Tunggu Aku…
Jakarta
Dunia, malam
ini kau mematahkan hatiku. Padahal sore itu kau bawa kabar gembira: “ Bahwa
nanti aku akan bahagia, bahwa nanti aku akan terlahir sebagai seorang legenda ‘sang
penyair di awal abad’. Dan bahkan kau kabarkan padaku bahwa nanti hari-hari
dalam hidupku akan berubah, menjadi lebih indah.”
Tapi aku
kecewa padamu malam ini, kau sudah berani buat ibuku tak bisa bernapas lagi, tak
bisa menyaksikan kesuksesanku nanti. Hingga di hari ke 7 kematian Ibu, aku
masih disini untuk menunggunya pulang. Karena aku selalu percaya bahwa dia tak
mungkin semudah itu untuk mati. Aku yakin dia hanya mati suri, dia hanya
tertidur sejenak untuk beristirahat sementara waktu di dalam kuburannya.
Sementara, di
rumahku saat ini sedang ada pengajian di hari ke 7 kematian Ibu. Semua orang
melantunkan doa-doa untuknya yang kini entah ada dimana? Aku merindukannya
malam ini untuk pulang dan ikut makan malam bersamaku. Dan jika dia datang sekarang,
aku akan menyambutnya layaknya ratu sejagad yang turun dari kereta kencana.
Akan aku siapkan
untuknya makanan-makanan lezat yang kumasak sendiri dan ku berkata: “Ibu…
sekarang aku jago masak loh, ini semua adalah masakan buatanku yang spesial kubuat
untuk menyambut kedatangan Ibu pulang ke rumah. Ibu makan yah, Ibu pasti lapar
karena sudah 7 hari ini tidak makan.
Ibu tahu gak?
Aku belajar memasak masakan ini waktu kost dulu dan Ibu kostku yang
mengajarkanku. Ketika aku diajarkan cara memasak olehnya dulu, aku selalu
banyak cerita tentang Ibu loh. Aku bilang sama dia kalau Ibu paling jago
membuat kue-kue yang enak.
Ibu ingat gak?
Setiap tahun di hari ulang tahunku, Ibu selalu membuat kue ultah untukku. Yang
lebih membuatku terharu, hanya Ibu seorang yang tidak lupa mengucapkan selamat
ulang tahun untukku hingga umurku 17.
Bahkan sebulan
sebelum Ibu meninggal, Ibu mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang ke 18.
Malah Ibu juga minta maaf karena tahun ini Ibu tidak bisa membuat kue ultah
lagi untukku, untuk merayakan ulang tahunku.
Siapa yang
tidak menangis mengingat hari-hari indah itu? Maka bohonglah aku jika saat ini
aku berkata ‘Aku tidak menangis’.
Sungguh
menyakitkan malam ini, dan aku mengurung diriku di kamar hingga hampir seminggu
terakhir ini. Tak ada kata-kata yang mampu ku ungkapkan lagi untuk melukiskan
kesedihanku saat ini. Hanya air mata yang selalu menetes di pipiku ini simbol
luka hatiku. Tapi sayangnya, tak ada seorang pun teman yang mau peduli padaku–tak
mau tahu apa yang terjadi menimpaku.
Padahal aku
butuh kedatangan mereka saat-saat seperti ini untuk coba tenangkanku. Meminjamkan
bahunya untuk kupeluk dan menangis sampai aku bisa tegar menghadapi kenyataan
ini, agar aku yakin betapa berharganya aku untuk bertahan hidup.
Tapi aku lupa bahwa
aku tak punya teman, bahwa aku telah terbiasa untuk hidup sendiri menyepi dan
memang aku tak pernah butuh teman. “Ya… aku tak butuh satu pun teman, dan aku
bisa hidup sendiri.”
Untuk orang-orang
yang mengaku temanku: “Enyah saja kau pergi, aku sudah melupakan kalian sejak
kalian datang dan pergi seenaknya dalam hidupku.”
Apa kalian tak
pernah mengerti, bagaimana rasanya diabaikan oleh semua teman sepermainanmu, di
jauhi oleh teman sekelasmu dan bahkan diasingkan oleh keluarga besarmu? Itulah
aku, aku lebih bisa merasakan pahitnya dibuang dan terkadang aku selalu
bertanya–seberapa layakkah aku untuk hidup?
Sementara kini
orang yang ku sayangi, dan satu-satunya orang yang paling mengerti diriku–telah
tiada 7 hari yang lalu. Tepatnya di hari aku pergi ke sekolah untuk mengambil
STTB dan Ijazah SMAku.
Apa kalian
bisa merasakan seberapa sakitnya hatiku? Mungkin saat itu (saat mengambil STTB,
Raport, Ijazah) kalian pasti akan langsung pulang ke rumah dan menunjukkannya
pada orangtua. Dan kalian dengan raut wajah yang sumringah akan menceritakan
tentang kelulusan kalian, nilai-nilai akhir kalian yang bagus serta meminta
Ayah Ibu kalian supaya kalian dikuliahkan di tempat yang terkenal, di
Universitas terfavorite.
Tapi tidak
dengan diriku, aku tak mungkin bisa tenang melanjutkan sekolahku (kuliah)
sementara keluargaku saat ini dilanda bencana, diambang kehancuran. Akhir-akhir
ini semua teman sekolahku (seangkatanku) mungkin sedang sibuk mengikuti test
SPMB sebagai syarat bisa diterima di Universitas idamannya.
Tapi apa yang
ku lakukan? Untuk bisa makan sehari-hari saja bagiku terasa sulit, beban
hidupku semakin berat seiring di mulai penyakit almarhumah Ibu yang parah. Tapi
sekarang dia sudah meninggal dunia, dia sudah pergi untuk selama-lamanya.
Mungkin dia kasihan padaku dan kedua adikku yang selalu lelah merawatnya hingga
akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Memang dari semenjak
beberapa bulan terakhir ini penyakitnya semakin parah, dia semakin tak berdaya
untuk menggerakkan organ luar tubuhnya. Rupanya stroke itu berhasil melumpuhkan
semangat hidup Ibu hingga membuatnya tak berdaya untuk bergerak bebas, berjalan
melangkahkan kaki, atau menggerakkan tangannya pun dia sudah tak bisa.
Terkadang aku selalu merasa kasihan melihatnya menderita hanya bisa terbaring
di ranjang bak mayat hidup yang tak bisa bergerak.
Mungkin Tuhan
pun berkata sepertiku, hingga akhirnya memutuskan untuk mencabut nyawa Ibu,
mengakhiri penderitaannya selama setengah tahun terakhir ini.
Aku masih bisa
menerima kenyataan ini, aku pasti bisa merelakan Ibu untuk pergi dari dunia
ini. Tapi ada satu hal yang membuatku takkan pernah rela, aku akan menyalahkan
ayahku karena dia orang yang harus bertanggungjawab atas kematiannya. Selama
kubisa akan kubenci dia atas semua yang sudah dia perbuat pada Ibu, takkan
pernah ku biarkan dia bahagia lagi diatas penderitaannya.
Biarlah malam
ini aku takkan terlelap, aku ingin menghabiskan air mataku hingga tak tersisa agar
aku tak bisa menangis lagi mulai dari besok pagi nanti. Ku tuliskan puisi ini
sebagai ungkapan hatiku yang terluka:
Saat begini ku rasakan seperti;
Hati yang dahulunya gembira
dirobek-robek sehingga gembira
bertukar duka
Hati yang dahulunya bangga
ditebuk-tebuk sehingga bangga
bertukar kecewa
Hati yang dahulu dapat menerima segalanya
ditumbuk-tumbuk hingga bertukar berontak
Hati yang dahulunya…
Ah! Susah untuk dikeluarkan
Tak siapa pun mengerti
Apa yang ku alami
Umpama ikan emas coba merenangi lautan
yang bernanah, berdarah… penuh dengan ikan besar
Aku kecewa
Kurasakan seperti hatiku ini
Sedang hancur di siat-siat oleh sembilu
Ah! Pedih yang dirasa
Sungguh Pedih!
Saat ini kurasakan luka yang ada
Tidak akan sembuh
Saat
ini kurasakan dendam
Pada
diri yang bertapak
Dihati
keras ini
Tidak
akan pudar… Tidak!
Selalu saja ku
katakan di kala pagi tiba: Persetan pagi ini dan pagi berikutnya, pun aku benar-benar
tak mau bangun lagi, biarkanlah aku kembali bermimpi. Hidup di dalam mimpi
lebih indah dan menyenangkan ketimbang harus menghadapi kenyataan.
Di dunia
imajinasi, tubuhku terkurung mencari sebuah kebahagiaan yang hilang: “Ya…
Kebahagian, akan hadirkah di hidupku julur-jalur pelangi kemesraan, yang
menerangi kekusutan membunuh kedukaan? Kiranya tirai kebahagiaan tersingkap,
akan lenyaplah huru-hara serta dunia, akan giranglah bukit gunung tiada ledakan
bom yang mengganggu dunia jadi lena. Akan adakah kekal kebahagiaan sehingga
terbit matahari di sebelah barat?”
***
Hari ke 8 kematian Ibu…
(Rahasia
dibalik hati)
Dipagi
hari menjelang siang, seseorang datang ke kamarku membawa makanan:
“Ga…
makan dulu nih, Bi inah masakin sayur katuk campur jagung kesukaan Angga. Ayo
dong makan kamu khan udah beberapa hari ini sulit makan, entar sakit loh!” ucap
Bi inah pembantuku.
Lalu
jawabku: “Enggak Bi… Aku mau mati aja, biar aku bisa ketemu Ibu lagi.”
Bi
inah langsung menangis saat dengar ucap pendekku sementara aku masih terkapar
bak mayat hidup yang tak bisa bergerak. Aku sedang marah pada diriku sendiri
yang tak berguna ini, aku menyesal tidak bisa membawa Ibu ke Rumah Sakit dan
menyembuhkannya. Kini biarlah aku menghukum diriku sendiri hingga mati agar aku
bisa menebus kesalahanku pada Ibu.
Kemudian
Bi inah makin menangis deras seakan dia merasa sangat bersalah padaku dan pada
Ibu. Lalu dia membongkar semuanya yang terjadi, sebenarnya selama ini ketika
aku dan kedua adikku sedang sekolah ayah selalu menyiksa Ibu di rumah.
Sampai beberapa
bulan terakhir ini, ketika aku sedang sibuk menghadapi UAN pun ternyata ayah
sering memukul Ibu yang saat itu mengidap stroke yang makin parah dan
merepotkan Ayah:
“Pertama,
ayah pernah memukul wajah Ibu dengan gayung hingga di daerah sekitar halisnya
terluka parah dan mata Ibu pun di penuhi darah. (Waktu itu Ayah bilang padaku kalau Ibu hanya jatuh
di kamar mandi). Tapi yang sebenarnya, ternyata ayahlah yang menyiksa Ibu tanpa
ampun.
Selain wajahnya
dipukul hingga memar lalu Ayah juga menginjak keras-keras kaki Ibu. Setelah itu
Ibu diseret dan diguyur air hingga tubuhnya menggigil kedinginan. (Tapi katanya
waktu itu Ibu tidak menangis, dan Bi inah hanya terdiam saat itu karena dia
takut pada ayahku.
Hingga akhirnya
rahasia kejadian itu tersimpan rapat sampai kini, karena Ibu sendiri pun
meminta Bi inah untuk merahasiakannya padaku,” ringkas cerita Bi inah.
Tanggapanku
tentang hal ini; memang waktu itu aku sedang sibuk menghadapi ujian terakhirku
jadi aku yang masih kost waktu itu tidak sempat pulang dulu untuk menjenguk Ibu.
Tapi aku tahu tentang luka di sekitar mata kanan Ibu, memang sangat menyedihkan
melihatnya saat itu, matanya merah berdarah dan di sekelilingnya seperti
benjolan memar-memar membiru. Ketika aku tanya kenapa Ibu seperti itu, dia
hanya terdiam membisu seperti ada rasa takut di dalam hatinya. Dan yang
menjawab waktu itu adalah ayahku, Ayah bilang kalau Ibu terjatuh di kamar
mandi. Aku percaya saja pada perkataan Ayah ketika aku juga tanya Ibu tentang kebenarannya, dan Ibu mengangguk
seperti takut.
Setelah itu aku
tak mempermasalahkan lagi karena aku pikir Ibu benar-benar jatuh di kamar mandi
waktu itu.
