begitu berat beban hidupku seiring tiada kau yang menghiburku malam ini. Apa kau dengar patahnya suara cinta ini bernyanyi, sedihnya hatiku ini menari? Dalam persembunyian sang rembulan kau ku resapi. Prihal cinta ini mengkhianati, kepalsuan hati kamu kini ku pahami. Adakah satu alasan yang mampu hindari luka tangisan? Hanya tertipu, tertipulah aku oleh cintamu. Tertipu aku oleh rayuan manismu dan tertipu oleh kebahagiaan yang sempat kau berikan sebelum aku segera kau tinggalkan.
Tapi hari ini pesta ulang tahunku, hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Aku harus menghapus air mata ini atau selamanya aku akan terus terpuruk dalam kepedihan duka nestapa. Sekarang malam sudah meredap dan suara-suara telah tenggelam di dalam alunan musik dedaunan. Sang penyair mulai keluar dari tempat persembunyian hendaki bersajak menyerupai nada-nada denting suara jam atau lebih elok jelmaan malam.
Akhirnya aku tak sendiri lagi malam ini, rupanya nyamuk-nyamuk sahabatku telah datang tuk menepati undangan. Bahkan disini tamu kehormatanku pun baru hadir ketika kupanggil dan ku serukan: “Hey cicak-cicak kawanku, datanglah kau ke kamar kostku dan hadirilah pesta ulang tahunku. Kalian tidak perlu repot-repot membawakan kado untukku, justru aku ingin memperkenalkan para nyamuk sahabatku pada kalian.”
Tidak begitu mudah rupanya aku rayu mereka, saat kuingat sebelumnya ku bukakan jendela dan bicara pada para nyamuk itu: “Hey nyamuk sahabatku, malam ini aku mau undang kalian untuk datang ke pesta ulang tahunku karena kudengar kalian hebat soal bernyanyi. Jadi aku mohon datanglah dan ramaikan pula pestaku segera dengan iringan nyanyian suara merdumu itu.”
Bukan hanya itu saja, bahkan aku turut hadirkan bintang tamu malam ini. Sengaja ku matikan lampu kamar dan mulai melepas satu persatu kunang-kunang peliharaanku. Lengkap sudah semuanya, kini aku mulai merayakan pesta ultahku bersama mereka. Ditengah ruang gelap ku bernyanyi sendiri memandang kue kecil beserta nyala lilin angka 18. Ada yang membuatku marah ketika sang nyamuk salah satu tamu istimewaku mulai merusak suasana acara. Rupanya mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi hidangan lezat yang aku siapkan. Tentu saja mereka sangat menolak ketika ku tawarkan kelezatan kue ultahku ini karena bagi mereka–darah adalah menu spesial sekaligus hidangan penutup serta pencuci mulut. Tapi ku relakan tanpa perlawanan dan bahkan tanpa alasan, kutahan nyeri yang layaknya jarum menusuk rusukku.
Saat aku menangis meresapi kesedihan dan kesepianku. Tiba-tiba kucing peliharaanku mengeong sambil mengelus-elus manja dikaki seakan ingin memelukku–coba menenangkan tangisku dan menghibur kesepianku. Seakan dia dapat bicara untuk meyakinkanku bahwa aku sekarang tak sendiri dan tak akan pernah kesepian lagi karena mereka; kecoa, tikus, semut dan jangkrik selalu setia menghibur malam-malamku. Bahkan perasaanku kan jadi lebih baik saat aku menuliskan duniaku dalam buku. Saat-saat itu aku merasa menjadi raja dan terlebih berharga karena aku bisa saja mengarang masa depanku walau tak nyata–walau hanya sekedar imajinasi belaka.
Telah habis air mata dan segenap kata-kata tentangmu, saat aku coba mengenangmu (Nisa). Dan kau tega menghilang dariku tanpa penyesalan hingga membuat aku merindu tak tersampaikan. Akhirnya kutahu tak berartinya diriku bagimu. Tetapi aku tak menyesal telah mencintai dirimu, paling tidak Tuhan sudah membolehkanku tuk bertemu dengan dongeng bidadari surga seperti dirimu Nisa.
Pernahkah kalian merasakan hari paling indah? Sebisa mungkin kalian tak mampu berkata tentang keindahan dunia. Saat perempuan terindah yang kalian cinta, temani kalian ditaman surgawi. Apakah kalian bisa elakan kenikmatan yang telah Tuhan berikan? Tapi semua itu tak dengan mudah kalian dapatkan ketika harus jalani malam sendiri kesepian tanpa teman. Maka kalian tidak akan percaya jika kesedihan bisa menebus sebuah kebahagiaan yang tertunda dan mungkin butuh waktu lama untuk membuatnya menjadi nyata.
Kekosongan yang sedang ku jalani saat ini mungkin bisa mengajarkan aku tentang arti hidup. Dan hanya anak kecil yang tidak punya beban hidup serta masalah yang berat. Jadi kapankah kita bisa siap untuk mengakui bahwa sekarang kita bukan anak kecil lagi? Coba kalian berkaca dan tanya usia kalian berapa, sudah pantaskah kalian dewasa?
Ohh Tuhan… ini adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Dan permohonanku kali ini adalah bisa melihat ibuku dapat berjalan normal lagi, dia bisa tersenyum melihatku lagi. Hingga besok aku akan pulang kembali ke rumahku, aku ingin dia tiba-tiba bisa berdiri dan memelukku lalu bicara apa saja yang ku lewati selama setahun tinggal dirumah kost ini.
Saat ini pukul 04.00 pagi, tak terasa sudah 4 jam aku menulis dijudul kecil buku Kekasih Terakhir ini yaitu (Catatan Akhir Sekolah). Entah apa sebenarnya yang harus kutulis tentang perjalanan sekolahku karena aku tak punya kesan yang menyenangkan. Yang aku rasakan dan kutahu selama ini, aku sebenarnya sudah ‘seperti mati’ disekolah dan keberadaanku setiap pagi dikelas hanyalah bak sebuah jasad yang berjalan.
Ya mungkin kata itu bagiku adalah kata yang paling tepat untuk mengungkapkan semuanya. Sungguh membuatku selalu ingin menangis bila menceritakannya pada kalian di buku ini. Bahwa semasa sekolah aku seperti dianggap mati oleh teman-teman sekelasku, teman seangkatanku dan seluruh orang yang ada di sekolahku.
Aku tidak pernah punya sahabat dekat yang selalu setia menemaniku setiap waktu istirahat sekolah atau setidaknya berangkat dan pulang bareng bersamanya.
Semasa aku ada dikelasku, aku selalu duduk sendiri dibangku paling sudut yang ada disamping kanan belakang. Tidak ada seorang pun yang sudi menemaniku duduk bersama hingga akhirnya bangku kosong yang ada di sisiku tak pernah terisi selama bertahun-tahun.
Memang aku juga yang salah, ku selalu menganggap semua orang itu adalah musuhku dan aku tak pernah ingin berkawan dengan orang-orang yang penuh kepalsuan. Aku tak percaya lagi dengan yang namanya sahabat, mereka hanya mendekatiku saat mereka sangat membutuhkan pertolongan. Sementara ketika aku sedang sedih merana, mereka malah pergi meninggalkanku sendiri dan tak pernah sedikit pun mempedulikan apa yang telah ku rasakan. Sedangkan diwaktu istirahat sekolah, ku selalu menghabiskannya sendiri ditempat yang sepi.
(Aku punya tempat persembunyian rahasia yang sunyi di sekolah) dan disana aku selalu bisa mengekspresikan diri sesuka hati. Kadang aku bernyanyi sendiri di iringi musik dedaunan dan suara hembusan angin. Kadang aku juga ikut menari riang saat pohon-pohon bergoyang dan air mengalir di daun pisang.
Tapi semua itu sudah berakhir kini, beberapa minggu lagi kuakan menerima ijazah di SMA ini. Dan berarti saat itu tiba maka aku telah resmi keluar dari sekolah.
Aku bingung apa yang harus aku tulis untuk mengisi Catatan Akhir Sekolah? Karena aku tak punya kesan yang paling indah selama berada dilingkungan sekolah ini. Tapi kupunya satu puisi untuk teman seangkatanku sebagai catatan akhir sekolahku bersama kalian, meski aku tak punya sahabat tapi ini untuk kalian:
Teman sejati
Bersama detikmu
diantara kita
Persahabatan itu
tanda kasih sayang
Ku selalu rindu dan
mengingatmu persahabatan
Yang ikhlas dan sejati
buat selama-lamanya
            aku akan mengkekalkan
            persahabatan sampai
            akhir jiwaku dan musim-musim yang
            mendatang agar persahabatan kita
            kekal selalu bersamamu

            Disaat itu ku terpaku melihat sekeliling arah sekolahku, mungkin untuk yang terakhir kali aku bisa berdiri disana. Seakan jiwaku terbelenggu oleh sesuatu yang membuatku tak dapat mengedipkan mata walau cuma sedetik saja. Saat itu terdengar suara keramaian orang-orang yang berlalu lalang, tak cukup sadarkan aku hingga kumasih merasa sepi sendiri.
Dipagi cerah itu adalah hari terakhir aku mengikuti Ujian Akhir Nasional SMAku. Dan itu berarti mulai detik itu juga aku telah menyelesaikan semua tugas akhir sekolahku.
Tak terasa sudah 13 hari disaat itupun berlalu, kini aku lewati sekolah tanpa belajar lagi dikelas hingga sampai saat ini aku masih menunggu hasil UANku keluar. Lalu kerjaan aku kini disekolah sampai sebulan ke depan ini hanya mondar-mandir cari tahu kabar terbaru. Sungguh senangnya; Takkan ada lagi kegiatan belajar mengajar, tak ada lagi mengisi ulangan harian dan mencontek PR teman. Mungkin untuk waktu kedepan ini tak ada lagi kegiatan baca buku dan menghafal semua pelajaran.
            Tidak aku sangka ternyata 12 tahun itu waktu yang sangat sebentar saat dihabiskan di bangku sekolahan. Tiada kukira juga secepat ini aku harus melepas baju seragam sekolahku untuk selamanya (berhenti menjadi pasukan putih abu-abu).
Inilah pengalamanku saat ku mengikuti UAN:
            Dimulai dihari sabtu tanggal 13 mei 2006, tepatnya 17 hari yang lalu dari sekarang. Ketika itu dihari lusanya akan dilaksanakan Ujian Akhir Nasional yang serempak diseluruh wilayah SMA di Indonesia.
            Dimulai hari sabtu itu aku pun melihat semua orang sedang sibuk menyiapkan diri. Tentu saja semua teman-teman seangkatanku juga saat itu lebih mementingkan diri sendiri ketimbang harus capek-capek mengurusi orang lain. Akan tetapi saat itu aku malah sengaja memperhatikan mereka yang ada disekitarku; ada sebagian orang yang menghabiskan hari itu untuk membeli kelengkapan berupa alat-alat tulis. Selain itu ada yang sedang susah payah mencari kunci jawaban, bocoran untuk mengisi soal UAN dihari senin–besok lusanya.
            Tapi apakah kalian tahu, hal apa yang malah ku lakukan sebagai persiapan? Hal yang ku lakukan bukan menghafal buku pelajaran, bukan juga membeli perlengkapan alat tulis. Saat itu aku tidak pernah berpikir sedikitpun juga untuk menyiapkan diriku sendiri hadapi ujian akhir.
            Coba saja kalian bayangkan, siang dan malamku dari sejak awal aku kost–ku habiskan untuk bekerja keras banting tulang supaya aku bisa memenuhi keperluan hidupku sehari-hari. Membayar uang kostku tiap bulan, membayar semua biaya sekolah dan lebihnya aku berikan untuk keperluan Ibu dan adikku dirumah. Jadi aku tak punya kesempatan untuk menyiapkan diriku menghadapi soal ujian. Yang ada malah kadang bebanku semakin berat saat pihak dari sekolah menuntutku untuk cepat melunasi sisa tunggakanku.
            Lalu apa yang sedang terjadi dengan keluargaku dirumah sementara aku harus kerja keras mencari uang sambil kost sejak setahun yang lalu?
            Mungkin tidak banyak yang harus aku ceritakan pada kalian tentang semua masalah pribadiku ini. Karena semua itu pun sudah ada jawabannya dijudul cerita “Indekost” yang ada dihalaman sebelumnya.
            Sampai saat ini ibuku masih terbaring diranjang akibat kelumpuhan yang dideritanya. Sementara ayahku hingga sekarangpun tak lagi membiayai hidupku dan keluargaku dirumah. Sedangkan semua fasilitas yang mengisi ruang rumahku sudah habis terjual untuk keperluan makan keluargaku sehari-hari.
            Karena itu aku tak lagi peduli dengan hari Senin atau esok lusa walau hari itu akan ada kegiatan UAN yang akan menjadi “hasil akhir” masa pendidikanku.
            Tapi apa kalian tahu kesanku ketika sudah selesai menghadapi UAN selama 3 hari itu? Kesanku, yaa biasa saja. Dengan mudahnya aku mengisi ketiga mata pelajaran yang diUANkan oleh Negara itu. Apalagi bahasa Indonesia (favoriteku) kuisi soal-soalnya dengan cepat dan aku sangat yakin bahwa nilainya akan paling tinggi diantara yang lain.
            Kini sudah 13 harinya aku melewati ujian akhir nasional tersebut, dan saat ini aku hanya tinggal menunggu kapan hasil UAN itu akan keluar?
            Malam ini sangat istimewa bagiku karena seperti yang sudah aku katakan tadi di halaman depan bahwa sekarang adalah hari ultahku yang ke 18. Tepatnya saat ini di jam dinding kamarku sudah pukul 05.30 pagi, hari Selasa tanggal 30 Mei 2006.
            Dari sejak hampir 6 jam yang lalu aku menulis tentang cerita Catatan Akhir Sekolah ini tanpa tidur semalaman penuh. Dan sebentar lagi aku sudah siap bergegas berangkat pulang ke rumahku, meninggalkan tempat kost ini untuk selamanya.
            Mungkin sampai disini kubisa menulis tentang semua ini dan untuk selanjutnya kisah ini akan bersambung ke judul Teruntuk; Ibu disurga yang ada di halaman setelah ini.
            Mohon teruslah untuk ikuti perjalanan hidupku hingga tuntas: Dalam misi pencarian diriku untuk menemukan dimana keberadaan “Kekasih Terakhir” sebagai jawaban dari akhir kisah cintaku.