Dan
baru ku tahu sekarang lewat Bi inah bahwa saat itu ternyata Ibu telah dianiaya
oleh Ayah. Kini aku menjadi terbakar mendengar cerita itu, lalu aku tanyakan
lagi apa saja sebenarnya yang sudah terjadi di rumah ini selama aku tidak ada.
Kemudian
Bi inah membongkarkan lagi salah satu rahasia di balik kematian Ibu selama ini.
“Yang
kedua, Ayah dengan terang-terangan selingkuhi Ibu saat itu. Pacar gelap Ayah banyak,
dan sesekali Ayah membawanya ke rumah ini. Ibu hanya terdiam menanggapi sifat
bejad Ayah karena semua itu dia lakukan demi kami ketiga anaknya. Ibu nggak mau
kalau kami bersedih bila sampai Ibu harus meminta cerai pada Ayah. Karena itu
Ibu ingin mempertahankan rumah tangganya saja supaya tetap utuh, agar kami
ketiga anaknya masih bisa punya Ayah dan Ibu yang utuh.
Ternyata Ibu
sudah tahu kalau Ayah sering “bercinta” dengan pacar-pacar gelapnya itu. Tapi
dia hanya bisa memendam sakit hatinya dalam hati saja, karena dia nggak mau
melihat aku ikut bersedih bila Ibu terlihat bersedih. Ibu memang sangat pandai
untuk menyembunyikan kesedihannya, ternyata dia memang wanita tangguh yang
pernah ku ketahui dalam seluruh hidupku.
Tapi lama-lama
Ibu tak tahan menahan sakit terhadap Ayah selama ini. Akhirnya dia terkapar
juga hingga membuatnya kehilangan semangat hidup,” singkat cerita Bi Inah
padaku.
Dan
ending ceritanya kalian juga tahu sendiri khan? Ibuku mati dengan terhormat…
Ibuku bukan seorang pecundang, dia adalah pahlawan di rumah tangganya. Ibuku
seorang wanita tangguh korban dari kekerasan lelaki, dia tidak kalah meski dia
sudah mati. Justru dia telah menang secara terhormat, Ya… Ibu mati dengan terhormat.
Aku
semakin membara dan terbakar ketika mendengar semua rahasia dibalik kematian
Ibu selama ini. Aku tak bisa menyalahkan Bi inah telah merahasiakan semua
kejadian ini. Justru ada seseorang yang harus kutuntut atas kematian Ibu,
dialah Ayah dan hanya dia dalang dibalik kematiannya.
Ya… ini semua
adalah salah ayahku, hanya dia yang harus bertanggungjawab atas kematian Ibu. Beraninya
dia menyakiti hati Ibu yang baik itu, kini dia harus menanggung akibatnya
dariku.
Hari ini ayahku tidak boleh tertawa lagi di hari-hari kematian Ibuku
sendiri. Aku harus menghajarnya juga agar dia bisa merasakan betapa sakitnya
bila menjadi Ibu.
Sekarang aku
berdiri, aku beranjak dari tempat tidurku dan langsung mencari sesuatu untuk
memukulnya. Walaupun Bi inah menahanku untuk tidak berbuat nekad tapi aku tetap
terus melangkah. “Ya… aku kembali mencari samuraiku yang telah kukubur di
samping halaman rumahku 5 tahun yang lalu.”
Aku mulai menggali
tanah dan akhirnya kutemukan kotak kayu panjang yang menyimpan samuraiku itu.
Saat ini rasa dendam membakar tubuhku, termakin lagi saat kugenggam kembali
samurai itu yang terlapisi serangka hitam dan kain putih. Benda tajam ini masih
bercahaya dan tetap utuh meski sudah 5 tahun aku menguburnya.
Aku masih
ingat jelas, samurai ini pemberian Almarhum Andi guru berkelahiku sejak awal
kelas 1 SMP. Benda ini sudah merobek banyak tubuh orang bajingan dan preman kampung
yang sok jagoan.
Aku masih
ingat kala itu umurku hampir 13 di tahun 2000 tapi aku sudah hidup di dunia
malam. Tidur di jalanan, pecandu ganja, minuman dan obat terlarang. Mungkin
saat itu aku hanya sekedar frustasi karena di rumah–Ayah selalu menyiksaku dan
menyakiti hati Ibuku. Tapi meski pun dulu aku nakal tapi tak lama dari itu aku
insyaf dan mengubur masa laluku seperti aku mengubur samurai ini.
Tapi sekarang
ceritanya berubah, ibuku yang dulu membuatku taubat kini mati akibat hatinya
selalu dilukai. Dan orang yang harus bertanggungjawab atas kematiannya adalah
ayah kandungku sendiri. “Ya… aku yakin, sekarang aku harus balas dendam dan
melukai Ayah untuk menenangkan arwah Ibu disurga.”
Aku akan hajar
Ayah demi dendamku semasa kecil karena dia selalu menyiksaku dan mencacimakiku.
Aku akan lukai Ayah demi Ibu yang baik hati yang selalu disakiti ayah sepanjang
mautnya.
Kini kugenggam
batang samurai itu, ku cari ayah di dalam rumah yang sedang bersenda gurau
dengan teman dan keluarganya yang melayad almarhumah Ibu. Dia nampak
tertawa-tawa di pagi ini bersama beberapa orang di sekitarnya, mungkin mereka
sedang bicara prihal kematian ibuku terakhir ini.
Mataku makin
memerah saat Ayah membicarakan rencana pernikahannya lagi pasca ditinggal mati
Ibu. Dasar lelaki bajingan, Ayah seperti senang dan riang di tinggal mati Ibu,
buktinya dia sekarang malah nyinggung-nyinggung rencana pernikahannya lagi
dengan pacarnya yang baru. Dasar keparat, berandal tua keladi yang nggak tau
malu, bisa-bisanya dia ‘pede’ ngomongin pernikahannya pada orang-orang di
sekitarnya. Padahal umurnya sekarang sudah 64 tahun, harusnya sekarang dia
siap-siap untuk menjemput ajalnya atau saat ini aku yang akan mencabutnya.
Aku hampiri
Ayah di tengah kerumunan orang didalam rumah. Ku acungkan samuraiku pada wajah
Ayah dan berteriak lantang memakinya. Seketika Ayah dapat menghindar dari
kibasan samuraiku tapi aku tak sedikit pun gentar untuk melukainya. Aku makin
seperti orang kesurupan yang tak bisa ingat dengan apapun yang kupikirkan. Ayah
lalu coba lari dariku seperti orang pengecut yang ketakutan, sementara orang di
sekelilingku mencoba ikut meredakan amarahku.
Seketika
suasana di ruangan ini menjadi panas tak terkendali. Para perempuan mencoba
untuk berteriak melihatku saat ku mencoba ingin menghajar Ayah. Sedangkan
beberapa orang lelakinya ingin mencoba menangkapku dan merebut samuraiku.
Aku ingin
menjadi semakin menangis yang deras dan berteriak sekuat tenaga karena aku tak
kuasa untuk melawan kenyataan hidupku ini. Aku hanya ingin Ibuku bisa hidup
kembali dan akan kumulai lagi jalani hari-hari indah bersamanya. Kenapa waktu
dulu Ibu tak jadi minta cerai pada ayahku? Mungkin sekarang ini Ibu bisa hidup lebih
layak dan bahagia bila berpisah dengan ayah, dan Ibu nggak seharusnya mati
seperti ini.
Ibu nggak
boleh mati sekarang, semestinya Ibu bisa melihat aku jadi ‘Penulis Terkenal’
nanti. Aku benar-benar menyesal karena belum bisa berbakti dan memberi apa-apa
pada Ibu. Tuhan… kenapa Engkau ambil dia sebelum aku bisa membahagiakannya?
Seharusnya ayahku lah yang lebih baik mati saat ini, mungkin kami sekeluarga
akan lebih bahagia bila mendengarnya.
“Aaaaa…” aku
teriak sekuat tenaga untuk melepas semua sesal dalam hatiku. Lalu aku terduduk
dan menangis sepuasku ingin mengeluh pada diri yang tak berguna. Sementara
orang-orang di sekitarku mulai mengerumuniku dan mencoba peduli pada
kesedihanku. Sepertinya aku lelah untuk marah, tak ada guna juga aku mengejar
Ayah. Aku jadi kasihan pada kedua adik kandungku yang nanti hidupnya akan
menjadi seperti apa.
Sebagian
keluarga dari almarhumah Ibu mencoba merangkul dan menasehatiku untuk mencoba
bersabar. Mereka juga ternyata sudah tahu apa yang terjadi pada ibuku, dan aku
lebih tenang bila mereka bisa tahu juga perasaanku saat ini. Aku mulai nyaman
kini, dan ku berikan samurai yang kugenggam erat itu pada pamanku (dari Ibu)
ketika dia mulai merayuku. Sementara ayahku lari entah kemana, mungkin dia
takut akan dihakimi oleh keluarga besar dari ibuku nanti.
Tak lama
kemudian, seseorang datang dan coba menghampiriku dalam diam:
“Sabar aja yah
Ga… mungkin Tuhan sedang memberikan ujian pada keluargamu, yakinlah sama Tuhan
karena Tuhan tidak akan mencelakai umatnya sendiri,” ucapnya padaku.
Aku
benar-benar tidak mengenal orang yang sedang bicara padaku ini, tapi dia
mengaku padaku bahwa dia adalah sepupu jauhku; namanya Yanti, tapi dia maunya
di panggil Tante. Umurnya sekitar 35 tahunan dan dia perempuan cantik yang
berambut pirang agak panjang.
Setelah itu tante
Yanti juga mengenalkan salah seorang temannya padaku: namanya Suesih M.
Tomlinson, dan dia minta dipanggil mbak Suesih aja padaku. Umurnya sekitar 30
tahunan dan dia juga nampak cantik berambut merah gelap seperti seorang artis.
Mereka berdua
menghampiriku dengan mengajak bicara yang saat ini ku sedang menangis sendiri
di kamarku. Mereka bilang juga kalau mereka tinggal di Jakarta, dan mereka dulu
sempat datang kesini beberapa kali untuk berkunjung menemui Ibuku. Baru
beberapa hari yang lalu mereka mendapatkan kabar kematian ibuku dari orangtua tante
Yanti sebelum akhirnya mereka sendiri datang ke rumah melayad almarhumah Ibuku.
Dan setelah
itu pada saat ini kami sedang bicara dari hati ke hati, berharap kami dapat
memahami satu sama lain untuk bisa pecahkan persoalanku ini. Dan ternyata
mereka sangat perhatian sekali padaku, hingga sesekali mereka bisa membuat aku
tersenyum lagi. Rupanya mereka mencoba menghiburku untuk tidak bersedih lagi
hingga sepanjang mereka berada di sini dalam satu jam kedepan ini.
Lalu ucap mbak Suesih padaku: “Oh iya Ga… ini
kartu nama mbak dan alamat yang ada di Jakarta. Kalau kamu mau–kamu tinggal dulu
aja bareng mbak di Jakarta, disana mungkin kamu bisa nenangin diri, oke?”
Tawarannya itu
tak begitu aku pedulikan, tapi kusimpan aja kartu namanya paling nggak buat
kenang-kenangan. Lalu kemudian juga mbak Suesih memberiku uang seratus ribu rupiah
untuk persiapan ongkosku bila aku mau ke Jakarta. Dan tetap saja semua itu tak
begitu aku dengarkan, karena aku masih merasa sedih saat ini.
Nggak lama
kemudian: tante Yanti dan mbak Suesih pamitan padaku untuk pulang ke Jakarta sekarang.
Mereka coba menghiburku lagi yang terakhir kali, agar aku tidak bersedih lagi.
Awalnya mereka berdua juga memaksaku untuk ikut ke Jakarta sekarang bersama mereka, tapi aku
menolak karena aku tak mau jauh dari makam Ibu untuk saat ini.
Akhirnya kedua
wanita yang kukenal barusan itu, sudah
pulang dan berlalu begitu cepat dari pandanganku. Mereka sangat baik
sekali dan mungkin saja suatu hari nanti kami akan bertemu lagi. Kupikir nggak
menutup kemungkinan bahwa suatu saat aku akan pergi ke Jakarta untuk menemui
mereka. Karena selalu aku tahu bahwa Jakarta adalah kota impianku selama ini.
Dan sumpah mati aku tak pernah sekalipun melihat kota
Jakarta dengan
mata kepalaku sendiri. Padahal kota itu sangat aku puja selama bertahun-tahun
terakhir ini, berharap kota ibu itu bisa wujudkan harapanku untuk menjadi
‘terkenal dan sukses’ disana.
Ya… suatu hari
nanti mungkin aku akan pergi ke Jakarta sendiri untuk mewujudkan mimpiku itu.
Hingga akhirnya almarhumah Ibu disurga bangga melihatku bila aku jadi orang
sukses dan terkenal nanti. Ya… aku yakin itu tapi biarlah kini kusimpan dulu
anganku itu sebelum akhirnya aku dapat
berkata: “TUNGGU AKU… JAKARTA.”
Beberapa jam
setelah itu langit terdiam nampak tenang, awan perlahan berkabut biru gelap
tanda sore yang elok tiba. Kemudian kita lihat sebuah rumah kecil dibalik
langit ke arah bumi, itu adalah rumahku yang menjadi salah satu penghuni planet
ini. Nampak seperti gubuk memang tapi itulah istanaku, sebuah peninggalan milik
almarhumah ibuku.
Dan kita
perhatikan lagi suasana dibalik rumah ini. Singgasanaku mulai sepi seperti tak
berpenghuni, orang-orang sudah pergi tadi dan kini yang tersisa cuma kami. Ada
aku yang masih mengurung diri di kamar, ada kedua adikku yang sedang nonton
televisi di ruang tengah, ada Bi inah yang seperti biasa sedang beres-beres
rumah dan masak.
Sementara
ayahku sejak kejadian tadi entah pergi kemana (barangkali Ayah masih takut
padaku yang ingin menghajarnya).
Tapi sudahlah
aku tak ingin lagi membahas masalah itu, karena saat ini aku sedang ingin berpikir
bagaimana kami bisa hidup kedepannya nanti. Apalagi adikku yang pertama (Indra)
bulan ini naik kelas 3 SMA, sedangkan
adik keduaku Dimas naik kelas 3 SMP. Jadi gimanapun juga aku harus bekerja dan
mencari uang untuk mereka, karena mulai saat ini aku adalah kepala keluarga di
rumah ini dan sekaligus menjadi pengganti orangtua bagi mereka.
Untuk itu aku
tak bisa
melanjutkan sekolahku lebih tinggi, biarlah aku ikhlas tak bisa kuliah
tahun ini asalkan aku bisa menghidupi kedua adikku hingga nanti. Mungkin saja
rencanaku kedepan ini akan berkerja, tapi aku belum yakin akan bekerja apa dan
dimana. Tapi yang lebih penting, aku pasti akan sekolahkan kedua adikku lebih
tinggi lagi di bandingkanku. Aku ingin menjadikan kedua adikku lebih sukses
dari padaku.
Kali ini aku
dan kedua adikku berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan sesuatu yang
penting prihal rencana kami kedepan nanti. Untung saja kedua adikku baru libur
sekolah dalam rangka kenaikan kelas, tapi seminggu lagi mereka akan mulai masuk
sekolah. Adik pertamaku Indra tinggal 1 tahun lagi dia akan keluar sekolah SMA,
sedangkan adikku Dimas ajaran tahun depannya lagi baru akan masuk SMA.
Lalu siapa sekarang
yang kan membiayai sekolah dan hidup mereka? Sementara ayahku takkan memperlihatkan
wajahnya lagi depan kami karena mulai saat ini ayah sudah tak mau menganggapku
lagi sebagai anaknya, kamipun tak sudi anggap dia sebagai Ayah lagi.
Barangkali
ayahku sekarang di rumahnya yang lain bersama calon istri barunya. Yang ku tahu
ayahku punya 2 rumah di kota ini, aku yakin dia tidak akan kembali lagi ke
rumah ini karena rumah ini adalah milik almarhumah Ibuku. Mulai saat ini
hubungan kami dengan ayah sudah putus, untuk itu kami harus berdiri sendiri
jika ingin bangkit dari penderitaan ini.
Aku dan kedua
adikku sama-sama sangat membenci Ayah semenjak kami masih kecil. Kami tidak akan peduli meski ayah
tak mau menganggap kami sebagai anaknya lagi. Bahkan kamipun sudah tidak peduli
juga untuk mengurusi hari tuanya nanti.
Kini orang
yang tersisa yang selalu menyayangi dan memperhatikan kami adalah nenek serta
pamanku. Mereka berdua adalah ibu kandung dan adik dari almarhumah ibuku.
Untung saja mereka tinggal 15 meter di depan rumahku jadi mereka mudah untuk
merawat dan menjaga kami, yang baru saja di tinggal mati Ibu dan di campakan
ayah.
Sekarang aku,
kedua adikku, Bi inah (pembantuku), paman dan nenekku sedang berkumpul untuk
membicarakan rencana kedepan nanti sepeninggalan Ibu. Akhirnya kami
bermusyawarah untuk mencari keputusan yang tepat. Dalam beberapa waktu kemudian
kami berhasil mendapatkan keputusan sebagai berikut:
“Aku tahu
bahwa Nenekku hanya seorang pensiunan perawat yang punya gaji seratus ribu rupiah
setiap bulannya. Jadi dia tidak mungkin bisa membiayai semua keperluan kedua
adikku. Semenatara pamanku sendiri yang tinggal serumah bersama nenek, hanya
seorang pengangguran yang bergantung
pada gaji pensiunan nenek pula. Sedangkan pamanku juga punya seorang istri dan
2 anak seumuran kedua adikku, jadi tak mungkin membebankan semua kebutuhan
kedua adikku itu pada nenek dan pamanku.
Awalnya kami
bingung tuk memecahkan semua masalah ini, tapi untung saja Bi inah (pembantuku
dari kukecil) itu dengan ikhlas tak mau digaji, jadi itu cukup melegakan
bebanku. Apalagi Bi inah sudah merawat kami sejak kami masih bayi, sementara
dia adalah seorang perempuan yang sudah lama di tinggal mati kedua orangtuanya
dan bahkan di ceraikan suaminya. Jadi Bi inah janji pada kami akan merawat
kedua adikku sampai dia menjelang mati nanti.
Satu masalah
itu telah terpecahkan dan kini masalah
lain masih menunggu untuk bisa diselesaikan. Yang jadi masalah paling besar
adalah… siapa yang mau membiayai sekolah dan hidup kedua adikku kedepan nanti?
Sementara keluarga besarku yang lain benar-benar nggak mau tahu tentang masalah
ini. Yang justru paling aku takutkan, kedua adikku itu akan berhenti sekolah
sampai di sini saja karena tak ada yang mau membiayai mereka sekolah. Tapi aku
tak mau itu terjadi, kedua adikku harus terus melanjutkan sekolah dan bahkan sampai
strata I (S1) paling rendah.”
Untuk itu aku
berkata di depan nenekku, pamanku, Bi inah dan kedua adikku bahwa aku yang akan
bertanggung jawab untuk biaya hidup dan sekolah mereka berdua. Besok pagi aku
akan pergi ke Jakarta untuk mencari dan melamar pekerjaan disana. Dan semua
gajiku nanti akan ku kirimkan lewat nomor rekening adikku Indra yang sebelumnya
harus sudah ku buatkan nomor rekening untuknya sekarang di Bank. Semua setuju
dengan usulanku itu, dan sekarang keputusan terakhir sudah di mufakati oleh
semua orang yang berkumpul disini. Bahwa intinya, besok aku akan pergi ke
Jakarta untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menyekolahkan kedua adikku hingga
lulus nanti.
Sekarang kami
bubar dari kerumunan dan pergi ke tempat yang kami inginkan. Sementara aku
bergegas pergi ke kamarku untuk menyiapkan semuanya karena besok pagi aku harus
berangkat ke Jakarta
untuk segera mencari pekerjaan. Dan kini biarlah kembali kusimpan dulu anganku
tentang keindahan Jakarta yang belum pernah ku jamahi itu, hingga besok…
Sekali lagi ku
ingin berkata untuk kesekian kalinya: “Tunggu Aku... Jakarta.
Tanpa ingin
banyak berkata lagi: Pagi ini adalah waktuku untuk berangkat ke Jakarta. Aku lingkari
dan beri tanda di kalenderku, sekarang ini Tanggal 17 Juli 2006 hari Senin dan Pukul 06.15 pagi. Aku siap berangkat,
dan apa kalian tahu apa saja yang sudah kubawa untuk pergi? Aku hanya membawa 3
style pakaian yang akan ku kenakan dan beberapa lembar fotocopy ijazahku untuk
syarat melamar pekerjaan. Kalian mau tahu kenapa aku hanya membawa barang-barang
ini saja? Karena cuma inilah yang aku punya, dan selebihnya yang ada di kamarku
adalah milik ayahku (aku nggak mau memakai lagi barang-barang pemberian ayahku,
malahan aku akan membakar atau membuangnya ke tempat sampah).
Di pagi ini aku
sarapan dulu bersama Bi inah dan kedua
adikku. Setelah itu aku pamitan pada mereka untuk selalu di doakan agar aku
bisa mewujudkan segala impianku di Jakarta.
“Selamat
Tinggal Rumahku,” ucapku sambil memandang rumah untuk yang terakhir kali
sebelum aku pergi.
Setelah itu
aku bergegas dulu ke makam ibuku 40 meter dari sini, aku ingin menemuinya untuk
bicara prihal keinginanku. Semoga Ibu ikut merestuiku untuk menggapai mimpiku
di Jakarta nanti.
Setelah kulihat
makam Ibu malah kujadi terbisu dan bulu-bulu romaku ikut bergetar. Rasa
berdebar di dadaku pun membuatku makin terharu untuk sekejap mengeluarkan air
mata yang terpendam.
“Doakan aku
Ibu, agar suatu hari nanti aku bisa banyak di kenal orang dan dikagumi banyak
teman. Aku lelah terus dihina dan dipandang sebelah mata oleh teman-temanku,
bahkan oleh keluarga besar kita sendiri, Bu! Mereka semua tak pernah memperhatikan
kita, bahkan tak mau menjenguk Ibu yang selama berbulan-bulan lamanya sakit.
Tapi jangan khawatir Bu, aku akan membuat semuanya menyesal karena udah nggak
peduli sama penderitaan kita selama ini. Aku janji sama Ibu suatu hari nanti
aku pasti akan menjadi orang terkenal dan dikagumi banyak penggemar.
Aku akan
menciptakan karya-karya yang spektakuler hingga aku bisa jadi tokoh papan atas
dikalangan legendaris dunia. Meski aku sudah mati nanti, tapi aku jamin namaku akan
tetap hidup sampai generasi kedelapan sesudahku. Karya-karyaku akan dipelajari
di tiap-tiap sekolah, setiap cucu-cucuku
akan mendengar sebuah dongeng tentangku sepanjang menjelang tidurnya. Dan
juga akan ku ceritakan tentang kehebatan ibuku pada dunia, agar semua wanita
tahu bahwa dia adalah wanita terindah yang pernah ada di dunia ini.”
Selamat jalan
Ibu, aku ini bisa relakan jasadmu mati tapi aku tak rela bila arwahmu jauh
dariku. Sekarang mungkin kau menjadi makhluk kasat mata bagiku, tapi aku selalu
percaya bahwa kau akan selalu ada dalam setiap langkahku, kemanapun aku akan
pergi. Selamat tinggal Ibu, selamat tinggal pahlawanku…
Kini aku kembali melanjutkan lagi perjalananku, tapi kali ini aku ingin
menemui sahabatku untuk membawa sesuatu milikku darinya. Benda yang ku maksud
itu berupa disket computer dan buku-buku catatan yang menyimpan file-file dan
dokumenku yang berbentuk: Skenario film berjudul Terima Kasih Cinta, Aku Ingin
Jadi Kupu-Kupu, Mencari Cinta Sejati, Loves Are Toys. Dan juga bukuku berjudul
Sedih Yang Mendalam beserta Kekasih Terakhir yang belum sempat terselesaikan.
Sahabatku itu
bernama Aries Priatna dan dia sudah kukenal sejak awal SMP. Bagiku Aries bukan hanya
sekedar teman sekelas saja, dia punya computer dan mau mengerjakan
karya-karyaku yang masih berbentuk tulisan tangan waktu itu. Dan sekarang aku
mau membawa disketnya, barangkali saja di Jakarta nanti bisa berguna untukku.
Kini Aries ada
di depanku, kami sempat berbicara banyak di pagi ini. Tapi segera saja ku
utarakan semua maksudku untuk membawa disket yang menyimpan karya-karyaku itu.