***


kunjungi blog ini di:



Selasa, 23 Mei 2017

Kekasih Terakhir 3 Eps 7: Tunggu Aku Jakarta



Tunggu Aku…
Jakarta


Dunia, malam ini kau mematahkan hatiku. Padahal sore itu kau bawa kabar gembira: “ Bahwa nanti aku akan bahagia, bahwa nanti aku akan terlahir sebagai seorang legenda ‘sang penyair di awal abad’. Dan bahkan kau kabarkan padaku bahwa nanti hari-hari dalam hidupku akan berubah, menjadi lebih indah.”
Tapi aku kecewa padamu malam ini, kau sudah berani buat ibuku tak bisa bernapas lagi, tak bisa menyaksikan kesuksesanku nanti. Hingga di hari ke 7 kematian Ibu, aku masih disini untuk menunggunya pulang. Karena aku selalu percaya bahwa dia tak mungkin semudah itu untuk mati. Aku yakin dia hanya mati suri, dia hanya tertidur sejenak untuk beristirahat sementara waktu di dalam kuburannya.
Sementara, di rumahku saat ini sedang ada pengajian di hari ke 7 kematian Ibu. Semua orang melantunkan doa-doa untuknya yang kini entah ada dimana? Aku merindukannya malam ini untuk pulang dan ikut makan malam bersamaku. Dan jika dia datang sekarang, aku akan menyambutnya layaknya ratu sejagad yang turun dari kereta kencana.
Akan aku siapkan untuknya makanan-makanan lezat yang kumasak sendiri dan ku berkata: “Ibu… sekarang aku jago masak loh, ini semua adalah masakan buatanku yang spesial kubuat untuk menyambut kedatangan Ibu pulang ke rumah. Ibu makan yah, Ibu pasti lapar karena sudah 7 hari ini tidak makan.
Ibu tahu gak? Aku belajar memasak masakan ini waktu kost dulu dan Ibu kostku yang mengajarkanku. Ketika aku diajarkan cara memasak olehnya dulu, aku selalu banyak cerita tentang Ibu loh. Aku bilang sama dia kalau Ibu paling jago membuat kue-kue yang enak.
Ibu ingat gak? Setiap tahun di hari ulang tahunku, Ibu selalu membuat kue ultah untukku. Yang lebih membuatku terharu, hanya Ibu seorang yang tidak lupa mengucapkan selamat ulang tahun untukku hingga umurku 17.
Bahkan sebulan sebelum Ibu meninggal, Ibu mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang ke 18. Malah Ibu juga minta maaf karena tahun ini Ibu tidak bisa membuat kue ultah lagi untukku, untuk merayakan ulang tahunku.
Siapa yang tidak menangis mengingat hari-hari indah itu? Maka bohonglah aku jika saat ini aku berkata ‘Aku tidak menangis’.
Sungguh menyakitkan malam ini, dan aku mengurung diriku di kamar hingga hampir seminggu terakhir ini. Tak ada kata-kata yang mampu ku ungkapkan lagi untuk melukiskan kesedihanku saat ini. Hanya air mata yang selalu menetes di pipiku ini simbol luka hatiku. Tapi sayangnya, tak ada seorang pun teman yang mau peduli padaku–tak mau tahu apa yang terjadi menimpaku.
Padahal aku butuh kedatangan mereka saat-saat seperti ini untuk coba tenangkanku. Meminjamkan bahunya untuk kupeluk dan menangis sampai aku bisa tegar menghadapi kenyataan ini, agar aku yakin betapa berharganya aku untuk bertahan hidup.
Tapi aku lupa bahwa aku tak punya teman, bahwa aku telah terbiasa untuk hidup sendiri menyepi dan memang aku tak pernah butuh teman. “Ya… aku tak butuh satu pun teman, dan aku bisa hidup sendiri.”
Untuk orang-orang yang mengaku temanku: “Enyah saja kau pergi, aku sudah melupakan kalian sejak kalian datang dan pergi seenaknya dalam hidupku.”
Apa kalian tak pernah mengerti, bagaimana rasanya diabaikan oleh semua teman sepermainanmu, di jauhi oleh teman sekelasmu dan bahkan diasingkan oleh keluarga besarmu? Itulah aku, aku lebih bisa merasakan pahitnya dibuang dan terkadang aku selalu bertanya–seberapa layakkah aku untuk hidup?
Sementara kini orang yang ku sayangi, dan satu-satunya orang yang paling mengerti diriku–telah tiada 7 hari yang lalu. Tepatnya di hari aku pergi ke sekolah untuk mengambil STTB dan Ijazah SMAku.
Apa kalian bisa merasakan seberapa sakitnya hatiku? Mungkin saat itu (saat mengambil STTB, Raport, Ijazah) kalian pasti akan langsung pulang ke rumah dan menunjukkannya pada orangtua. Dan kalian dengan raut wajah yang sumringah akan menceritakan tentang kelulusan kalian, nilai-nilai akhir kalian yang bagus serta meminta Ayah Ibu kalian supaya kalian dikuliahkan di tempat yang terkenal, di Universitas terfavorite.
Tapi tidak dengan diriku, aku tak mungkin bisa tenang melanjutkan sekolahku (kuliah) sementara keluargaku saat ini dilanda bencana, diambang kehancuran. Akhir-akhir ini semua teman sekolahku (seangkatanku) mungkin sedang sibuk mengikuti test SPMB sebagai syarat bisa diterima di Universitas idamannya.
Tapi apa yang ku lakukan? Untuk bisa makan sehari-hari saja bagiku terasa sulit, beban hidupku semakin berat seiring di mulai penyakit almarhumah Ibu yang parah. Tapi sekarang dia sudah meninggal dunia, dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Mungkin dia kasihan padaku dan kedua adikku yang selalu lelah merawatnya hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Memang dari semenjak beberapa bulan terakhir ini penyakitnya semakin parah, dia semakin tak berdaya untuk menggerakkan organ luar tubuhnya. Rupanya stroke itu berhasil melumpuhkan semangat hidup Ibu hingga membuatnya tak berdaya untuk bergerak bebas, berjalan melangkahkan kaki, atau menggerakkan tangannya pun dia sudah tak bisa. Terkadang aku selalu merasa kasihan melihatnya menderita hanya bisa terbaring di ranjang bak mayat hidup yang tak bisa bergerak.
Mungkin Tuhan pun berkata sepertiku, hingga akhirnya memutuskan untuk mencabut nyawa Ibu, mengakhiri penderitaannya selama setengah tahun terakhir ini.
Aku masih bisa menerima kenyataan ini, aku pasti bisa merelakan Ibu untuk pergi dari dunia ini. Tapi ada satu hal yang membuatku takkan pernah rela, aku akan menyalahkan ayahku karena dia orang yang harus bertanggungjawab atas kematiannya. Selama kubisa akan kubenci dia atas semua yang sudah dia perbuat pada Ibu, takkan pernah ku biarkan dia bahagia lagi diatas penderitaannya.
Biarlah malam ini aku takkan terlelap, aku ingin menghabiskan air mataku hingga tak tersisa agar aku tak bisa menangis lagi mulai dari besok pagi nanti. Ku tuliskan puisi ini sebagai ungkapan hatiku yang terluka:

Saat begini ku rasakan seperti;
Hati yang dahulunya gembira
dirobek-robek sehingga gembira
bertukar duka
Hati yang dahulunya bangga
ditebuk-tebuk sehingga bangga
bertukar kecewa
Hati yang dahulu dapat menerima segalanya
ditumbuk-tumbuk hingga bertukar berontak
Hati yang dahulunya…
Ah! Susah untuk dikeluarkan
Tak siapa pun mengerti
Apa yang ku alami
Umpama ikan emas coba merenangi lautan
yang bernanah, berdarah… penuh dengan ikan besar
Aku kecewa
Kurasakan seperti hatiku ini
Sedang hancur di siat-siat oleh sembilu
Ah! Pedih yang dirasa
Sungguh Pedih!
Saat ini kurasakan luka yang ada
Tidak akan sembuh
               Saat ini kurasakan dendam
               Pada diri yang bertapak
               Dihati keras ini
               Tidak akan pudar… Tidak!

 
Selalu saja ku katakan di kala pagi tiba: Persetan pagi ini dan pagi berikutnya, pun aku benar-benar tak mau bangun lagi, biarkanlah aku kembali bermimpi. Hidup di dalam mimpi lebih indah dan menyenangkan ketimbang harus menghadapi kenyataan.
Di dunia imajinasi, tubuhku terkurung mencari sebuah kebahagiaan yang hilang: “Ya… Kebahagian, akan hadirkah di hidupku julur-jalur pelangi kemesraan, yang menerangi kekusutan membunuh kedukaan? Kiranya tirai kebahagiaan tersingkap, akan lenyaplah huru-hara serta dunia, akan giranglah bukit gunung tiada ledakan bom yang mengganggu dunia jadi lena. Akan adakah kekal kebahagiaan sehingga terbit matahari di sebelah barat?”

***       

Hari ke 8 kematian Ibu…
                (Rahasia dibalik hati)

            Dipagi hari menjelang siang, seseorang datang ke kamarku membawa makanan:
            “Ga… makan dulu nih, Bi inah masakin sayur katuk campur jagung kesukaan Angga. Ayo dong makan kamu khan udah beberapa hari ini sulit makan, entar sakit loh!” ucap Bi inah pembantuku.
            Lalu jawabku: “Enggak Bi… Aku mau mati aja, biar aku bisa ketemu Ibu lagi.”
            Bi inah langsung menangis saat dengar ucap pendekku sementara aku masih terkapar bak mayat hidup yang tak bisa bergerak. Aku sedang marah pada diriku sendiri yang tak berguna ini, aku menyesal tidak bisa membawa Ibu ke Rumah Sakit dan menyembuhkannya. Kini biarlah aku menghukum diriku sendiri hingga mati agar aku bisa menebus kesalahanku pada Ibu.
            Kemudian Bi inah makin menangis deras seakan dia merasa sangat bersalah padaku dan pada Ibu. Lalu dia membongkar semuanya yang terjadi, sebenarnya selama ini ketika aku dan kedua adikku sedang sekolah ayah selalu menyiksa Ibu di rumah.
Sampai beberapa bulan terakhir ini, ketika aku sedang sibuk menghadapi UAN pun ternyata ayah sering memukul Ibu yang saat itu mengidap stroke yang makin parah dan merepotkan Ayah:
            “Pertama, ayah pernah memukul wajah Ibu dengan gayung hingga di daerah sekitar halisnya terluka parah dan mata Ibu pun di penuhi darah. (Waktu  itu Ayah bilang padaku kalau Ibu hanya jatuh di kamar mandi). Tapi yang sebenarnya, ternyata ayahlah yang menyiksa Ibu tanpa ampun.
Selain wajahnya dipukul hingga memar lalu Ayah juga menginjak keras-keras kaki Ibu. Setelah itu Ibu diseret dan diguyur air hingga tubuhnya menggigil kedinginan. (Tapi katanya waktu itu Ibu tidak menangis, dan Bi inah hanya terdiam saat itu karena dia takut pada ayahku.
Hingga akhirnya rahasia kejadian itu tersimpan rapat sampai kini, karena Ibu sendiri pun meminta Bi inah untuk merahasiakannya padaku,” ringkas  cerita Bi inah.
            Tanggapanku tentang hal ini; memang waktu itu aku sedang sibuk menghadapi ujian terakhirku jadi aku yang masih kost waktu itu tidak sempat pulang dulu untuk menjenguk Ibu. Tapi aku tahu tentang luka di sekitar mata kanan Ibu, memang sangat menyedihkan melihatnya saat itu, matanya merah berdarah dan di sekelilingnya seperti benjolan memar-memar membiru. Ketika aku tanya kenapa Ibu seperti itu, dia hanya terdiam membisu seperti ada rasa takut di dalam hatinya. Dan yang menjawab waktu itu adalah ayahku, Ayah bilang kalau Ibu terjatuh di kamar mandi. Aku percaya saja pada perkataan Ayah ketika aku juga tanya Ibu  tentang kebenarannya, dan Ibu mengangguk seperti takut.
Setelah itu aku tak mempermasalahkan lagi karena aku pikir Ibu benar-benar jatuh di kamar mandi waktu itu.
            Dan baru ku tahu sekarang lewat Bi inah bahwa saat itu ternyata Ibu telah dianiaya oleh Ayah. Kini aku menjadi terbakar mendengar cerita itu, lalu aku tanyakan lagi apa saja sebenarnya yang sudah terjadi di rumah ini selama aku tidak ada.
            Kemudian Bi inah membongkarkan lagi salah satu rahasia di balik kematian Ibu selama ini.
            “Yang kedua, Ayah dengan terang-terangan selingkuhi Ibu saat itu. Pacar gelap Ayah banyak, dan sesekali Ayah membawanya ke rumah ini. Ibu hanya terdiam menanggapi sifat bejad Ayah karena semua itu dia lakukan demi kami ketiga anaknya. Ibu nggak mau kalau kami bersedih bila sampai Ibu harus meminta cerai pada Ayah. Karena itu Ibu ingin mempertahankan rumah tangganya saja supaya tetap utuh, agar kami ketiga anaknya masih bisa punya Ayah dan Ibu yang utuh.
Ternyata Ibu sudah tahu kalau Ayah sering “bercinta” dengan pacar-pacar gelapnya itu. Tapi dia hanya bisa memendam sakit hatinya dalam hati saja, karena dia nggak mau melihat aku ikut bersedih bila Ibu terlihat bersedih. Ibu memang sangat pandai untuk menyembunyikan kesedihannya, ternyata dia memang wanita tangguh yang pernah ku ketahui dalam seluruh hidupku.
Tapi lama-lama Ibu tak tahan menahan sakit terhadap Ayah selama ini. Akhirnya dia terkapar juga hingga membuatnya kehilangan semangat hidup,” singkat cerita Bi Inah padaku.
            Dan ending ceritanya kalian juga tahu sendiri khan? Ibuku mati dengan terhormat… Ibuku bukan seorang pecundang, dia adalah pahlawan di rumah tangganya. Ibuku seorang wanita tangguh korban dari kekerasan lelaki, dia tidak kalah meski dia sudah mati. Justru dia telah menang secara terhormat, Ya… Ibu mati dengan terhormat.
            Aku semakin membara dan terbakar ketika mendengar semua rahasia dibalik kematian Ibu selama ini. Aku tak bisa menyalahkan Bi inah telah merahasiakan semua kejadian ini. Justru ada seseorang yang harus kutuntut atas kematian Ibu, dialah Ayah dan hanya dia dalang dibalik kematiannya.
Ya… ini semua adalah salah ayahku, hanya dia yang harus bertanggungjawab atas kematian Ibu. Beraninya dia menyakiti hati Ibu yang baik itu, kini dia harus menanggung akibatnya dariku.
Hari ini ayahku tidak boleh tertawa lagi di hari-hari kematian Ibuku sendiri. Aku harus menghajarnya juga agar dia bisa merasakan betapa sakitnya bila menjadi Ibu.
Sekarang aku berdiri, aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung mencari sesuatu untuk memukulnya. Walaupun Bi inah menahanku untuk tidak berbuat nekad tapi aku tetap terus melangkah. “Ya… aku kembali mencari samuraiku yang telah kukubur di samping halaman rumahku 5 tahun yang lalu.”
Aku mulai menggali tanah dan akhirnya kutemukan kotak kayu panjang yang menyimpan samuraiku itu. Saat ini rasa dendam membakar tubuhku, termakin lagi saat kugenggam kembali samurai itu yang terlapisi serangka hitam dan kain putih. Benda tajam ini masih bercahaya dan tetap utuh meski sudah 5 tahun aku menguburnya.
Aku masih ingat jelas, samurai ini pemberian Almarhum Andi guru berkelahiku sejak awal kelas 1 SMP. Benda ini sudah merobek banyak tubuh orang bajingan dan preman kampung yang sok jagoan.
Aku masih ingat kala itu umurku hampir 13 di tahun 2000 tapi aku sudah hidup di dunia malam. Tidur di jalanan, pecandu ganja, minuman dan obat terlarang. Mungkin saat itu aku hanya sekedar frustasi karena di rumah–Ayah selalu menyiksaku dan menyakiti hati Ibuku. Tapi meski pun dulu aku nakal tapi tak lama dari itu aku insyaf dan mengubur masa laluku seperti aku mengubur samurai ini.
Tapi sekarang ceritanya berubah, ibuku yang dulu membuatku taubat kini mati akibat hatinya selalu dilukai. Dan orang yang harus bertanggungjawab atas kematiannya adalah ayah kandungku sendiri. “Ya… aku yakin, sekarang aku harus balas dendam dan melukai Ayah untuk menenangkan arwah Ibu disurga.”
Aku akan hajar Ayah demi dendamku semasa kecil karena dia selalu menyiksaku dan mencacimakiku. Aku akan lukai Ayah demi Ibu yang baik hati yang selalu disakiti ayah sepanjang mautnya.
Kini kugenggam batang samurai itu, ku cari ayah di dalam rumah yang sedang bersenda gurau dengan teman dan keluarganya yang melayad almarhumah Ibu. Dia nampak tertawa-tawa di pagi ini bersama beberapa orang di sekitarnya, mungkin mereka sedang bicara prihal kematian ibuku terakhir ini.
Mataku makin memerah saat Ayah membicarakan rencana pernikahannya lagi pasca ditinggal mati Ibu. Dasar lelaki bajingan, Ayah seperti senang dan riang di tinggal mati Ibu, buktinya dia sekarang malah nyinggung-nyinggung rencana pernikahannya lagi dengan pacarnya yang baru. Dasar keparat, berandal tua keladi yang nggak tau malu, bisa-bisanya dia ‘pede’ ngomongin pernikahannya pada orang-orang di sekitarnya. Padahal umurnya sekarang sudah 64 tahun, harusnya sekarang dia siap-siap untuk menjemput ajalnya atau saat ini aku yang akan mencabutnya.
Aku hampiri Ayah di tengah kerumunan orang didalam rumah. Ku acungkan samuraiku pada wajah Ayah dan berteriak lantang memakinya. Seketika Ayah dapat menghindar dari kibasan samuraiku tapi aku tak sedikit pun gentar untuk melukainya. Aku makin seperti orang kesurupan yang tak bisa ingat dengan apapun yang kupikirkan. Ayah lalu coba lari dariku seperti orang pengecut yang ketakutan, sementara orang di sekelilingku mencoba ikut meredakan amarahku.
Seketika suasana di ruangan ini menjadi panas tak terkendali. Para perempuan mencoba untuk berteriak melihatku saat ku mencoba ingin menghajar Ayah. Sedangkan beberapa orang lelakinya ingin mencoba menangkapku dan merebut samuraiku.
Aku ingin menjadi semakin menangis yang deras dan berteriak sekuat tenaga karena aku tak kuasa untuk melawan kenyataan hidupku ini. Aku hanya ingin Ibuku bisa hidup kembali dan akan kumulai lagi jalani hari-hari indah bersamanya. Kenapa waktu dulu Ibu tak jadi minta cerai pada ayahku? Mungkin sekarang ini Ibu bisa hidup lebih layak dan bahagia bila berpisah dengan ayah, dan Ibu nggak seharusnya mati seperti ini.
Ibu nggak boleh mati sekarang, semestinya Ibu bisa melihat aku jadi ‘Penulis Terkenal’ nanti. Aku benar-benar menyesal karena belum bisa berbakti dan memberi apa-apa pada Ibu. Tuhan… kenapa Engkau ambil dia sebelum aku bisa membahagiakannya? Seharusnya ayahku lah yang lebih baik mati saat ini, mungkin kami sekeluarga akan lebih bahagia bila mendengarnya.
“Aaaaa…” aku teriak sekuat tenaga untuk melepas semua sesal dalam hatiku. Lalu aku terduduk dan menangis sepuasku ingin mengeluh pada diri yang tak berguna. Sementara orang-orang di sekitarku mulai mengerumuniku dan mencoba peduli pada kesedihanku. Sepertinya aku lelah untuk marah, tak ada guna juga aku mengejar Ayah. Aku jadi kasihan pada kedua adik kandungku yang nanti hidupnya akan menjadi seperti apa.
Sebagian keluarga dari almarhumah Ibu mencoba merangkul dan menasehatiku untuk mencoba bersabar. Mereka juga ternyata sudah tahu apa yang terjadi pada ibuku, dan aku lebih tenang bila mereka bisa tahu juga perasaanku saat ini. Aku mulai nyaman kini, dan ku berikan samurai yang kugenggam erat itu pada pamanku (dari Ibu) ketika dia mulai merayuku. Sementara ayahku lari entah kemana, mungkin dia takut akan dihakimi oleh keluarga besar dari ibuku nanti.
Tak lama kemudian, seseorang datang dan coba menghampiriku dalam diam:
“Sabar aja yah Ga… mungkin Tuhan sedang memberikan ujian pada keluargamu, yakinlah sama Tuhan karena Tuhan tidak akan mencelakai umatnya sendiri,” ucapnya padaku.
Aku benar-benar tidak mengenal orang yang sedang bicara padaku ini, tapi dia mengaku padaku bahwa dia adalah sepupu jauhku; namanya Yanti, tapi dia maunya di panggil Tante. Umurnya sekitar 35 tahunan dan dia perempuan cantik yang berambut pirang agak panjang.
Setelah itu tante Yanti juga mengenalkan salah seorang temannya padaku: namanya Suesih M. Tomlinson, dan dia minta dipanggil mbak Suesih aja padaku. Umurnya sekitar 30 tahunan dan dia juga nampak cantik berambut merah gelap seperti seorang artis.
Mereka berdua menghampiriku dengan mengajak bicara yang saat ini ku sedang menangis sendiri di kamarku. Mereka bilang juga kalau mereka tinggal di Jakarta, dan mereka dulu sempat datang kesini beberapa kali untuk berkunjung menemui Ibuku. Baru beberapa hari yang lalu mereka mendapatkan kabar kematian ibuku dari orangtua tante Yanti sebelum akhirnya mereka sendiri datang ke rumah melayad almarhumah Ibuku.
Dan setelah itu pada saat ini kami sedang bicara dari hati ke hati, berharap kami dapat memahami satu sama lain untuk bisa pecahkan persoalanku ini. Dan ternyata mereka sangat perhatian sekali padaku, hingga sesekali mereka bisa membuat aku tersenyum lagi. Rupanya mereka mencoba menghiburku untuk tidak bersedih lagi hingga sepanjang mereka berada di sini dalam satu jam kedepan ini.
 Lalu ucap mbak Suesih padaku: “Oh iya Ga… ini kartu nama mbak dan alamat yang ada di Jakarta. Kalau kamu mau–kamu tinggal dulu aja bareng mbak di Jakarta, disana mungkin kamu bisa nenangin diri, oke?”
Tawarannya itu tak begitu aku pedulikan, tapi kusimpan aja kartu namanya paling nggak buat kenang-kenangan. Lalu kemudian juga mbak Suesih memberiku uang seratus ribu rupiah untuk persiapan ongkosku bila aku mau ke Jakarta. Dan tetap saja semua itu tak begitu aku dengarkan, karena aku masih merasa sedih saat ini.
Nggak lama kemudian: tante Yanti dan mbak Suesih pamitan padaku untuk pulang ke Jakarta sekarang. Mereka coba menghiburku lagi yang terakhir kali, agar aku tidak bersedih lagi. Awalnya mereka berdua juga memaksaku untuk ikut ke Jakarta sekarang bersama mereka, tapi aku menolak karena aku tak mau jauh dari makam Ibu untuk saat ini.
Akhirnya kedua wanita yang kukenal barusan itu, sudah  pulang dan berlalu begitu cepat dari pandanganku. Mereka sangat baik sekali dan mungkin saja suatu hari nanti kami akan bertemu lagi. Kupikir nggak menutup kemungkinan bahwa suatu saat aku akan pergi ke Jakarta untuk menemui mereka. Karena selalu aku tahu bahwa Jakarta adalah kota impianku selama ini. Dan sumpah mati aku tak pernah sekalipun melihat kota Jakarta dengan mata kepalaku sendiri. Padahal kota itu sangat aku puja selama bertahun-tahun terakhir ini, berharap kota ibu itu bisa wujudkan harapanku untuk menjadi ‘terkenal dan sukses’ disana.
Ya… suatu hari nanti mungkin aku akan pergi ke Jakarta sendiri untuk mewujudkan mimpiku itu. Hingga akhirnya almarhumah Ibu disurga bangga melihatku bila aku jadi orang sukses dan terkenal nanti. Ya… aku yakin itu tapi biarlah kini kusimpan dulu anganku itu sebelum akhirnya aku  dapat berkata:  “TUNGGU AKU… JAKARTA.”