Aries pun menanggapi baik prihal ini, dia berikan apa yang kuminta bahkan dia
juga mengembalikan semua karya-karyaku yang lain masih berbentuk buku dengan
tulisan tanganku. Aku masukan semuanya itu kedalam satu tas untuk selanjutnya kubawa ke Jakarta. “Ya…
Jakarta, tunggu aku di kota itu. Suatu pelabuhan dari semua mimpiku,
nantikanlah aku Jakarta, aku akan datang bersama karya-karyaku.”
Aku langsung
berangkat menuju halte bis tak jauh dari rumah sahabatku Aries. Setelah
beberapa saat menunggu, tiba juga sebuah bis ekonomi jurusan ke Jakarta yang kutuju.
Dalam
perjalanan kududuk terdiam, sempat kutanya orang di sampingku, jam berapa
sekarang? Dia menjawab 07.15 menit, itu berarti aku sampai tiba di tujuan
sekitar pukul 10-11 siang.
Aku kembali
terdiam dan sesekali kulihat pemandangan sepanjang jalan di balik kaca jendela
tempat dudukku. Alam pikirku mulai piknik ke dunia fantasi, aku berimajinasi
meresapi segala kesedihan. Ah… terlalu haru tuk dikeluhkan, apakah Tuhan
menciptakanku hanya untuk menderita di dunia ini? Sepanjang perjalananku hidup,
aku telah banyak dihantui kekejaman ayahku. Aku tak pernah merasakan
keharmonisan di dalam keluargaku, yang ada malah teriakan cacimaki, saling
menyakiti dan aku benci harus hidup lama seperti itu.
Kini aku mau mulai
hidup baru, mencoba merangkak seperti bayi sebelum ingin bangkit berdiri.
Sekarang aku adalah kertas kosong yang harus kuisi dengan warna-warna indah
pelangi. Dan saat ini waktuku memulai untuk mewujudkan mimpi, setelah lama kupendam
khayal untuk bisa hidup lebih layak.
Bis ini mengantarku
ke kota impian itu, telah lama aku membayangkan untuk segera tiba disana. Ini
pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, dan
sendirian aku mencoba mengadu nasib disana.
Barang kali aku bisa merubah takdirku yang kelam jadi terang benderang, karena
aku sudah bosan hidup tanpa pernah dihidupi dengan layak oleh ayahku sendiri.
Aku pergi ke Jakarta, dengan membawa
beban yang begitu berat untuk aku tanggung sendiri. Karena mulai kini beban kedua
adikku juga ada dipundakku, dan aku sudah berjanji akan menyekolahkan mereka
setinggi-tingginya. Agar mereka bisa dengan mudah mencari kerja, supaya mereka
bisa hidup layak saat mereka sudah berkeluarga. Tapi aku sudah tidak peduli
pada diriku sendiri, aku akan menjadi lilin untuk selalu menerangi mereka meski
kutahu aku akan meredup dan mati. Biarlah aku rela seperti itu asalkan
orang-orang yang ku sayangi bisa bahagia dan tersinari oleh cahaya yang kuberi.
Jika Tuhan membiarkanku
hidup lama, semoga kubisa memanfaatkan waktuku untuk membahagiakan orang-orang
di sekelilingku. Tapi jika aku akan mati muda, aku mau mati dengan bahagia
sementara yang lain menangis seakan tak rela ku tinggalkan. Maka dengan seperti
itu, aku bisa merasa hidup lebih berguna untuk orang lain. Dan aku paling takut
bila kehadiranku di dunia ini hanya untuk diabaikan, disia-siakan oleh semua
orang seakan aku manusia yang tak berharga.
Ternyata aku
terharu sendiri dengan cerita hidupku, tapi bisa ku sadari bahwa hidup akan terus
berputar. Tak berguna aku banyak mengeluh karena aku takkan bisa menawar pada
takdir yang kelam. Cukup ku nikmati dan kukenang semua yang berlalu tak perlu
kuragu untuk ku tinggalkan, karena kini aku sedang berjalan menuju masa depan.
Dan aku percaya bahwa aku telah di takdirkan untuk menjadi legenda ‘Sang
Penyair Diawal Abad’ seperti yang aku selalu impikan.
Sudah banyak
aku berimajinasi, sudah lelah alam pikiranku berhalusinasi. Semakin tak ku
sadari, perjalanan Bis ini terlalu lama mengantarku pergi. Malah lelap yang ku rasakan
bertubi-tubi menghantam mesin tubuh yang lemah ini. Aku butuh istirahat atau
entah rasa jenuh berada di dalam bis yang berjalan ini. Ah… sukar untuk di
mengerti, sebaiknya sekarang aku tidur untuk segera bermimpi lagi. Semoga saja
dengan begitu, aku segera tiba di Jakarta tanpa terasa. Bis… kumohon padamu,
antarkanlah aku dengan cepat ke kota itu, sementara sekarang aku ingin tidur
terlelap di dalam tubuhmu yang gemuk ini.
Aku pun
langsung tertidur lelap dan nyenyak di dalam Bis yang mengantarkanku ke
Jakarta. Karena terlalu lelahnya aku tertidur pulas beberapa jam hingga akhirnya
sampai juga aku di tujuan.
Ternyata kusudah
tiba diujung perjalanan Bis tua ini. Untung saja orang di samping langsung
membangunkanku sedang tertidur, seperti kuminta sebelumnya padanya.
Aku keluar
dari Bis dengan wajah sumringah dan laga yang agak sedikit norak, maklum ini
khan pengalaman pertamaku pergi ke Jakarta.
“Terminal
Kampung Rambutan,” ucapku ketika ku membaca tulisan di luar gerbang masuk. Saking
kampungannya aku, ku putari terminal ini beberapa kali seperti orang yang
sedang bertamasya ke binaria.
Sekarang aku jadi
bingung akan pergi ke mana sementara calo metromini banyak yang menawarkan aku
untuk masuk ke mobilnya. Sekali lagi ku kelilingi beberapa (metromini dan kopaja)
agar aku bisa meyakinkan diri untuk memilih tempat yang tepat. Semoga saja almarhumah
ibuku memberikan petunjuk kemana aku harus pergi. Aku semakin dilanda
kebingungan, beberapa jurusan metromini dan kopaja kubaca berulang-ulang tapi
aku tetap bingung untuk memilih jurusan mana yang harus kupilih? Untung saja
aku ingat perkataan almarhumah ibuku waktu dulu, dia pernah berkata: “Jika nanti
kamu sedang dilanda kebingungan untuk memilih, maka kamu harus memejamkan mata
dan bertanya pada hati kecilmu. Apa dan siapa yang selalu muncul di dalam
pikiranmu, maka dialah yang harus kamu pilih. Karena sesungguhnya matahatimu lah
yang memilihnya, dan matahati itu takkan pernah salah memilih. Ikutilah kata
hatimu itu, karena dia takkan pernah berdusta padamu.”
Dan kini ku lakukan
semua nasehat Ibu, ku pejamkan kedua mata dan berkonsentrasi. Nampak beberapa
bayangan dan salah satunya harus kupilih. Terbaca Jurusan Kp. Rambutan- Blok M,
sebuah kopaja berwarna putih hijau yang selalu muncul dalam pikiranku. Aku
yakin, kendaraan itu akan mengantarkanku lebih dekat lagi menuju kesuksesanku
nanti. Jadi sekarang bawalah aku dengan
segera ke tempat itu (Blok M) dengan mesin kereta kudamu, agar segera ku
labuhkan segala penat khayalku selama bertahun-tahun ini.
Nantikan aku
di tempat itu, dengan segenap harap dan tumpahan hati, aku datang membawa
mimpi. Langkahku semakin dekat untuk meraihnya, meraih segala jasa-jasa yang harus
kuterima dari hasil jerih payahku menderita dan tersiksa.
Kini aku telah
terbawa sebuah kendaraan Kopaja menuju terminal Blok-M. Semakin terasa
harap-harap cemas, semoga aku tak mengecewakan semua orang yang sedang
menungguku di rumah.
Aku kembali
melamun di dalam kendaraan ini, yang sedang melaju pelan seperti menina
bobokanku. Aku kini duduk di bangku tengah sambil bersandar melihat pemandangan
jalan di balik kaca jendela. Sampai kapan aku akan berhenti menangisi hidupku
ini, kadang ada saja ratapan-ratapan sedih dalam pikiranku. Seberapa rapuhkah
hatiku sebenarnya, aku takut akan menjadi gila karenanya.
Ribuan
persoalan bermain-main didalam kepalaku, dan aku takut pikiranku akan terganggu
karena semua ini. Mengapa Tuhan tidak melahirkanku lebih sempurna dari ini, aku
pikir punya wajah tampan, kaya raya, jadi selebritis dan banyak penggemar itu
lebih diinginkan oleh semua orang. Aku memang takkan pernah bisa menjadi
tampan, menjadi orang kaya dihormati banyak orang, tapi setidaknya aku hanya
ingin diterima apa adanya oleh seorang perempuan yang ikhlas mau menyayangiku.
Dan kuharap
perempuan impianku itu; cantik, tinggi, putih, kaya, punya masa depan cerah,
berpendidikan tinggi, rendah hati, sopan santun, mengerti banyak tentang agama,
tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain, dan lebih penting lagi dia mau
menerima segala kekuranganku, Amin.
Andai saja aku bisa temukan perempuan impianku
itu mungkin aku akan merasa menjadi lelaki yang sempurna. Sekarang kriteria
perempuan impianku itu memang terlalu banyak menuntut, tapi justru itulah yang
menjadi kekuranganku.
Aku ingin
perempuan impianku itu bisa menutupi segala kecacatanku, agar anak-anakku bisa
bangga dan bahagia bila punya wajah cantik dan rupawan seperti ibunya. Bisa hidup
layak karena Ibu mereka bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Serta yang
terpenting lagi aku punya sebuah keluarga yang harmonis karena Ibu mereka
solehah.
Semoga saja
perempuan impianku itu bisa membangun rumah disurga untukku dan anak-anakku. Akan
kucari terus perempuan impianku itu agar aku bisa melengkapi segala kekurangan
yang ada di diriku ini. Apakah perempuan itu Nisa, ataukah ada yang lain yang
belum ku temui di perjalanan hidupku ini? Semoga saja aku bisa membuka hatiku
untuk perempuan selain Nisa, agar aku bisa menemukan Kekasih Terakhir yang
selama ini aku cari. Tidak menutup kemungkinan bahwa aku ingin menyinggahi
beberapa hati dan menemukan tempat yang tepat untukku nanti.
Kopaja ini dengan cepat berhenti diujung perjalanannya, aku tersadar
dari lamunan panjang yang membuatku risau tak pernah usai.
Bergegas aku
meninggalkan Kopaja ini, aku sudah tak sabar lagi untuk keluar dan melihat Mall
Blok-M yang pernah kudengar itu. Aku merasa takjub ketika kutahu bahwa di bawah
terminal ini adalah Mall Blok-M yang di maksud itu. Berarti di bawah tempat ku
berdiri kini adalah sebuah Mall, ya ampun aku tak bisa bayangkan ada tempat
yang sangat menakjubkan seperti ini. Mungkin kata orang di sekitar sini sih
tempat ini udah nggak aneh lagi, tapi bagiku yang kampungan ini tentu saja
merasa aneh dan sangat mengesankan sekali.
Beberapa saat
aku berjalan ke dalam Mall dan mengitari segala yang ada di tempat ini. Mungkin
karena terlalu takjubnya aku jadi tak terasa lelah walau terus berjalan di
tengah keramaian orang. Terkadang aku merasa minder dengan penampilanku
sendiri, lihatlah aku yang menyedihkan ini; model bajuku nggak gaul, celana hitam
panjangku jelek dan kusut. Sementara aku menggendong tas yang isinya cuma
buku-buku karyaku, sedangkan sepatu hitam yang kucel dekil ini pemberian temanku
waktu di kost. Tapi justru cuma ini harta bendaku yang ku miliki. Pakaian ini kubeli
dari hasil kerja pertamaku saat masih kost, walaupun jelek tapi aku merasa
bangga memakainya.
Biar saja
semua orang di dalam Mall ini menertawakanku karena aku seperti gembel jalanan.
Tapi aku akan buktikan pada mereka, bahwa otak dan tekadku takkan pernah padam
sebelum aku bisa meraih kesuksesan. Karena aku selalu percaya kesekian kalinya bahwa
aku telah di takdirkan untuk jadi orang sukses di masa depanku nanti.