Beberapa jam setelah itu langit terdiam nampak tenang, awan perlahan berkabut biru gelap tanda sore yang elok tiba. Kemudian kita lihat sebuah rumah kecil dibalik langit ke arah bumi, itu adalah rumahku yang menjadi salah satu penghuni planet ini. Nampak seperti gubuk memang tapi itulah istanaku, sebuah peninggalan milik almarhumah ibuku.
Dan kita perhatikan lagi suasana dibalik rumah ini. Singgasanaku mulai sepi seperti tak berpenghuni, orang-orang sudah pergi tadi dan kini yang tersisa cuma kami. Ada aku yang masih mengurung diri di kamar, ada kedua adikku yang sedang nonton televisi di ruang tengah, ada Bi inah yang seperti biasa sedang beres-beres rumah dan masak.
Sementara ayahku sejak kejadian tadi entah pergi kemana (barangkali Ayah masih takut padaku yang ingin menghajarnya).
Tapi sudahlah aku tak ingin lagi membahas masalah itu, karena saat ini aku sedang ingin berpikir bagaimana kami bisa hidup kedepannya nanti. Apalagi adikku yang pertama (Indra) bulan ini naik  kelas 3 SMA, sedangkan adik keduaku Dimas naik kelas 3 SMP. Jadi gimanapun juga aku harus bekerja dan mencari uang untuk mereka, karena mulai saat ini aku adalah kepala keluarga di rumah ini dan sekaligus menjadi pengganti orangtua bagi mereka.
Untuk itu aku tak  bisa  melanjutkan sekolahku lebih tinggi, biarlah aku ikhlas tak bisa kuliah tahun ini asalkan aku bisa menghidupi kedua adikku hingga nanti. Mungkin saja rencanaku kedepan ini akan berkerja, tapi aku belum yakin akan bekerja apa dan dimana. Tapi yang lebih penting, aku pasti akan sekolahkan kedua adikku lebih tinggi lagi di bandingkanku. Aku ingin menjadikan kedua adikku lebih sukses dari padaku.
Kali ini aku dan kedua adikku berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan sesuatu yang penting prihal rencana kami kedepan nanti. Untung saja kedua adikku baru libur sekolah dalam rangka kenaikan kelas, tapi seminggu lagi mereka akan mulai masuk sekolah. Adik pertamaku Indra tinggal 1 tahun lagi dia akan keluar sekolah SMA, sedangkan adikku Dimas ajaran tahun depannya lagi baru akan masuk SMA.
Lalu siapa sekarang yang kan membiayai sekolah dan hidup mereka? Sementara ayahku takkan memperlihatkan wajahnya lagi depan kami karena mulai saat ini ayah sudah tak mau menganggapku lagi sebagai anaknya, kamipun tak sudi anggap dia sebagai Ayah lagi.
Barangkali ayahku sekarang di rumahnya yang lain bersama calon istri barunya. Yang ku tahu ayahku punya 2 rumah di kota ini, aku yakin dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini karena rumah ini adalah milik almarhumah Ibuku. Mulai saat ini hubungan kami dengan ayah sudah putus, untuk itu kami harus berdiri sendiri jika ingin bangkit dari penderitaan ini.
Aku dan kedua adikku sama-sama sangat membenci Ayah semenjak kami masih kecil. Kami tidak akan peduli meski ayah tak mau menganggap kami sebagai anaknya lagi. Bahkan kamipun sudah tidak peduli juga untuk mengurusi hari tuanya nanti.
Kini orang yang tersisa yang selalu menyayangi dan memperhatikan kami adalah nenek serta pamanku. Mereka berdua adalah ibu kandung dan adik dari almarhumah ibuku. Untung saja mereka tinggal 15 meter di depan rumahku jadi mereka mudah untuk merawat dan menjaga kami, yang baru saja di tinggal mati Ibu dan di campakan ayah.
Sekarang aku, kedua adikku, Bi inah (pembantuku), paman dan nenekku sedang berkumpul untuk membicarakan rencana kedepan nanti sepeninggalan Ibu. Akhirnya kami bermusyawarah untuk mencari keputusan yang tepat. Dalam beberapa waktu kemudian kami berhasil mendapatkan keputusan sebagai berikut:
“Aku tahu bahwa Nenekku hanya seorang pensiunan perawat yang punya gaji seratus ribu rupiah setiap bulannya. Jadi dia tidak mungkin bisa membiayai semua keperluan kedua adikku. Semenatara pamanku sendiri yang tinggal serumah bersama nenek, hanya seorang pengangguran  yang bergantung pada gaji pensiunan nenek pula. Sedangkan pamanku juga punya seorang istri dan 2 anak seumuran kedua adikku, jadi tak mungkin membebankan semua kebutuhan kedua adikku itu pada nenek dan pamanku.
Awalnya kami bingung tuk memecahkan semua masalah ini, tapi untung saja Bi inah (pembantuku dari kukecil) itu dengan ikhlas tak mau digaji, jadi itu cukup melegakan bebanku. Apalagi Bi inah sudah merawat kami sejak kami masih bayi, sementara dia adalah seorang perempuan yang sudah lama di tinggal mati kedua orangtuanya dan bahkan di ceraikan suaminya. Jadi Bi inah janji pada kami akan merawat kedua adikku sampai dia menjelang mati nanti.
Satu masalah itu telah terpecahkan dan  kini masalah lain masih menunggu untuk bisa diselesaikan. Yang jadi masalah paling besar adalah… siapa yang mau membiayai sekolah dan hidup kedua adikku kedepan nanti? Sementara keluarga besarku yang lain benar-benar nggak mau tahu tentang masalah ini. Yang justru paling aku takutkan, kedua adikku itu akan berhenti sekolah sampai di sini saja karena tak ada yang mau membiayai mereka sekolah. Tapi aku tak mau itu terjadi, kedua adikku harus terus melanjutkan sekolah dan bahkan sampai strata I (S1) paling rendah.”
Untuk itu aku berkata di depan nenekku, pamanku, Bi inah dan kedua adikku bahwa aku yang akan bertanggung jawab untuk biaya hidup dan sekolah mereka berdua. Besok pagi aku akan pergi ke Jakarta untuk mencari dan melamar pekerjaan disana. Dan semua gajiku nanti akan ku kirimkan lewat nomor rekening adikku Indra yang sebelumnya harus sudah ku buatkan nomor rekening untuknya sekarang di Bank. Semua setuju dengan usulanku itu, dan sekarang keputusan terakhir sudah di mufakati oleh semua orang yang berkumpul disini. Bahwa intinya, besok aku akan pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menyekolahkan kedua adikku hingga lulus nanti.
Sekarang kami bubar dari kerumunan dan pergi ke tempat yang kami inginkan. Sementara aku bergegas pergi ke kamarku untuk menyiapkan semuanya karena besok pagi aku harus berangkat ke Jakarta untuk segera mencari pekerjaan. Dan kini biarlah kembali kusimpan dulu anganku tentang keindahan Jakarta yang belum pernah ku jamahi itu, hingga besok…
Sekali lagi ku ingin berkata untuk kesekian kalinya: “Tunggu Aku... Jakarta.
­  ­  ­
Tanpa ingin banyak berkata lagi: Pagi ini adalah waktuku untuk berangkat ke Jakarta. Aku lingkari dan beri tanda di kalenderku, sekarang ini Tanggal 17 Juli 2006 hari Senin dan Pukul 06.15 pagi. Aku siap berangkat, dan apa kalian tahu apa saja yang sudah kubawa untuk pergi? Aku hanya membawa 3 style pakaian yang akan ku kenakan dan beberapa lembar fotocopy ijazahku untuk syarat melamar pekerjaan. Kalian mau tahu kenapa aku hanya membawa barang-barang ini saja? Karena cuma inilah yang aku punya, dan selebihnya yang ada di kamarku adalah milik ayahku (aku nggak mau memakai lagi barang-barang pemberian ayahku, malahan aku akan membakar atau membuangnya ke tempat sampah).
Di pagi ini aku sarapan dulu bersama    Bi inah dan kedua adikku. Setelah itu aku pamitan pada mereka untuk selalu di doakan agar aku bisa mewujudkan segala impianku di Jakarta.
“Selamat Tinggal Rumahku,” ucapku sambil memandang rumah untuk yang terakhir kali sebelum aku pergi.
Setelah itu aku bergegas dulu ke makam ibuku 40 meter dari sini, aku ingin menemuinya untuk bicara prihal keinginanku. Semoga Ibu ikut merestuiku untuk menggapai mimpiku di Jakarta nanti.
Setelah kulihat makam Ibu malah kujadi terbisu dan bulu-bulu romaku ikut bergetar. Rasa berdebar di dadaku pun membuatku makin terharu untuk sekejap mengeluarkan air mata yang terpendam.
“Doakan aku Ibu, agar suatu hari nanti aku bisa banyak di kenal orang dan dikagumi banyak teman. Aku lelah terus dihina dan dipandang sebelah mata oleh teman-temanku, bahkan oleh keluarga besar kita sendiri, Bu! Mereka semua tak pernah memperhatikan kita, bahkan tak mau menjenguk Ibu yang selama berbulan-bulan lamanya sakit. Tapi jangan khawatir Bu, aku akan membuat semuanya menyesal karena udah nggak peduli sama penderitaan kita selama ini. Aku janji sama Ibu suatu hari nanti aku pasti akan menjadi orang terkenal dan dikagumi banyak penggemar.
Aku akan menciptakan karya-karya yang spektakuler hingga aku bisa jadi tokoh papan atas dikalangan legendaris dunia. Meski aku sudah mati nanti, tapi aku jamin namaku akan tetap hidup sampai generasi kedelapan sesudahku. Karya-karyaku akan dipelajari di tiap-tiap sekolah, setiap cucu-cucuku  akan mendengar sebuah dongeng tentangku sepanjang menjelang tidurnya. Dan juga akan ku ceritakan tentang kehebatan ibuku pada dunia, agar semua wanita tahu bahwa dia adalah wanita terindah yang pernah ada di dunia ini.”
Selamat jalan Ibu, aku ini bisa relakan jasadmu mati tapi aku tak rela bila arwahmu jauh dariku. Sekarang mungkin kau menjadi makhluk kasat mata bagiku, tapi aku selalu percaya bahwa kau akan selalu ada dalam setiap langkahku, kemanapun aku akan pergi. Selamat tinggal Ibu, selamat tinggal pahlawanku…
Kini aku kembali melanjutkan lagi perjalananku, tapi kali ini aku ingin menemui sahabatku untuk membawa sesuatu milikku darinya. Benda yang ku maksud itu berupa disket computer dan buku-buku catatan yang menyimpan file-file dan dokumenku yang berbentuk: Skenario film berjudul Terima Kasih Cinta, Aku Ingin Jadi Kupu-Kupu, Mencari Cinta Sejati, Loves Are Toys. Dan juga bukuku berjudul Sedih Yang Mendalam beserta Kekasih Terakhir yang belum sempat terselesaikan.
Sahabatku itu bernama Aries Priatna dan dia sudah kukenal sejak awal SMP. Bagiku Aries bukan hanya sekedar teman sekelas saja, dia punya computer dan mau mengerjakan karya-karyaku yang masih berbentuk tulisan tangan waktu itu. Dan sekarang aku mau membawa disketnya, barangkali saja di Jakarta nanti bisa berguna untukku.
Kini Aries ada di depanku, kami sempat berbicara banyak di pagi ini. Tapi segera saja ku utarakan semua maksudku untuk membawa disket yang menyimpan karya-karyaku itu. Aries pun menanggapi baik prihal ini, dia berikan apa yang kuminta bahkan dia juga mengembalikan semua karya-karyaku yang lain masih berbentuk buku dengan tulisan tanganku. Aku masukan semuanya itu kedalam satu tas  untuk selanjutnya kubawa ke Jakarta. “Ya… Jakarta, tunggu aku di kota itu. Suatu pelabuhan dari semua mimpiku, nantikanlah aku Jakarta, aku akan datang bersama karya-karyaku.”
Aku langsung berangkat menuju halte bis tak jauh dari rumah sahabatku Aries. Setelah beberapa saat menunggu, tiba juga sebuah bis ekonomi jurusan ke Jakarta yang kutuju.
Dalam perjalanan kududuk terdiam, sempat kutanya orang di sampingku, jam berapa sekarang? Dia menjawab 07.15 menit, itu berarti aku sampai tiba di tujuan sekitar pukul 10-11 siang.
Aku kembali terdiam dan sesekali kulihat pemandangan sepanjang jalan di balik kaca jendela tempat dudukku. Alam pikirku mulai piknik ke dunia fantasi, aku berimajinasi meresapi segala kesedihan. Ah… terlalu haru tuk dikeluhkan, apakah Tuhan menciptakanku hanya untuk menderita di dunia ini? Sepanjang perjalananku hidup, aku telah banyak dihantui kekejaman ayahku. Aku tak pernah merasakan keharmonisan di dalam keluargaku, yang ada malah teriakan cacimaki, saling menyakiti dan aku benci harus hidup lama seperti itu.
Kini aku mau mulai hidup baru, mencoba merangkak seperti bayi sebelum ingin bangkit berdiri. Sekarang aku adalah kertas kosong yang harus kuisi dengan warna-warna indah pelangi. Dan saat ini waktuku memulai untuk mewujudkan mimpi, setelah lama kupendam khayal untuk bisa hidup lebih layak.
Bis ini mengantarku ke kota impian itu, telah lama aku membayangkan untuk segera tiba disana. Ini pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, dan sendirian aku mencoba mengadu nasib disana. Barang kali aku bisa merubah takdirku yang kelam jadi terang benderang, karena aku sudah bosan hidup tanpa pernah dihidupi dengan layak oleh ayahku sendiri.
Aku pergi ke Jakarta, dengan membawa beban yang begitu berat untuk aku tanggung sendiri. Karena mulai kini beban kedua adikku juga ada dipundakku, dan aku sudah berjanji akan menyekolahkan mereka setinggi-tingginya. Agar mereka bisa dengan mudah mencari kerja, supaya mereka bisa hidup layak saat mereka sudah berkeluarga. Tapi aku sudah tidak peduli pada diriku sendiri, aku akan menjadi lilin untuk selalu menerangi mereka meski kutahu aku akan meredup dan mati. Biarlah aku rela seperti itu asalkan orang-orang yang ku sayangi bisa bahagia dan tersinari oleh cahaya yang kuberi.
Jika Tuhan membiarkanku hidup lama, semoga kubisa memanfaatkan waktuku untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingku. Tapi jika aku akan mati muda, aku mau mati dengan bahagia sementara yang lain menangis seakan tak rela ku tinggalkan. Maka dengan seperti itu, aku bisa merasa hidup lebih berguna untuk orang lain. Dan aku paling takut bila kehadiranku di dunia ini hanya untuk diabaikan, disia-siakan oleh semua orang seakan aku manusia yang tak berharga.
Ternyata aku terharu sendiri dengan cerita hidupku, tapi bisa ku sadari bahwa hidup akan terus berputar. Tak berguna aku banyak mengeluh karena aku takkan bisa menawar pada takdir yang kelam. Cukup ku nikmati dan kukenang semua yang berlalu tak perlu kuragu untuk ku tinggalkan, karena kini aku sedang berjalan menuju masa depan. Dan aku percaya bahwa aku telah di takdirkan untuk menjadi legenda ‘Sang Penyair Diawal Abad’ seperti yang aku selalu impikan.
Sudah banyak aku berimajinasi, sudah lelah alam pikiranku berhalusinasi. Semakin tak ku sadari, perjalanan Bis ini terlalu lama mengantarku pergi. Malah lelap yang ku rasakan bertubi-tubi menghantam mesin tubuh yang lemah ini. Aku butuh istirahat atau entah rasa jenuh berada di dalam bis yang berjalan ini. Ah… sukar untuk di mengerti, sebaiknya sekarang aku tidur untuk segera bermimpi lagi. Semoga saja dengan begitu, aku segera tiba di Jakarta tanpa terasa. Bis… kumohon padamu, antarkanlah aku dengan cepat ke kota itu, sementara sekarang aku ingin tidur terlelap di dalam tubuhmu yang gemuk ini.
Aku pun langsung tertidur lelap dan nyenyak di dalam Bis yang mengantarkanku ke Jakarta. Karena terlalu lelahnya aku tertidur pulas beberapa jam hingga akhirnya sampai juga aku di tujuan.
Ternyata kusudah tiba diujung perjalanan Bis tua ini. Untung saja orang di samping langsung membangunkanku sedang tertidur, seperti kuminta sebelumnya padanya.
Aku keluar dari Bis dengan wajah sumringah dan laga yang agak sedikit norak, maklum ini khan pengalaman pertamaku pergi ke Jakarta.
“Terminal Kampung Rambutan,” ucapku ketika ku membaca tulisan di luar gerbang masuk. Saking kampungannya aku, ku putari terminal ini beberapa kali seperti orang yang sedang bertamasya ke binaria.
Sekarang aku jadi bingung akan pergi ke mana sementara calo metromini banyak yang menawarkan aku untuk masuk ke mobilnya. Sekali lagi ku kelilingi beberapa (metromini dan kopaja) agar aku bisa meyakinkan diri untuk memilih tempat yang tepat. Semoga saja almarhumah ibuku memberikan petunjuk kemana aku harus pergi. Aku semakin dilanda kebingungan, beberapa jurusan metromini dan kopaja kubaca berulang-ulang tapi aku tetap bingung untuk memilih jurusan mana yang harus kupilih? Untung saja aku ingat perkataan almarhumah ibuku waktu dulu, dia pernah berkata: “Jika nanti kamu sedang dilanda kebingungan untuk memilih, maka kamu harus memejamkan mata dan bertanya pada hati kecilmu. Apa dan siapa yang selalu muncul di dalam pikiranmu, maka dialah yang harus kamu pilih. Karena sesungguhnya matahatimu lah yang memilihnya, dan matahati itu takkan pernah salah memilih. Ikutilah kata hatimu itu, karena dia takkan pernah berdusta padamu.”
Dan kini ku lakukan semua nasehat Ibu, ku pejamkan kedua mata dan berkonsentrasi. Nampak beberapa bayangan dan salah satunya harus kupilih. Terbaca Jurusan Kp. Rambutan- Blok M, sebuah kopaja berwarna putih hijau yang selalu muncul dalam pikiranku. Aku yakin, kendaraan itu akan mengantarkanku lebih dekat lagi menuju kesuksesanku nanti. Jadi sekarang bawalah aku dengan  segera ke tempat itu (Blok M) dengan mesin kereta kudamu, agar segera ku labuhkan segala penat khayalku selama bertahun-tahun ini.
Nantikan aku di tempat itu, dengan segenap harap dan tumpahan hati, aku datang membawa mimpi. Langkahku semakin dekat untuk meraihnya, meraih segala jasa-jasa yang harus kuterima dari hasil jerih payahku menderita dan tersiksa.
Kini aku telah terbawa sebuah kendaraan Kopaja menuju terminal Blok-M. Semakin terasa harap-harap cemas, semoga aku tak mengecewakan semua orang yang sedang menungguku di rumah.
Aku kembali melamun di dalam kendaraan ini, yang sedang melaju pelan seperti menina bobokanku. Aku kini duduk di bangku tengah sambil bersandar melihat pemandangan jalan di balik kaca jendela. Sampai kapan aku akan berhenti menangisi hidupku ini, kadang ada saja ratapan-ratapan sedih dalam pikiranku. Seberapa rapuhkah hatiku sebenarnya, aku takut akan menjadi gila karenanya.
Ribuan persoalan bermain-main didalam kepalaku, dan aku takut pikiranku akan terganggu karena semua ini. Mengapa Tuhan tidak melahirkanku lebih sempurna dari ini, aku pikir punya wajah tampan, kaya raya, jadi selebritis dan banyak penggemar itu lebih diinginkan oleh semua orang. Aku memang takkan pernah bisa menjadi tampan, menjadi orang kaya dihormati banyak orang, tapi setidaknya aku hanya ingin diterima apa adanya oleh seorang perempuan yang ikhlas mau menyayangiku.
Dan kuharap perempuan impianku itu; cantik, tinggi, putih, kaya, punya masa depan cerah, berpendidikan tinggi, rendah hati, sopan santun, mengerti banyak tentang agama, tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain, dan lebih penting lagi dia mau menerima segala kekuranganku, Amin.
 Andai saja aku bisa temukan perempuan impianku itu mungkin aku akan merasa menjadi lelaki yang sempurna. Sekarang kriteria perempuan impianku itu memang terlalu banyak menuntut, tapi justru itulah yang menjadi kekuranganku.
Aku ingin perempuan impianku itu bisa menutupi segala kecacatanku, agar anak-anakku bisa bangga dan bahagia bila punya wajah cantik dan rupawan seperti ibunya. Bisa hidup layak karena Ibu mereka bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Serta yang terpenting lagi aku punya sebuah keluarga yang harmonis karena Ibu mereka solehah.
Semoga saja perempuan impianku itu bisa membangun rumah disurga untukku dan anak-anakku. Akan kucari terus perempuan impianku itu agar aku bisa melengkapi segala kekurangan yang ada di diriku ini. Apakah perempuan itu Nisa, ataukah ada yang lain yang belum ku temui di perjalanan hidupku ini? Semoga saja aku bisa membuka hatiku untuk perempuan selain Nisa, agar aku bisa menemukan Kekasih Terakhir yang selama ini aku cari. Tidak menutup kemungkinan bahwa aku ingin menyinggahi beberapa hati dan menemukan tempat yang tepat untukku nanti.
Kopaja ini dengan cepat berhenti diujung perjalanannya, aku tersadar dari lamunan panjang yang membuatku risau tak pernah usai.
Bergegas aku meninggalkan Kopaja ini, aku sudah tak sabar lagi untuk keluar dan melihat Mall Blok-M yang pernah kudengar itu. Aku merasa takjub ketika kutahu bahwa di bawah terminal ini adalah Mall Blok-M yang di maksud itu. Berarti di bawah tempat ku berdiri kini adalah sebuah Mall, ya ampun aku tak bisa bayangkan ada tempat yang sangat menakjubkan seperti ini. Mungkin kata orang di sekitar sini sih tempat ini udah nggak aneh lagi, tapi bagiku yang kampungan ini tentu saja merasa aneh dan sangat mengesankan sekali.
Beberapa saat aku berjalan ke dalam Mall dan mengitari segala yang ada di tempat ini. Mungkin karena terlalu takjubnya aku jadi tak terasa lelah walau terus berjalan di tengah keramaian orang. Terkadang aku merasa minder dengan penampilanku sendiri, lihatlah aku yang menyedihkan ini; model bajuku nggak gaul, celana hitam panjangku jelek dan kusut. Sementara aku menggendong tas yang isinya cuma buku-buku karyaku, sedangkan sepatu hitam yang kucel dekil ini pemberian temanku waktu di kost. Tapi justru cuma ini harta bendaku yang ku miliki. Pakaian ini kubeli dari hasil kerja pertamaku saat masih kost, walaupun jelek tapi aku merasa bangga memakainya.
Biar saja semua orang di dalam Mall ini menertawakanku karena aku seperti gembel jalanan. Tapi aku akan buktikan pada mereka, bahwa otak dan tekadku takkan pernah padam sebelum aku bisa meraih kesuksesan. Karena aku selalu percaya kesekian kalinya bahwa aku telah di takdirkan untuk jadi orang sukses di masa depanku nanti.
Kini ku mulai lelah berjalan, kududuk sejenak di tangga atau loby masuk terminal Blok-M. Ku lihati orang satu persatu berjalan lewat di depan mataku. Mereka punya pakaian bagus, wajah kantoran yang bersih tampan dan cantik, berkumpul bersama teman-temannya, bercanda ria seakan tak punya beban.  Sementara aku… ah… sulit untuk dikeluhkan. Hidup tak pernah ku sesali, mungkin hanya ingin ku tangisi.
Aku hanya seorang pengkhayal saja, pemimpi yang kerjaannya setiap hari cuma berimajinasi. Kadang aku menulis cerita tentang penderitaanku untuk sekedar mencurahkan isi hatiku. Itulah sebabnya aku jadi seorang ‘Penulis’ yang punya harapan bisa meredakan segala keluhan kecacatanku.
Tanpa ku sadari ternyata sekarang sudah Pukul 13.07 siang, setidaknya itulah yang dikatakan orang di sebelahku saat kutanya jam berapa padanya.
Aduh… perutku udah ngeluarin suara-suara yang aneh nih!! Aku pengen makan tapi aku takut uangku habis. Padahal uangku ini harus cukup sampai aku bisa menemukan pekerjaan, aku ragu sampai kapan aku bisa bertahan hidup di ibu kota ini.
Tapi aku sungguh-sungguh lapar, aku sudah benar-benar nggak bisa nahan lapar lagi sekarang. Lihat matahari di atas sana, begitu terik cuaca jam 1 lebih di Jakarta. Paling tidak aku ingin minum untuk melepas dahaga, soalnya tenggorokanku sudah gersang seperti terbakar api saja.
Peduli setan aku mau membeli makanan  sekarang, aku nggak mau mati kelaparan di sini. Meski uangku sedikit tapi aku harus segera membeli makanan untuk mengisi perutku ini. Bergegas aku mencari warung nasi di pinggiran jalan, paling tidak harganya lebih murah daripada di restoran.
Setelah ku dapati warung nasi itu, aku langsung segera memesan makanannya. Disini agak sepi pembeli, tapi kulihat penjualnya lumayan ramah dan baik sekali. Penjualnya itu seorang ibu-ibu tua yang ternyata berasal dari Tasikmalaya, jadi dia mengerti Bahasa Sunda seperti yang sempat ku ucapkan padanya. Dia pun mulai menawariku untuk makan dengan menu lauk yang kelihatannya agak mahal, tapi aku menolak dan ingin makan dengan yang agak murah saja. Yaitu bersama semangkuk nasi putih, kuah sayur, sambel, tahu dan tempe pun aku makan dengan sangat menikmatinya. Walau nggak ditemanin paha ayam goreng dan pepes ikan emas tapi aku merasa nikmat makan seadanya seperti ini. Paling nggak hari ini aku merasa tenang karena sudah dikasih makan sama Tuhan. Moga makanan ini bisa lebih lama mengganjal di perutku sampai hari besok agar aku tak perlu makan dan ngeluarin uang lagi. Mungkin sekarang makan terakhir di hari ini, moga nanti malam aku bisa menahan lapar dan dahaga di dinginnya malam.
Waktu di Jakarta saat ini Pukul 13.47 menit, setidaknya itulah yang kulihat di jam dinding warung nasi tempatku makan sekarang.
Selesai aku makan dan minum air teh tawar hangat, aku langsung membayar pada Ibu penjualnya. Ternyata semua makananku itu seharga 4 ribu rupiah karena aku cuma makan nasi putih, tahu, dan tempe doang.
Tak begitu ku pedulikan, aku langsung bergegas lanjutkan perjalanan. Aku berjalan dan terus berjalan untuk mencari kantor-kantor atau pun perusahaan sejenisnya, berharap ada satu pekerjaan layak yang sedang menantiku disana.
Akhirnya aku menemukan jajaran kantor bertingkat, entah perusahaan apa tapi seperti berkaitan  dengan barang dan gudang.
Ku hampiri Satpam di depan pos dan bertanya prihal lowongan kerja. Tapi dia itu malah tidak ramah padaku dan menyuruhku untuk pergi menjauh, karena ternyata disana tak ada lowongan katanya.
Begitu pun selanjutnya ketika ku masuki beberapa bangunan bertingkat yang lainnya. Hasilnya nihil, beberapa alasan yang sama ku terima yaitu “Tidak ada Lowongan kerja”. Aku benar-benar terpukul selalu mendengar kalimat yang sama itu dari mulut mereka. Tapi aku nggak mau nyerah gitu aja, paling nggak aku mau mencoba dan berusaha sebisaku.
Dengan bermodalkan ijazah SMA yang kupunya, ku masukkan lagi beberapa lamaran ke kantor-kantor secara langsung tanpa surat menyurat. Aku berharap mulai besok kudapat langsung bekerja agar bisa cepat mendapatkan uang. Tentu saja untuk aku kirimkan pada adikku di kampung, buat membiayai sekolah mereka hingga lulus nanti.
Tapi tetap sama, beberapa kantor perusahaan ku datangi dan hasilnya nggak ada. Sebagian kantor bilang nggak ada lowongan, sebagiannya lagi baru ditutup karena karyawan sudah lebih dari cukup.
Aku sempat diizinkan untuk wawancara dengan HRD kantornya dan dia bilang; kalau aku mau diterima kerja di kantornya maka aku harus memberikan uang 1 juta rupiah padanya sebagai “Uang Jaminan”. Di mana aku harus mencari uang sebesar itu, aku datang kesini untuk mencari uang bukan malah membuang uang. Jadi kutolak saja permintaannya dan bergegas lagi pergi ke tempat lain untuk melamar kerja.
Beberapa kantor besar yang ku lewati nampak sudah sepi, sekarang waktu sekitar Pukul 16.45 menit. Apa mungkin kantornya memang sudah ditutup jam segini dan karyawannya sudah pada pulang?
Lalu ku mulai lagi perjalananku menelusuri jalan raya menuju pusat perkantoran yang lainnya. Ada beberapa Satpam yang sedang berjaga aku tanya prihal lowongan pekerjaan; mereka malah memberi saran untuk datang pagi di saat jam kerja, karena semua HRD sudah tak terima pelamar jam segini katanya. Aku pikir ada benarnya juga, maka aku duduk istirahat dulu untuk berpikir ke depannya nanti. Sekarang ini aku sedang duduk berteduh di depan ruko yang sudah tutup, hanya sekedar ingin melepas lelah aku bersandar.
Mungkin sekarang ini sudah pukul 5 sore dan ternyata aku masih belum mendapatkan apa-apa. Hari sudah hampir petang dan aku bingung mau tidur di mana malam ini?
Di sisi lain, padahal aku punya 4 kakak tiri (anak kandung ibuku) yang tinggal di Jakarta Selatan ini, di daerah sekitar sini. Ada yang bilang kalau diantara mereka tinggal di daerah kebayoran baru dan fatmawati, tapi aku sendiri tidak tahu dimana letak yang tepatnya. Tapi meskipun kutahu, mereka tak mungkin mau menerimaku karena mereka tak pernah menganggapku sebagai adiknya. Apalagi ibuku sudah meninggal jadi hubunganku dengan mereka semakin jauh juga.
Bukan aku yang memusuhi mereka, tapi mereka sendirilah yang tak menganggapku. Aku tak tahu apa alasan mereka membenciku, tapi aku merasa sudah semakin dibenci sejak 3 tahun terakhir ini. Aku sedikit tahu bahwa mereka sangat membenci ayahku juga, bahkan aku tidak sekali mendengar kakak tiriku ini perang mulut dengannya. Mungkin itulah titik awal kenapa mereka juga ikut membenciku. Tapi aku tidak sedikitpun peduli meski mereka tak mengakuiku sebagai adik, karena aku berjanji suatu hari nanti mereka akan menyesal karena telah mengabaikanku.
Terakhir aku bertemu dengan mereka (ke 4 kakak tiriku) di sebuah acara pemakaman almarhumah ibuku minggu lalu. Tentu aja saat itu mereka juga sedang menghadiri acara pemakaman almarhumah ibuku yang juga Ibu kandung mereka.
Nama-nama dari kakak tiriku itu adalah yang pertama Fahrul, umurnya sekitar 27 tahun, dia sudah bekerja dan beristri.
Yang kedua bernama Fahmi berumur 25 tahun, dia seorang manager di sebuah kafe di daerah Fatmawati-Jaksel. Yang lebih penting lagi kalau dia itu katanya “atasan” Fahrul kakak kandungnya sendiri. Dan selain itu, Fahmi lebih dulu menikahnya sebelum akhirnya Fahrul menyusul 2 tahun berikutnya.
Yang ketiga bernama Feni seorang perempuan berusia sekitar 22 tahun, dia sudah bekerja sebagai SPG.
Anak pertama sampai ketiga itu berasal dari Ayah dan Ibu yang sama. Tapi saat Fahrul berumur 6 tahun, orangtua mereka bercerai, dan tidak lama masing-masing dari mereka menikah lagi.
Hingga akhirnya Ibu mereka (yang juga ibuku) menikah lagi dengan pegawai pemerintah daerah Cianjur. Kemudian Ibu mereka punya anak lagi, anaknya seorang perempuan bernama Nurul. Jadi bagi Fahrul, Fahmi dan Feni bahwa Nurul adalah adik tiri yang baru lahir dari Ibu kala mereka pun masih sama-sama belum jauh dari balita.
Tapi saat Nurul berusia 2 tahunan, orangtuanya (yang juga ibuku) bercerai, dan tidak lama dari masing-masing mereka menikah lagi.
Akhirnya Ibu Nurul (yang juga Ibuku dan Ibu Fahrul, Fahmi, Feni) itu menikah lagi di usia 30 tahun bersama Ayahku. Satu tahun kemudian aku baru lahir dan bagi Ibuku–aku ini adalah anak kelima yang terlahir dari rahimnya.
Mungkin itulah singkat ceritanya tentang silsilah keturunan dari ibuku yang sudah meninggal 9 hari yang lalu itu.
Oh iya… aku belum banyak cerita tentang Nurul kakak tiriku yang ke empat itu. Nurul seorang perempuan cantik berusia sekitar 20 tahunan, tapi dia sudah menikah dan punya anak. Minggu lalu terakhir aku bertemu dengannya, dia bilang sekarang tinggal di daerah Jakarta Selatan juga.
Tapi percuma saja aku membanggakan ke 4 kakak tiriku itu, toh mereka sendiri tidak mutlak mengakuiku sebagai adiknya.
Sudahlah… aku tak mau menceritakan mereka lagi, yang pasti mereka takkan peduli meski aku kini sedang menderita di Jakarta. Aku terombang-ambing hidup disini, dan apa kalian juga tahu apa yang sedang ku lakukan sekarang?
Aku seperti gembel sedang bersandar di emperan toko yang tutup. Berharap aku bisa melepas lelah setelah lama aku berjalan mengitari gedung-gedung dan perkantoran, hanya untuk sekedar bertanya apakah di sini ada lowongan kerja?
Aku bingung, dimana aku harus tidur malam ini? Sementara waktu terus berputar semakin cepat dan langit sebenbar lagi akan gelap.
Aku ingin menangis… tapi aku takut ada orang yang melihat. Aku ingin berlari melebihi kecepatan angin, dan menembus tembok-tembok baja yang jadi penghalangku. Aku ingin berlari tanpa henti… aku ingin berlari sampai aku mati.
Malam tak bisa di tawar lagi, dia datang begitu saja sesuai waktunya. Gelap-gelap awan berkabut menghitam, tapi aku masih tak beranjak sedikitpun dari tempat ini. Sedang bersandar pada tembok putih pertokoan, beralasan keramik pucat kotor bekas injakan sepatu tadi pagi. Sementara aku masih dilanda bingung berkepanjangan, apakah memang harus disini aku tidur malam ini? Barangkali sekarang baru Pukul 19.05 malam, soalnya langit masih muda dan cahayanya masih bercampur senja.
Ada satu hal yang sangat penting yang ternyata telah ku lupakan hari ini, yaitu salat 5 waktu. Dari mulai pertama kali aku sampai di Jakarta, tak sekalipun aku mendengar suara Adzan di mesjid. Jadi aku benar-benar kelupaan untuk menunaikan kewajibanku yang “5 Waktu” itu. Semoga saja Tuhan dapat memaafkanku karena hari ini aku terlalu sibuk mementingkan urusan dunia semata.
Dari posisi tubuhku yang sedang bersandar, aku bangkit dan mencari masjid. Setidaknya aku belum telat untuk beribadah salat isya di malam ini. Aku beranjak dan berjalan ke sebuah perkampungan, dan aku berharap bisa menemukan mesjid disini.
Dan ternyata aku menemukan mesjid juga disebuah pinggiran jalan raya. Bergegas aku mengambil “air wudlu” untuk membersihkan diriku dari debu dan kotoran yang menempel di kulitku. Setelah itu aku baru salat sendiri di syaf paling depan, dengan khusuk aku beribadah dan mengingat Tuhan.
Selesai aku salat 4 rakaat itu, aku berdoa dan bersujud untuk mencurahkan segala perasaanku pada Tuhan. Kali ini suasananya sungguh menyedihkan, rasa-rasanya aku ingin menangis dan mengadu pada Tuhanku. Sampai tak habis kata-kata dan air mata ku curahkan kepada-Nya, berharap mendapatkan petunjuk agar aku bisa dengan mudah melewati musibah ini.
            Aku kembali teringat pada orang-orang yang sedang menungguku di rumah. Kalau aku tidak bekerja secepatnya, bagaimana nasib sekolah kedua adikku nanti? Mereka teramat sangat membutuhkanku untuk menyambung hidup mereka. Aku adalah orang satu-satunya yang mereka andalkan, untuk itu aku tidak boleh mengecewakan mereka.
            Aku terus berdoa dan meminta pada Tuhan, agar aku bisa  meraih segala apapun yang ku inginkan. Detik demi detik berdetak, menit dan menit selanjutnya berlalu, hingga jam ke jam berganti dengan cepat tanpa terasa. Aku masih di sini, di ruangan mesjid yang sepi ini, bersujud dan menangis di hadapan Tuhan.
            Tapi kemudian aku dengar suara pintu yang terbuka, ada orang yang terasa sedang menghampiriku. Lalu aku selesaikan doaku, kuhapus air mataku dan kutengok ke belakang terlihat ada orang.
            “Maaf de, ini sudah pukul 9 malam jadi saya mau mengunci semua pintu mesjid ini,” ucap bapak tua itu.
            “Oh silahkan pak, saya sudah selesai kok salatnya. Tapi pak, saya boleh tidur di halaman mesjid ini nggak? Soalnya saya seorang perantau pak, dan saya nggak punya saudara di Jakarta,” pintaku padanya.
            “Oh iya de silahkan kalau ade mau tidur di teras depan masjid tanpa alas kalau mau,” ucapnya lagi.
            “Iya gak apa-apa pak, saya mengerti. Yang penting saya punya tempat untuk istirahat malam ini pak, terima kasih banyak,” jawabku yang terakhir.
            Lampu-lampu masjid sudah dimatikan oleh pengurus mesjid itu, seorang bapak-bapak yang berumur sekitar 60 tahunan. Sementara aku duduk bersandar diteras depan mesjid sambil menyembunyikan wajah dibalik tangan dan lutut kaki.
Beberapa detik yang hening buatku membisu serasa ingin lanjutkan menangis lagi. Tapi aku harus tegar dan percaya bahwa besok aku akan bahagia. Sementara dingin malam ini akan ku lewati sampai sekembalinya si raja siang yang tertidur. Biarlah angin menjamahku dan membuka pori-poriku, biar menggigil tubuhku tapi kupercaya bisa melalui kesedihan di malam dingin ini.
Aku semakin mengantuk dan ingin segera tertidur agar aku bisa cepat bertemu pagi. Ku rebahkan tubuhku seperti bayi yang sedang ada di dalam kandungan, tertelungkup aku dialasi teras keramik putih yang dingin. Ku ganjali kepalaku dengan tas, semoga aku bisa tertidur nyenyak di malam ini.
Malam makin larut, makin dingin, rasanya aku seperti ditusuk betubi-tubi oleh sembilu es. Kupeluk tubuhku sendiri, berharap hangati diri tapi angin tak mau peduli, dia tetap tusuk aku dan masuk kedalam sejuta pori-pori.
Aku yakin bisa melewati malam ini… tanpa harus menangis. Tapi ternyata aku tak bisa percaya, aku telah roboh ketika perutku berbunyi-bunyi terasa nyeri, rasanya usus-ususku melilit sakit seperti ada yang memakan ginjalku.
“Aku lapar… lapar… sangat lapar…” gumamku seraya menahan nyeri.
Terakhir aku makan jam 1 siang tadi, aku makan di sebuah warung nasi pinggir jalan. Aku hanya makan sedikit nasi putih, sepotong tahu dan tempe saja. Tak kusangka kini aku merasa lapar lagi, mungkin seharian ini aku terlalu lelah menelusuri sepanjang jalan untuk mencari kerja tapi hasilnya nggak ada.
Dan sekarang aku benar-benar sangat lapar, lapar… selain itu aku juga merasa dahaga, dahaga… Apa bedanya aku sekarang dengan anak jalanan?
Malam kurasa sangat panjang seperti berabad-abad lamanya. Tiap menitnya berputar sangat pelan seperti bertahun-tahun rasanya. Aku tak bisa tidur malam ini, angin malam telah menghancurkan tubuhku, bibirku membiru pucat dan setiap dari lubang kulitku seperti di masuki jarum es.
Aku takut tak bisa bertahan lama lagi, seiring rasa lapar terus menuntutku untuk segera makan. Tapi aku tak mau menyerah pada keadaan busuk ini, aku tak pedulikan tubuhku kedinginan. Malah ku bayangkan cerita-cerita indah dalam otakku, agar aku bisa mengalihkan rasa sakit yang menyiksaku sekarang.
Akhirnya dengan cara seperti itu, bisa membuatku lebih baik dari sebelumnya. Tak sedikitpun lagi kurasakan perih ini karena aku bisa bertahan sampai di ujung malam.
Dan ternyata aku berhasil bertahan hingga kudengar suara ayam jantan berkokok. Langit memang masih gelap tapi malam yang dingin sudah mulai terasa berlalu.
Dan kemudian aku juga mendengar ada seseorang yang datang mendekat padaku, lalu dia menyapaku:
“Bangun de, sudah waktunya salat shubuh,” ucapnya padaku.
Lalu ku lihati wajah orang itu dan baru ku kenali ternyata dia orang semalam yang bertugas menjaga mesjid ini. Setelah itu ku ikuti sarannya dan bergegas bangkit untuk mengambil “Air wudlu” serta salat shubuh berjamaah bersamanya.