Kini ku mulai
lelah berjalan, kududuk sejenak di tangga atau loby masuk terminal Blok-M. Ku
lihati orang satu persatu berjalan lewat di depan mataku. Mereka punya pakaian
bagus, wajah kantoran yang bersih tampan dan cantik, berkumpul bersama
teman-temannya, bercanda ria seakan tak punya beban. Sementara aku… ah… sulit untuk dikeluhkan.
Hidup tak pernah ku sesali, mungkin hanya ingin ku tangisi.
Aku hanya
seorang pengkhayal saja, pemimpi yang kerjaannya setiap hari cuma berimajinasi.
Kadang aku menulis cerita tentang penderitaanku untuk sekedar mencurahkan isi
hatiku. Itulah sebabnya aku jadi seorang ‘Penulis’ yang punya harapan bisa
meredakan segala keluhan kecacatanku.
Tanpa ku sadari
ternyata sekarang sudah Pukul 13.07 siang, setidaknya itulah yang dikatakan orang
di sebelahku saat kutanya jam berapa padanya.
Aduh… perutku
udah ngeluarin suara-suara yang aneh nih!! Aku pengen makan tapi aku takut
uangku habis. Padahal uangku ini harus cukup sampai aku bisa menemukan pekerjaan,
aku ragu sampai kapan aku bisa bertahan hidup di ibu kota ini.
Tapi aku
sungguh-sungguh lapar, aku sudah benar-benar nggak bisa nahan lapar lagi
sekarang. Lihat matahari di atas sana, begitu
terik cuaca jam 1 lebih di Jakarta.
Paling tidak aku ingin minum untuk melepas dahaga, soalnya tenggorokanku sudah
gersang seperti terbakar api saja.
Peduli setan
aku mau membeli makanan sekarang, aku
nggak mau mati kelaparan di sini. Meski uangku sedikit tapi aku harus segera
membeli makanan untuk mengisi perutku ini. Bergegas aku mencari warung nasi di
pinggiran jalan, paling tidak harganya lebih murah daripada di restoran.
Setelah ku
dapati warung nasi itu, aku langsung segera memesan makanannya. Disini agak
sepi pembeli, tapi kulihat penjualnya lumayan ramah dan baik sekali. Penjualnya
itu seorang ibu-ibu tua yang ternyata berasal dari Tasikmalaya, jadi dia
mengerti Bahasa Sunda seperti yang sempat ku ucapkan padanya. Dia pun mulai
menawariku untuk makan dengan menu lauk yang kelihatannya agak mahal, tapi aku
menolak dan ingin makan dengan yang agak murah saja. Yaitu bersama semangkuk
nasi putih, kuah sayur, sambel, tahu dan tempe pun aku makan dengan sangat
menikmatinya. Walau nggak ditemanin paha ayam goreng dan pepes ikan emas tapi
aku merasa nikmat makan seadanya seperti ini. Paling nggak hari ini aku merasa
tenang karena sudah dikasih makan sama Tuhan. Moga makanan ini bisa lebih lama
mengganjal di perutku sampai hari besok agar aku tak perlu makan dan ngeluarin
uang lagi. Mungkin sekarang makan terakhir di hari ini, moga nanti malam aku
bisa menahan lapar dan dahaga di dinginnya malam.
Waktu di
Jakarta saat ini Pukul 13.47 menit, setidaknya itulah yang kulihat di jam
dinding warung nasi tempatku makan sekarang.
Selesai aku
makan dan minum air teh tawar hangat, aku langsung membayar pada Ibu
penjualnya. Ternyata semua makananku itu seharga 4 ribu rupiah karena aku cuma
makan nasi putih, tahu, dan tempe doang.
Tak begitu ku
pedulikan, aku langsung bergegas lanjutkan perjalanan. Aku berjalan dan terus
berjalan untuk mencari kantor-kantor atau pun perusahaan sejenisnya, berharap
ada satu pekerjaan layak yang sedang menantiku disana.
Akhirnya aku
menemukan jajaran kantor bertingkat, entah perusahaan apa tapi seperti
berkaitan dengan barang dan gudang.
Ku hampiri Satpam
di depan pos dan bertanya prihal lowongan kerja. Tapi dia itu malah tidak ramah
padaku dan menyuruhku untuk pergi menjauh, karena ternyata disana tak ada
lowongan katanya.
Begitu pun
selanjutnya ketika ku masuki beberapa bangunan bertingkat yang lainnya.
Hasilnya nihil, beberapa alasan yang sama ku terima yaitu “Tidak ada Lowongan
kerja”. Aku benar-benar terpukul selalu mendengar kalimat yang sama itu dari
mulut mereka. Tapi aku nggak mau nyerah gitu aja, paling nggak aku mau mencoba
dan berusaha sebisaku.
Dengan
bermodalkan ijazah SMA yang kupunya, ku masukkan lagi beberapa lamaran ke
kantor-kantor secara langsung tanpa surat menyurat. Aku berharap mulai besok
kudapat langsung bekerja agar bisa cepat mendapatkan uang. Tentu saja untuk aku
kirimkan pada adikku di kampung, buat membiayai sekolah mereka hingga lulus
nanti.
Tapi tetap
sama, beberapa kantor perusahaan ku datangi dan hasilnya nggak ada. Sebagian
kantor bilang nggak ada lowongan, sebagiannya lagi baru ditutup karena karyawan
sudah lebih dari cukup.
Aku sempat
diizinkan untuk wawancara dengan HRD kantornya dan dia bilang; kalau aku mau
diterima kerja di kantornya maka aku harus memberikan uang 1 juta rupiah padanya
sebagai “Uang Jaminan”. Di mana aku harus mencari uang sebesar itu, aku datang
kesini untuk mencari uang bukan malah membuang uang. Jadi kutolak saja
permintaannya dan bergegas lagi pergi ke tempat lain untuk melamar kerja.
Beberapa
kantor besar yang ku lewati nampak sudah sepi, sekarang waktu sekitar Pukul 16.45
menit. Apa mungkin kantornya memang sudah ditutup jam segini dan karyawannya
sudah pada pulang?
Lalu ku mulai
lagi perjalananku menelusuri jalan raya menuju pusat perkantoran yang lainnya.
Ada beberapa Satpam yang sedang berjaga aku tanya prihal lowongan pekerjaan; mereka
malah memberi saran untuk datang pagi di saat jam kerja, karena semua HRD sudah
tak terima pelamar jam segini katanya. Aku pikir ada benarnya juga, maka aku
duduk istirahat dulu untuk berpikir ke depannya nanti. Sekarang ini aku sedang
duduk berteduh di depan ruko yang sudah tutup, hanya sekedar ingin melepas lelah
aku bersandar.
Mungkin
sekarang ini sudah pukul 5 sore dan ternyata aku masih belum mendapatkan
apa-apa. Hari sudah hampir petang dan aku bingung mau tidur di mana malam ini?
Di sisi lain,
padahal aku punya 4 kakak tiri (anak kandung ibuku) yang tinggal di Jakarta Selatan
ini, di daerah sekitar sini. Ada yang bilang kalau diantara mereka tinggal di
daerah kebayoran baru dan fatmawati, tapi aku sendiri tidak tahu dimana letak
yang tepatnya. Tapi meskipun kutahu, mereka tak mungkin mau menerimaku karena
mereka tak pernah menganggapku sebagai adiknya. Apalagi ibuku sudah meninggal
jadi hubunganku dengan mereka semakin jauh juga.
Bukan aku yang
memusuhi mereka, tapi mereka sendirilah yang tak menganggapku. Aku tak tahu apa
alasan mereka membenciku, tapi aku merasa sudah semakin dibenci sejak 3 tahun
terakhir ini. Aku sedikit tahu bahwa mereka sangat membenci ayahku juga, bahkan
aku tidak sekali mendengar kakak tiriku ini perang mulut dengannya. Mungkin
itulah titik awal kenapa mereka juga ikut membenciku. Tapi aku tidak sedikitpun
peduli meski mereka tak mengakuiku sebagai adik, karena aku berjanji suatu hari
nanti mereka akan menyesal karena telah mengabaikanku.
Terakhir aku
bertemu dengan mereka (ke 4 kakak tiriku) di sebuah acara pemakaman almarhumah
ibuku minggu lalu. Tentu aja saat itu mereka juga sedang menghadiri acara
pemakaman almarhumah ibuku yang juga Ibu kandung mereka.
Nama-nama dari
kakak tiriku itu adalah yang pertama Fahrul, umurnya sekitar 27 tahun, dia
sudah bekerja dan beristri.
Yang kedua
bernama Fahmi berumur 25 tahun, dia seorang manager di sebuah kafe di daerah
Fatmawati-Jaksel. Yang lebih penting lagi kalau dia itu katanya “atasan” Fahrul
kakak kandungnya sendiri. Dan selain itu, Fahmi lebih dulu menikahnya sebelum
akhirnya Fahrul menyusul 2 tahun berikutnya.
Yang ketiga
bernama Feni seorang perempuan berusia sekitar 22 tahun, dia sudah bekerja
sebagai SPG.
Anak pertama
sampai ketiga itu berasal dari Ayah dan Ibu yang sama. Tapi saat Fahrul berumur
6 tahun, orangtua mereka bercerai, dan tidak lama masing-masing dari mereka
menikah lagi.
Hingga
akhirnya Ibu mereka (yang juga ibuku) menikah lagi dengan pegawai pemerintah
daerah Cianjur. Kemudian Ibu mereka punya anak lagi, anaknya seorang perempuan
bernama Nurul. Jadi bagi Fahrul, Fahmi dan Feni bahwa Nurul adalah adik tiri
yang baru lahir dari Ibu kala mereka pun masih sama-sama belum jauh dari balita.
Tapi saat
Nurul berusia 2 tahunan, orangtuanya (yang juga ibuku) bercerai, dan tidak lama
dari masing-masing mereka menikah lagi.
Akhirnya Ibu
Nurul (yang juga Ibuku dan Ibu Fahrul, Fahmi, Feni) itu menikah lagi di usia 30
tahun bersama Ayahku. Satu tahun kemudian aku baru lahir dan bagi Ibuku–aku ini
adalah anak kelima yang terlahir dari rahimnya.
Mungkin itulah
singkat ceritanya tentang silsilah keturunan dari ibuku yang sudah meninggal 9
hari yang lalu itu.
Oh iya… aku
belum banyak cerita tentang Nurul kakak tiriku yang ke empat itu. Nurul seorang
perempuan cantik berusia sekitar 20 tahunan, tapi dia sudah menikah dan punya
anak. Minggu lalu terakhir aku bertemu dengannya, dia bilang sekarang tinggal
di daerah Jakarta Selatan juga.
Tapi percuma
saja aku membanggakan ke 4 kakak tiriku itu, toh mereka sendiri tidak mutlak
mengakuiku sebagai adiknya.
Sudahlah… aku
tak mau menceritakan mereka lagi, yang pasti mereka takkan peduli meski aku
kini sedang menderita di Jakarta. Aku terombang-ambing hidup disini, dan apa
kalian juga tahu apa yang sedang ku lakukan sekarang?
Aku seperti
gembel sedang bersandar di emperan toko yang tutup. Berharap aku bisa melepas
lelah setelah lama aku berjalan mengitari gedung-gedung dan perkantoran, hanya
untuk sekedar bertanya apakah di sini ada lowongan kerja?
Aku bingung,
dimana aku harus tidur malam ini? Sementara waktu terus berputar semakin cepat
dan langit sebenbar lagi akan gelap.
Aku ingin
menangis… tapi aku takut ada orang yang melihat. Aku ingin berlari melebihi
kecepatan angin, dan menembus tembok-tembok baja yang jadi penghalangku. Aku
ingin berlari tanpa henti… aku ingin berlari sampai aku mati.
Malam tak bisa
di tawar lagi, dia datang begitu saja sesuai waktunya. Gelap-gelap awan
berkabut menghitam, tapi aku masih tak beranjak sedikitpun dari tempat ini.
Sedang bersandar pada tembok putih pertokoan, beralasan keramik pucat kotor
bekas injakan sepatu tadi pagi. Sementara aku masih dilanda bingung berkepanjangan,
apakah memang harus disini aku tidur malam ini? Barangkali sekarang baru Pukul
19.05 malam, soalnya langit masih muda dan cahayanya masih bercampur senja.