Aku merasa aneh salat shubuh disini ternyata yang hadir cuma 8 orang saja, padahal mesjid ini cukup lumayan besar tapi kemana warga yang lainnya? Apakah mereka sudah tuli sehingga tidak bisa mendengar lagi suara adzan, ataukah mereka seorang pecundang yang bersembunyi dibalik selimut dan takut pada dingin. Tapi aku bisa toleransi mereka, kulihat sebelumnya daerah ini dihuni oleh pemilik rumah-rumah mewah. Mungkin “orang kantoran” itu terlalu sibuk bekerja atau malah tidak punya waktu lagi untuk mengunjungi masjid. Atau juga barangkali orang-orang kaya itu merasa malu bergaul di mesjid karena biasanya mereka lebih senang datang ke Mall-Mall, Pantai Bali atau bahkan pergi ke luar negeri.
Perlahan langit mulai memutih, pagi kusambut dengan senyuman manis. Berjalan aku menuju kemana hatiku ingin melangkah. Di pagi buta, di cuaca dingin menikam dada, ku terus berjuang demi setumpuk harapan di kedua pundakku.
Kemana kini ku harus melangkah, sedangkan ku berjalan pun tak tentu arah. Ku hanya bisa ikuti kata hati nurani untuk melangkahkan menuju terminal Blok-M yang 100 meter tak jauh dari sini. Aku tak tahu kenapa aku harus pergi kesana? Tapi justru itulah satu-satunya tempat yang ku ketahui di daerah ini.
Aku menunggu tiap menit berganti, terduduk aku di pinggiran halte bis sambil melihat segala arah di sekitarku. Terminal ini sudah lumayan penuh di kerumunin banyak orang, padahal sekarang baru sekitar pukul 06.30 pagi.
Aku tak tahu kenapa kini aku harus berada disini? Tapi yang pasti aku benar-benar lapar dan sangat lapar sejak semalam tadi. Sepertinya juga aku mengalami demam, kening dan leherku panas sekali. Mungkin aku hanya masuk angin karena semalam tadi sangat dingin. Kalian juga tahu sendiri khan? malam tadi aku tidur di teras keramik mesjid tanpa alas tanpa selimut, membuatku tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam karena angin telah buatku menggigil kedinginan.   
            Hari ini adalah hari Selasa, Tanggal 18 Juli 2006 entah berapa hari lagi aku bisa bertahan hidup ditiap dinginnya malam nanti. Aku malu, hidup seperti gembel jalanan, seperti selalu ditertawakan semua orang. Tapi aku tidak boleh mati sekarang, terlalu pecundang bila aku sampai harus bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan hidupku ini.
Karena bagaimanapun juga, kedua adikku di rumah sangat mengandalkanku untuk dapat menyekolahkan mereka sampai tuntas. Jadi sekarang aku harus bertahan dan bahkan melawan segala rintangan yang menghadang. Aku harus rela menderita demi Ibu disurga, yang telah memberi kepercayaan padaku untuk menjaga dan melindungi kedua adikku.
            Sekarang sudah hampir pukul 8 pagi, itulah yang dikatakan orang yang kutanya barusan. Tapi apa kalian tahu? Aku belum mandi pagi ini, mungkin karena aku terlalu bingung akan mandi dimana? Tapi segera ku cari toilet umum di terminal ini, kata orang ada disebelah ujung pintu masuk bis maka segera lah aku pergi kesana untuk membersihkan diri.
            Ketikaku sudah mandi dan rapi semua, aku beranjak pergi dan kali ini ingin jalan-jalan dulu ke dalam Mallnya. Aku sekarang menggigil kedinginan, mungkin karena aku emang benar-benar sedang demam. Ditambah lagi aku belum sarapan di pagi ini, segera aku mencari makanan untuk mengisi perut agar aku tak sakit. Soalnya kalau aku sampai sakit, maka keadaannya akan bertambah parah hingga nanti aku tak bisa bekerja.
            Seperti biasa, aku mengunjungi warung nasi tempo hari yang letaknya tak jauh dari sini. Ketika ku sudah sampai di tempat tujuan, aku langsung makan tapi kali ini menunya tidak seperti yang kemarin. Karena kini aku ingin makan dengan ikan goreng, kentang, tahu dan sayur sop. Kali ini aku tidak ingin terlalu menghemat uangku karena aku takut malah nanti aku jadi sakit akibat kurang tenaga. Aku makan dengan lahap soalnya dari semalam aku menahan lapar. Jadi sekarang aku nggak mau ngomong lebih banyak lagi, yang penting saat ini aku ingin makan sepuasnya, makan dengan hidangan lezat yang ada di meja ini.
            Kemudian setelah aku selesai makan, aku bayar makananku dan penjual itu bilang semuanya jadi 10 ribu rupiah. Tanpa berlama-lama aku ingin segera bergegas dari sini dan bersiap-siap lagi mencari kerja, soalnya sekarang sudah hampir jam 8 pas.
Terakhir aku juga membeli satu botol minuman air putih dan obat demam di warung, setelah ku minum baru badanku terasa sehat dan bugar lagi. Rasanya sekarang aku seperti “Merdeka” nih, soalnya barusan udah makan yang enak-enak plus minum obat jadi staminaku kembali dan tenagaku menjadi kuat.
            “Saatnya kini mencari kerja,” bisikku pada matahari.
            Berjalan-jalan lagi, menelusuri tiap lorong kota seperti kemarin, berharap hari ini aku mendapat pekerjaan sebagai karyawan.
            Kini ku melangkah seperti tak tahu malu, memasuki sebuah kantor besar dan mulai melamar. Semua orang sedang melirikku, mereka seperti ingin menertawakan penampilanku yang seperti gembel ini. Tapi aku tak peduli, kini aku mulai menanyakan security prihal lowongan kerja di kantor ini. Tapi ternyata tidak ada lowongan untuk lulusan SMA sepertiku, kantor besar ini hanya menerima orang dengan gelar Diploma 3 atau Strata 1.  Aku memang merasa terhina saat ini, seperti ditelanjangi dan ditertawai semua orang di sekelilingku.
            Rasanya ingin kembali teriak sekuat tenaga, beberapa kali aku gagal mendapatkan kerja. Sedangkan diriku merasa ditendang oleh orang-orang kaya itu, dipermalukan di depan umum dengan segala daya kecacatan yang ku punya. Aku merangkak seperti anjing ke tiap kantor dan restoran ibu kota.
            Tapi aku tidak boleh menangis, aku harus kuat dan tegar seperti karang; kau akan bertahan dari segala hinaan, dan memang demi yang namanya uang, kau berani menjual kehormatan.
            Kembali berjalan ku telusuri sudut bangunan pencakar langit. Bersiap malu untuk hadapi orang-orang berdasi dan berkemeja mewah. Selalu berkata sama untuk menolakku dengan hina, seakan aku gembel atau lebih buruk dari binatang jalang yang telah mengganggu waktu mereka yang berharga.
            Berjuta kali kudengar kata; tak ada lowongan, tak ada lowongan kerja untuk lulusan SMA. Atau karyawannya sudah penuhlah… inilah… itulah, aku muak mendengarnya. Pernah sesekali aku di wawancara oleh HRDnya tapi mereka malah ingin memerasku dengan embel-embel: “Uang jaminanlah… bayar uang formulirlah… atau di suruh agar besok datang lagilah… lalu disuruh untuk tunggu panggilanlah, aku ingin muntah mendengarnya.”
            Tapi aku tidak boleh menyerah dalam pertempuran ini. Karena aku adalah prajurit yang tak pernah takut mati.
            Matahari makin meninggi tepat di atasku, mambuatku berkeringat banyak dan sejenak butuh istirahat. Aku bersandar pada pohon di pinggir jalan, mengipas-ngipas leher dengan tangan. Lalu kemudian aku minum dari botol air putih bekas tadi pagi makan. Sesekali aku mengelap keringat yang membasahi keningku, atau menarik napas panjang dan ku keluarkan lagi dengan perlahan. Lihat udara di sekitarku, begitu gersangnya kota ini, cuaca panas seperti ingin  membakar badan, uap-uap bagaikan kabut yang bergejolak keluar dari pori-pori jalan.
            Sepertinya sekarang sudah lebih dari di tengah hari, tapi mengapa tak kudengar suara adzan. Heuh… barangkali daerah ini jauh dari mesjid, soalnya yang kulihat sepanjang jalan hanya gedung-gedung tinggi yang berjajar seperti barisan.
Seketika ku beranjak menuju arah mesjid yang semalam tadi ku singgahi. Berjalan lagi ku tanpa lelah, dengan raut wajah kusut ku melangkah, diiringi terik matahari dan rasa gelisah di hati.
Setelah sampai di mesjid, kulihat jam dinding dan ternyata sekarang sudah pukul 14.25 menit. Terburu-buru ku ambil air wudlu dan bergegas salat dzuhur sendiri di syaf depan paling ujung. Baru kali ini sepertinya aku salat dengan khusuk dan hikmat mengingat Tuhan. Tiap doa-doa kubaca dengan tenang dan perlahan seperti air yang mengalir ke ujung daun, terasa sejuk hatiku saat tetesannya mengenai kelopak mataku dan menyatu dengan aura ketentraman.
Salat 4 rakaat itu pun telah ku selesaikan, kini saatnya ku berdzikir untuk lebih mendekatkan diriku lagi pada Tuhan.
Dalam beberapa menit hingga berjam-jam ku berdzikir dan bersujud, memang sangat ku rasakan ada ketenangan dalam jiwaku juga membunuh gelisah hatiku. Segalanya kini telah ku pasrahkan terhadap-Nya, sedangkan aku hanya makhluk hina dihadapan-Nya. Ku sebutkan berulang-ulang kalimat dzikir, ku tundukkan wajahku yang hina untuk bersujud memohon ampun, segala daya telah ku serahkan kini kepada-Nya yang Maha Kuasa.
Hingga aku kembali dalam detik bertemu dengan-Nya lagi, waktu dzuhur telah usai dan adzan ashar kini baru berkumandang. Sementara aku masih bersujud dan belum beranjak dari tempat duduk. Seperti biasa yang datang kali ini hanya berlima, kami salat berjamaah dalam waktunya.
Salat ashar pun telah ku selesaikan, aku kembali berdzikir dan tak ingin usik dari duduk. Terus dan terus aku berdzikir untuk meminta petunjuk dan pertolongan. Berjuta kata resah dan gelisah ku curahkan kepada-Nya. Hatiku dalam kebimbangan kini, haruskah aku pergi tinggalkan Jakarta dan menyerah pada keadaan?
Aku menjadi bingung dan ingin banyak berpikir lalu ku rebahkan tubuh dengan niat “itikaf” disini, barangkali kebimbanganku bisa terpecahkan disaat kepala sedang dingin.
Kemudian aku beritikaf menurut sunah Rasul di mesjid ini, kubaca doanya lalu aku merenung dengan cara yang telah diajarkan. Berharap aku bisa mencari jawaban dari anganku, ku rebahkan diri di syaf paling ujung belakang mesjid ini.
Pertama ku mulai rasakan ketenangan, kenyamanan dan kesunyian dalam pikirku. Kedua ku mulai terjebak dibalik dunia maya yang membuatku terbayang-bayangi imajinasi dan halusinasi. Ketiga aku baru menemukan keindahan dibalik diamku, sesuatu yang sangat ku inginkan yaitu bertemu almarhumah ibuku dalam mimpi. Awalnya aku seperti terjatuh dalam lubang jurang hitam yang tak berujung dan berbatas. Tubuhku seakan melayang dalam lorong gelap dan membuatku berputar tanpa henti-hentinya. Lalu aku seperti terjatuh pada sebuah taman kapuk, begitu putih dan berkabut seperti menyerupai gumpalan awan-awan di langit. Kutanya matahari, bulan, bintang dan semua isi bumi, harus kemana lagi kucari Ibu tercintaku yang telah pergi?
Seperti ku temukan jawabnya kini, di tempat ku berdiri di dunia imajinasi. Ku langkahkan kaki di ruang putih polos yang berkabut, kucari Ibu di tempat ini, ku ingin lepaskan semua rindu meski hanya di dalam khayal. Setelah lama ku telusuri ruang cahaya ini, ku temukan sebuah celah dan warna. Ada warna yang menarik perhatianku di tengah kabut putih yang menyesatkanku. Semakin jelas terlihat ada ruang kamar lengkap dengan tempat tidurnya. Rasa-rasanya aku pernah datang ke ruangan ini, atau paling tidak aku seperti mengenal dekorasi kamar ini.
Oh iya, ini adalah kamar tidur almarhumah ibuku dengan khas hiasan-hiasan ruang seperti 5 tahun yang lalu. Tak lama kemudian ternyata aku juga lihat seorang Ibu setengah abad sedang asyik bermain dengan seorang bayi 12 bulan di kasur. Ibu itu dalam keadaan membelakangiku, sementara dia nampak tersenyum kecil dan bercanda-canda bersama bayi mungilnya. Aku sangat yakin bahwa orang itu adalah ibuku, dan  bayi kecil itu adalah almarhum Aris Argapura adikku.
Berulang kali aku tanya Ibu itu tapi dia tak sedikit pun mempedulikanku, dan tidak seperti bisa mendengar ucapanku. Aku ingin menangis ketika aku tak bisa menjamahnya, seperti aku yang mati di sini, bukan mereka. Lalu aku bagaikan kembali terjatuh lagi ke lorong hitam yang tak berujung.
Hingga seketika aku terbangun dari berdiamnya Itikafku di mesjid ini. Membuatku kembali ke alam sadar setelah lama ku terjebak dalam teka-teki mimpi. (Kata orang yang telah menerjemahkan mimpiku itu, bahwa ibuku telah diangkat dari api neraka oleh adikku Aris si Malaikat kecil). Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Saat ini kulihat senja mewarnai langit sore, cuaca menjadi lumayan dingin karena matahari telah bersembunyi di balik gunung. Ketika ini ku masih duduk berdiam diri dan sesekali kulihat ke arah jam, Pukul 17.45 waktu kini maka segera ku selesaikan itikafku.
Bergegas aku ambil air wudlu setelah itu aku bersiap salat maghrib karena adzan pun baru saja dimulai. Lalu tak lama setelah itu aku kembali lanjutkan perjalananku untuk lebih jauh dari daerah ini, semoga saja di tempat nan jauh lainnya ada pekerjaan yang sedang menantiku.
Berjalan lagi aku seperti biasa, telusuri sudut kota dan lorong-lorong jembatan layang. Sepanjang jalan kulihat mobil-mobil mewah lewati pandanganku lalu pergi entah kemana, ingin sekali aku mengejarnya dan bermimpi bisa duduk di dalamnya. Agar aku tahu bagaimana rasanya jadi orang kaya dan punya mobil mewah untuk ku pamerkan di jalan.
Setelah lelah ku berjalan, baru terasa perutku sakit kelaparan, terakhir aku makan di pagi tadi pukul 8. Segera aku mencari tempat makan di pinggiran jalan yang biasa di sebut “warteg” alias warung tegal.
Tak lama ku temukan warung nasi itu, aku memesan makanan dengan lauk pauk seadanya. Walau sekarang aku makan dengan alakadarnya, tapi dadar telur dan balado tempe ini sangat nikmat sekali rasanya.
Setelah beres aku makan, kulihat lagi jam dinding ternyata sekarang sudah pukul 7 malam. Segeralah aku mencari mesjid terdekat untuk menunaikan salat isya sesuai kewajiban sebagai muslim.
Setelah selesai aku shalat, berdzikir dan berdoa aku langsung duduk sendiri di halaman mesjid yang luas ini. Aku duduk terdiam ditangga masuk dan di depanku adalah sebuah taman yang indah. Ada lampu bola, pohon-pohon kecil dan rumput-rumput hijau sebagai alasnya. Mesjid ini sangat besar dan luas sekali, tempatnya strategis dan cukup tinggi di atas dataran. Sehingga aku merasa nyaman berada disini sambil melihat bintang-bintang dilangit yang baru muncul menyinari.
Aku jadi makin terpaku saat pandangi bintang paling terang berkelipan, dia seperti sedang mengedipkan matanya padaku disurga. Apakah itu yang dimaksud bintang dari surga? Cahayanya paling terang diantara yang lainnya, seperti induk dari semua bintang yang  sedang menjaga anak-anaknya.
Ada juga aku dapatkan kumpulan bintang menyerupai wajah, entah seperti siapa tapi aku merasa mengenalnya. Kata orang, kalau kita sudah mati nanti maka kita akan menjadi salah satu bintang di langit sana. Apakah ibuku juga ada diantara bintang di atas sana? Begitu sangat diriku merindukannya, dan selama bintang itu tetap bersinar di malam hari, aku pasti akan selalu menatapnya, berharap Ibu pun bisa melihatku di sini yang selalu menantinya pulang.
Oh Tuhan… Apakah Engkau mengirim aku ke bumi ini hanya tuk bersedih? Sungguh hidup tak pernah ku sesali, tapi hanya ingin ku tangisi. Andai ada orang yang merindukanku di balik mimpinya malam ini, mungkin aku akan merasa menjadi lelaki yang sempurna. Tapi selama aku beranjak dewasa, tak ada satu pun wanita yang mau menerimaku apa adanya, mungkin karena memang aku terlalu nista.
Dan seluruh hidup, ku hanya mengenal seorang perempuan yang menurutku sangat cantik. Dia adalah “Nisa” dan saat bersamanya adalah cerita paling menarik yang pernah ku ketahui. Tapi sayangnya kami di pisahkan oleh kasta, mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa dia tak pernah mau menerima cintaku sejak 6 tahun yang lalu. Tapi tak mengapa, asal bisa melihatnya bahagia bersama orang yang di cintainya, aku rela melepaskannya pergi dari pelukku.
“Ya ampun… kenapa ku jadi ngelantur gini, padahal khan aku lagi enak-enaknya pandangi bintang”. Lagian… hidup susah kayak gini aja masih sempet-sempetnya mikirin cewek. Yang ada… Nisa malah mungkin jijik ngeliat gue yang sekarang… kayak gembel.
Seharusnya mulai saat ini aku lebih fokus tuk cari uang dan menyekolahkan kedua adikku. Persetan dengan wanita, f*ck you… buat semua cewek yang ngerasa dirinya paling cantik dan berhak nyakitin cowok jelek kayak gue.
Kini aku berjalan di payungi lampu kota, dan langit masih terlihat hitam menundukkan kepala. Udara masih terasa dingin, di sekitarku nampak berdiri tegak pencakar langit dan selain itu mobil-mobil melewatiku begitu saja.
Inikah kota Jakarta? Yang selama ini aku banggakan ditiap tulisanku, yang selalu aku impikan ditiap tidurku itu. Mengapa Jakarta tidak mengenalku? Padahal aku harap dia mau menerima kehadiranku, karena sudah lama ini aku merindukannya untuk bisa mengangkatku sebagai legenda.
Sementara sudah 2 malam ini aku terombang-ambing di jalanan, tidur bersama dinginnya angin dan badanku remuk karena lelah seharian berjalan. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang ingin hidup lebih layak karena aku sudah muak menderita.
Padahal ayahku dulunya adalah orang kaya, dia pengusaha sukses dan terkenal dimana-mana. Dia punya banyak rumah dan tanah warisan orangtuanya. Tapi sayangnya, dia juga buaya darat penggila wanita muda. Hampir seluruh kekayaannya dihabiskan untuk poya-poya dan bercinta dengan banyak wanita.
Dan persetan dengan ayahku, dia sungguh tak layak untuk mendapatkan hati ibuku yang baik itu. Sungguh malangnya nasib Ayah karena telah begitu saja menyia-nyiakan Ibu yang sangat mulia itu. Dia memang tak pantas jadi ayahku, bahkan dia lebih rendah dari seekor anjing yang dibelenggu lehernya dan memakan kotoran manusia.
Ketika ini aku masih berjalan di gelapnya malam, dengan menggendong tas yang berisi buku karya-karyaku dan tiga style pakaian yang belum kuganti sejak 2 hari lalu.
Kemudian ku ingin terdiam di bawah lampu kota tuk beristirahat sejenak. Kali ini ku ingin menulis lagi tentang catatan harianku untuk memenuhi buku “Kekasih Terakhir” ini. Sampai kinipun buku tersebut belum bisa ku sempurnakan seutuhnya karena memang aku terlalu sibuk dengan tulisan skenario filmku yang lainnya.
Hampir beberapa jam lamanya aku terus menulis kisahku di buku konsep Kekasih Terakhir. Memang aku punya harapan untuk lebih cepat menyelesaikan buku ini, karena setidaknya aku punya alasan untuk menemui “Nisa” lagi setelah hampir setahun setengah ini aku berpisah darinya.
Dan inilah catatan harianku selama 2 hari terombang-ambing di lorong-lorong jalan, di kota Jakarta:

(Catatan Harian)
“2 hari pertama di Jakarta”

Sebelumnya, kalian sudah tahu sendiri perjalananku selama 2 hari ini di Jakarta. Tapi memang ada beberapa hal dan kejadian yang tidak semuanya bisa aku ceritakan pada kalian di halaman-halaman sebelumnya.
Untuk itu, dengan menulis dari “Sisi lain” perjalananku, aku mulai menceritakan kisah paling berkesanku ini pada kalian. Khususnya aku telah menulis Catatan Harian ini selama 2 hari terombang-ambing di lorong-lorong jalan di kota Jakarta:

Hari Pertama
17 Juli 2006: Hari ini hari Senin, pukul 7 lebih aku berangkat menuju kota Jakarta. Tiba di Terminal Kampung Rambutan sekitar pukul 11 siang dan sampai di Blok M pukul 12 lebih.
Kesanku berada di Jakarta sangat senang sekali. Soalnya ini perjalanan pertama aku melihat ibu kota negara dengan mata kepalaku sendiri. Ditambah lagi, kata orang Jakarta itu tempat khusus anak desa yang mau berusaha untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik.
Tapi apa kalian tahu? Barusan, ketika aku di bis Kopaja menuju Blok M, aku melihat ada kejadian yang sangat berkesan sekaligus menegangkan. Berawal di saat ada perempuan dewasa ingin turun, kemudian perempuan itu minta berhenti dipinggir jalan pada kondektur. Setelah ingin turun lewat pintu belakang, ada orang yang menggerayangi tas perempuan itu. Aku jadi saksi kunci dengan memergokinya sendiri, tentu saja orang yang aku maksud itu ingin “mencopet” dan mengambil isi tas perempuan itu.
Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa, karena ternyata copet itu juga langsung melototin aku dan jadi membuatku terdiam ketakutan. Aku tak tahu kejadian setelah itu, mungkin saja copet itu berhasil mengambil barang berharga didalam tas perempuan itu. Sedangkanku seperti pecundang bersembunyi dibalik selimut sampai Kopaja ini melaju lagi melanjutkan perjalanannya menuju Blok-M.
Ceritanya belum habis sampai disini, karena ternyata kini copet itu sedang beraksi lagi. Aku yang duduk dibangku tengah Bis ini, masih mengintai gerak-gerik copet itu yang duduk dibangku belakang dekat pintu masuk keluar. Ternyata sekarang copet itu sedang melakukan trick tuk memperdaya korbannya. Tapi aku baru sadar bahwa copet itu ternyata ada 2 orang, saat ini kedua copet itu sedang menghimpit seorang ibu-ibu ditengah tempat duduknya.
Kali ini yang “mencopet pertama” barusan bertugas mengalihkan perhatian ibu-ibu tersebut dengan cara pura-pura ingin muntah (mabuk kendaraan) di Bis, sedangkan rekannya bertugas menggerayangi isi tas Ibu itu. Aku kini yang masih terdiam ditempat dudukku, terus mengintai mereka tanpa sedikitpun berkedip.
Tapi sayangnya meskipun aku sudah berhasil menangkap basah mereka, tetap saja aku tak punya keberanian untuk bertindak. Entah kenapa aku seperti dalam ketakutan, jangtungku berdebar kencang saat kedua copet itu melihatku dengan tatapannya yang seram.
Aku hanya bisa diam dan membiarkan kedua copet itu berhasil untuk yang kedua kalinya. Aku memang seorang pecundang, yang tak punya nyali untuk bertindak, malah ku biarkan mereka mencopet begitu saja di depan kedua mataku.
Tapi aku punya alasan kenapa aku tak ingin menolong kedua perempuan itu dari mangsa sang pencopet? Jawabannya, karena aku takut mati… aku takut kedua pencopet itu malah akan menusuk jantungku dengan belati. Kalau aku mati sekarang, lalu bagaimana nasib selanjutnya kedua adikku? Mereka pasti akan kelaparan, menjadi seorang pengangguran dan berhenti dari sekolahnya. Sementara hanya aku satu-satunya orang yang mereka andalkan, bahkan aku sudah menghidupi mereka saat aku masih kost dulu.
Apakah salah yang sudah ku lakukan ini, aku hanya ingin hidup untuk bisa menghidupi kedua adikku, itu saja.
Jadi maafkan aku Tuhan… aku memang seorang pengecut yang tak mau mati sekarang. Kau boleh ambil nyawaku setelah aku bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku, mewujudkan cita-cita kedua adikku dan setelah aku berhasil menjadi legenda sang penyair diawal abad.
Dan yang terakhir, aku juga mau minta maaf  pada kedua perempuan itu yang telah menjadi korban pencopetan hari ini. Maafkan aku karena tak bisa bertindak untuk mencegah pencopet itu, semoga kalian bisa mengerti dengan keadaanku saat itu yang sedang di landa rasa takut.