Ada satu hal yang sangat
penting yang ternyata telah ku lupakan hari ini, yaitu salat 5 waktu. Dari mulai
pertama kali aku sampai di Jakarta, tak sekalipun aku mendengar suara Adzan di
mesjid. Jadi aku benar-benar kelupaan untuk menunaikan kewajibanku yang “5
Waktu” itu. Semoga saja Tuhan dapat memaafkanku karena hari ini aku terlalu sibuk
mementingkan urusan dunia semata.
Dari posisi tubuhku
yang sedang bersandar, aku bangkit dan mencari masjid. Setidaknya aku belum
telat untuk beribadah salat isya di malam ini. Aku beranjak dan berjalan ke
sebuah perkampungan, dan aku berharap bisa menemukan mesjid disini.
Dan ternyata
aku menemukan mesjid juga disebuah pinggiran jalan raya. Bergegas aku mengambil
“air wudlu” untuk membersihkan diriku dari debu dan kotoran yang menempel di kulitku.
Setelah itu aku baru salat sendiri di syaf paling depan, dengan khusuk aku
beribadah dan mengingat Tuhan.
Selesai aku salat
4 rakaat itu, aku berdoa dan bersujud untuk mencurahkan segala perasaanku pada
Tuhan. Kali ini suasananya sungguh menyedihkan, rasa-rasanya aku ingin menangis
dan mengadu pada Tuhanku. Sampai tak habis kata-kata dan air mata ku curahkan
kepada-Nya, berharap mendapatkan petunjuk agar aku bisa dengan mudah melewati
musibah ini.
Aku
kembali teringat pada orang-orang yang sedang menungguku di rumah. Kalau aku
tidak bekerja secepatnya, bagaimana nasib sekolah kedua adikku nanti? Mereka
teramat sangat membutuhkanku untuk menyambung hidup mereka. Aku adalah orang
satu-satunya yang mereka andalkan, untuk itu aku tidak boleh mengecewakan
mereka.
Aku
terus berdoa dan meminta pada Tuhan, agar aku bisa meraih segala apapun yang ku inginkan. Detik
demi detik berdetak, menit dan menit selanjutnya berlalu, hingga jam ke jam
berganti dengan cepat tanpa terasa. Aku masih di sini, di ruangan mesjid yang
sepi ini, bersujud dan menangis di hadapan Tuhan.
Tapi
kemudian aku dengar suara pintu yang terbuka, ada orang yang terasa sedang
menghampiriku. Lalu aku selesaikan doaku, kuhapus air mataku dan kutengok ke
belakang terlihat ada orang.
“Maaf
de, ini sudah pukul 9 malam jadi saya mau mengunci semua pintu mesjid ini,”
ucap bapak tua itu.
“Oh
silahkan pak, saya sudah selesai kok salatnya. Tapi pak, saya boleh tidur di
halaman mesjid ini nggak? Soalnya saya seorang perantau pak, dan saya nggak
punya saudara di Jakarta,” pintaku padanya.
“Oh
iya de silahkan kalau ade mau tidur di teras depan masjid tanpa alas kalau
mau,” ucapnya lagi.
“Iya
gak apa-apa pak, saya mengerti. Yang penting saya punya tempat untuk istirahat
malam ini pak, terima kasih banyak,” jawabku yang terakhir.
Lampu-lampu
masjid sudah dimatikan oleh pengurus mesjid itu, seorang bapak-bapak yang
berumur sekitar 60 tahunan. Sementara aku duduk bersandar diteras depan mesjid
sambil menyembunyikan wajah dibalik tangan dan lutut kaki.
Beberapa detik
yang hening buatku membisu serasa ingin lanjutkan menangis lagi. Tapi aku harus
tegar dan percaya bahwa besok aku akan bahagia. Sementara dingin malam ini akan
ku lewati sampai sekembalinya si raja siang yang tertidur. Biarlah angin
menjamahku dan membuka pori-poriku, biar menggigil tubuhku tapi kupercaya bisa
melalui kesedihan di malam dingin ini.
Aku semakin
mengantuk dan ingin segera tertidur agar aku bisa cepat bertemu pagi. Ku
rebahkan tubuhku seperti bayi yang sedang ada di dalam kandungan, tertelungkup
aku dialasi teras keramik putih yang dingin. Ku ganjali kepalaku dengan tas,
semoga aku bisa tertidur nyenyak di malam ini.
Malam makin
larut, makin dingin, rasanya aku seperti ditusuk betubi-tubi oleh sembilu es.
Kupeluk tubuhku sendiri, berharap hangati diri tapi angin tak mau peduli, dia
tetap tusuk aku dan masuk kedalam sejuta pori-pori.
Aku yakin bisa
melewati malam ini… tanpa harus menangis. Tapi ternyata aku tak bisa percaya,
aku telah roboh ketika perutku berbunyi-bunyi terasa nyeri, rasanya usus-ususku
melilit sakit seperti ada yang memakan ginjalku.
“Aku lapar…
lapar… sangat lapar…” gumamku seraya menahan nyeri.
Terakhir aku
makan jam 1 siang tadi, aku makan di sebuah warung nasi pinggir jalan. Aku
hanya makan sedikit nasi putih, sepotong tahu dan tempe saja. Tak kusangka kini
aku merasa lapar lagi, mungkin seharian ini aku terlalu lelah menelusuri sepanjang
jalan untuk mencari kerja tapi hasilnya nggak ada.
Dan sekarang aku
benar-benar sangat lapar, lapar… selain itu aku juga merasa dahaga, dahaga… Apa
bedanya aku sekarang dengan anak jalanan?
Malam kurasa
sangat panjang seperti berabad-abad lamanya. Tiap menitnya berputar sangat
pelan seperti bertahun-tahun rasanya. Aku tak bisa tidur malam ini, angin malam
telah menghancurkan tubuhku, bibirku membiru pucat dan setiap dari lubang
kulitku seperti di masuki jarum es.
Aku takut tak
bisa bertahan lama lagi, seiring rasa lapar terus menuntutku untuk segera
makan. Tapi aku tak mau menyerah pada keadaan busuk ini, aku tak pedulikan tubuhku
kedinginan. Malah ku bayangkan cerita-cerita indah dalam otakku, agar aku bisa
mengalihkan rasa sakit yang menyiksaku sekarang.
Akhirnya dengan
cara seperti itu, bisa membuatku lebih baik dari sebelumnya. Tak sedikitpun
lagi kurasakan perih ini karena aku bisa bertahan sampai di ujung malam.
Dan ternyata aku
berhasil bertahan hingga kudengar suara ayam jantan berkokok. Langit memang
masih gelap tapi malam yang dingin sudah mulai terasa berlalu.
Dan kemudian aku
juga mendengar ada seseorang yang datang mendekat padaku, lalu dia menyapaku:
“Bangun de,
sudah waktunya salat shubuh,” ucapnya padaku.
Lalu ku lihati
wajah orang itu dan baru ku kenali ternyata dia orang semalam yang bertugas
menjaga mesjid ini. Setelah itu ku ikuti sarannya dan bergegas bangkit untuk
mengambil “Air wudlu” serta salat shubuh berjamaah bersamanya.
Aku merasa aneh
salat shubuh disini ternyata yang hadir cuma 8 orang saja, padahal mesjid ini
cukup lumayan besar tapi kemana warga yang lainnya? Apakah mereka sudah tuli
sehingga tidak bisa mendengar lagi suara adzan, ataukah mereka seorang
pecundang yang bersembunyi dibalik selimut dan takut pada dingin. Tapi aku bisa
toleransi mereka, kulihat sebelumnya daerah ini dihuni oleh pemilik rumah-rumah
mewah. Mungkin “orang kantoran” itu terlalu sibuk bekerja atau malah tidak
punya waktu lagi untuk mengunjungi masjid. Atau juga barangkali orang-orang
kaya itu merasa malu bergaul di mesjid karena biasanya mereka lebih senang
datang ke Mall-Mall, Pantai Bali atau bahkan pergi ke luar negeri.
Perlahan langit
mulai memutih, pagi kusambut dengan senyuman manis. Berjalan aku menuju kemana
hatiku ingin melangkah. Di pagi buta, di cuaca dingin menikam dada, ku terus
berjuang demi setumpuk harapan di kedua pundakku.
Kemana kini ku
harus melangkah, sedangkan ku berjalan pun tak tentu arah. Ku hanya bisa ikuti
kata hati nurani untuk melangkahkan menuju terminal Blok-M yang 100 meter tak
jauh dari sini. Aku tak tahu kenapa aku harus pergi kesana? Tapi justru itulah satu-satunya tempat
yang ku ketahui di daerah ini.
Aku menunggu
tiap menit berganti, terduduk aku di pinggiran halte bis sambil melihat segala
arah di sekitarku. Terminal ini sudah lumayan penuh di kerumunin banyak orang,
padahal sekarang baru sekitar pukul 06.30 pagi.
Aku tak tahu kenapa
kini aku harus berada disini? Tapi yang pasti aku benar-benar lapar dan sangat
lapar sejak semalam tadi. Sepertinya juga aku mengalami demam, kening dan
leherku panas sekali. Mungkin aku hanya masuk angin karena semalam tadi sangat
dingin. Kalian juga tahu sendiri khan? malam tadi aku tidur di teras keramik
mesjid tanpa alas tanpa selimut, membuatku tidak bisa tidur nyenyak sepanjang
malam karena angin telah buatku menggigil kedinginan.
Hari
ini adalah hari Selasa, Tanggal 18 Juli
2006 entah berapa hari lagi aku bisa bertahan hidup ditiap dinginnya malam
nanti. Aku malu, hidup seperti gembel jalanan, seperti selalu ditertawakan
semua orang. Tapi aku tidak boleh mati sekarang, terlalu pecundang bila aku
sampai harus bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan hidupku ini.
Karena
bagaimanapun juga, kedua adikku di rumah sangat mengandalkanku untuk dapat
menyekolahkan mereka sampai tuntas. Jadi sekarang aku harus bertahan dan bahkan
melawan segala rintangan yang menghadang. Aku harus rela menderita demi Ibu disurga,
yang telah memberi kepercayaan padaku untuk menjaga dan melindungi kedua
adikku.
Sekarang
sudah hampir pukul 8 pagi, itulah yang dikatakan orang yang kutanya barusan.
Tapi apa kalian tahu? Aku belum mandi pagi ini, mungkin karena aku terlalu
bingung akan mandi dimana? Tapi segera ku cari toilet umum di terminal ini,
kata orang ada disebelah ujung pintu masuk bis maka segera lah aku pergi kesana
untuk membersihkan diri.
Ketikaku
sudah mandi dan rapi semua, aku beranjak pergi dan kali ini ingin jalan-jalan
dulu ke dalam Mallnya. Aku sekarang menggigil kedinginan, mungkin karena aku
emang benar-benar sedang demam. Ditambah lagi aku belum sarapan di pagi ini,
segera aku mencari makanan untuk mengisi perut agar aku tak sakit. Soalnya
kalau aku sampai sakit, maka keadaannya akan bertambah parah hingga nanti aku
tak bisa bekerja.
Seperti
biasa, aku mengunjungi warung nasi tempo hari yang letaknya tak jauh dari sini.
Ketika ku sudah sampai di tempat tujuan, aku langsung makan tapi kali ini
menunya tidak seperti yang kemarin. Karena kini aku ingin makan dengan ikan
goreng, kentang, tahu dan sayur sop. Kali ini aku tidak ingin terlalu menghemat
uangku karena aku takut malah nanti aku jadi sakit akibat kurang tenaga. Aku
makan dengan lahap soalnya dari semalam aku menahan lapar. Jadi sekarang aku
nggak mau ngomong lebih banyak lagi, yang penting saat ini aku ingin makan
sepuasnya, makan dengan hidangan lezat yang ada di meja ini.
Kemudian
setelah aku selesai makan, aku bayar makananku dan penjual itu bilang semuanya
jadi 10 ribu rupiah. Tanpa berlama-lama aku ingin segera bergegas dari sini dan
bersiap-siap lagi mencari kerja, soalnya sekarang sudah hampir jam 8 pas.
Terakhir aku
juga membeli satu botol minuman air putih dan obat demam di warung, setelah ku minum
baru badanku terasa sehat dan bugar lagi. Rasanya sekarang aku seperti
“Merdeka” nih, soalnya barusan udah makan yang enak-enak plus minum obat jadi
staminaku kembali dan tenagaku menjadi kuat.
“Saatnya
kini mencari kerja,” bisikku pada matahari.
Berjalan-jalan
lagi, menelusuri tiap lorong kota seperti kemarin, berharap hari ini aku
mendapat pekerjaan sebagai karyawan.
Kini
ku melangkah seperti tak tahu malu, memasuki sebuah kantor besar dan mulai
melamar. Semua orang sedang melirikku, mereka seperti ingin menertawakan
penampilanku yang seperti gembel ini. Tapi aku tak peduli, kini aku mulai
menanyakan security prihal lowongan kerja di kantor ini. Tapi ternyata tidak
ada lowongan untuk lulusan SMA sepertiku, kantor besar ini hanya menerima orang
dengan gelar Diploma 3 atau Strata 1.
Aku memang merasa terhina saat ini, seperti ditelanjangi dan ditertawai
semua orang di sekelilingku.
Rasanya
ingin kembali teriak sekuat tenaga, beberapa kali aku gagal mendapatkan kerja. Sedangkan
diriku merasa ditendang oleh orang-orang kaya itu, dipermalukan di depan umum dengan
segala daya kecacatan yang ku punya. Aku merangkak seperti anjing ke tiap
kantor dan restoran ibu kota.
Tapi
aku tidak boleh menangis, aku harus kuat dan tegar seperti karang; kau akan
bertahan dari segala hinaan, dan memang demi yang namanya uang, kau berani
menjual kehormatan.
Kembali
berjalan ku telusuri sudut bangunan pencakar langit. Bersiap malu untuk hadapi
orang-orang berdasi dan berkemeja mewah. Selalu berkata sama untuk menolakku
dengan hina, seakan aku gembel atau lebih buruk dari binatang jalang yang telah
mengganggu waktu mereka yang berharga.
Berjuta
kali kudengar kata; tak ada lowongan, tak ada lowongan kerja untuk lulusan SMA.
Atau karyawannya sudah penuhlah… inilah… itulah, aku muak mendengarnya. Pernah
sesekali aku di wawancara oleh HRDnya tapi mereka malah ingin memerasku dengan
embel-embel: “Uang jaminanlah… bayar uang formulirlah… atau di suruh agar besok
datang lagilah… lalu disuruh untuk tunggu panggilanlah, aku ingin muntah
mendengarnya.”
Tapi
aku tidak boleh menyerah dalam pertempuran ini. Karena aku adalah prajurit yang
tak pernah takut mati.
Matahari
makin meninggi tepat di atasku, mambuatku berkeringat banyak dan sejenak butuh
istirahat. Aku bersandar pada pohon di pinggir jalan, mengipas-ngipas leher
dengan tangan. Lalu kemudian aku minum dari botol air putih bekas tadi pagi
makan. Sesekali aku mengelap keringat yang membasahi keningku, atau menarik napas
panjang dan ku keluarkan lagi dengan perlahan. Lihat udara di sekitarku, begitu
gersangnya kota ini, cuaca panas seperti ingin membakar badan, uap-uap bagaikan kabut yang
bergejolak keluar dari pori-pori jalan.
Sepertinya
sekarang sudah lebih dari di tengah hari, tapi mengapa tak kudengar suara
adzan. Heuh… barangkali daerah ini jauh dari mesjid, soalnya yang kulihat
sepanjang jalan hanya gedung-gedung tinggi yang berjajar seperti barisan.
Seketika ku
beranjak menuju arah mesjid yang semalam tadi ku singgahi. Berjalan lagi ku
tanpa lelah, dengan raut wajah kusut ku melangkah, diiringi terik matahari dan
rasa gelisah di hati.
Setelah sampai
di mesjid, kulihat jam dinding dan ternyata sekarang sudah pukul 14.25 menit.
Terburu-buru ku ambil air wudlu dan bergegas salat dzuhur sendiri di syaf depan
paling ujung. Baru kali ini sepertinya aku salat dengan khusuk dan hikmat mengingat
Tuhan. Tiap doa-doa kubaca dengan tenang dan perlahan seperti air yang mengalir
ke ujung daun, terasa sejuk hatiku saat tetesannya mengenai kelopak mataku dan
menyatu dengan aura ketentraman.
Salat 4 rakaat
itu pun telah ku selesaikan, kini saatnya ku berdzikir untuk lebih mendekatkan
diriku lagi pada Tuhan.
Dalam beberapa
menit hingga berjam-jam ku berdzikir dan bersujud, memang sangat ku rasakan ada
ketenangan dalam jiwaku juga membunuh gelisah hatiku. Segalanya kini telah ku pasrahkan
terhadap-Nya, sedangkan aku hanya makhluk hina dihadapan-Nya. Ku sebutkan
berulang-ulang kalimat dzikir, ku tundukkan wajahku yang hina untuk bersujud
memohon ampun, segala daya telah ku serahkan kini kepada-Nya yang Maha Kuasa.
Hingga aku
kembali dalam detik bertemu dengan-Nya lagi, waktu dzuhur telah usai dan adzan ashar
kini baru berkumandang. Sementara aku masih bersujud dan belum beranjak dari
tempat duduk. Seperti biasa yang datang kali ini hanya berlima, kami salat
berjamaah dalam waktunya.
Salat ashar pun
telah ku selesaikan, aku kembali berdzikir dan tak ingin usik dari duduk. Terus
dan terus aku berdzikir untuk meminta petunjuk dan pertolongan. Berjuta kata
resah dan gelisah ku curahkan kepada-Nya. Hatiku dalam kebimbangan kini,
haruskah aku pergi tinggalkan Jakarta
dan menyerah pada keadaan?
Aku menjadi bingung
dan ingin banyak berpikir lalu ku rebahkan tubuh dengan niat “itikaf” disini,
barangkali kebimbanganku bisa terpecahkan disaat kepala sedang dingin.
Kemudian aku
beritikaf menurut sunah Rasul di mesjid ini, kubaca doanya lalu aku merenung dengan
cara yang telah diajarkan. Berharap aku bisa mencari jawaban dari anganku, ku
rebahkan diri di syaf paling ujung belakang mesjid ini.
Pertama ku mulai
rasakan ketenangan, kenyamanan dan kesunyian dalam pikirku. Kedua ku mulai
terjebak dibalik dunia maya yang membuatku terbayang-bayangi imajinasi dan
halusinasi. Ketiga aku baru menemukan keindahan dibalik diamku, sesuatu yang sangat
ku inginkan yaitu bertemu almarhumah ibuku dalam mimpi. Awalnya aku seperti
terjatuh dalam lubang jurang hitam yang tak berujung dan berbatas. Tubuhku
seakan melayang dalam lorong gelap dan membuatku berputar tanpa henti-hentinya.
Lalu aku seperti terjatuh pada sebuah taman kapuk, begitu putih dan berkabut
seperti menyerupai gumpalan awan-awan di langit. Kutanya matahari, bulan,
bintang dan semua isi bumi, harus kemana lagi kucari Ibu tercintaku yang telah
pergi?
Seperti ku
temukan jawabnya kini, di tempat ku berdiri di dunia imajinasi. Ku langkahkan
kaki di ruang putih polos yang berkabut, kucari Ibu di tempat ini, ku ingin
lepaskan semua rindu meski hanya di dalam khayal. Setelah lama ku telusuri
ruang cahaya ini, ku temukan sebuah celah dan warna. Ada warna yang menarik perhatianku
di tengah kabut putih yang menyesatkanku. Semakin jelas terlihat ada ruang
kamar lengkap dengan tempat tidurnya. Rasa-rasanya aku pernah datang ke ruangan
ini, atau paling tidak aku seperti mengenal dekorasi kamar ini.
Oh iya, ini
adalah kamar tidur almarhumah ibuku dengan khas hiasan-hiasan ruang seperti 5
tahun yang lalu. Tak lama kemudian ternyata aku juga lihat seorang Ibu setengah
abad sedang asyik bermain dengan seorang bayi 12 bulan di kasur. Ibu itu dalam
keadaan membelakangiku, sementara dia nampak tersenyum kecil dan bercanda-canda
bersama bayi mungilnya. Aku sangat yakin bahwa orang itu adalah ibuku, dan bayi kecil itu adalah almarhum Aris Argapura
adikku.
Berulang kali
aku tanya Ibu itu tapi dia tak sedikit pun mempedulikanku, dan tidak seperti
bisa mendengar ucapanku. Aku ingin menangis ketika aku tak bisa menjamahnya,
seperti aku yang mati di sini, bukan mereka. Lalu aku bagaikan kembali terjatuh
lagi ke lorong hitam yang tak berujung.
Hingga seketika
aku terbangun dari berdiamnya Itikafku di mesjid ini. Membuatku kembali ke alam
sadar setelah lama ku terjebak dalam teka-teki mimpi. (Kata orang yang telah menerjemahkan
mimpiku itu, bahwa ibuku telah diangkat dari api neraka oleh adikku Aris si
Malaikat kecil). Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Saat ini kulihat senja mewarnai langit sore, cuaca menjadi lumayan dingin
karena matahari telah bersembunyi di balik gunung. Ketika ini ku masih duduk
berdiam diri dan sesekali kulihat ke arah jam, Pukul 17.45 waktu kini maka
segera ku selesaikan itikafku.
Bergegas aku
ambil air wudlu setelah itu aku bersiap salat maghrib karena adzan pun baru
saja dimulai. Lalu tak lama setelah itu aku kembali lanjutkan perjalananku
untuk lebih jauh dari daerah ini, semoga saja di tempat nan jauh lainnya ada pekerjaan
yang sedang menantiku.
Berjalan lagi
aku seperti biasa, telusuri sudut kota
dan lorong-lorong jembatan layang. Sepanjang jalan kulihat mobil-mobil mewah
lewati pandanganku lalu pergi entah kemana, ingin sekali aku mengejarnya dan bermimpi
bisa duduk di dalamnya. Agar aku tahu bagaimana rasanya jadi orang kaya dan
punya mobil mewah untuk ku pamerkan di jalan.
Setelah lelah ku
berjalan, baru terasa perutku sakit kelaparan, terakhir aku makan di pagi tadi
pukul 8. Segera aku mencari tempat makan di pinggiran jalan yang biasa di sebut
“warteg” alias warung tegal.
Tak lama ku
temukan warung nasi itu, aku memesan makanan dengan lauk pauk seadanya. Walau
sekarang aku makan dengan alakadarnya, tapi dadar telur dan balado tempe ini
sangat nikmat sekali rasanya.
Setelah beres
aku makan, kulihat lagi jam dinding ternyata sekarang sudah pukul 7 malam.
Segeralah aku mencari mesjid terdekat untuk menunaikan salat isya sesuai
kewajiban sebagai muslim.
Setelah selesai
aku shalat, berdzikir dan berdoa aku langsung duduk sendiri di halaman mesjid
yang luas ini. Aku duduk terdiam ditangga masuk dan di depanku adalah sebuah
taman yang indah. Ada lampu bola, pohon-pohon kecil dan rumput-rumput hijau
sebagai alasnya. Mesjid ini sangat besar dan luas sekali, tempatnya strategis
dan cukup tinggi di atas dataran. Sehingga aku merasa nyaman berada disini sambil
melihat bintang-bintang dilangit yang baru muncul menyinari.
Aku jadi makin
terpaku saat pandangi bintang paling terang berkelipan, dia seperti sedang
mengedipkan matanya padaku disurga. Apakah itu yang dimaksud bintang dari surga?
Cahayanya paling terang diantara yang lainnya, seperti induk dari semua bintang
yang sedang menjaga anak-anaknya.
Ada juga aku
dapatkan kumpulan bintang menyerupai wajah, entah seperti siapa tapi aku merasa
mengenalnya. Kata orang, kalau kita sudah mati nanti maka kita akan menjadi
salah satu bintang di langit sana.
Apakah ibuku juga ada diantara bintang di atas sana? Begitu sangat diriku
merindukannya, dan selama bintang itu tetap bersinar di malam hari, aku pasti
akan selalu menatapnya, berharap Ibu pun bisa melihatku di sini yang selalu
menantinya pulang.
Oh Tuhan… Apakah
Engkau mengirim aku ke bumi ini hanya tuk bersedih? Sungguh hidup tak pernah ku
sesali, tapi hanya ingin ku tangisi. Andai ada orang yang merindukanku di balik
mimpinya malam ini, mungkin aku akan merasa menjadi lelaki yang sempurna. Tapi selama
aku beranjak dewasa, tak ada satu pun wanita yang mau menerimaku apa adanya,
mungkin karena memang aku terlalu nista.