Hari Kedua
18 Juli 2006: Hari kedua yaitu hari Selasa, dan sebelumnya aku sudah banyak cerita pada kalian tentang yang ku lalui. Yang pasti di hari kedua ini pun aku belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun aku sudah di terima kerja tapi ternyata aku harus menyiapkan uang 1 juta pada HRDnya sebagai “Uang Jaminan”.
            Sekalinya ada perusahaan yang mau menerimaku tanpa uang jaminan pun ternyata gaji perbulannya kecil yaitu 600-800 ribu, itu pun masih dalam tahap masa percobaan alias aku belum sepenuhnya diangkat jadi karyawan kontrak. Yaahh… ternyata cari kerja di Jakarta itu gampang-gampang susah, makin di pikirin semakin kepala jadi pusing.
Tapi hari ini aku punya cerita menarik dan berkesan. Barusan setelah aku selesai mencatat buku harian, aku langsung berjalan lagi menelusuri kota di malam hari sekitar pukul 8 lebih.
Di pertengahan jalan aku bertemu dengan kumpulan orang “anak jalanan” yang masih berusia belasan. Mereka sedang bernyanyi dan berkumpul dengan komunitas dibawah jembatan tol yang menjadi tempat berteduh mereka. Oh inikah yang di sebut anak jalanan itu? Aku pernah mendengarnya di koran-koran, diselingan pelajaran sekolah atau bahkan di televisi. Tak pernah terpikirkan sebelumnya aku bisa melihat komunitas ini dengan mata kepalaku sendiri. Ternyata benar apa kata orang, mereka adalah korban dari kekejaman ibu kota.
Lalu kemudian salah satu dari mereka menghampiriku dan memegang tanganku. Dia seorang anak perempuan berumur 9 tahunan, berpenampilan kumal membuatku kasihan. Ternyata dia datang padaku untuk meminta uang karena mereka belum makan, seperti inilah yang dia katakan:
“Bang… saya lapar bang, belum makan… minta uang bang buat beli makanan, saya lapar bang…” keluhnya padaku.
“Ya udah… Abang beli makanan dulu yah buat kamu, Oh iya… pasti teman-teman kamu juga belom pada makan khan?” jawabku.
Aku dan dia lalu pergi ke warteg untuk membeli nasi dengan lauk-pauk seadanya. Aku beli 8 bungkus seperti yang diinginkan anak jalanan itu. Meskipun uangku tinggal sedikit lagi tapi aku senang karena setidaknya aku bisa menolong orang dari kelaparan. Aku sering menahan lapar karena tidak bisa membeli makanan, jadi aku pun bisa tahu rasanya kelaparan seperti mereka sekarang.
Lalu setelah aku beres membeli makanan, aku dan dia langsung menghampiri komunitasnya yang lain. Aku lihat diantara mereka ada yang tidur-tiduran beralaskan kardus berkas, kulihat dengan jelas mereka seperti menahan lapar dan dingin. Selain itu aku juga lihat yang lainnya sedang main gitar-gitaran dan menyiapkan lagu untuk ngamen nanti malam. Kulihat orang yang paling besar di komunitas ini adalah lelaki dewasa sekitar 16 tahunan, dan yang lainnya relatif seumuran dari mulai 8-13 tahunan.
Aku kemudian ikut berkerumun dengan mereka, dan  ku tawarkan juga pada mereka untuk segera makan. Mereka sangat menanggapi baik tawaranku itu, lalu mereka segera makan karena takut kehabisan. Lihat cara mereka makan, seperti baru menemukan makanan setelah seharian ini mereka kelaparan.  
 
 Bersambung

 Visit to :











anudatar.blogspot.com kekasih terakhir 2 eps 4 : indekost

Kekasih Terakhir 3 Eps 10: Wasiat Sang Penyair

  Wasiat Sang Penyair                CATATAN AKHIR   TAHUN 2006                                                                   SURAT ...