Dan seluruh hidup,
ku hanya mengenal seorang perempuan yang menurutku sangat cantik. Dia adalah
“Nisa” dan saat bersamanya adalah cerita paling menarik yang pernah ku ketahui.
Tapi sayangnya kami di pisahkan oleh kasta, mungkin itulah yang menjadi alasan
kenapa dia tak pernah mau menerima cintaku sejak 6 tahun yang lalu. Tapi tak
mengapa, asal bisa melihatnya bahagia bersama orang yang di cintainya, aku rela
melepaskannya pergi dari pelukku.
“Ya ampun…
kenapa ku jadi ngelantur gini, padahal khan aku lagi enak-enaknya pandangi
bintang”. Lagian… hidup susah kayak gini aja masih sempet-sempetnya mikirin
cewek. Yang ada… Nisa malah mungkin jijik ngeliat gue yang sekarang… kayak
gembel.
Seharusnya mulai
saat ini aku lebih fokus tuk cari uang dan menyekolahkan kedua adikku. Persetan
dengan wanita, f*ck you… buat semua cewek yang ngerasa dirinya paling cantik
dan berhak nyakitin cowok jelek kayak gue.
Kini aku
berjalan di payungi lampu kota,
dan langit masih terlihat hitam menundukkan kepala. Udara masih terasa dingin,
di sekitarku nampak berdiri tegak pencakar langit dan selain itu mobil-mobil
melewatiku begitu saja.
Inikah kota
Jakarta? Yang selama ini aku banggakan ditiap tulisanku, yang selalu aku
impikan ditiap tidurku itu. Mengapa Jakarta tidak mengenalku? Padahal aku harap
dia mau menerima kehadiranku, karena sudah lama ini aku merindukannya untuk
bisa mengangkatku sebagai legenda.
Sementara sudah
2 malam ini aku terombang-ambing di jalanan, tidur bersama dinginnya angin dan
badanku remuk karena lelah seharian berjalan. Aku hanyalah seorang manusia biasa
yang ingin hidup lebih layak karena aku sudah muak menderita.
Padahal ayahku dulunya
adalah orang kaya, dia pengusaha sukses dan terkenal dimana-mana. Dia punya banyak
rumah dan tanah warisan orangtuanya. Tapi sayangnya, dia juga buaya darat
penggila wanita muda. Hampir seluruh kekayaannya dihabiskan untuk poya-poya dan
bercinta dengan banyak wanita.
Dan persetan
dengan ayahku, dia sungguh tak layak untuk mendapatkan hati ibuku yang baik
itu. Sungguh malangnya nasib Ayah karena telah begitu saja menyia-nyiakan Ibu
yang sangat mulia itu. Dia memang tak pantas jadi ayahku, bahkan dia lebih rendah
dari seekor anjing yang dibelenggu lehernya dan memakan kotoran manusia.
Ketika ini aku
masih berjalan di gelapnya malam, dengan menggendong tas yang berisi buku
karya-karyaku dan tiga style pakaian yang belum kuganti sejak 2 hari lalu.
Kemudian ku
ingin terdiam di bawah lampu kota
tuk beristirahat sejenak. Kali ini ku ingin menulis lagi tentang catatan
harianku untuk memenuhi buku “Kekasih Terakhir” ini. Sampai kinipun buku
tersebut belum bisa ku sempurnakan seutuhnya karena memang aku terlalu sibuk
dengan tulisan skenario filmku yang lainnya.
Hampir beberapa
jam lamanya aku terus menulis kisahku di buku konsep Kekasih Terakhir. Memang
aku punya harapan untuk lebih cepat menyelesaikan buku ini, karena setidaknya
aku punya alasan untuk menemui “Nisa” lagi setelah hampir setahun setengah ini
aku berpisah darinya.
Dan inilah
catatan harianku selama 2 hari terombang-ambing di lorong-lorong jalan, di kota
Jakarta:
(Catatan Harian)
“2 hari pertama di Jakarta”
Sebelumnya,
kalian sudah tahu sendiri perjalananku selama 2 hari ini di Jakarta. Tapi memang ada beberapa hal dan
kejadian yang tidak semuanya bisa aku ceritakan pada kalian di halaman-halaman
sebelumnya.
Untuk
itu, dengan menulis dari “Sisi lain” perjalananku, aku mulai menceritakan kisah
paling berkesanku ini pada kalian. Khususnya aku telah menulis Catatan Harian
ini selama 2 hari terombang-ambing di lorong-lorong jalan di kota Jakarta:
Hari Pertama
17 Juli 2006: Hari ini hari Senin, pukul 7 lebih
aku berangkat menuju kota Jakarta. Tiba di Terminal Kampung Rambutan sekitar
pukul 11 siang dan sampai di Blok M pukul 12 lebih.
Kesanku
berada di Jakarta sangat senang sekali. Soalnya ini perjalanan pertama aku
melihat ibu kota negara dengan mata kepalaku sendiri. Ditambah lagi, kata orang
Jakarta itu tempat
khusus anak desa yang mau berusaha untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik.
Tapi
apa kalian tahu? Barusan, ketika aku di bis Kopaja menuju Blok M, aku melihat
ada kejadian yang sangat berkesan sekaligus menegangkan. Berawal di saat ada perempuan
dewasa ingin turun, kemudian perempuan itu minta berhenti dipinggir jalan pada
kondektur. Setelah ingin turun lewat pintu belakang, ada orang yang menggerayangi
tas perempuan itu. Aku jadi saksi kunci dengan memergokinya sendiri, tentu saja
orang yang aku maksud itu ingin “mencopet” dan mengambil isi tas perempuan itu.
Sementara
aku tak bisa berbuat apa-apa, karena ternyata copet itu juga langsung melototin
aku dan jadi membuatku terdiam ketakutan. Aku tak tahu kejadian setelah itu,
mungkin saja copet itu berhasil mengambil barang berharga didalam tas perempuan
itu. Sedangkanku seperti pecundang bersembunyi dibalik selimut sampai Kopaja
ini melaju lagi melanjutkan perjalanannya menuju Blok-M.
Ceritanya
belum habis sampai disini, karena ternyata kini copet itu sedang beraksi lagi.
Aku yang duduk dibangku tengah Bis ini, masih mengintai gerak-gerik copet itu
yang duduk dibangku belakang dekat pintu masuk keluar. Ternyata sekarang copet
itu sedang melakukan trick tuk memperdaya korbannya. Tapi aku baru sadar bahwa
copet itu ternyata ada 2 orang, saat ini kedua copet itu sedang menghimpit
seorang ibu-ibu ditengah tempat duduknya.
Kali
ini yang “mencopet pertama” barusan bertugas mengalihkan perhatian ibu-ibu
tersebut dengan cara pura-pura ingin muntah (mabuk kendaraan) di Bis, sedangkan
rekannya bertugas menggerayangi isi tas Ibu itu. Aku kini yang masih terdiam ditempat
dudukku, terus mengintai mereka tanpa sedikitpun berkedip.
Tapi
sayangnya meskipun aku sudah berhasil menangkap basah mereka, tetap saja aku
tak punya keberanian untuk bertindak. Entah kenapa aku seperti dalam ketakutan,
jangtungku berdebar kencang saat kedua copet itu melihatku dengan tatapannya
yang seram.
Aku
hanya bisa diam dan membiarkan kedua copet itu berhasil untuk yang kedua
kalinya. Aku memang seorang pecundang, yang tak punya nyali untuk bertindak,
malah ku biarkan mereka mencopet begitu saja di depan kedua mataku.
Tapi
aku punya alasan kenapa aku tak ingin menolong kedua perempuan itu dari mangsa
sang pencopet? Jawabannya, karena aku takut mati… aku takut kedua pencopet itu
malah akan menusuk jantungku dengan belati. Kalau aku mati sekarang, lalu
bagaimana nasib selanjutnya kedua adikku? Mereka pasti akan kelaparan, menjadi
seorang pengangguran dan berhenti dari sekolahnya. Sementara hanya aku
satu-satunya orang yang mereka andalkan, bahkan aku sudah menghidupi mereka
saat aku masih kost dulu.
Apakah
salah yang sudah ku lakukan ini, aku hanya ingin hidup untuk bisa menghidupi
kedua adikku, itu saja.
Jadi
maafkan aku Tuhan… aku memang seorang pengecut yang tak mau mati sekarang. Kau
boleh ambil nyawaku setelah aku bisa membahagiakan orang-orang di sekitarku,
mewujudkan cita-cita kedua adikku dan setelah aku berhasil menjadi legenda sang
penyair diawal abad.
Dan
yang terakhir, aku juga mau minta maaf
pada kedua perempuan itu yang telah menjadi korban pencopetan hari ini.
Maafkan aku karena tak bisa bertindak untuk mencegah pencopet itu, semoga
kalian bisa mengerti dengan keadaanku saat itu yang sedang di landa rasa takut.
Hari Kedua
18 Juli 2006: Hari kedua yaitu hari Selasa, dan sebelumnya aku sudah banyak
cerita pada kalian tentang yang ku lalui. Yang pasti di hari kedua ini pun aku
belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun aku sudah di terima kerja tapi ternyata
aku harus menyiapkan uang 1 juta pada HRDnya sebagai “Uang Jaminan”.
Sekalinya ada perusahaan yang mau
menerimaku tanpa uang jaminan pun ternyata gaji perbulannya kecil yaitu 600-800
ribu, itu pun masih dalam tahap masa percobaan alias aku belum sepenuhnya diangkat
jadi karyawan kontrak. Yaahh… ternyata cari kerja di Jakarta itu
gampang-gampang susah, makin di pikirin semakin kepala jadi pusing.
Tapi
hari ini aku punya cerita menarik dan berkesan. Barusan setelah aku selesai
mencatat buku harian, aku langsung berjalan lagi menelusuri kota di malam hari
sekitar pukul 8 lebih.
Di
pertengahan jalan aku bertemu dengan kumpulan orang “anak jalanan” yang masih
berusia belasan. Mereka sedang bernyanyi dan berkumpul dengan komunitas dibawah
jembatan tol yang menjadi tempat berteduh mereka. Oh inikah yang di sebut anak
jalanan itu? Aku pernah mendengarnya di koran-koran, diselingan pelajaran
sekolah atau bahkan di televisi. Tak pernah terpikirkan sebelumnya aku bisa
melihat komunitas ini dengan mata kepalaku sendiri. Ternyata benar apa kata orang,
mereka adalah korban dari kekejaman ibu kota.
Lalu
kemudian salah satu dari mereka menghampiriku dan memegang tanganku. Dia seorang
anak perempuan berumur 9 tahunan, berpenampilan kumal membuatku kasihan.
Ternyata dia datang padaku untuk meminta uang karena mereka belum makan, seperti
inilah yang dia katakan:
“Bang…
saya lapar bang, belum makan… minta uang bang buat beli makanan, saya lapar
bang…” keluhnya padaku.
“Ya
udah… Abang beli makanan dulu yah buat kamu, Oh iya… pasti teman-teman kamu
juga belom pada makan khan?” jawabku.
Aku
dan dia lalu pergi ke warteg untuk membeli nasi dengan lauk-pauk seadanya. Aku
beli 8 bungkus seperti yang diinginkan anak jalanan itu. Meskipun uangku
tinggal sedikit lagi tapi aku senang karena setidaknya aku bisa menolong orang
dari kelaparan. Aku sering menahan lapar karena tidak bisa membeli makanan,
jadi aku pun bisa tahu rasanya kelaparan seperti mereka sekarang.
Lalu
setelah aku beres membeli makanan, aku dan dia langsung menghampiri
komunitasnya yang lain. Aku lihat diantara mereka ada yang tidur-tiduran
beralaskan kardus berkas, kulihat dengan jelas mereka seperti menahan lapar dan
dingin. Selain itu aku juga lihat yang lainnya sedang main gitar-gitaran dan
menyiapkan lagu untuk ngamen nanti malam. Kulihat orang yang paling besar di
komunitas ini adalah lelaki dewasa sekitar 16 tahunan, dan yang lainnya relatif
seumuran dari mulai 8-13 tahunan.
Aku
kemudian ikut berkerumun dengan mereka, dan
ku tawarkan juga pada mereka untuk segera makan. Mereka sangat
menanggapi baik tawaranku itu, lalu mereka segera makan karena takut kehabisan.
Lihat cara mereka makan, seperti baru menemukan makanan setelah seharian ini mereka
kelaparan.
Bersambung
Visit to :